
PAGI masih terlalu gelap gulita. Namun hidangan untuk sarapan sudah di atas meja.
Bayu celingak-celinguk terus mencari-cari, di mana gerangan sang istri.
“Yu...”
Bayu tidak ingin merasa-rasa juga menerka-nerka, bahwa ada yang ingin mencuri ciuman darinya.
Pemuda itu mengalihkan perhatian dengan mencari istrinya. Bisa saja semua tuduhan hati kecilnya yang tidak berlogika itu justru istrinya lah yang menjadi pelaku.
Dengan santai Bayu kembali menikmati sebatang rokok dan segelas kopinya yang hampir dingin. Berpura-pura tidak terjadi apapun adalah hal yang paling baik daripada menerka-nerka tetapi tidak ada kenyamanan. Itu akan memalukan.
“Yu, di mana Mbak mu?”
Lelaki dengan badan kurus dan bermata cekung itu kembali bertanya pada adiknya. Dengan suaranya yang sangat lembut. Bahkan Suaranya lebih lembut dari hembusan angin.
“Lekas siap-siap.” Ujar Bayu lagi.
Ayu tampak tidak terganggu sedikit pun oleh teguran kakaknya. Dia diam saja dan terus seru dengan handphonenya.
“Letakkan HP mu! Ayok kita sarapan.’’
Gadis mungil itu tetap tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Meskipun di panggil berulang -ulang. Jangan kan bergerak menimpali pun tidak.
‘’Yuuu...!” Bayu menampilkan wajah emosionalnya. Memanggil adiknya dengan nada yang lebih keras. Sorotan matanya tajam merasa di abaikan.
“Makan dulu! Katanya mau ikut mas.’’ Jelas Bayu menekan kan.
Ayu, adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara dan Bayu adalah laki-laki tunggal dalam keluarganya.
Lelaki dengan ciri khas rambut sebahu di ikat berantakan ini memang memiliki wajah menawan. Tidak terlalu bersih seperti Oppo Korea kata Ayu. Namun mampu membuat banyak kaum hawa berebut perhatiannya.
Orang Jawa bilang Bayu memiliki mata elang. Mata yang tajam mematikan.
Jika di lihat dari postur tubuh, wajah dan warna kulit Ayu dan Bayu sangat berbanding terbalik.
Gadis mungil yang memiliki nama lengkap Rahayu Kinasti itu masih tetap fokus dengan layar handphone. Dia hanya sesekali melenguh, itu pun dikarenakan kakinya yang gatal atau bisa juga di karena kan ngilu dan pegal.
Huuuuuuuufffg...
Ayu menghembuskan nafasnya begitu berat. Ada apa gerangan? Wajahnya terlihat serius. Bayu melirik adiknya dengan tatapan determinasi.
Ayu tampak mengerakkan badannya dengan liukkan manis berulang -ulang. Dia sepertinya mulai merasa gerah dan tidak nyaman.
Bayu hanya sekilas melihat adiknya. Dia hanya membentuk lengkungan tipis di ujung mata untuk mengintip betapa seriusnya Ayu pada benda kotak itu.
Tidak ingin terpancing emosi Bayu lebih memilih untuk menikmati setiap hisapan rokok dan setiap teguk kopi tubruk buatan istrinya.
“Kamu bilang mau ikut mas, lekas bersiap-siap. Mas nggak mau ya? Nanti sudah mau berangkat kamu lari -larian, buru-buru! Ujung -ujungnya ada yang tertinggal dan kita putar balik.” Ucap Bayu yang begitu hafal dengan kebiasaan adiknya.
Mata Ayu masih sangat asyik dengan layar handphone. Tangan kirinya dengan lincah mengetik huruf demi huruf merangkai begitu banyak kata menjadikannya sebuah kalimat yang memiliki banyak arti di dunia media sosial. Meskipun hanya dengan satu tangan, Ayu tidak terlihat kesulitan dengan keseruannya.
