
"Rit, aku balik dulu ya," kata Tante Rani bersalaman sambil mencium pipi kanan dan kiri Ibuku.
Kemudian aku dan Tere bersalaman dengan Tante Rani.
Kami mengantarkan tante Rani dan Daren menuju mobilnya.
Kemudian Tere ikut masuk kami ke dalam rumah menunggu waktu sore.
Setelah berada di dalam rumah, aku menanyakan tentang Tante Rani kepada Ibuku.
"Bu, itu Tante Rani memang temannya Ibu?"
"Iya Chel, dulu itu Tante Rani temannya Ibu dan Ayah, kami bersahabat semenjak kami SMA, Ayah kamu sangat dekat dengan Papanya Daren, dan Ibu sangat dekat dengan Mamanya Daren.
Setelah kami saling menikah, Tante Rani pindah ke Bandung, dan kita lost contact, jadi ya tidak pernah bertemu lagi."
Ibu mengajak mengobrol Tere yang saat itu Tere berdiam sendiri tidak ada yang mengajaknya untuk mengobrol,
"Tere, terima kasih ya, kamu mau jadi temannya Chelsea anak Tante."
"Iya Tante sama-sama."
Kami bertiga menyiapkan baju, dan berkumpul di kamarku untuk memilih baju buat acara besok.
Tidak terasa setelah kami mengobrol bertiga dengan Tere dan memilih baju, tiba-tiba handphone Tere berbunyi.
Tanpa sadar hari menjelang sore, Tere keluar dari kamarku untuk mengangkat telepon. Tidak lama kemudian, Tere menghampiriku di kamar dan berpamitan untuk pulang.
"Chel, Tante, aku pulang dulu ya, sudah di telepon sama Ibuku tadi."
Aku beranjak dari tempatku duduk,
"Oh begitu, ya sudah enggak apa-apa, kita juga sudah selesai memilih baju, ayo aku antar ke depan."
Aku mengantar Tere ke depan untuk pulang, dan tak lupa Tere berpamitan kepada Ibuku,
"Tante saya pulang ya, terima kasih buat makanannya," kata Tere sambil mencium tangan Ibuku.
"Iya Tere, sama-sama. Kamu hati-hati ya di jalan."
"Iya Tante."
Tere menyalakan dan mengendarai motornya untuk pulang, dan kami masuk ke dalam rumah setelah mengantar Tere ke depan rumah.
Tiba-tiba handphone Ibu berbunyi, dan ternyata dari Tante Rani Mamanya Daren.
Ibu mengobrol berjam-jam hingga tidak menyadari kalau ayah telah pulang.
Ayah berteriak mengucapkan salam dari depan pintu,
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam," aku menghampiri Ayahku dan mencium tangan Ayah.
"Chel, Ibu kamu ke mana? kok Ayah enggak melihat?" kata Ayah mencari Ibu.
"Ibu sedang telepon sama teman SMA-nya Yah."
"Memangnya siapa teman SMA-nya Ibu?"
"Jadi, orang tua teman aku yang anter aku kemarin itu adalah teman Ibu waktu SMA."
"Itu yang anter kamu pulang berarti teman sekolah kamu dan orang tuanya teman Ayah dan Ibu?"
"Iya Yah."
Kami asyik mengobrol bersama, tidak lama kemudian Ibu datang menghampiri kami.
"Yah, asyik benar mengobrolnya."
"Ibu kan lagi sibuk sama Rani."
"Hehehehe, maaf ya Yah. Tadi itu ada Rani kesini, ternyata orang tua temannya Chelsea itu Rani, tadi kita enggak sempat mengobrol lama, jadi ya melalui telepon mengobrolnya."
"Ayah sudah tahu Bu, tadi Chelsea yang cerita ke Ayah."
"Ayah, mau mandi dulu apa makan dulu?"
"Ayah, mandi dulu saja Bu, nanti setelah mandi, Ayah makan."
"Aku siapkan dulu ya Yah makanannya."
"Iya Bu."
Ayah pergi ke kamar mandi dan aku menunggu Ayah di tempat makan. Setelah Ayah mandi, ia menuju tempat makan menghampiri kami.
Ibu memberikan makanan untuk aku dan Ayah. Disela-sela makan, Ibu berbicara tentang tante Rani.
"Yah, Rani merencanakan buat mengajak kita makan malam keluarga, kira-kira Ayah bisa enggak?"
