
Mobil kembali melaju. Musik rok milik band lawas tipe x kembali menemani perjalanan keduanya. Bayu menggoyang-goyangkan kepala dan bahunya sembari mengikuti lagu dengan suaranya yang tidak bagus.
"Dulu kerja di cafe, tapi nggak bisa nyanyi."
Bayu terus saja bernyanyi dengan suara sumbangannya...
"Mas!"
"Tidak semua mahluk cafe harus bisa nyanyi." jawab Bayu sembari terus menikmati keseruannya sendiri. "Lagian kalau nggak salah ada yang pernah nyuruh mas nyanyi."
Bayu melirik Ayu yang tersenyum geli. Mendekap perutnya.
Tidak lama laju mobil mulai pelan. Bayu mengecilkan volume musik dan mengambil parkir sedikit ke sudut. Menjajari beberapa mobil yang sudah lebih dulu parkir.
Jam di tangan menunjukkan pukul empat sore. Matahari sudah mulai condong.
KRUEK...KRUEK...
"Cepat ya jalannya waktu, kalau kita Santai sebentar makan lalu berangkat lagi habis magrib, bisa sampai rumah sebelum subuh."
“Mau ngapain ke sini mas?"
"Perutmu sudah meraung-raung minta makan. Apa lagi kalau nggak cari makanan."
"Oh ya, dari mana kamu dapat buku diary mas itu?"
“Ya...dari tempatnya lah.”
“Mana?!”
“Di rumah!”
Ayu terdiam cukup lama, menunggu ekspresi Bayu selanjutnya. Dia terus memperhatikan wajah pucat kakaknya dengan mata teduh berkaca-kaca.
Angin di pinggir danau berhembus kencang langsung menyambar mereka dengan keras.
Pemandangan luar biasa membentang dengan bebatuan langsung menyapa keduanya dalam jarak seratus meter di atas bukit.
"Mau turun, makan di bawah atau kita makan di sini saja?"
"Terserah sampean."
Perjalanan keduanya berakhir di kedai pinggir pantai. Kedai yang menginformasikan menu makanan kesukaan Ayu. seafood.
"Mas...?"
Bayu berdiri menuju kasir. Memesan beberapa menu yang di inginkan.
"Mau makan apa, yu?" tanya Bayu dengan suaranya yang kencang. Ayu yang duduk di barisan kursi sedikit jauh menoleh. Matanya langsung terbuka lebar, "lebay...!" ucapnya menyusul Bayu yang masih berdiri di meja kasir.
Setelah beberapa lama melihat buku menu. Ayu tersenyum.
"Aku mau bakso bakar, udang bakar, cumi bakar dan..."
"Stop...! itu saja mbak." Bayu menyambar buku menu dan meletakkan di atas meja.
"Ngapa lah mas?!"
"Badanmu kecil, mulutnya kecil, perut nya kecil. Nggak usah banyak makan nanti nggak muat."
"Tapi mas, mumpung di sini lhoo..."
"Nggak ada mumpung." Bayu dengan sedikit memaksa menarik pergelangan tangan Ayu untuk duduk kembali.
Gadis manis itu langsung mengerucutkan bibir dengan kedua tangannya menopang wajahnya.
"Nggak usah kesal!" Bayu menyentil kening adiknya.
"Mas, kenapa mas ganteng banget."
"Yo iyes," Bayu dengan sombong membenarkan kerah bajunya yang tidak memiliki kerah.
"Kenapa aku suka banget sama mas,"
"Karena, kamu goblok." Bayu kembali menyentil kening Ayu, kali ini dengan kekuatan yang lebih keras.
Pemilik wajah imut itu langsung menjerit kecil. Meraba keningnya yang terasa sakit.
"Sakit?"
"Iya lah mas,"
"Itu tidak lebih sakit dari hatimu kan?"
Bayu menatap jenaka Ayu yang tersipu.
"Pesanan mas," pelayan restoran dengan buah dadanya yang menonjol bagaikan buah kesemek mendatangi meja mereka dengan beberapa pesanan yang sudah siap.
"Kopi ya, yang enak kayak kamu."
Pelayan itu tersenyum melirik Ayu yang juga meliriknya.
"Kekasihnya mas?" tanya pelayan itu genit dengan sengaja.
