
Bayu menelan air liurnya. Sejenak dia menghentikan langkahnya, menatap punggung Ayu yang terus menjauh. Tidak bisa membayangkan isi dari buku diary yang tertinggal dalam tumpukan buku usang masa kuliahnya. Buku coretan-coretan itu berisi banyak kisah menyediakan bahkan memalukan dalam perjalanan hidupnya yang menjijikkan.
Dalam buku setebal lima inci itu tertulis banyak hal gila seputar kehidupan liarnya.
Hmmm...Bayu berdehem lirih, M
Menjajari langkah Ayu kembali.
“Masa-masa memalukan.” Ujarnya tanpa menoleh.
Jam tangan terus berputar, meskipun pelan namun pasti. Matahari pun semakin sombong naik di atas garis lurus. Bayang-bayang bersembunyi.
Sifat gengsi memang menjadi fenomena alamiah laki -laki. Mempertahankan apa yang namanya harga diri, seorang lelaki sering menggunakan alasan yang terkadang tidak masuk akal. Mencemooh keadaan yang sebenarnya tidak memiliki hubungan sama sekali dengan kebobrokannya.
Dalam keadaan terjepit lelaki terkadang melarikan diri dan selalu mengambil jalan pintas.
"Melarikan diri terkadang diperlukan." Gumam Bayu laksana hembusan angin.
CK ck ck ck ck.... Bayu tampak menggelengkan kepalanya.
Di tengah danau yang airnya kemungkinan mencapai dua meter di atas kepala tampak seorang pelayan sedang berjuang dengan jaringannya.
Huuuuuuuufffg...
“Mas itu bukan anak sastra Yu, menulis harus memiliki keahlian khusus.”
Ayu menatap Bayu yang terlihat gelisah. Berdiri bersebelahan memandang ke tengah danau melihat permukaan air yang terkesan menantang matahari. Matanya tak henti hentinya berkedip-kedip membuang silau.
“Tenang saja! Nanti mas belajar sambil jalan.”
Pemaksaan!
Bayu sedikit kesal. “Mas ini anak pertanian, pekerjaan yang harus mas ambil harus seputar pertanian. Misalnya penyuluhan pertanian.”
Bayu beralih berdiri di hadapan Ayu, berhadap-hadapan.
Wajah mungilnya Seketika memerah, mana kala jemari Bayu menyibakkan anak rambutnya yang tergerai bergoyang di terpa angin.
Ayu melonggarkan nafasnya dengan sangat bahagia.
"Ayok kita cari makanan, main airnya sudah dulu." Bayu menggenggam tangan Ayu. menyusuri tepi pantai untuk kembali pada kendaraan yang tertinggal jauh.
"Yu, mau di bawa ke mana hubungan ini?"
Sekilas mata bulat Ayu melirik Bayu. Terasa genggaman tangannya mengencang.
Bodok amat !
Ayu mengacuhkan pemikiran yang bisa merusak suasana romantisnya..
"Kita adalah sepasang kekasih yang tidak memiliki takdir." Bayu menjentikkan telunjuknya di hidung Ayu.
“Nggak mau tau! dan tidak ingin memikirkannya mas.” jawab gadis berambut sebahu itu teduh.
Gadis yang keras kepala, "kamu tau akhir yang akan terjadi pada kita, lupakan mas dan mulailah hidup barumu."
“Jika tidak salah ingat, buku yang aku maksud bisa di bilang diary mas kan?" ejek Ayu menjawab keluhan Kakaknya.
Bayu mengedikkan bahunya, "Lupakan acar nulis novel, aku tidak memiliki ilmunya."
"Tapi menulis novel bisa membuat aku mengekspresikan rasaku padamu, aku bisa selalu memiliki semua rasa ini mas,"
"Kenapa tidak kamu saja yang menulis?"
"Aku ingin mas, yang menulis. kisah cinta yang mas curhat kan dalam setiap kalimat mu, bisa ku rasakan itu hanya milikku."
Bayu, sekali lagi menatap pemandangan danau. "Matahari sudah menembus angka di atas rata-rata, nanti kamu gosong." Dengan lembut Bayu merangkul bahu adiknya, membimbing keduanya untuk segera meninggalkan tempat itu.