BLOOD

BLOOD
PERBINCANGAN SINGKAT



HANDPHONE berdering.


“Ismail.” Bisik Bayu pada Rara.


Ayu mencondongkan kepalanya, memasang telinga untuk menguping.


Bayu mengekspos wajah tidak suka, sejak kemarin Bayu sudah tidak memberikan muka pada adiknya. Bukan tidak sayang sebagai seorang kakak, tapi Bayu harus melakukan untuk menghindari banyak hal. Meskipun terkadang hatinya mengatakan semua sudah terlambat, tapi Bayu memilih untuk melakukan tanpa harus mempertimbangkan.


Kesalahan yang terjadi memang bukan mutlak kesalahan Ayu tapi juga kesalahan dirinya yang seolah memberi ruang dan kesempatan.


"Kamu sudah benar tidur di toko untuk apa kamu ke sini?"


Ayu menatap wajah kakaknya. Matanya berkaca-kaca, "dari kemarin marah terus," ucapnya sendu dan berlari pergi.


"Yu....!" Rara beranjak untuk mengejar tapi Bayu menghentikan langkahnya.


"Biarkan dia pergi."


“Ya, halo.”


(“Apa maksudnya ini?!)


Bayu menatap Rara untuk tidak menguping pembicaraan mereka. “Go!”


Tidak dua kali perintah Rara langsung menghampiri Al dan melangkah menuju kamar.


"Tidak bisa ke rumah?"


(“Ayu mana?”)


“Ada.“


(“Kembalikan dia.”)


“Tidak akan! kamu menikah dengan Ayu adikku, cinta nggak?”


(“Cintalah.”)


''Itu jawaban yang sangat indah. Jawaban yang sangat aku harapkan. Lalu buktinya?”


(“Bawa dia padaku, atau....?”)


"Kamu mau ngancam aku? Telat!.”


(“Ayoklah, kita sama-sama lelaki. Kamu tau apa kata orang melihat Kamu bawa istri ku pulang.”)


(“Kembalikan istriku.”)


(“Langkahi mayatku.”)


Bayu menutup telfonnya dengan hati-hati.


“Ada apa mas? Kamu bawa Ayu pulang. Ada masalah kah? Bicarakan masalah dengan benar.” Rara memeluk Bayu dan mencium kening suaminya.


Adanya sesuatu yang tidak beres terus mencecar suaminya. Keadaan yang kemungkinan besar menjadi bumerang berat. Rara mengelus pelipis Bayu yang memar. “Kamu habis berantem?”


Meskipun Bayu mengeleng, mengelak tapi memar di wajahnya menjawab pertanyaannya.


“Mengapa begini yank? Nasip adikku.”


“Manusia memiliki takdir dan proses masing-masing. Dari setiap perjalanan dan peristiwa akan ada pembelajaran dan perubahan, sekecil apapun itu."


Rara menghela nafas, di peluknya Bayu, "akan ada ilmu yang bisa di petik sebagai pembelajaran Bi. Abi tidak boleh terus memanjakan Ayu seperti itu. Ayu tidak akan dewasa.”


“Tapi...” Bayu menahan diri, mana mungkin Bayu mengatakan pada Rara ada skandal antara dia dan adiknya.


Apalagi mengatakan bahwa Ayu masih perawan di usia rumah tangganya yang sudah lima tahun. Akan ada pertanyaan ‘kok tau’ lalu dia akan menjawab apa. Bahkan akan ada pertanyaan-pertanyaan lain yang pasti akan menyudutkan dirinya.


Ya Tuhan...


Bayu meraup wajahnya dengan gusar. Tiba-tiba bayangan dosa melintasi matanya. Jika Ayu hamil?...bodoh!


“Sudahlah, biarkan Ayu berproses. Dia akan dewasa dengan semua ujian mentalnya.” Ucapan Rara ada benarnya. Membiarkan Ayu berproses dengan takdirnya akan lebih baik.


Rara hanya tersenyum, “Biarkan saja Abi, Ayu harus tau bahwa hidup itu kejam, agar dia bisa menghargai sedikit saja kebaikan.”


“Maksudnya?”


“Dengan rasa sakitnya, dia akan memutuskan apa yang baik dan apa yang buruk. Kita lihat saja dari jauh. Lagi kita tidak bisa menilai dari satu pihak. Ayu bisa saja membuat skenario perjalanan hidupnya yang tragis padamu, tapi kenyataannya kita tidak tau kan?"


“Selama Ayu tidak di pukul, bukan masalah besar dalam rumah tangga.” Ujar Rara lagi.


Bayu mangut-mangut, lalu kembali meraih handphonenya.


“Bro, datanglah ke rumah kita bicara.” Ujar Bayu pada Ismail dalam pesan singkatnya lewat watshap.


Kali ini Bayu berharap semua akan baik-baik saja. Mudah mudahan masalah Ayu tidak serumit yang dia kira.