BLOOD

BLOOD
MALAM PERPISAHAN



Tidak ada perselingkuhan yang berakhir baik. Apapun alasannya tidak ada jalan baik untuk sebuah penghianatan.


Terlepas dari siapa yang salah atau siapa yang memulai.


Perselingkuhan tidak akan terjadi jika tidak ada interaksi timbal balik antara kedua belah pihak. Patokan harga dari kesetiaan adalah imam.


Iman manusia yang terkadang turun naik atau bahkan keluar masuk. Astagfirullah alazim. Mudah mudahan di jauhkan kita semua dari ujian seperti itu.


Seorang pria beristri akan di uji dengan kekurangan, baik itu harta atau kasih sayang. Belum lagi ujian dari orang ketiga. Begitu pun seorang istri.


Tidak ada alasan untuk membenarkan berselingkuh. Perasaan dan menyalakan takdir hanya bentuk pembenaran diri dan pembelaan semata. Apapun alasannya perselingkuhan tetap salah.


Ayu berdiri di ambang pintu. Sudah dua tahun lamanya dia meninggalkan rumah. Pergi menjauh dari kehidupan keluarganya. Perutnya yang mulai membesar melemahkan semangatnya kala itu. Bersyukur Ayu memiliki Aldi yang terus berada di pihaknya.


(flashback)


Siang itu dengan membuka aibnya di dengan kakak iparnya. Ayu berpikir akan mendapatkan pembelaan, atau sekedar untuk mendapatkan waktu untuk terus meraih kakaknya.


Setelah malam panas terjadi. Kepuasan Bayu yang di harapkan Ayu dapat berlanjut dalam hubungan lebih erat justru membuat keduanya putus kontak.


Bayu seolah berubah menjadi kulkas dua pintu dan dengan tegas mengatakan bahwa Ayu tidak akan memiliki kesempatan.


"Ayu, adikku tersayang. Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Kamu pulang atau aku memilih mengakhiri hidupku." Keputusan Bayu membuat Ayu tidak berdaya untuk bertahan.


"Mas, biarkan aku berada di sisimu."


"Ayu... tidak ada akhir untuk hubungan kita. Akhiri sampai disini atau mas akan mengakhiri sendiri dengan cara mas."


Ayu menatap Bayu dengan matanya yang basah. "Apa menurut mas, aku tidak layak bersamamu?"


Bayu melihat ujung kakinya sejenak, seolah meminta jawab pada luasnya pengetahuan alam. Angin yang menjadi saksi bisu malam panas itu seharusnya bisa memberikan sedikit gambaran apa yang harus di lakukan mereka sekarang.


"Aku memang adikmu mas. Tapi, cinta ini nyata buatku."


Bayu hanya membisu mendengar Ayu berbicara dengan Isak nya. "Aku mohon, mas, ijinkan aku tetap berada di sampingmu."


"Tidak! kamu harus pergi dari kehidupan mas, apapun cara yang harus mas tempuh, kamu harus pergi."


"Aku nggak bisa jauh darimu, mas."


"Terus menurutmu, mas bisa?"


Ayu menggeleng keras. "Mas juga nggak bisa, yu. Demi Allah, lebih baik mas mati daripada membiarkan ini semua berlarut-larut."


Tangis Ayu semakin menjadi. Dari ruang tengah yang bisu Ayu memeluk tubuh jangkung Bayu, mencuri ciuman berkali-kali. Tubuh mungilnya luruh ke lantai dan merapat pada kaki meja. Gadis mungil itu memeluk lutut Bayu erat-erat dengan ketakutan yang kian pekat.


"Aku butuh kamu mas."


"Aku tidak bisa membiarkan kamu terlalu dekat denganku, yu..."


"Mas..."


"Aku tidak menyalahkan kamu tentang rasamu. Semua salahku, salam mas mu ini. Kamu berhak membenci mas! Tapi, mas tidak bisa melanjutkan hubungan ini."


"Sejahat-jahatnya aku, itu semata-mata rasa sayangku padamu mas!"


"Biarkan mas hidup normal, yu."


Ayu terkesiap. Matanya mengerjap-ngerjap pedih. Apakah selama ini dia sudah membuat kakaknya hidup tidak normal?


"Mas pikir saya sepicik itu?" Ayu mengangguk-angguk tidak terima. "Terserah kalau mas menganggap aku penyebab mas tidak normal. Aku paham, sekarang penilaian mas sama Aku udah beda."


Gadis mungil itu menyeka air mata di pipinya yang seolah tak bisa berhenti. "Di mata mas, aku emang cuma perempuan murahan. Nggak peduli, istri mas! anak mas! dan keluarga kita." Ayu tampak sessgukan Akh... "Aku juga nggak akan memperalat perasaan cinta untuk menahanmu tetap memilih aku."


"Ayu...bukan itu maksudnya mas."


"Aku sadar diri, mas! Aku nggak layak diperjuangkan sama mas. Tapi, tolong jangan menyiksa batinku dengan olok-olok mu. Biarkan aku yang pergi." Ayu berdiri tegap menahan nafasnya cukup lama dan kemudian menghempaskan dengan keras.


"Aku akan pergi, fokus saja sama istrimu."


Bayu terkekeh pelan. Lelaki itu menyugar rambut sembari bergumam tak jelas.


"Kalau mas nikah lagi, mas nggak akan minta kamu jadi istriku." Dengan mengeser letaknya berdirinya Bayu menarik kursi untuk duduk. "Di lihat dari manapun, dan meskipun mas menikah sepuluh kali, kita tidak punya takdir untuk bersama."


"Aku tidak rela mas!"


Tangan Ayu terkepal. "Seujung kuku pun aku nggak rela mas jadi milik orang lain, jika tidak dengan ku juga tidak dengan mereka."


Keduanya saling tatap cukup lama.


"Kamu pikir mas rela."


"Lalu kenapa kita tidak kabur saja!" Suara Ayu meninggi.


Ayu kehilangan kendali emosinya sendiri. Kedua tangannya gemetar.


Bayu hanya duduk bersandar. Tidak begitu memperhatikan Ayu yang kehilangan akal.


"Dia mungkin istrimu, tapi hatimu bersamaku. Ayok kita kabur saja mas."


Bayu masih diam. Tidak bergeming meskipun dadanya hampir meledak.


"Mas!"


"Tidak!"


"Pengecut!"


Setelah mengatakan itu, Ayu meninggalkan ruang tamu. Dia berjalan cepat keluar rumah tanpa menyadari keberadaan Bayu yang mengikutinya.


Ayu berjalan cepat menuju toko, membereskan semua bajunya dengan berantakan.


Cukup lama Bayu termangu duduk di tepi dipan, melihat Ayu yang membanting semua yang di sentuhnya.


Sadar sebentar lagi azan Magrib berkumandang, Bayu beranjak.


"Ayu, sholat lah bersama mas, kita berdoa mohon ampun atas apa yang sudah kita lakukan."


Lelaki dengan rambut sebahu itu merengkuh paksa tubuh Ayu. Membimbing nya untuk melakukan ibadah. "Jadilah Makmun ku, meskipun untuk yang terakhir."


Ayu merapatkan tubuhnya, menyambut dekapan Bayu. 'hangat' Perdebatan tadi sama sekali tidak menggoyahkan keputusannya kakaknya untuk mengakhiri hubungan dengannya.


"Iya mas..."


Ayu mengambil air wudhu menyusul Bayu yang sudah duduk bersila dengan khusuk.