BLOOD

BLOOD
CINTA AYU 1



Pertanyaan menyudutkan sebuah jawaban. Jelas! Sudah bagi Bayu. Kesalahan hanya Budi bahasa yang di bungkus dengan cerita dan pembenaran semata.


Aroma stroberi itu...? sebagai bukti bahwa kesalahan bisa menjadi benar. Seperti itulah sifat manusia yang tidak adil akan kenyataan. Keputusan selalu di pengaruhi oleh kecintaan dan kebaikan profil semata.


Tiba-tiba Bayu merasa di sudutkan oleh keadaan.


Ketika pertanyaan mendapatkan jawaban, justru jawaban itu yang tidak di inginkan.


Why...? Ketakutan yang di lapisi dengan sempurna oleh perasaan cinta.


“Mas...!”


“Hem?” jawab Bayu pura-pura cuek.


Bayu bisa meyakini, bahkan yang mencium bibirnya pagi ini adalah Ayu. Jelas itu bukan sekedar mimpi halusinasi di pagi hari tapi itu kenyataan. Ada rasa kecewa mengapa tidak ada kelanjutan dari adegan itu?


Aroma yang di sebarkan oleh kosmetik Ayu begitu khas. Pantas saja Bayu merasa tidak asing.


PLAK!


Bayu memukul wajahnya dengan keras. Dia begitu emosi saat menyadari apa saya yang sudah di pikirkan otak kotornya.


Tidak mungkin aroma yang di hirup nya tadi adalah aroma yang berasal dari Ayu. Bisa jadi itu adalah Rara yang memakai kosmetik Ayu. Bayu masih mencoba menyangkal pemikiran nya. Tapi, hati kecil Bayu membenarkan pernyataan yang mengatakan ‘itu Ayu' bahkan Bayu pun berharap itu benar-benar Ayu.


Aroma stroberi yang sempat mengganggu kinerja otak’nya berasal dari adiknya, Why? Mengapa seolah keadaan mendukung kesalahan takdirnya? Mengapa seolah kesempatan selalu saja ada untuk melanjutkan perbuatan dosa? Setelah sekian lama semua menjadi dingin mengapa kini datang lagi.


Iblis akan menyesatkan keturunan Adam dari hal yang paling lemah. Maka jangan lemahkan imanmu demi apapun.


Hanya sekedar kritikan. Terkadang kita terjebak oleh rupa tahta juga harta. Why? Itu adalah kelemahan manusia.


Sadarkah wahai kaum adam. Apa yang menyebabkan nabi Adam AS tersesat ke dunia? Kecintaannya pada sang istri memberikan jalan bagi iblis untuk menyebarkan trik jahatnya ‘menjebak’ Bayu melirik Ayu dengan ekor matanya. Menyelidiki dan menerka. Mungkinkah? Tapi tidak mungkin. Ah! Bisa jadi iya. Mungkin saja...


“Mas!” Panggil Ayu lagi dengan suara keras.


Ayu duduk di hadapan Bayu dengan wajah penuh semangat. Melihat kakaknya yang seperti linglung memperhatikan dirinya. Ayu menepuk kedua tangannya tepat di depan wajah Bayu.


Bayu menyipitkan mata. Kolaborasi hati yang tidak bisa di mengerti. Antara suka dan kenyataan menjadi dilema yang hadir pada sepucuk sarat.


Bayu mengerakkan tubuh jangkungnya untuk lebih condong mendekati adiknya yang sedang asyik. Merasa menjadi target Ayu spontan menutupi wajahnya dengan handphone.


Saat itulah suasana hati Bayu berubah menjadi hawa panas. Tidak salah lagi! Gemuruh yang di rasakan Bayu merajalela merajai jiwa lelakinya.


Pada dasarnya Bayu memang sangat lemah pada Ayu. Meskipun sempat di buat kesal habis-habisan tetap saja Ayu memiliki tempat di hatinya.


Bayu melihat wajah Ayu yang memerah. Tidak ingin melanjutkan menggoda adiknya Bayu memilih asyik lagi dengan asap rokok.


Sekedar menyembunyikan hawa panas yang tiba-tiba menjadi gelombang.


“Di terima, lho mas Novelmu.” Wajah Ayu tampak bahagia dan antusias.


“Untuk apa? Mas Kan nggak punya banyak waktu untuk menulis!”


“Nggak mau tau! Sampean harus nulis! demi aku. Ya... ya... ya ...”


Anabel sialan! Bayu menepuk meja sedikit keras. Membuat beberapa orang mengalihkan pandangan pada mereka.


Panggilan Anabel adalah panggilan kesayangannya untuk Ayu.


Seperti panggilannya yang menyeramkan. Sosok Ayu memang memiliki sifat yang aktif, pandai dalam memprovokasi keadaan dan lihai perkosa kata. Entah berapa kali saja Ayu menjadi penyebab perkelahian antara Bayu dan beberapa teman lelakinya.


Kelakuan Ayu terkadang melewati batas. Selalu sesuka hatinya jika memiliki keinginan. Manja dan selalu bisa mengontrol suasana hati Bayu.


“Mas ini sudah punya istri, Yu. Apapun tindakan yang akan mas ambil harus ijin dulu.’’


“Itu doang mas! masak harus ijin.” Wajah Ayu tersenyum tipis, tidak suka dengan jawaban kakaknya.


Ayu begitu tidak rela jika kedudukannya di samping kakaknya tergeser dan di gantikan oleh apapun dan siapapun termasuk kakak iparnya.


Begitu tidak rela nya dia sampai-sampai Ayu terus mengikuti semua kegiatan kakaknya.


“Ya seperti itu aturannya, yu. Kamu yang aneh! Sudah punya suami tapi nempel terus sama mas.’’ Balas Bayu mengejek.


“Salah dia sendiri mancing nggak pulang-pulang! Biarkan saja dia hidup sama kolam ikan.”


Bayu tidak melihat ekspresi sendu sang adik. Mata gadis itu berkaca-kaca. Tidak ada yang tau seperti apa keadaan rumah tangganya.


Ayu begitu iri melihat Rara yang selalu di manjakan oleh Bayu. Sebelum menikah Bayu adalah hak mutlaknya. Tetapi setelah menikah, Bayu seolah semakin jauh darinya. Bahkan setelah Bayu memiliki rumah sendiri, Ayu baru menyadari bahwa dia telah kehilangan kakaknya.