
Bayu memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah makan.
Ayu tertidur sangat pulas, tidak sedikitpun dia terlihat terganggu dengan guncangan laju mobil yang kadang tidak seimbang.
Bayu membuka handphone miliknya. Notifikasi menumpuk dari Facebook. Dengan melonggarkan duduknya Bayu membuka aplikasi noveltoon yang selalu di ributkan Ayu. Apa salahnya menyenangkan adiknya, meskipun itu hanya sekedar melihat-lihat.
Bayu mulai membuka kolom demi kolom mencari informasi tentang aplikasi itu.
Terpampang nama Ayu di sana dan dia mulai membaca bait demi bait. Entah dia sudah membaca berapa paragraf, yang Bayu tau Ayu mengguncang tubuhnya.
"Bangun mas!"
“Heh...” Bayu hanya nyengir mendapatkan dirinya tertidur pulas.
“Mas, ini akun Facebooknya. Bantuin aku promosi.”
Bayu menghela nafasnya yang sedikit berat. Beruntungnya moodnya lagi bagus.
"Sampai mana mas?"
"Mana ya? ntah. Turun geh kita makan."
"Aku masih kenyang mas, mas aja sana."
"Jadi kita lanjut lagi nih? kita akan melewati hutan, tidak ada tempat makan lho."
"Iya lanjut aja."
"Nggak mau beli makanan? mumpung di sini."
Ayu berpikir sejenak lalu bergegas turun dari mobil, dia melihat sekeliling memastikan apa yang ingin di belinya.
Tidak berselang lama Ayu sudah kembali dengan beberapa kantor makanan ringan dan beberapa bungkus makanan basah.
"Sudah?"
Bayu kembali memutar kendaraan.
Malam semakin gelap. Bayang-bayang rumah semakin berlari menjauh dan kesunyian semakin menyelimuti bersama hawa dingin. Pemandangan pohon-pohon terlihat menyeramkan.
"Jam berapa mas?"
"Baru juga jam sembilan. Tidurlah."
Ayu membenarkan letak tubuhnya untuk kembali merajut mimpi.
"Mas, ingin tau seperti apa hubungan ku dengan Ismail?"
Tiba-tiba Ayu membuka percakapan sedikit resmi. Bayu tidak langsung menjawab, dia malah sedikit sibuk dengan rokok di tangannya. Sebentar-sebentar dia menyalakan korek untuk kembali menghidupkan rokok yang mati. Angin membuat dia begitu repot dengan sebatang rokok.
"Jika mas ingin tau bagaimana aku hidup dengannya, berikan aku waktu lebih hari ini."
"Kamu boleh cerita juga boleh tidak, itu hak mu." Jawab Bayu.
Rasa rokok yang dia hisap begitu nikmat, dia sampai terpejam sesaat menikmati lalu dengan Berlahan-lahan menghembuskan asapnya.
"Setiap individu memiliki kehidupan masing-masing, masalah kamu mau cerita atau tidak itu terserah kamu."
"Mas, mengapa aku mencintaimu?"
"Karena kamu goblok!"
"Mas!"
"Yu, manusia boleh terjebak rasa, tapi manusia adalah mahluk berakal."
"Aku penasaran, apakah mas juga suka aku?"
"Iya, aku suka kamu. Why? ada yang salah? suka dalam bentuk apa dulu?"
"Cinta."
"No!"
"Iya!"
"Tidak sayang. Seberapa cinta aku sama kamu, jawaban ku tetap sama 'tidak'."
"Tidakkah mas mau menyenangkan aku?"
"Tidak! aku tidak suka mengantungkan mimpi yang tidak pasti."
"Tapi, aku bermimpi setiap hari bersamamu."
"Ya itu bodohnya kamu!"
"Tapi perasaan ini tumbuh sendiri mas! buka sesuatu yang aku buat-buat."
"Itukan pembenaran mu."
"Mas! aku bisa membuat kita berdua kecelakaan lho, biar kita mati bersama."
"Terus, kepuasan seperti apa yang kamu dapatkan dari tindakan mu?"
Mobil berhenti sedikit ke tepi, Bayu sengaja melakukan hal itu. Dia menatap Ayu lekat -lekat.
Dengan gerakan cepat Bayu mendekap Ayu. Kedua tangannya mencengkeram erat kedua tangan Ayu pada saat sisi. Tidak hanya itu Bayu tidak memberikan kesempatan adiknya untuk lolos. Dia ******* bibir mungil Ayu dan terus bergerak liar di rongga mulut adiknya.
Gadis mungil itu tidak memiliki banyak kesempatan untuk menghindari atau bahkan menolak. Lambat laun diapun menikmati sentuhan Bayu.
