BLOOD

BLOOD
MENOLAK UNTUK JUJUR



Bayu terkejut menatap renyah siapa yang berdiri di hadapannya.


Dua tahun lalu Aldi tidak benar-benar pergi tanpa pamit. Sebelum menghilang bersama Ayu Aldi sempat menghubungi Bayu dan bercerita banyak tentang keadaan mereka. Ayu yang sempat masuk rumah sakit, mengalami pendarahan bahkan saat mereka akan melangsungkan pernikahan.


"Ayu apa kabar?" Rara mengulurkan tangannya. Senyum Rara mengembang penuh persahabatan.


"Mbak..."


Tidak ada yang bisa di katakan Ayu.


"Ayu, bagaimana kabarmu?" Bayu menghampiri kedua wanita itu. Menyalami Ayu yang tiba-tiba sibuk dengan anaknya.


Ternyata waktu yang tertinggal jauh tidak bisa benar-benar menghapus rasanya. Hati Ayu berdesir hebat manakala tangannya dijabat oleh kakaknya. Senyuman Bayu yang terkembang menawan hampir membuat seluruh tubuh Ayu tidak bertenaga.


Ayu tersipu-sipu, "lama tidak berjumpa mas. Aku baik, mas sendiri bagaimana?" Bayu hanya mengedikkan bahunya pasrah.


Idul Fitri tinggal menunggu jam. Suara sahut-sahutan takbir keliling kampung membuat suasana semakin meriah.


"Umi, aku akan pergi ikut takbiran." Bayu dan dua buah hatinya sudah menenteng satu ruas bambu masing-masing sebagai alat untuk untuk ikut takbir keliling.


Andrew berada di gendongan Rara melambaikan tangannya. "Hati-hati Abi." ucap Rara mewakili putra kecilnya.


Geminjal anak kecil selalu menjadi momen terindah seorang ibu. Rara memainkan tangan kecil Andrew. Ada perih di hati Rara manakala melihat Andrew. Rara teringat sebelum hari di mana Ayu pergi. Ayu sempat jujur akan hubungannya dengan suaminya.


"Sudah lama sekali ya yu? kita tidak bersama seperti ini."


Rara menghela nafas berat.


Sayangnya, idul Fitri ini menjadi tidak menarik. Kehadiran Ayu justru membuat Rara teringat semua kata-kata Ayu sebelum pergi dan bayangan perselingkuhan.


Ayu membuka kedua tangannya. Lalu menautkan lagi. Terlihat gerogi dan tidak nyaman.


Dia mengepalkan kedua tangannya lalu mengusap wajah dengan ragu. Mendadak Ayu ketakutan di depan kakak iparnya?


"Maafkan aku mbak? dulu aku begitu jahat padamu."


Ayu ingin merasakan pelukan Rara yang hangat seperti dahulu. Tapi Ayu tidak tau bagaimana caranya untuk memulai hubungan baik itu.


Rara menyeringai melihat Ayu menelan ludahnya dengan susah payah. Meskipun bayangan perselingkuhan mereka masih terasa hangat di ingatan Rara namun Rara memilih untuk tetap pura-pura.


Di apartemen waktu masih terekam jelas di otak Ayu. Gadis muda itu bukan hanya menghancurkan seluruh kepercayaan kakak iparnya. Dengan berkata jujur apa yang di harapkan Ayu? Semua justru menjadi lebih buruk. Ayu telah menghancurkan hubungan persaudaraan mereka dengan *******.


Terlihat jelas di matanya. Rara menegur Ayu hanya sekedar acara ramah tamah membuat Ayu sempat ingin menyerang dengan ribuan ucapan kemarahan.


Ayu terus berusaha melerai pertengkaran di hati kecilnya. Di sini dialah yang menjadi terdakwa.


Bahkan dalam sempitnya ruang pemikiran, Ayu masih bisa bersikap tenang, "maafkan aku mbak Rara."


Setelah berhasil melukai kakak iparnya apakah ada yang di dapatkan Ayu sebagai imbalan? tidak!


Rara masih sama seperti saat itu. Senyumnya selalu menawan penuh dengan kesabaran. "Tidak akan ada hasil dari perbuatan dosa Ayu."


Ayu terdiam, mulutnya terbungkam dengan jawaban kakak iparnya yang tidak memiliki ekspektasi marah atau bahkan mengintimidasi.


Di depan Rara Ayu seolah hanya sebutir pasir tak mampu melakukan apapun. "Mbak...?"


Menjawab ucapan Rara Ayu hanya berdehem lirih, "maafkan aku, mbak Rara."


Rara masih terus memainkan tangan kecil Andrew. Memgiyahkan semua situasi.


Tatapan mata Rara terasa sangat tajam. Bagi Ayu itu sebuah hujatan, "Ayu yang terasa kotor. Mbak..."


"Itu hanya perasaan dan prasangka mu."


Rara memang tidak memperkarakan apa yang di lakukan Ayu padanya. Apalagi masalah itu malah akan mempermalukan suaminya sendiri jika sampai tercium oleh orang lain. Jadi Rara memilih mengambil langkah aman dengan melepaskan beban pikiran begitu saja.


"Kita lupakan semua masa lalumu, mbak tidak ingin memperkarakan masalah itu. Toh itu tidak akan merugikan diri kita semua?" Rara menjawab santai.


Gadis dengan rambut tergerai indah itu menyesap bibirnya sendiri. Lalu bangkit dan melangkah begitu saja meninggalkan Rara bersama anaknya.


"Apakah Andrew hasil dari hubungan kalian?"


Ayu menghentikan langkahnya. Tidak menoleh pada iparnya yang masih menikmati kebersamaan bersama anaknya. Tapi Ayu menggeleng, mengelak untuk jujur. "Aku sempat keguguran mbak."