
Ismail mendatangi rumah Bayu beberapa hari setelah kejadian baku hantam.
Selepas magrib dengan wajah kuyu Ismail mengetuk pintu rumah Bayu.
"Assalamualaikum..." Suaranya parau, jelas sekali bahwa kekacauan melanda hidupnya.
Rara membuka pintu depan tergesa. Terkejut dengan bau alkohol yang menyengat.
"Abi, sepertinya dia mabuk!"
Memar di sana sini bekas di hantam Bayu masih jelas terlihat parah. Rara hanya menggelengkan kepala.
“Padahal sudah di ingatkan jangan berkelahi, kayak anak kecil saja.”
“Duduk,” Bayu menghampiri Ismail dan mempersilahkan adik iparnya untuk duduk.
"Sayang, buatkan susu panas untuk kami."
“Apa itu sakit?”
Ha ha ha...! Ismail tertawa ngakak “nggak sesakit mendapatkan kenyataan bro!”
Bayu hanya menaikkan alisnya.
“Apa perlu istrimu dengar kenyataan pahit ini?” wajah Ismail menunjukkan kelicikan. Senyum sinis nya begitu jelas terukir sebagai ancaman.
“Why?”
“Aku pikir, biarkan istrimu menjauh dari obrolan kita, atau kamu akan menyusul perceraianku.”
Mata kanan Bayu menyipit dengan seulas senyum bodoh.
“Sayang! Ada hal pribadi ingin ku bahas sama Ismail, pergilah dulu aku tidak ingin kamu dengar.” Dengan santai Bayu menyuruh Rara pergi.
Wanita sederhana yang mendampingi Bayu cukup lama itu menimpali ucapan suaminya dengan senyuman menawan. Rara meletakkan dua gelas susu untuk kedua pria yang dulunya sahabat akrab itu.
"Istrimu penurut. Seandainya Ayu seperti itu."
Rara melangkah keluar rumah, "Bi, aku mau ke tempat Ayu."
Hmmm...
Dengan santai Rara mengendong Al dan melangkah pergi. Kedipan mata Rara terakhir sebelum pergi sebagai isyarat bahwa tidak boleh ada pertikaian.
“Oke,” Bayu berdiri menghampiri istrinya yang sudah mencapai pintu dan membisikkan banyak kata indah.
“Dasar!” balas Rara geli.
“Oke, istriku sudah pergi apa yang ingin kamu sampaikan?”
“Kamu tau Ayu masih perawan? Itu yang membuat kamu marah?”
Geramnya Bayu mendengar suara Ismail yang tanpa beban. Tinjunya hampir melayang sebelum dia kembali mendengar ucapan Ismail yang jelas-jelas membuat Bayu shock.
“Kamu meniduri adikmu sendiri.”
Tangan Bayu gemetaran. Bayu terhenyak cukup lama. Bagaimana Ismail tau.
Hhhhhhhhh...! “Jadi benar dugaanku? Ayu mencintaimu bukan sekedar kakak! Iyakan? Bangsat!”
Untuk sesaat Bayu mundur dan tidak bisa berkata-kata. Ucapan Ismail adalah tamparan keras yang langsung mengena.
“Jika kamu tidak meniduri dia bagaimana kamu tau dia masih perawan? bagaimana kamu tau masalah kami?”
Huuuuuuuufffg...
Ada hawa dingin masuk memenuhi seluruh persediaan Bayu yang hampir saja lumpuh.
Wajah Bayu pucat pasi. Kenyataan mengatakan Ismail hanya membual. **Sialan! Umpat Bayu dalam hatinya yang tiba-tiba kalut.
Ternyata Bayu hanya perlu alasan untuk mengelabuhi Ismail sebab musabab tindakan brutalnya.
