
GEMULAI tari semilirnya angin di pagi hari memanjakan paru-paru. Sayup -sayup lantunan sholawat nabi dari kejauhan masih berkumandang jelas. Suasana islami yang damai menyatu dengan nuansa subuh seperti dingin dan pagi yang ingin berpelukan begitu erat sebelum perpisahan.
Mencintai saudara kandung adalah perbuatan yang di haramkan. Bayu tau itu. Namun perasaan yang di miliki hatinya pada Ayu adalah cinta.
Itu pasti cinta. Bayu menegaskan kesalahannya dan mulai menghakimi dirinya sendiri.
Untuk seorang lelaki petualang. Bayu Gatra bisa membedakan perasaan apa yang hadir di benaknya.
Sekeras apa pun otaknya menolak perasaan itu, tetapi itulah kenyataannya. Semakin menolak semakin menjadi amuba yang terus berkembang biak dengan subur memenuhi setiap sel darahnya.
Gemuruh yang di rasakan Bayu saat berada di sisi adiknya itu semakin menggila.
“Sini...!” Ayu menadahkan tangannya.
Ah!
Meskipun ditepis berkali-kali, hati Bayu tetap bergelut dan saling tuduh.
Rasa yang datang begitu urakan tidak bisa di kendalikannya.
"Apa?"
Wajah sangar Ayu yang menatap dirinya seolah marah justru menjadi pemandangan yang begitu manis. Saat bersama Ayu berdua saja Bayu bisa menjadi makhluk tergila.
huuuuuuuufffg ..."Panas." dengan sedikit sentuhan manis Bayu mengibaskan kerah bajunya. Terkekeh geli dan segera menghindar dari banyaknya kontak mata.
Ayu tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Tidak menggubris Bayu yang terlihat kasar. Bagi Ayu, sangat tidak mungkin kakaknya memarahinya. Atau bisa di bilang kakaknya belum pernah marah.
Anak ke enam dari tujuh bersaudara yang memiliki nama Bayu Gatra itu memang memiliki temperamen keras, namun dia sangat penyayang. Terlebih itu pada Ayu.
Ayu kembali fokus pada layar handphone. Siapa yang tau apa saja yang di lakukan Ayu dengan keseruan barunya?
Alis sebelah Bayu terangkat tinggi dan wajahnya terlihat memerah karena marah. Perasaan di abaikan menjadi lebih mudah mengontrol emosi.
Melihat Ayu yang justru seenaknya sendiri. Mood paginya Ambyar.
Kotor! Bayu yang menunggu ciuman adiknya. Menghina dengan sadis.
Cih! dia merasa jijik sendiri dengan cintanya yang tidak masuk akal.
“Bisa letakkan dulu hp itu nggak?!”
Otak kotor Bayu yang merasa gagal dengan imajinasinya. Berubah beringas dalam kemarahan.
Momen-momen keromantisan yang di harapkan Bayu tidak menjadi kenyataan. Berubah menjadi ekstrim dan keusilan yang di sengaja.
Bayu berkelit dengan lincah, memainkan tangan dan mengangkat tangannya tinggi. Lalu meletakkan kembali mangkuk ke tempat semula. Tersenyum puas dengan kemenangan, Bayu pun melangkah duduk kembali.
“Lho kok...” Ayu tampak kecewa.
“Kamu harus memohon dulu! baru mas ambil in lagi.” Jawab Bayu congkak. Kembali duduk.
Ayu menatap wajah kakaknya yang menurut pemikiran dangkalnya sangat tidak berlogika.
‘’Hanya untuk sebuah mangkuk! Mas. Masak aku harus memohon.” Katanya tidak mengerti dengan jalan pikiran Bayu.
Cukup lama Ayu terdiam mencerna perkataan Bayu. Mengapa kakaknya terlihat sangat kesal padanya?
“Bukan hanya untuk sebuah mangkuk saja! tapi kamu harus minta maaf sama mas. Karena, sudah menggantikan posisi mas di hatimu dengan benda kontak itu!” Bayu menunjuk handphone di tangan Ayu.
“Eh, kok...?”
Ayu tersenyum geli, mendeskripsikan semua ucapan kakaknya sebagai rasa cemburu.
“Ya elah mas.“
Nada bicara Bayu yang mulai emosi membuat Ayu yakin jika dirinya sudah mampu menggapai sebuah rasa yang terpendam begitu lama.
Ayu tersenyum sedikit bahagia. Dan Senyumannya berubah menjadi ejekan yang *******.
Bayu Gatra lelaki beristri, berusia tiga puluh empat tahun memiliki dua orang putra. Meskipun memiliki wajah yang pas-pasan namun sosok Bayu termasuk ke dalam nominasi tops idola bagi kaum hawa.
Begitu banyak peristiwa yang terjadi antara Ayu dan Bayu menunjukkan sebuah rasa cinta dan romantisnya hubungan asmara. Namun kembali di bentengi rasa mustahil karena keduanya adalah saudara sedarah.
Perasaan Ayu sendiri begitu indah menaman di sanubarinya sejak usia dini. Bisa di bilang Bayu adalah cinta pertamanya.
Sekian lama Ayu hanya menjadi aktor cadangan bagi Bayu. Ayu hanya bisa selalu menebak-nebak hati di balik cangkang menawar sang kakak.
Meskipun semua peristiwa menunjukkan kenyataan yang jelas, namun cinta kakaknya padanya masih sulit untuk di artikan.
Terkadang suasana romantis keduanya pun hanya terlihat sebatas ilusi. Namun Ayu yakin, jika bukan karena terhalang darah yang sama Ayu lah yang akan duduk di kursi pengantin Bayu Gatra.
“Mas,” panggil Ayu sedikit seksi. Sengaja mengoda kakaknya.