Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 15



Daren mulai tersenyum,


"Kita ke kantin dulu saja, nanti aku ceritakan."


Aku dan Tere bersamaan menjawab,


"Benaran ya!"


"Kok sama begitu jawabnya, antusias sekali kalian."


"Aku dan Tere tertawa sambil berpandangan sejenak,


"Hahahahahaha."


Kami bertiga menuju kantin untuk makan, tetapi hari itu kantin agak penuh jadi kita mengantre, dan kita duduk terlebih dahulu.


Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat cowok yang menabrakku tadi pagi, aku melihat dia sedang bermain basket di lapangan.


Mataku tak dapat berkedip saat aku melihatnya, aku tidak peduli dengan kedua temanku yang mengajakku berbicara.


Tiba-tiba Tere mengajakku untuk mengantre membeli makan,


"Chel, ayo beli makan."


"Chel, Chelsea"


melambaikan tangan di depanku.


Mataku tetap tidak bisa berkedip.


Kemudian Tere dan Daren mengagetkanku.


"Satu, dua, tiga, dor..." suara Tere dan Daren sambil menepukku.


Seketika itu aku terpingkal kaget mendengar mereka mengagetkanku.


Aku cemberut karena di kageti oleh mereka,


"Kalian ini kok mengagetkan aku saja."


"Hahahahahaha." Daren dan Tere tertawa.


Tere sambil tertawa menjawabku,


"Kamu sih, di ajak ngomong malah bengong enggak mendengarkan omonganku."


"Iya-iya maaf, aku enggak mendengarkan."


Tiba-tiba Tere penasaran dengan apa yang aku lihat,


"Memangnya kamu lihat apa si Chel? kok sampai tidak berkedip begitu?"


Daren juga ikut penasaran melihatku bengong,


"Iya Chel, kamu lihat apa sih? sampai bengong pula?"


Aku menutupi dari Tere dan Daren karena aku suka sama cowok yang tadi pagi menabrakku.


Saat Tere melihat ke arah lapangan, aku mengajaknya untuk membeli makan.


Aku menggandeng tangan Tere saat dia melihat ke arah lapangan.


"Sudah-sudah ayo beli makan, kamu ini lihat apa sih Ter?"


Aku memaksa Tere untuk tidak melihat ke arah lapangan karena di sana ada cowok yang aku suka.


Sementara Daren duduk di atas kursi dan melihat ke arah lapangan, dia masih penasaran dengan apa yang aku lihat saat itu.


Setelah aku dan Tere membeli makanan, aku kembali ke mejaku dan membawa titipan dari Daren.


Kami mulai makan bersama, di sela-sela makan kami, tiba-tiba Daren bertanya kepadaku.


"Chel, kamu tadi lihat apa sih? sampai kamu melamun begitu? aku melihat di lapangan tidak ada apa-apa?"


Aku menjawabnya dengan santai, karena aku tidak mau teman-temanku tahu kalau aku naksir seseorang di sekolah.


"Tidak ada apa-apa Ren."


Tere masih penasaran dan menanyakan hal itu kepadaku,


"Benaran Chel?"


"Iya Tere, aku tidak melihat apa-apa tadi."


Kami melanjutkan makan yang berada di meja depanku, setelah kami selesai makan, kami kembali kelas.


Kami berjalan melewati kelas-kelas dan melewati lapangan.


Aku melihat cowok yang menabrakku bermain basket saat itu.


Dari kejauhan ternyata pandanganku di awasi oleh Gladys.


Tiba-tiba Gladys melemparku dengan bola, saat aku melamun melihat cowok ganteng tersebut. Aku tidak tahu dari mana Gladys mendapatkan bola itu dan melemparkan ke arahku.


Aku tidak menyadari saat bola tersebut mengenai kepalaku, dan tiba-tiba pandanganku kosong setelah bola tersebut mengenai kepalaku.


Aku mulai tersadar saat Ibuku menangisi aku yang belum juga siuman.


Ibuku menangis dan memegangi tanganku


"Chelsea bangun, bangun Nak."


Ibuku menangis tersedu-sedu dan mencoba membangunkanku lagi.


Tiba-tiba aku sadar dan melihat Ibuku bersedih.