“Aku kakaknya, Ismail. Setiap kali dia ke rumah dalam waktu yang panjang aku selalu bertanya. Pertanyaan yang sama ‘di mana suamimu?’ Kamu tau? Jawaban Ayu pun selalu sama, ‘mancing’ di mana letak salahnya emosiku?”
Bayu baru menyadari bagaimana rasanya jika hubungan tak lazimnya dengan Ayu bakal terbongkar. Ada sebersit penyesalan yang sudah basi singgah di hati kecilnya.
Ismail membenarkan letak duduknya yang tidak stabil. Hati kecilnya bertindak dengan kewaspadaan.
Melihat Bayu yang ngos-ngosan seolah ingin menerkamnya. Ismail berinisiatif untuk terus waspada. Sakit akibat bentrokan beberapa hari lalu masih terasa sangat ngilu.
“Sabar mas, kita bicara baik-baik. Aku tau aku salah tapi mas harus tau alasan ku juga.”
Bagaimana pun Ismail tau seberapa kuat sosok Bayu. Bersama Bayu dalam waktu tiga tahun sudah memberi dia pengetahuan luas kebrutalan kakak iparnya dalam dunia kenakalan.
Diam-diam njelimet adalah nama besar lelaki yang memiliki nama lengkap Bayu Gatra itu.
Lebih baik mundur dari pada bermasalah dengannya. Panjang urusan.
Sial!
Bayu sendiri merasa terkena serangan panik. Ismail sialan hanya menggertak dengan menebak asal bicara.
Tapi tetap saja, apa yang baru Ismail katanya mempengaruhi kinerja otak Bayu.
Seketika Bayu menjadi banyak diam. Mendengar apa saja yang di ucapkan Ismail dengan saksama.
“Bro, Ayu mencintaimu. Dia sering mengatakan itu dalam tidurnya. Bagaimana bisa aku meniduri dia jika di hatinya ada kamu. Aku cemburu dan aku tidak nafsu sama wanita yang tidak memiliki rasa padaku.”
“Tapi kan kamu tau Kami saudara kandung.”
“Itu masalah kalian. Sudah bersyukur aku tidak memberitahu siapapun tentang ini ke orang-orang.”
Sebesar itu cinta Ayu padanya.
“Di Lima tahun pernikahan kalian, apa benar kalian tidak saling sentuh.”
“Ya mau bagaimana, Ayu menolak ku,”
“Apa kamu tidak bisa meluluhkan hatinya?”
“Dia yang mati rasa, mengapa aku memperjuangkan orang yang bahkan tidak sedikit pun menghargai pengorbananku.”
“Apa benar seperti itu?”
“Ayu selalu memanggil mu dalam tidurnya, dia mengeluh kan banyak hal, dan aku benci.”
Bayu belum yakin mana di antara Ayu dan Ismail yang benar. Tapi Bayu ingat nasehat Rara. Bahwasanya manusia memiliki takdirnya masing-masing, dan akan melewati prosesnya sendiri.
“Gini aja bro! sekarang gi mana maunya?”
“Tanya Ayu, jika dia tidak bisa lepas darimu. Cerai jalan terbaik.”
“Kamu yakin? Itu yang terbaik?”
Ismail mengangguk pelan sembari menyulut rokok.
Ismail menghela nafas panjang,
“Boleh aku memukulmu sekali saja sebagai balasan.” Ucapnya dengan tatapan matanya yang tajam.
“No! Belum tentu yang kamu bilang benar.” Bayu hanya melirik Ismail sekilas.
“Kebenaran mana yang kamu ragukan?”
“Semuanya.”
“Oke," Ismail menjentikkan abu rokoknya, meminum segelas susu hangat sampai tandas. "Kamu tanya Ayu. Jika benar kata dia, makan datanglah padaku," Dengan sedikit membenarkan bajunya Ismail menjabat tangan Bayu, "untuk satu pukulan ku.”
Heh!
Bayu tersenyum skeptis tidak menjawab, tapi dalam senyumnya tersimpan makna ‘silahkan'