
Aldi melintasi ruang tengah yang lengang. Ada barang berserakan di lantai dan di mana-mana.
Dua pintu kamar yang bersebalahan tertutup rapat. Aldi tahu, Ayu dan Bayu berada di kamar satu di antara ruangan itu. Namun, Aldi memilih untuk menutup mata telinga.
Keributan kedua orang itu jelas sekali di dengarnya. Keadaan berubah menjadi sepi. Dalam hati Aldi sedikit khawatir.
Aldi mengendap-endap mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Aldi tidak berprasangka buruk, karena jelas keduanya sedang menjalankan ibadah sholat Magrib.
Lelaki itu kemudian berjalan ke arah teras belakang. Hanya ada hembusan angin malam menyambutnya. (Jadi benar Ayu dan mas Bayu ada hubungan spesial.) Pekejaran Aldi belum selesai. Banyak barang-barang yang menunggu untuk di simpan.
Huuuuuuuufffg biarlah Aldi memilih untuk pura-pura tidak tahu apapun.
Aldi kemudian berbalik kembali melintasi ruang tengah.
Tiba-tiba matanya tertuju pada dua orang yang keluar dari kamar.
"Mas..." tegur Aldi tanpa merubah tampilan. "Mau ke mana?"
Aldi buru-buru mendekat dan meraih koper besar yang di tarik Bayu.
"Di, aku mau pulang. Maaf ya jika selama ini aku sudah merepotkan kamu."
"Kenapa?" tanya Aldi hati-hati sekali.
Ayu menggeleng berulang kali. Matanya yang berkaca-kaca menyiratkan ketakutan.
Tangan Bayu terulur untuk menyentuh kepala Ayu, lalu mengusapnya perlahan. "Kamu akan tetap menjadi adikku?"
Ayu kembali menggeleng.
"Aku pulang, ya."
Sekali lagi, Aldi menggeleng. Nyaris tanpa suara, dia berujar,
"Mau saya temani?"
"Kamu tidak capek?" Bayu yang menjawab Aldi.
"Tidak bang."
Ayu menelan pahit yang mencekik lehernya. Dia menggenggam tangan Bayu seolah menolak pertolongan Aldi.
"Jika mbak Ayu tidak keberatan."
Bayu merengkuh tubuh Ayu sampai depan rumah, mengecup kening adiknya berkali-kali.
"Antarkan Ayu di."
"Mas ..."
Aldi sempat menganggap bahwa Ayu dan Bayu akan kabur bersama.
Namun, Aldi pun tidak menyerah dengan cintanya. Dia tetap merayu Ayu untuk pulang bersamanya.
"Ayok mbak Ayu …."
Bayu menekan dirinya untuk tidak lemah. Dia terus mendorong tubuh Ayu untuk masuk kedalam mobil.
"Mas...!"
Ayu meronta melepaskan diri dan memeluk erat-erat Bayu.
"Iya, Sayang. Iya, kita masih bisa komunikasi."
Aldi menyugar rambut. Membawa paksa Ayu.
Bayu memberikan isyarat agar Aldi membantunya membawa Ayu.
Meskipun Aldi tau hanya akan menciptakan luka baru bagi Ayu namun harus di lakukan.
Seolah baru tersadar, Aldi melepaskan cekalan tangannya pada Ayu, membiarkan Ayu berlari menghampiri Bayu yang masih berdiri di depan pintu.
Ayu memeluk Bayu begitu erat menumpahkan semua emosi. Hatinya dirundung pilu karena perpisahan. Gadis mungil itu gemetaran.
"Takut …." Ayu seperti melihat masa depan yang gelap. Dia menatap Bayu memelas. Pikiran nya hancur menjadi kepingan.
Langit menjadi gelap satu per satu yang ada di hadapannya hilang bahkan kakak tersayangnya.
Ayu menjerit. "Takut."
Mendapat dirinya sudah berada di dalam mobil dengan tangan yang di berikan suntikan infus.
"Sang putri sudah bangun rupanya." Bujuk Aldi melihat Ayu terkaget dan merintih sakit.
Ayu yang tadi berada di ambang pintu, mendekap Kakaknya kini dia sadari sudah jauh meninggalkan rumah.
"Di mana ya?"
"Kenapa takut?"
Ayu beringsut ke sisi pintu, menatap jalanan.
"Takut kenapa, Sayang?"
Ayu dan Aldi saling pandang. Seolah saling melempar kesalahan.
Selama hampir tiga jam keduanya saling bungkam. Akhirnya Ayu buka suara. "Kita di mana di?"
"Sampai kobum."
Ayu merasa kursi yang ia duduki lembab. "kita berhenti ke mushola atau rumah makan di, aku mau cuci-cuci."
Aldi mengangguk pelan, "tapi jangan kabur mbak Ayu, aku bisa di mutilasi dengan mas Bayu."
Dipisahkan dengan seseorang yang teramat di cintai memang sulit.
******