Bayu melepaskan Ayu dengan spontan. Tidak memberikan kepuasan pada dirinya sendiri.
Heh! dengan ujung jari dia menyeka bibirnya yang basah. Senyumnya mengejek.
"Apa hubungan seperti ini yang kamu mau?"
Ayu diam tidak bisa berkata-kata. Dadanya hampir meledak. Bukan hanya karena cinta tapi juga karena baru satu orang Bayu yang melakukan adegan seperti itu padanya.
Berkali-kali Ayu tampak mengatur nafasnya yang hampir putus dan menelan ludahnya sendiri.
Sedetik kemudian Ayu merasa sangat sakit hati pada kakaknya. Senyum sinis Bayu begitu menghujat hatinya yang kehausan.
"Jika memang kakak tidak ingin aku mencintaimu dengan jiwa ragaku, berikan aku waktu untuk sebuah kenikmatan."
Heh..."Seperti tadi?"
"Lebih dari itu, aku akan menerima perpisahan setelah ini."
"Apa kamu tidak punya agama?"
"Aku hanya ingin mas, selebihnya aku akan benar -benar melupakan kamu."
Ha ha ha....!
Bayu tertawa keras "ayok kita bunuh diri saja!"
Mobil melaju dengan kencang menembus kegelapan dengan kecepatan tinggi.
Ayu mencengkram gagang pintu depan ketakutan. "Tapi akan lebih baik kita mati bersama mas." Ujarnya.
Aku akan gila!
Cukup lama Bayu menggila dengan adrenalin nya. Bayu tidak mengerti takdir seperti apa yang Tuhan berikan padanya dan adiknya. Bayu yang selalu mati-matian menahan diri justru Ayu begitu berani mengekspresikan rasanya.
"Mas aku lapar." Tiba-tiba Ayu menghiba dengan suara pelan dan pemohonnan.
Seharusnya mereka sampai rumah sebelum subuh akan tetapi perjalanan tidak semulus perkiraan. Jam ditangan Bayu sudah menunjukkan pukul satu mereka masih jauh dari tujuan.
"Aku lelah." Kembali Ayu dengan suara lirih mengangguk telinga Bayu.
Bayu masih tidak begitu memusingkan apa yang di katakan adiknya. Dia lebih gamang dengan hatinya sendiri yang mulai terpengaruh keadaan. Untuk pertama kalinya dia mencium wanita dengan nafsu yang tidak terkendali.
"Kita akan berhenti di rumah makan sahabat kita, di sana nanti kamu naik bis, kita berpisah saja."
"Kenapa?"
"Aku akan putar arah, melupakan sesuatu."
Ayu hanya diam saja menyadari kesalahan. "Iya mas."
Tidak berselang lama tujuan sudah di depan mata. "Mas aku mau berhenti di cafe 'Big caffe' nanti mas boleh tinggalkan aku di sana, lagi aku bisa naik bus sendiri."
Bayu mengangguk kasian. Tapi Bayu tidak ingin mengambil resiko tinggi. bersama Ayu dalam waktu lama kan mengakibatkan terjadinya kesalahan fatal.
Cafe yang di maksud Ayu hanya cafe sederhana yang berdiri mungil di tegah perkebunan kopi. Cafe yang memiliki latar alam liar berjarak 100 m dari jalan raya.
Terpampang biner bertuliskan ‘sedia makanan seafood plus kopi Lampung nikmat'
Kalimat kopi membuat mata Bayu bersinar bahagia.
"Ngopi...ngopi...ngopi..."
Lelaki dengan sedikit kumis dan jambang itu langsung meparkirkan mobilnya sedikit ke sudut. . “Itu kesukaan kamu.” Ujarnya pada Ayu sembari menata mobilnya.
“Mengapa terlalu minggir mas parkirnya.”
“Biar nggak ada yang ganggu.”
Eeeeeeeeeh....????
“Makan dulu sana, mas di mobil aja mau lihat Novelmu.”
“Beneran...? katanya mau ngopii.”
Hmmm...
Bayu hanya mengangguk tanpa melihat wajah Ayu yang berbinar binar.
.."Bawa sini aja."
Bayu mengunjungi Noveltoon membuang sampah di otak'nya dengan mengalihkan perhatian.
Melihat aktivitas Ayu di sosmed dan aplikasi Noveltoon mungkin bisa membuat jernih hasratnya yang sempat tidak terkendali.
Bayu mengunjungi akun Facebooknya yang belum memiliki profil.
Masih di hobi lama, meskipun sudah berusia lanjut. Bayu memilih meliodas sebagai tanda pengenal.
