BLOOD

BLOOD
RARA MAAFKAN AKU



Selepas menikmati makan dan sedikit melonggarkan persendian yang sedikit keram dengan menikmati pemandangan danau, Bayu bersikeras untuk segera pulang. Tidak baik bersama Ayu berdua saja di tempat seromantis vila putri. Pikir Bayu sehat.


Selepas magrib seperti rencana hati Bayu sebelumnya mereka lepas landas meskipun Ayu tampak belum puas dengan hasil perjalanan kali ini. Wajah Ayu terlihat sekali tidak senang namun Bayu sedikit tidak memperdulikannya. Bayu lebih takut pada dirinya sendiri yang terkadang lepas kendali saat berdua saja bersama adiknya itu.


“Mas, aku sudah update novel mu satu bulan, tapi tidak ada yang baca satupun. Tolonglah bantu promosi ya?”


“Ya, tidurlah.”


Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata. Kebiasaan Bayu saat menyetir mobil adalah menikmati musik dengan lagu sedikit nge-Rok. Dari jaman ke jaman meskipun di timpa dengan lagu baru yang juga sangat bagus. Tapi selera lagunya masih sama. Iwan fals, Jamrud, Slank, tipe x. Itu -itulah lagu yang di nikmati oleh Bayu.


“Kuno mas, ganti lagunya cita-citata ngapa.”


Hah!...”apa itu?”


Bahkan jika di terangkan secara detail Bayu tidak pernah tau jika ada lagu yang seperti itu. Dia hanya menggeleng pelan.


"Semua yang aku sukai memiliki kenangan,"


"Apa artinya lagu yang mas nikmati itu, lagu teriak-teriak tidak jelas! mendingan dengerin lagu Ayu ting-ting."


"Alamat palsu...?"


"Huuuuu....! mas kuno, alamat palsu mah sudah di timpa lagu baru banyak banget."


Hmmmm....


Bayu hanya tau jika bosan dengan lagu kesukaannya Bayu akan mendengarkan langgam Jawa. Namun dalam perjalanan jauh lagu Jawa bisa membuat dia tidur pulas.


Ayu menggantikan lagu yang di nikmati Bayu dengan lagu yang aneh. Gadis kecil itu meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama musik.


“Lagu apa sih?”


“Ini lagu yang lagi ngetrend mas, sambalado. Ada lagi lagu yang penyanyinya, mas pasti suka.”


“Aaaa...????”


Lagi dangdut campuran 'Aku chantik'


"Narsis." Ejek Bayu, sembari meraih handphone untuk menganti lagu.


"Eit..." Ayu lebih dulu meraihnya, "Ada lagi, cocok buat mas."


Tangan mungil itu mulai menyusuri jajaran lagu-lagu yang lagi nge-hits pada masa nya.


"Aku tampan, ini lagi yang cocok sama mas ku."


Aish...ah...


“Memang tampan, kayak mas ku.”


Lagu terus mendayu-dayu mengiringi perjalanan keduanya.


Bayu melengos kan wajahnya ke samping membuang asap rokok yang menyengat. “Asyik juga sih ini.” Ujarnya menanggapi.


“Lebih asyik mas, Kalau lihat penyanyi nya, huuuuuuuufffg seksi.’’


“Mana?” mata Bayu langsung melek bersemangat. Ayu ngekek melihat ekspresi wajah Bayu yang bersemangat.


Ha ha ha ha....


“Ketahuan!”


“Ah, kamu ini...”


“Eh, bener lho mas, Ayu tenan, selera mas pokoknya.”


“Sok tau!”


“Tau lah aku, selera mas itu kayak apa? Kayak mbak penjual pecel depan toko kan?” mata Ayu mengerjap imut dengan nada wajah menggoda.


Aih! Bocil nggak ada akhlak! Masnya sendiri pun di bully.


“Tenang mas, tutup mulut.” Tangan Ayu membuat gerakan mengunci mulutnya seolah sedang menarik resleting.


******! Anak satu ini. Ke ciduk juga. Pikir Bayu dengan wajah senewen.


‘’Maaf ya dek, mas nggak pernah tidur sama dia.”


“l see. Tapi, mas sering curi pandang kan?”


“Ya bagus, gi mana nggak ambil kesempatan.”


“Apalagi...?!"


