BLOOD

BLOOD
TEMPAT YANG STRATEGIS,



Udara panas menyengat ubun-ubun. Laksanakan kobaran api yang memanggang daging hidup para penghuni bumi.


Huh! "edan panasnya." keluh seorang pemuda kurus dengan kulit hitam manis.


Beberapa orang sedang duduk mengobrol dengan bahasa dialek Palembang. Tampak asyik dengan kopi di hadapan masing-masing.


“Masih lama ya dek?” Tanya bang Syamsul pada Reno.


“Uni, kita mengobrol sebentar ya?” ujar pemuda berbadan kurus kering kerempeng dengan rambut di belah tengah dan baju yang rapih ala tukang koperasi lengkap dengan tas kecil menghias pundaknya. Benar-benar seperti tukang tagih hutang. Lelaki itu bernama Reno Amarta.


“Iya, lanjutkan Bae lah.” Jawab pemilik rumah makan itu ramah.


“Jam berapa dek?” tanya seorang lelaki renta yang duduk di seberang Reno.


Reno melihat jam tangan murahan di tangannya “Jam 01.20 bang.”


Huuuuuuuufffg...”masih lama ya?”


Reno mengangguk pelan. Membenarkan letak duduknya.


“Seharusnya tidak terlalu lama, jika di perhitungkan lama perjalanan. Sebentar lagi sampai.”


Bersamaan dengan akhir ucapan Reno, handphonenya berdering.


“Nah ini dia bang orangnya menghubungi.”


“Assalamualaikum...”


“Waalaikumsallam wtwb...apa kabar kawan? Ini sudah sampai di jalan lintas yang kita janjikan. Kamu di mana?”


“Alhamdulillah...kita menunggu di rumah makan Padang duo saudara.”


“Oke, tidak lama lagi.”


Raut bahagia dan lega terukir di wajah Reno. Bukan hanya karena sahabat yang di rindukan akan datang. Tapi juga dengan doa agar semua urusan Bayu sahabatnya itu berjalan lancar dan dia akan mendapatkan pekerjaan tetap.


Persahabatan yang sudah sangat lama terputus karena kehidupan yang Morat marit oleh takdir masing-masing tiba-tiba kembali terjalin.


Selain melepaskan kerinduan dan berbagi pengalaman dalam pertemuan singkat keduanya di pinggir jalan beberapa bulan telah berlalu, pertemuan keduanya pun berbuah nostalgia, lalu berlanjut dengan janji bekerja sama. Untuk Reno yang tidak memiliki pekerjaan tetap tawaran Bayu sangat di menggiurkan.


Bayu adalah teman yang sangat tertutup di masa sekolah SMU mereka. Tidak memiliki banyak komunikasi umum, namun memiliki banyak teman.


Sementara Reno sendiri sangat ramai, ramah, sopan, dan pandai. Tetapi hanya memiliki satu teman. Bayu lah temannya satu satunya.


Kala itu semua orang serasa menjauhi dirinya dengan dalil-dalil tentang turunnya standar gang mereka yang terkenal dengan sebutan Scorpion.


Reno adalah salah satu anak pintar yang tersesat menjadi anggota dari brandal sekolah. Alias kacung mereka.


Alhamdulillah kala itu ada seorang Bayu yang memperlakukan dirinya layaknya manusia dan akhirnya semua anggota gang Scorpion menerima keberadaan Reno.


Terios putih parkir di halaman luas rumah makan duo sahabat.


Mobil berwarna putih bersih itu memilih tempat yang sedikit ke sudut. Tidak lama seseorang sangat di kenal oleh Reno keluar dari mobil. Lelaki dengan kaos oblong warna hitam celana jeans yang memiliki beberapa robekan di lutut, rambut di ikat berantakan, beralis menyatu sedikit berkumis dan berjambang yang di rapihkan. Bayu Gatra.


“Bayu!” Reno memanggil lelaki yang di maksud dari pintu rumah makan. Tampak dari kejauhan Bayu melambaikan tangan.


“Lama.” Reno menghampiri sahabatnya dengan suka cita.


“Lama nenekmu! coba bayangkan dari Bandar Lampung ke Lampung perbatasan 7 jam. Dari perbatasan ke Muaro dua 4 jam aku bilang berangkat jam 8, hitung!”


“Minap di mana?”


“Di Ranau. Cari suasana damai di sana. Siapa tau dapat wangsit.”


“Wek!”


“Sudah lama?”


