
POV DAREN
Pada saat siang hari setelah pelajaran selesai, aku melihat Chelsea yang sedang menunggu jemputannya.
Aku menyapa Chelsea yang saat itu lagi sendirian.
"Chel, belum di jemput?" tanyaku kepadanya.
"Belum Ren, kamu dari mana saja? Dari tadi aku enggak melihat kamu?"
Aku bertanya kepada Chelsea tentang rencananya akan ngegym.
"Aku dari toilet tadi, bagaimana kelanjutan ngegym? jadi enggak?"
"Jadi donk, kamu sudah ngomong sama mama kamu?"
"Belum Chel, aku mau ngomong tapi khawatir kamu tiba-tiba enggak jadi, apalagi tadi Tere berantem karena masalah itu. Bagaimana kalau menurut kamu?"
"Kalau menurut aku jadilah Ren, kamu bilang ya ke mama kamu. Nanti kalau mama kamu oke, kamu hubungi aku atau mama kamu yang hubungi ibuku."
Setelah beberapa menit kami asyik mengobrol, tiba-tiba mobilku datang. Aku berpamitan kepada Chelsea.
"Oke Chel, aku pamit pulang ya Chel. Sepertinya itu mobil aku sudah datang."
"Iya Ren," jawab Chelsea.
Aku meninggalkan Chelsea dan naik ke mobilku.
"Bye, Chelsea," aku berteriak kepada Chelsea sambil melambaikan tangan.
"Iya Ren," jawab Chelsea sambil melambaikan tangan.
Aku menaiki mobilku untuk pulang. Siang itu cuacanya panas sekali, sehingga membuat AC di mobilku tidak terasa dingin siang itu.
"Pak Udin, tolong AC-nya di tambah lagi suhunya," pintaku kepada pak Udin sopirku.
"Maaf mas, AC-nya sudah full suhunya enggak bisa ditambah lagi," jawab pak Udin.
"Oh begitu, ya sudah Pak, AC-nya enggak terasa dingin Pak, di luar terlalu panas."
"Iya Mas, tidak terasa dingin AC-nya."
Kami melanjutkan perjalanan pulang, hingga mobilku berjalan sangat pelan karena macet saat itu.
"Aduh, sepertinya lama ya Pak macetnya? Sudah panas, macet pula."
"Iya Mas, bisa-bisa sampai 1 jam kita di sini."
Tiba-tiba dering handphoneku berbunyi, aku mengambilnya dari dalam tasku.
Aku membuka dan melihat ternyata mamaku menelepon.
Aku mengangkat dering telepon tersebut.
"Halo Ma, ada apa?" tanyaku kepada mamaku.
"Kamu dimana Ren? Kok lama banget tidak sampai rumah?" jawab suara mama dari balik telepon.
"Aku masih di jalan Ma, ini masih macet dari tadi jalan merambat, mungkin 30 menit lagi aku sampai."
"Oh, ya sudah, Mama cuman khawatir kamu di jalan kenapa-kenapa atau mobilnya mogok."
"Cuman macet saja Ma di jalan, kalau ada apa-apa aku kabari Mama."
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati."
"Iya Ma."
Mamaku langsung mengakhiri teleponnya dan menutup. Sementara mobilku mulai melaju agak cepat.
"Pak, apa 30 menit lagi kira-kira sudah sampai?"
"Sepertinya sudah Mas, kalau jalannya setelah ini lancar, tapi kalau enggak bisa jalan, bisa-bisa 1 jam."
"Waduh lama banget, sudah gerah di mobil ini, ingin rasanya sampai di rumah kalau seperti ini," ucapku dalam hati.
Tepat 30 menit sudah perjalananku, dan aku telah sampai ke rumah.
Aku turun dari mobilku dan memasuki rumahku.
"Assalamualaikum," teriakku mengucapkan salam dari depan pintu.
Aku membuka sepatuku dan meletakkan di rak belakang pintu.
Kemudian muncullah mamaku karena suaraku mengucapkan salam.
"Walaikumsalam, makan dulu yuk Ren," Mama mengajakku untuk segera makan.
Aku langsung menuju meja makan dan memakan hidangan yang telah mama siapkan untukku.
Di sela-sela makan, aku mulai menyampaikan pesan Chelsea kepada mamaku.
"Ma, tadi di sekolah, Mama dicari oleh Chelsea."
"Jadi, Chelsea itu ingin fitnes Ma, dia ditemani oleh Tere. Katanya dia ingin bareng Mama karena dia enggak tahu fitnes dimana yang nyaman."