Hal pertama yang di pajang Bayu adalah judul novelnya. Dendam Laras. Sebagai bentuk kepedulian pada adiknya. 'bantuin promosi’ ujar Ayu berkali-kali.
Kebiasaan seorang penjual adalah beramah-tamah. Begitu pun Bayu di akun Medsos.
Prinsip seorang penjual tidak memilih latar belakang kekayaan dan pendidikan. Siapapun, dari mana pun, seperti apapun, selama dia pembeli akan mendapatkan pelayanan yang sama.
Meskipun terkadang seorang pembeli akan sangat menguji kesabaran, namun seorang penjual di larang penggunaan kekerasan atau berbahasa yang kasar.
AYU memilih meja sedikit di sudut. Meja yang menyajikan pemandangan malam bersama bintang gemintang. Meskipun masih termasuk terang namun langit sudah menampakkan penghuninya. Ada bulan sabit menghiasi malam di perbatasan kota bumi.
“Indah.” Gumamnya pelan.
Mata Ayu menyusuri setiap lekukan langit yang masih menyisakan kecerahan. Awan yang hanya sedikit membentuk banyak macam jenis keindahan.
Ada sedikit awan yang berombak, ada pula yang berbentuk serpihan hati.
Ah!
Ada bintang berbentuk seperti layang-layang ada juga yang berdiri sendiri.
Satu bintang yang sangat terang menarik perhatian Ayu. Bintang itu berpasangan tapi mereka berjauhan. Lalu ada satu bintang yang amat kecil seolah mendekati bintang yang satunya. “Akukah itu?”
Awan tiba-tiba menutupi kedua bintang yang baru saja bertemu. “Apa mereka bercumbu di sana?”
Huuuuuuuufffg... Ayu terus berdialog sendiri. Hatinya cemburu membayangkan dua bintang itu adalah kakaknya dan iparnya.
Tuhan takdir seperti apa yang engkau siapkan untukku?
Dua pasang mata memperhatikan Ayu dengan saksama. Wajarlah banyak kaum Adam dan banyak pasangan yang berdatangan. Cafe big cafe memiliki latar alam yang memukau. Kono pada pagi hari pengunjung akan di hadiahi lautan kabur 'Negeri di atas awan' membuat semua orang akan datang dengan rasa penasaran.
Malam akan segera memudar mulai perjalanan matahari akan lekas di mulai.
Kegelapan malam menampakkan wajah seram. Meskipun semburan matahari masih sedikit mengintip cemburu pada setiap pasangan yang mulai bertemu dan saling bertukar kasih.
Sepuluh langkah dari Ayu duduk menanti pesanannya ada dua orang pemuda yang begitu asyik menikmati keindahan wajah mungilnya.
“Hai...?” sapa mereka kemudian menghampiri Ayu. Kedua pemuda itu menarik kursi makan di sekitar Ayu.
“Boleh gabung?”
Ayu yang sedikit terkejut langsung menyambut salam keduanya.
“Hai juga.”
“Sendiri saja?”
Masih dengan rasa terkejutnya Ayu menjawab dengan asal-asalan.
“Maaf, bersama suami.” Ayu melihat ke arah mobil yang tidak terlihat matanya.
Wajah pemuda itu tampak kecewa. Tapi keduanya tidak bermaksud untuk mundur. Keduanya tetap duduk di sebrang Ayu dengan wajah masih menggoda.
“Eeeh, boleh minta nomor WA.”
“No!” Bayu berdiri di belakang kedua pemuda itu dan membantu Ayu untuk menjawab.
“Oh, maaf. Saya kira dia masih sendiri.”
Bayu hanya mengaguk. Menatap keduanya pergi menjauh sembari cekikikan.
“Apa katamu tadi? Suami?”
Bayu menggoda adiknya dengan senyuman manis.
“Aku kaget tadi, bingung mau jawab apa.”
“Kan bisa bilang dengan ‘kakak' misalnya.”
“Jadi mas keberatan aku bilang gitu? Ya sudah biar aku ralat.” Ayu langsung berdiri dan celingukan mencari sosok dua pemuda tadi.
“Eeeeeh...gitu aja marah.” Bayu lekas menarik tangan Ayu dan memaksanya untuk duduk kembai.
“Duduklah lebih dekat, biar kita seolah menjadi suami istri beneran.”
Cih! Ayu meronta melepaskan diri dari cekalan Bayu. Namun cekalan itu begitu kuat Ayu tidak bisa bergerak dan akhirnya diapun duduk diam dalam dekapan tangan kakaknya.
“Biarkan kita seperti pengantin.”