“Assalamualaikum ...?” Bayu menyambut tiga orang yang langsung menyambut tangannya.


"Bagaimana perjalanan menuju kampung halaman kami?"


"Lumayan menyenangkan, apalagi pas pulang nanti kami akan memanjakan mata dengan berkeliling kota." Bayu membenarkan duduknya dengan sopan.


"Ya, betul. Ada banyak keindahan tersembunyi di Sumatra yang belum tercium dunia luar."


"Tapi, nantinya saya akan mencium dan menjadi bagian kota Palembang. meskipun sedikit di sudut tapi saya akan menjadi warga muara dua."


Ha ha ha...


“Bagaimana jika kita langsung chek lahan?” Ujar lelaki yang bernama Syamsul salah satu pemilik tanah yang berstatus sebagai anak pertama Bapak Arifin.


“Kita makan dulu, ngopi dulu, sebagai perkenalan. Iyakan...?” Bayu dengan keahliannya berbahasa mengiring semua orang untuk menikmati perjamuan sederhananya.


"Sendiri saja?" tanya bang Syamsul ketika melihat Ayu memasuki rumah makan dan duduk manis di sebelah Bayu.


"Ini adik saya, dia ingin tau seberapa luas kota Sumatra makanya ikut terus kemana saya pergi."


"Jiwa petualang."


Bayu nyengir, berdehem kecil menangapi obrolan ringan mereka. Tidak ada persiapan prihal pertanyaan seputar itu.


"Oh ya, sampai sini jam berapa?"


"Malam, kami memanjakan mata di Fila putri danau Ranau. Pukul 01.23 sampai sana. Iya dek?" Bayu menatap Ayu meminta persetujuan akan kebenaran ucapannya.


"Sekitar itu, tidak terlalu fokus dengan waktu, karena keindahan alam di sana terlalu menyita perhatian." jawab Ayu sekenanya.


Itu sebuah keberatan yang mutlak. Pemandangan tanpa jeda memberikan begitu banyak inspirasi dan kebugaran. Dari memasuki daerah kota bumi sampai ke daerah Oku Timur. Mata ini di takjubkan begitu banyak pemandangan alam. Terlebih sesampainya di danau Ranau. "Luar biasa." Bayu mengekspresikan kekaguman dengan wajah yang puas.


"Bahkan saya masih ingin singgah setelah pulang nanti. Belum puas."


Ha ha ha....


Tidak lama obrolan ringan harus berganti judul. Ke enamnya langsung menuju lokasi strategis yang di janjikan Reno selepas acara penyambutan sebagai adab pertemuan.


“Saya sudah sangat berterima kasih atas kebaikan bang Syamsul berserta keluarga, Sudi memberikan lahan sebagus dan strategis itu pada saya. Itu Rizki yang tak ternilai.”


“Bener dek, itu tanah sebenarnya sayang bapak jual, tapi ibadah lebih utama. Bapak ingin umroh.” Bayu mangut-mangut mengerti.


Matanya masih sangat sepet karena bangun tidur.


Lokasi strategis berukuran satu setengah hektar berada di tepi jalan lintas. Hamparan padi yang mulai menguning begitu indah.


"Tapi padinya sayang ya?"


"Kami akan melepas tanah ini selepas padi di panen."


Bayu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dia memeluk Reno dan semua orang sebagai ungkapan rasa syukur yang tidak terkira.


Alhamdulillah... tempat yang di maksud Reno sangat perfek, dari segi bangunan, tempat dan kondisi lingkungan sangat mendukung untuk dia bangun toko barunya.


“Makasih Ren, ini benar-benar berkah dan Rizki tak ternilai buat aku. Untuk urusan padi dan selanjutnya aku serahkan padamu Ren. kan kamu asli orang sini jadi banyak tau tentang lingkungan sini."


“Sama-sama sob. Lagian tokomu ini kan akan menjadi ladangku, aku harus membangunnya dengan perjuangan yang baik juga.”


“Semoga kerja sama ini menguntungkan buat kita.” Ujar Bayu masih dengan aura sumringah.


“Aku serahkan semuanya padamu.” Bayu menjabat tangan Reno keduanya berpelukan.


“Oh ya bapak Arifin saya mengucapkan banyak terima kasih atas semua pemberian ini, doa kan usaha saya berjalan lancar dan persaudaraan kita tidak hanya sampai di sini,” Ujar Bayu selanjutnya menyalami pemilik rumah lama dengan ramah tamah.