"Gw bini nya! oke?!" Ayu melotot menjawab pertanyaan pelayan itu.
"Oh, iya mbak. Silahkan di nikmati hidangan kami."
"Gw bini nya... Bini dari mana?" ulang Bayu mengejek Ayu yang kehilangan moodnya.
Brak! Ayu meletakkan sendoknya di atas meja dengan sedikit kasar. "Malas makan jadinya."
"Kenapa? sini aku yang makan."
ha ha ha...
Bayu justru tertawa melihat Ayu yang bersungut-sungut.
"Yu, apa kamu benar -benar menyukai mas mu ini?"
Aaaaaak.... Ayu membuka mulutnya meminta suapan dari kakaknya.
“Ada apa mas? aku hanya jujur pada diriku sendiri.”
“Kamu sadar nggak aku siapa? Dan kamu siapa?”
Satu suapan mampir ke mulut Ayu dengan manis.
“Sadar! sesadar sadarnya.” Sembari menguyah makanan dengan pelan ayu meletakkan tangannya di atas meja.
“Lalu hubungan apa yang kamu bayangkan dengan berkata seperti itu.”
“Nggak ada, aku hanya ingin mas tau, aku mencintai mas saja.” Ucapnya tanpa ekspresi.
“Lupakan mas yu, hubungan kita tidak akan terjadi.” Satu suapan lagi memaksa Ayu membuka mulut.
“Oke kita lupakan. Jadi intinya aku di tolak?! No problem is fine!”
Dengan gaya pulatah hati, tapi masih menikmati suapan Kakaknya.
“Kalau mas terima cintamu, kamu mau hubungan yang seperti apa?"
“Memang menurut mas hidup itu seperti apa?”
"Malah tanya,"
“Mas...Jangan mengingat sesuatu yang menyakitkan, nikmati saja prosesnya.”
Bayu ingin memotong ucapan Ayu. Menurut Bayu tidak ada akhir yang baik dari hubungan yang tidak layak mereka.
“Mas, seperti apa rasanya...”
Bayu menarik alisnya tinggi. "Rasanya....apa itu?"
"Eeeeeeeeeh....Kenapa?.... eeeeeeeeeh...."
"Apa?"
"Mas aku baca tuntas buku yang katamu diary mas masa kuliah itu?”
"Ya sudah! apa lagi, berarti kamu tau. Sudah di baca kan?!"
Ayu mengangguk pelan.
"Lalu penjelasan seperti apa yang kamu inginkan. itulah sebagian hidup mas."
"Sesakit itu kah, hidup mu?"
"Menurutmu...? Itu alasannya mengapa mas tidak bergaul dengan dunia media sosial yang selalu Kamu ributkan.”
“Tapi..."
"Tidak ada tapi yu,"
"Bantuin aku promosi mas!”
Lagi...“apa itu?”
“Mas aku buatkan akun ya?”
“Nggak!”
“Ayoklah mas, kita jual wajahmu.”
Dasar otak bisnis! “kamu sudah melakukan hal itu berapa kali? Jangan macam-macam!”
“Baru mau.” Bayu membeliakkan matanya geram.
“Baru mau! katamu. Yang minta kue, baju, dan lain-lain di sosmed itu siapa? Dodol!”
“Hik hik hik...” si bocil tertawaan ngekek merasa terciduk.
“Ya habisnya mas nggak mau bayar hutangmu,”
“Ya tapi nggak jual mas juga kali!’’
“Bodok Mamat!”
“Nggak usah aneh-aneh yu!”
“Nih, selesai.”
Buset! Ayu sudah membuat akun Facebook di handphone miliknya.
“Mas, di akun Facebook banyak yang cantik lho, seksi dan wooooow...”
“Perjalanan kita masih jauh, mendingan kamu istirahat setelah makan.” Bayu memotong kesenangan Ayu.
Rasanya bocil itu akan lebih baik jika di beri obat tidur. Mulutnya yang mungil sangat berisik. Dalam waktu yang singkat dia sudah membuat beberapa akun Facebook untuknya. Sekarang buat lagi. Mau ternak akun apa?
Bayu menghindari Medsos, tidak ingin menginformasikan identitas dirinya. Bukan karena alasan apapun, tapi masa lalu yang menjadi trauma tidak bisa lepas dari kehidupan mentalnya.