
'Aku ingin meledak!' Satu kalimat yang ingin di ucapkan Bayu dengan lantang. Mengakhiri hidupnya dengan menelan racun tikus atau mengorok lehernya sendiri.
'Aku ingin hancur!' konflik dalam hati yang tidak ada usainya.
Setelah sekian lama sama-sama menikah Bayu pikir akan menjadi baik. Waktu akan mengikis perasaan masing-masing.
Kesalahan terbesar Bayu adalah mengosongkan ruang di hatinya. Seolah memang dengan sengaja menyediakan tempat bagi adiknya untuk masuk. Meskipun Bayu berusaha menolak dan mengklaim ‘tidak’ namun ruang kosong itu menjawab dengan tegas.
Ayu seolah menjadi wanita yang tidak bisa bersembunyi dari bilik hati Bayu. Gadis itu tetap menjadi prioritas baginya meskipun Bayu telah menikah dan memiliki dua orang buah hati. Kontak pengikat persaudaraan seolah menjadi jembatan pertemuan demi pertemuan yang kemudian menjadi sesuatu yang di nantikan keduanya.
Mobil melaju dengan kencang menuju daerah muara dua. Setelah perpisahan kecil dengan sang istri yang terkesan dramatis macam drama Korea. Akhirnya perjalanan di mulai.
Gadis mungil yang duduk tenang di sampingnya tidak lain adalah Rahayu Kinasti.
Adiknya merajuk dengan seribu alasan untuk di ijinkan ikut. Meskipun di tentang oleh Bayu namun toh akhirnya Ayu menjadi pemenangnya.
Ayu adalah wanita yang cantik memiliki tubuh sintal berisi, cara berpakaian modis. Dandanan ala anak jaman sekarang. Bayu menyadari bahaya mengintai setiap saat.
“Di kota kita tidak akan mendapatkan pelayanan khusus seperti ini dari alam, yu.” Ucap Bayu sembari menghirup udara segar yang masuk dari celah-celah jendela. Meskipun merasa geli dengan apa yang baru saja di katakan nya. Terlihat jelas Bayu sedang menahan diri dari rasa grogi.
"Yu, coba kalau masih pagi itu hindari kontak sama mas." Ucap Bayu lagi dengan suara keberatan.
Ayu menatap kakaknya kurang faham. "Why?"
"Karena pagi adalah wilayah sensitif laki-laki alangkah baiknya tidak ada orang ketiga dalam sebuah rumah tangga."
"Maksudnya? mas."
"Ini sudah jalan ke lima tahun pernikahanmu, masak yang seperti itu saja kamu tidak tau.''
"To the poin aja lah mas! apa maksudnya mas itu?"
Bayu menatap Ayu sekilas-sekilas membagi konsentrasi dengan mengemudi.
"Tidak terasa waktu itu tertinggal cukup jauh, ya?
akhir-akhir ini Ayu bukan hanya sekedar berkunjung sehari dua hari ke rumah mas. Ayu bahkan menginap di rumah mas sampai berminggu-minggu dan berbulan-bulan. Itu tindakan yang tidak normal bagi seseorang yang sudah berumah tangga."
"Lalu...?"
“Yu...nggak sopan! Di ajak bicara bukannya melihat dan menjawab dengan benar, malah masih seru dengan handphone! letakkan dulu.”
“Mas! Mas!...aku buat akun Facebook untuk sampean, eh banyak yang add lho.” Ucap Ayu antusias dengan tiba-tiba. Ayu tidak menghiraukan apa yang ingin di katakan kakaknya. Wajah Ayu tampak berbinar-binar bahagia.
Wajah yang kehilangan warna cukup lama itu seolah kembali mengukir fantasi. Wajah bak lukisan yang lama hilang terlihat indah kembali bagai pelangi.
Saking semangatnya Ayu memamerkan aktivitasnya di dunia Medsos sampai dia tidak sadar bahwa dia menghadap wajah kakaknya terlalu dekat. Saat itulah Bayu mencium aroma yang jelas. Stroberi.
Bayu mengerutkan keningnya, Melirik Ayu dengan skeptis. Menggoda dengan tatapan mata.
“Apa kamu begitu semangat sehingga kamu ingin sekali cepat -cepat menempel sama mas mu ini?”
Ayu tersentak dan menjauh secara refleks.
Cih! Ayu beralih lagi pada handphoneny.
"Seumur hidup aku tidak pernah memiliki atau bermain-main dengan dunia media sosial. Untuk apa? Nggak minat.” Ucap baju jutek.
Jari kecil Ayu terus mengetik huruf demi huruf dan terlihat dia tersenyum geli.
“Nggak usah aneh-aneh lah, dek!”
“Ih, mas! Lihat banyak yang add. Cewek cantik-cantik lho.”
“Letakkan hp itu dulu.”
Masih dengan mimik muka yang serius. Ayu terus semangat dengan menggeser-geser layar handphonenya. Dia tidak memperdulikan Bayu yang sudah memperingatkan dirinya berulang kali. Bahkan bisa di bilang telinga Ayu mungkin sudah tidak berfungsi lagi. Semua suara menurut Ayu hanya angin yang berlalu.
“Yu, apa kamu benar -benar tidak bisa menjauh dari mas?”
“Nggak!”
Tanpa menoleh pada sosok kakaknya Ayu menjawab dengan tegas.
“Mas terlalu indah untuk di biarkan sendirian.” Ujarnya lagi, sembari membenarkan duduknya.
“Mas! Aku update tulisanmu yang judulnya dendam Laras ke aplikasi noveltoon lho,”
Ayu mengacungkan handphonenya tepat di depan wajah Bayu.
Bayu tidak menggubris adiknya yang bersorak gembira. Dia menyingkirkan kepalanya menghindar lebih mengutamakan konsentrasi pada jalanan.
Melihat Bayu tidak berekspresi bahkan menepis handphonenya. Ayu dengan berani menarik dagu kakaknya. Dan memaksa kakaknya untuk memperhatikan dirinya lebih intens. Begitu dekat.
"Lagi nyetir goblok!"
Mata keduanya saling tatap sekilas.