Terkadang mimik wajah Ayu tampak tersenyum lebar, lalu bibirnya mengerucut. Terkadang tiba-tiba dia terbahak-bahak lalu marah dengan memaki-maki.
Kali ini tangan kanan Ayu mulai ikut aktif di atas rak piring. Menimpali peringatan Bayu dengan bersiap seolah hendak ikut bergabung untuk sarapan pagi.
Tangan kanan Ayu terus meraba-raba mencari sesuatu dengan mengandalkan Indra perabanya.
Bayu Gatra, menggelengkan kepala. Dia terus memperhatikan adik kecilnya itu dengan tatapan ekor matanya yang teduh.
“Ada-ada saja “ keluhnya sok tidak peduli.
Ayu mencoba menggapai mangkuk yang berbaris di antara peralatan makan. Namun sedetik kemudian matanya menoleh pada kakaknya.
“Ada apa?” tanya Bayu yang melihat tatapan mata tidak berdaya Ayu.
Bayu menyipitkan matanya mengejek. Dia tersenyum tidak peduli dan enggan membantu. Bayu justru memasang wajah pura-pura tidak taunya.
“Mas!”
Bagaimana bisa Ayu memiliki tinggi badan kurang lebih 140 cm sementara semua saudaranya memiliki tinggi rata-rata, senyum Bayu menggelitik.
“Mas!”
“Heh...iya iya aku ambilkan.”
Tidak segera bertindak Bayu justru mengapai korek api, menyalakan dan menyulut rokok dengan gerakan reply.
“Mas! Ambill!”
“Iya sabar ini korek apinya nggak nyala -nyala.”
Ayu merenggut kencang. Wajahnya di tekuk menjadi lipatan acak memandang kakaknya yang begitu lambat.
Bayu berdiri dan menghampiri Ayu. Dia berjalan pelan dengan malas.
Di memperhatikannya Ayu sebentar, mencari isyarat lain di pertemuan singkat mereka.
“Apa?” di lihat Bayu sedemikian jahil Ayu menjadi salah tingkah dan menjauhkan wajahnya.
Bayu terkekeh kecut, mengharapkan sesuatu yang mustahil.
Pemuda yang tidak muda lagi itu tidak tau mengapa dia begitu suka menikmati wajah adiknya. Ada rasa indah tersendiri tersimpan dalam benaknya saat menikmati setiap goresan lukisan Tuhan yang ada pada adiknya. Ayu terlihat begitu indah dan seksi.
Eh! Bayu menggelengkan kepalanya dengan keras membuang perasaan kotor yang tiba-tiba menjadi virus.
“Ngapa mas?”
Bayu memukul pipinya seperti seseorang yang sedang membangunkan orang tidur.
Berulang -ulang dia berusaha menyadarkan dirinya sendiri namun bayangan kotor masih saja hadir.
“Hayo...kotor pasti.”
“Makanya pakai baju yang benar!”
“Heleh! Dasar mas aja yang mesum. Isi kepalanya pasir.”
Tangan Ayu mencoba menyambar mangkuk yang sudah ada di tangan Bayu.
Bayu berkelit dengan mengangkat tangannya tinggi. Dan dengan gokil Bayu menyodorkan pipinya “upah”
“Mas!”
Masih dengan keusilannya. Bayu menunggu dengan sabar si bibir mungil itu nemplok di pipinya.
“Mas!” suara Ayu menyentak.
Bayu tersadar dari lamunan singkatnya. “Ngarep!” hardik Ayu sewot.
Bayu terkekeh pelan melihat wajah adiknya yang merah padam.
Meskipun Otak kecil Bayu refleks menangkap adalah kesalahan dalam imajinasi mubazirnya, tetap saja dia sangat menikmati.
“Ada apa mas? Kok kaget. Sini piringnya!”
*Tetaplah semangat untuk terus maju meskipun jalan terasa terjal. 18052023/09.03🍓