Aku berusaha untuk bangun dari tempatku berbaring


"Ibu kenapa di sini dan menangis?"


"Nak, kamu tadi pingsan dan enggak bangun-bangun, lalu Tere menghubungi Ibu agar Ibu kesini.


Kami semua khawatir saat kamu pingsan begitu lama. Kalau sampai kamu belum siuman, 15 menit lagi Ibu akan bawa kamu ke rumah sakit."


"Sudah Bu, jangan menangis, Tere, Daren, terima kasih ya, kalian sudah menemaniku dan memanggil Ibuku datang kesini."


"Iya Chel, sama-sama" kata Tere dan Daren.


Saat aku berusaha untuk turun dari tempatku berbaring, tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali dan Ibuku yang memegangiku saat aku hendak terjatuh.


"Chel, kamu tidak apa-apa?" tanya Ibu kepadaku.


Aku memegangi kepalaku saat kepalaku terasa sangat pusing


"Kepalaku pusing sekali Bu."


"Sebentar ya Chel, Ibu mau telepon Pak Maman biar mobilnya di bawa masuk."


Ibu mengeluarkan handphone dari tasnya.


"Pak Maman, tolong bawa mobilnya masuk ya, ini Chelsea tidak bisa jalan agak jauh, kepalanya masih pusing, nanti ijin saja ke security kalau mau jemput siswa yang pingsan."


Ibu menutup teleponnya dan tak lama kemudian Pak Maman sudah berada di lapangan dan menelepon Ibu.


"Pak, tunggu di lapangan situ ya pak, saya mau keluar." Lalu Ibu menutup teleponnya.


Aku berjalan menuju mobilku dan di pegangi oleh Ibu dan Daren, sedangkan Tere membawa tasku.


Kepalaku terasa pusing sekali saat itu, aku hanya ingin tertidur saja.


Karena aku tidak bisa menahan rasa sakitku.


Daren dan Tere mengantarku sampai ke mobilku, aku pun berpamitan kepada mereka.


"Tere, Daren, terima kasih banyak ya, aku mau pulang dulu."


"Iya Chel, sama-sama," kata Tere.


"Iya Chel, hati-hati ya," kata Daren.


Aku membalasnya dengan senyuman.


Ibuku mengajakku periksa ke rumah sakit, karena kepalaku terasa sangat pusing.


"Chel, kita ke rumah sakit ya, kamu periksa dulu, Ibu khawatir kalau kepala kamu masih sakit."


Aku hanya memejamkan mata


"Iya Bu."


Setelah beberapa menit perjalanan menuju rumah sakit.


Tiba-tiba sampailah aku di rumah sakit, Ibuku memanggil suster untuk di bawakan kursi roda untukku karena aku terlalu pusing untuk berjalan dan Ibuku tidak mampu memegangi tubuhku sendiri.


"Suster, tolong ambilkan kursi roda!" teriak Ibuku di depan pintu rumah sakit.


Tidak lama kemudian, suster tersebut membawa kursi roda untukku.


Aku langsung di bawa ke UGD oleh suster dan Ibuku mengikutiku.


Aku di periksa oleh Dokter yang ada di rumah sakit.


Ibuku terlihat panik melihatku di periksa oleh Dokter.


Setelah aku di periksa oleh Dokter, Ibu menanyakan keadaanku kepada Dokter yang memeriksaku.


"Dokter, bagaimana dengan anak saya? kenapa masih pusing, ada apa dengan kepalanya?"


Dokter menjelaskan tentang kondisiku kepada Ibuku,


"Ada sedikit benturan, tapi tidak terlalu dalam, cuman untuk 3 hari ini harus istirahat total di rumah, kalau kurang istirahat, khawatir kambuh lagi."


Ini ada resep, tolong di tebus semua, dan pesan saya, jangan keluar atau sekolah selama 3 hari ke depan. Kalau sudah 3 hari, tidak apa-apa sekolah asalkan jangan terlalu banyak kegiatan selama 7 hari, kata Dokter.


Ibuku sangat khawatir dengan keadaanku,


"Dokter, kalau 7 hari di rumah bagaimana Dokter? kan biar benar-benar sembuh, apalagi saya kan tidak bisa mengawasinya kalau anak saya sekolah."