Hik hik hik hik hik


Ayu cekikikan, dia tidak berhenti menggoda Bayu dengan wajah mesum.


“Mas?”


“Hem...’’


Bayu menyulut rokoknya yang tidak mengeluarkan asap lagi. Dia mencoba membagi konsentrasi mengemudi dengan sebatang rokok di bibirnya. Terkadang sesekali dia melihat Ayu yang terus nyerocos seperti petasan banting dengan topik pembicaraan yang lompat -lompat.


“Mbak Rara emang nggak marah, kalau mas lirik wanita lain?”


Asap rokok mengepul melingkar membentuk 0 melewati wajah Ayu lagi, lagi dan lagi.


‘’Kamu marah nggak kalau suamimu yang kayak ****** itu pacaran lagi?”


“Ya marahlah!”


“Sama!”


Ayu menatap wajah kakaknya yang menurut dia sangat tampan. Kakaknya memiliki wajah sedikit oval berkulit kuning gading hidung mancung bibir tipis matanya cekung alisnya sedikit tebal menyatu.


Bayu sangat suka dengan rambut gondrongnya. Macho. Ayu mangut-mangut.


“Ngopo? Ngeliatin nya sampai kayak gitu?”


“Masku ganteng banget.”


“Iyalah!”


“Kok kita beda ya mas?”


“Beda apanya?”


“Face nya. Aku mungil, kulitnya nggak seputih mas, hidungnya nggak mancung kayak mas, dan banyak perbedaan kita.”


“Kamu kurang bahan, kan bungsu. Tinggal sisa-sisa.”


“Astaga! Itu jawaban yang nyakitin mas!”


“Ah, telat! Di sakit'i beberapa kali pun kamu tetap nempel sama mas.”


“Iya sih, nggak ada yang laen.”


Cih...’’ngomong saja kamu naksir mas.”


“Astagfirullah alazim mas! Aku ini adek mu lho, bisa an ngomong begitu.” Ayu mengelak tapi tersenyum lebar membenarkan.


“Hilih bicit!”


Ayu melengos dan membenarkan duduknya. Bagus! jika dia tidur. Mulutnya itu bisa berhenti bicara.


Benar saja si Anabel sialan tertidur pulas.


Terkadang Bayu tidak habis pikir, adiknya yang sudah berusia tiga puluh tahun dan sudah bersuami, masih nempel padanya.


Risih? Tidak! Akan tetapi itu tidak normal.


Ayu terkesan lebih mementingkan dirinya dari pada suaminya. Bayu pun harus repot dengan menyeimbangkan keadaan.


Bagaimanapun Ayu sudah dewasa, dia sudah memiliki rumah tangganya. Tidak seharusnya dia berada di sisinya sepanjang hari. Terkadang anak satu itu menyusulnya tidur. Itu tidak baik untuk hormon testosteronnya yang kadang melonjak naik.


Meskipun dia adik kandung tetapi tetap harus ada batasan untuk hubungan yang sedikit masuk ke dalam urusan pribadi.


Ayu di kategorikan wanita selera Bayu. Badannya sinyal berisi, cantik, modis, dan berani. Di tambah lagi Bayu tau Ayu adalah wanita yang kehausan.


Penghalang satu satunya yang menjadi alarm bagi Bayu adalah Ayu adik kandungnya.


Pendidikan agama Islam Bayu tidaklah baik. Semua tentang kebaikan di dapatkan Bayu dari istrinya.


(“Sebesar biji gandum pun akan aku balas’ janji Tuhan. Mas, Apapun yang kamu lakukan di luar rumah adalah tanggung jawabmu, pada Tuhanmu.”)


Huuuuuuuufffg..."Rara maafkan aku."


Bayu sudah berjanji pada istrinya akan ber Taubat. Sejauh ini Bayu belum pernah melakukan tindakan yang melanggar aturan. Rasanya takut untuk berkhianat pada Rara. Taubat yang di kenalkan Rara padanya bukan hanya sekedar sholat lima waktu, puasa, sedekah dan yang lainnya. Tapi, Rara menekan kan bahwa Taubat itu adalah sumpah janji pada Tuhan yang di ikrar kan dengan hati tulus dengan kesadaran untuk tidak mengulangi perbuatan buruk lagi. Wanita itu mengerikan.