BLOOD

BLOOD
MALAIKAT PENOLONG



Segerombolan anak-anak berlarian di sisi jalan. Mereka saling pukul mengunakan sarung lalu saling lempar bebatuan kecil.


CLETAK...


Suara batu mengenai depan mobil, Aldi terkejut dan mengumpat kecil dengan logat medannya.


Mobil berhenti di sebuah rumah makan. "Mbak Ayu bersih-bersih di sini ya?"


Ayu mengangguk. "Terus infus nya?"


Ayu memanggil Aldi saat ia kesusahan dengan infusnya. "Apa yang terjadi padaku di?"


"Mbak Ayu pingsan."


Ayu berjalan pelan, "Eh mbak Ayu, kenapa berdarah? kamu lagi datang bulan atau apa? banyak sekali."


Aldi Panik, "kita ke klinik kesehatan saja."


Jrrrr...jrrrr...


suara handphone Aldi bergetar. Buru-buru Aldi mengangkat. "Bayu," ujarnya pada Ayu yang di beri tanggapan wajah dingin.


Ikatan batin yang sangat kuat terjalin.


"Apa Ayu baik -baik saja?"


Bayu bisa merasakan bahwa adiknya dalam masalah.


Sssssssstt...Ayu memberikan isyarat pada Aldi.


"Iya baik-baik saja."


Puskesmas kobum terdekat menjadi tujuan Aldi selanjutnya.


Senyaman surga yang dulu penuh canda tawa kini telah tiada. Hanya menyisakan kekakuan dan ketakutan yang kian mencekam.


Ayu hanya terdiam mengikuti Aldi. Bahkan sampai tubuhnya di geladak oleh kereta rumah sakit, Ayu hanya terdiam.


"Ini pendarahan mas!" Suster yang memeriksa Ayu mengajar Aldi untuk mengurus semua keperluan.


Tidak report dengan banyak pilihan Aldi mengaku suami Ayu untuk melancarkan pemeriksaan.


Ayu tidak menuntut banyak dari takdirnya. Hanya ingin segera bangun dari mimpi buruk yang berlarut-larut.


Aldi merengkuh Ayu ke dalam pelukan. "Aku bersamamu." ucapnya pelan. Dia mengusap kepala Ayu penuh kasih sayang. "Udah. Jangan takut lagi, ya."


"Alhamdulillah mas, ibu dan bayi masih bisa di selamatkan."


Aldi tersenyum meski hatinya seakan dihujani ribuan jarum. Dia merutuki diri sendiri yang sudah sembrono meluap emosi.


Sementara Ayu menenangkan hatinya.


Aldi duduk di sofa ruang tunggu. Laki-laki itu merangkul kesunyian sendiri.


"Mau tidur di sini?"


Seorang lelaki paruh baya menegur nya. Aldi pun hanya mengangguk.


"Tapi..."


Mendung yang bergelayut di wajah langit berangsur hilang. Ketika tengah malam, suara bocah menangis, suara orang mengerang dan juga suara orang-orang berdoa saling bersahutan.


Kereta rumah sakit keluar dari rumah IC Ayu tergelak lemah. Dan buru-buru Aldi menghampiri. Terdengar suara lega.


Di dalam hati nya Aldi berjanji akan menemani Ayu melewati kesulitan.


"Ayu, pagi-pagi besok ketika kamu sudah sehat, aku akan mengantarmu pergi ke pasar membeli sayuran untuk kita makan. Aku akan menemanimu berjalan kaki setiap pagi dan mengantarkan kamu ke klinik kesehatan."


Ayu hanya diam. "Aku juga akan menemani mu mengerang mempertaruhkan nyawamu untuk buah hatimu, jika boleh mengakui buah hati kita."


Tetesan kristal putih mengalir di pipi kanan Ayu. Tidak mampu mengurai kesedihannya.


"Ayu, kamu tidak sendiri, aku akan menemanimu apapun yang terjadi. Kamu boleh tidak mencintai ku, tapi biarkan aku menemani mu, dan jadikan ini rahasia kita." sekali lagi malaikat penolong datang.


Wajah Ayu kembali murung menginggat kakaknya, suaminya, dan semua orang.


"Apakah aku masih memiliki kesempatan Aldi?"


Aldi mengangguk sembari menggenggam tangan Ayu.


"Anak ini..."


Aldi menggeleng mengencangkan genggaman tangannya "Tidak apa, ini akan menjadi rahasia kita."


"Di, bawa aku pergi jauh."


Aldi mengangguk, "Jangan memaksa untuk mencintai aku, jangan menderita karena tidak mencintaiku. Aku sanggup menunggumu, sampai Kamu menerima aku seperti layaknya saling mencintai."