
SESAKIT ini rasanya. Melihat jelas luka orang tercinta namun tidak bisa melakukan pembelaan apapun. Begitukah rasanya Raraku.
Ini adalah karma dari perbuatan yang meninggal bekas luka di hati orang lain.
Memaafkan atau minta maaf adalah hal mudah apalagi hanya sekedar pemanis di bibir. Tapi kedalam hati manusia tidak bisa di ukur dengan diameter atau praduga.
Kehidupan Ayu menjadi pukulan keras bagi Bayu. Seandainya Tuhan memberikan kesempatan hidup yang baik pada adik dan kakak-kakaknya, Bayu berjanji akan memberikan kehidupan yang baik dan layak pula untuk istrinya.
"Saat Abi mendapatkan masalah yang Abi sendiri tidak tahu jalan keluarnya. Abi hanya perlu duduk tafakur, menginggat banyak dan panjangnya perjalanan hidup Abi." Rara memeluk Bayu.
Lelaki dengan wajah tirus itu terperangkap dalam dilema waktu yang sebentar dia tau itu adalah siklus hidup yang dia ciptakan sendiri.
Banyak seandainya berkembang dalam benaknya. Andaikan saja waktu itu Ayu tidak ikut, andaikan dia tidak memberikan kesempatan, dan banyak sekali andaikan....
"Abi...di dunia ini ada tiga hal yang bisa di jadikan patokan akan ke iman an. Saat menghadapi masalah kita perlu ingat, pertama cobaan itu mutlak cobaan agar kita bisa menghadapi segalanya. Ke dua cobaan berupa hukuman, agar kita koreksi diri. Ketiganya cobaan berupa peringatan agar kita tidak mengulangi."
Bayu mempererat pelukannya. Dengan begitu hatinya serasa nyaman.
******
Bayu berdiri melihat lalu lalang orang yang beraktivitas lewat jendela toko yang belum sempurna di buka.
"Eh, Abang ipar," Aldi yang baru muncul mendapatkan pintu yang terbuka sedikit langsung masuk. "Tumben sudah jam tujuh belum di buka bang?"
Bayu masih berdiri kokoh tidak bergeming. "Aldi, kamu benar -benar menyukai Ayu?"
Aldi ikut berdiri menjajari Bayu, melihat situasi suasana hati bos nya. "Saya cinta Ayu bang, tapi tidak untuk menghancurkan keluarganya."
CTEK...CTEK...CTEK...
Suara sendal jepit beradu lantai menghampiri keduanya.
"Mas ..." Ayu langsung memeluk Bayu dari belakang. "Maafkan kesalahanku?"
Bayu berdiri dan diam, tangan Ayu melingkar di pinggangnya dengan erat.
"Yu, kenakan lah baju yang benar. Apa kamu tidak melihat di sini ada aku dan Aldi. Kami lelaki yang normal, bisa saja kami melakukan hal-hal yang di luar nalar."
Ayu terhenyak cukup lama, mendengar apa yang baru saja di ucapkan kakaknya. Dia tidak pernah mendapatkan situasi dingin seperti ini.
“Mas.”
"Aku tidak ingin buka toko hari ini. Aku ingin menyelesaikan masalahmu," Bayu berbalik menghadap Ayu yang hanya mengenakan baju kemeja putih dengan tengtop, celana pendek di atas lutut. "Kamu tau, dengan pakaian mu, kamu sangat menggemaskan."
Ayu tersanjung, tersenyum simpul.
“Tapi mas..."
Aldi hanya berdiri melihat sisi lain di wajah Bayu. "Bang, bagaimana kalau buka saja? serahkan padaku semua aktivitas toko."
"Iya."
SIANG yang terik membawa langah Ayu menuju rumah kakaknya yang terletak tidak jauh dari toko.
Wajah ambigu. Ingin kabur saja dari rumah atau jujur saja sama iparnya soal hubungan gelapnya.
(Mas Bayu harus di beri pelajaran! enak saja dia mau melarikan diri dari perbuatannya.)
Tapi... Ayu berhenti, berfikir cukup keras. Seandainya itu dia lakukan, mungkinkah kakaknya akan tetap mencintainya? atau bisa jadi kakaknya akan membuangnya.
(Terserah, mbak Rara harus tau! )
Iblis mana yang merasuki pikiran Ayu. Gadis mungil itu bertekad, jika Kakaknya meninggalkan dirinya makan Rara pun harus kehilangan kakaknya.
Wajah Rara tersenyum manis dari kejauhan menyambut kedatangan Ayu.
"Ayu... pangil bibi nak," Rara bermain dengan Al anaknya melambaikan tangan sembari bertepuk-tepuk tangan Al.
Wajah imut Al menyambut Ayu, membuat gadis mungil itu mengurung kan niatnya. (Ah, jika mereka berpisah bagaimana Al? bagaimana Albar?)
"Mana mas Bayu mbak?"
"Noh di dalam, masuklah." Rara mengendong Al dan melangkah pergi.
"Mau ke mana mbak?"
"Mau ke toko, kamu selesaikan masalah mu sama mas mu,"
“Ngopo mbak Rara pergi? bagusnya mbak mendengar percakapanku." Ayu tertawa hambar.
Rara menatap wajah Ayu cukup lama, ada senyum sinis menantang di sana. (Ada apa dengan Ayu?) pikir Rara Dalam diamnya.
"Mbak Rara..." ha ha ha...! Ayu tertawa cukup keras. "Seandainya aku hamil anaknya mas Bayu, apa yang akan kamu lakukan? apakah kamu akan bercerai dengan dia? atau kamu bunuh diri?"
"Astagfirullah alazim... Ayu, apa kamu sadar apa yang kamu katakan?"
"Trus...sadar banget." Ayu berlalu pergi meninggalkan Rara. Ada kepuasan dalam wajahnya.