Bayu menggeser duduknya lebih mendekat. Memeluk Ayu lebih intens.
“Mas mau apa?”
“Mau telfon mbakmu.”
“Oh, mau nelfon? Lepaskan aku! Nanti mbak curiga lagi.’’
“Curiga gi mana? Memangnya kamu siapa mas?” Bayu melayangkan telunjuknya menjentik manis kening Ayu.
“Lepaskan!”
Bayu menatap Ayu tidak mengerti. Ayu begitu emosional melepaskan cekalan tangannya.
“Sakit!”
teriak Ayu.
Bayu membuka pelukannya. Menatap Ayu yang pergi begitu saja dengan wajah masam.
“Lho mau ke mana? Nggak makan?”
“Makan sendiri saja mas!”
“Halo Abi....?” dari sebrang Rara telah membuka panggilan watshap darinya.
“Lagi di mana Abi?”
“Masih di sini lah, malam pulangnya.”
“Abi...Abi...” Rara menggoyangkan tangan Al untuk menyambut obrolan bersama ayahnya.
Makanan tersedia di meja. Bayu hanya melihat sekilas pada pelayan dan tersenyum terima kasih.
“Aku mencari Ayu dulu sayang, entah ke mana anaknya tadi.” Pamit Bayu pada istrinya.
Rara dan Al anaknya melambaikan tangan sebelum handphone tertutup.
Dari kejauhan Bayu melihat Ayu duduk di dalam mobil. Anak itu asyik dengan handphone.
“Heh, ayok makan?” Bayu mengapai tangan Ayu yang tidak merespons kedatangannya. Dengan sedikit kekuatan Bayu menarik paksa Ayu.
“Makan dulu.”
“Nggak!”
“Ada apa? Ada yang salah dengan mas nelfon mbakmu?”
Ayu masih diam saja duduk di kursi belakang kemudi.
“Yu, kamu tau apa yang di rasakan hati mas? Kalau lihat wajah mu muram seperti itu?”
Ayu masih diam tidak merespons kakaknya. Sampai satu ketika Bayu mencium keningnya. Ayu ternganga. Dia menengadahkan wajahnya dengan binar bahagia. Air matanya mengalir deras dan semakin deras.
“Ada apa?”
Tiba-tiba Ayu memeluk tubuh jangkung kakaknya.
“Ada apa?”
“Aku cemburu mas! Aku cemburu sama mbak Rara! Aku tidak rela kamu di miliki orang lain! Maafkan aku.”
Bayu menepuk bahu adiknya, menata rambut Ayu yang berantakan dan menarik wajah mungil yang bersimbah air mata itu dengan lembut.
Di jimpitnya dagu Ayu agar wajah mereka dapat berhadapan dengan sempurna.
“Ayu...aku masmu, kendalikan dirimu.”
“Aku tau mas! Aku tau. Tapi hati ini tidak bisa berbohong. Aku cinta kamu mas.”
Bayu terus menatap wajah ayu adiknya. Bibir mungil basah menggairahkan dengan aroma setrobery sangat memancing hasratnya.
Berlahan-lahan Bayu mengecup bibir mungil itu. Mencoba menelusuri lingkaran kecil bibir Ayu. Menggigit dan menghisap pelan. Memainkan peran sebagai pemilik yang menikmati hidangan.
Perasaan apa yang mampu membuat Bayu tenggelam dalam sensasi rasa. Bayu benar -benar menenggelamkan hasratnya. Dia benar -benar tergoda akan kenikmatan adiknya.
Ayu menjerit kecil. Tangannya mencengkeram kerah baju Bayu dengan kencang.
“Apa ini sakit?” bisik Bayu pelan menghentikan aktivitasnya.
“Sakit mas!”
Bayu tidak habis pikir. Rasa yang tersaji malam ini.
Bagaimana mungkin menikah hampir lima tahun tapi adiknya masih perawan.
“Ayu,....”
Gadis mungil itu menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang kakaknya.
Sementara Bayu yang merasa kepalang tanggung menekan tubuhnya hingga rata seirama tubuh adiknya.
Bayu memejamkan matanya menikmati sensasi rasa yang begitu nikmat. Terus mengerakkan tubuhnya dengan baik untuk mengurangi rasa sakit.
“Mas,...”
Bayu menangis dalam diamnya. Kehidupan seperti apa yang di alami adiknya dan akan Mereka alami selanjutnya.
Bagaimana bisa Ayu masih perawan?
“Maafkan mas yang tidak bisa menjagamu.”
Bayu memeluk Ayu tidak karuan. Akhirnya dirinya sendiri lah yang menghancurkan adik kesayangannya.