"Memang kapan Bu rencananya?"
"Oh begitu, menunggu Rani mengabari saja Bu, biar Ayah yang memutuskan bisa atau enggaknya."
"Iya Yah."
Setelah kami selesai makan, kami duduk santai di ruang tamu.
Ayah melihat gitarnya ada di luar, Ayah menanyakannya kepadaku,
"Chel, ini gitarnya kenapa ada di sini?"
"Iya yah, besok aku ada pentas seni disekolah karena besok hari terakhir Masa Orientasi Siswa."
"Kenapa jadi kamu yang di suruh tampil? apa enggak ada siswa lain?"
Ibu tiba-tiba datang menyahut pembicaraanku dengan Ayah,
"Ayah ini bagaimana sih? anaknya tampil malah kayak begitu, seharusnya bangga bukan malah ngomong kayak begitu."
"Bukannya begitu Bu, Ayah bangga sama anak sendiri, cuman kan sudah lama Chelsea enggak pernah tampil."
"Sudah-sudah, Ayah dan Ibu jangan debat terus."
"Ini siapa yang menyetel gitarnya Chel?"
"Tadi Daren Yah yang menyetel gitarnya, Daren teman aku yang kemarin anaknya Tante Rani. Kenapa memangnya Yah?"
"Enggak apa-apa Chel, kok enggak Fals."
"Iyalah Yah, kan enggak mungkin kalau aku yang menyetel gitarnya."
"Iya, benar juga kamu."
Tiba-tiba Ayah menyuruhku untuk istirahat karena sudah jam 9 malam.
"Chel, kamu enggak tidur? sudah jam 9 loh? jangan sampai besok kamu kesiangan bangun."
"Iya Yah, enggak terasa sudah jam 9, aku mau tidur dulu Yah."
Aku berjalan menuju kamar dan meninggalkan Ayah dan Ibu yang berada di ruang tamu.
Malam itu, aku berusaha untuk menidurkan diriku walau susah untuk tidur.
Aku sengaja tidur sebelum larut malam karena besok aku akan mengisi acara di sekolah.
Alarmku, aku timer 30 menit lebih awal dari yang biasanya.
Keesokan harinya, aku terbangun tepat 30 menit sebelum alarmku berbunyi seperti biasa, agar aku tidak telat untuk bangun.
Aku terbangun di pagi hari, saat matahari belum muncul.
Aku bergegas keluar kamarku untuk mandi dan setelah itu ke dapur untuk mengambil air minum.
Seperti biasa, Ibu sudah masak untuk mempersiapkan sarapan kami pagi itu.
Melihatku bangun pagi-pagi Ibu menyapaku,
"Chel, tumben bangun pagi-pagi, biasanya saja agak siang," Ibu menyapaku dengan nada tersenyum.
"Ibu kayak enggak tahu saja kegiatanku apa, tanya-tanya tumben sudah bangun."
"Kamu kemarin kan telat Chel, kirain hari ini mau telat lagi."
"Jangan begitu Bu."
Aku membantu Ibu untuk menyiapkan sarapan pagi itu, setelah aku membantu Ibu, aku bergegas untuk ganti seragamku.
Setelah sarapan dan mempersiapkan keperluan sekolahku, lalu aku berangkat ke sekolah.
Seperti biasa, aku diantar oleh sopirku. Kali ini aku tidak akan telat lagi, jalanan hari ini tidak begitu macet, dan cuacanya sangat cerah.
Tidak begitu lama perjalananku, aku tiba ke sekolah.
Ternyata saat aku sampai depan gerbang sekolah, aku berpapasan dengan Daren.
Aku turun dari mobilku, dan aku melihat Daren turun dari mobilnya. Daren menyapaku,
"Pagi Chel, bagaimana persiapannya? sudah siap kan?"
"Pagi juga Ren, aku sudah siap dong, kamu bagaimana?"
"Sudahlah."
Tere tiba-tiba datang dan menyapa kami,
"Pagi Chel, Daren. Kalian sudah siap? tapi bagaimana dengan kostum kalian?"
"Kalau menurutku Ter, yang kita pilih kemarin, mending enggak usah dipakai Ter, ini kan acara formal jadi ya mending pakai seragam saja, dan enggak perlu memakai make up atau bawa kostum? apalagi kita hanya nyanyi saja, iya kalau kita dance begitu, kita perlu bawa kostum dan make up."