"Oh begitu, dia tahu dari mana kalau Mama biasanya ngegym?"
"Mungkin dari ibunya."
"Padahal, Mama sudah bilang ke ibunya supaya Chelsea itu enggak gemuk sampai seperti itu, tetapi ibunya enggak mau. Katanya biar kemauannya anak sendiri. Untung saja sekarang Chelsea sudah sadar."
"Mama, mending telepon ibunya atau Chelsea, bilangnya begitu."
"Iya deh, setelah makan Mama telepon."
Kami melanjutkan makan, hingga makanan di piring kami habis.
Aku membantu mama untuk beres-beres piring yang kotor dan di bawa ke belakang.
Tiba-tiba aku mendengar mama telepon tante Rani.
"Hai Ran, bagaimana kabarnya? Aku dengar, Chelsea mau fitnes ya?" tanya mamaku saat telepon.
Aku tidak mendengar lagi percakapan antara mamaku dan ibunya Chelsea. Karena aku langsung menuju kamarku untuk ganti baju dan istirahat di kamar.
Aku mulai berjalan menuju kamarku, AC kamarku mulaiku nyalakan dan aku merebahkan diri di kasur karena terlalu lelah di jalan.
Sejenak aku tertidur tanpa terasa waktu menunjukkan petang, mamaku datang menghampiriku untuk membangunkanku.
"Ren, bangun."
Suara mamaku terdengar jelas di balik pintu kamarku. Aku langsung menjawab dan bangun dari tempat tidur.
"Iya Ma."
Aku bergegas untuk bangun dan berjalan ke kamar mandi. Mama menyuruhku untuk makan malam bersama.
Ternyata saat itu papaku sudah menunggu di meja makan. Kali ini papa menyapaku.
"Ren, baru bangun?" tanya papa kepadaku.
"Iya Pa, tadi siang lelah di jalan tadi, jadi aku mengantuk banget," jawabku.
Tidak begitu lama kami mengobrol, tiba-tiba mama datang dengan membawa makanan untuk kami.
"Silakan menikmati," kata mama.
Papaku mengambil makanan terlebih dahulu selanjutnya mama dan aku. Disela-sela makan kami, mama memberitahukanku jika esok mama akan fitnes bareng sama Chelsea.
"Ren, besok kamu ikut enggak ngegym?"
"Iya Ma, aku ikut."
Tiba-tiba papa menyahut pembicaraan kami.
"Tumben kamu ikutan bareng mama kamu, biasanya kamu kan berangkat sendiri dan jadwalnya beda sama mama kamu."
"Iya Pa, Chelsea dan Tere mengajak bareng-bareng kesana."
"Tumben Chelsea dan Tere ikutan? Dulu kan mama kamu sudah memberi tahu ibunya Chelsea supaya Chelsea itu diet atau ngegym, tapi kan ibunya enggak mau. Tapi kok sekarang malah mengajak?"
"Iya Pa, tadi saat aku telepon Rani, katanya anaknya sendiri yang minta karena Chelsea kalau jalan lama nafasnya kadang sesak. Jadi, Chelsea sendiri yang minta," jawab mama.
"Oh begitu, untung saja cepat sadar, kalau enggak sadar, bisa-bisa tambah besar tubuh Chelsea," kata papa.
"Ma, Pa, aku besok boleh enggak bawa motor saat ngegym? Aku bosan naik mobil terus."
"Boleh, asalkan sama Mama ya Ren?"
"Iya Ma, tapi kalau sekolah enggak boleh memangnya Ma?"
"Lihat besok saja kalau kamu membawa Mama berangkat dan pulang selamat, kamu boleh membawa motor."
"Benar Ma boleh?"
"Iya boleh Ren."
"Terima kasih Ma."
Mama hanya menjawab dengan senyum di bibirnya dan lesung pipi yang terlihat.
"Kenapa kamu tidak diantar pakai mobil saja Ren?" tanya papa.
"Iya Pa, tadi itu di jalan macet banget, sudah panas, macet pula."
"Kalau kamu bawa motor kan sama saja, malah lebih panas."
"Kalau aku membawa motor, kan bisa cepat Pa, enggak terlalu lama di jalan."
"Iya juga, kalau membawa motor bisa jalan menyelip meskipun jalannya sedikit, tapi kalau menurut Papa, mending diantar saja."
"Enggak usah Pa, tapi kalau misalnya bawa mobil enggak apa-apa, aku ingin membawa mobil ke sekolah."