
Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah dan aku bertemu dengan Tere.
Aku datang terlebih dahulu tetapi aku tidak menunggu Tere di luar.
Kelas masih sepi dan aku hanya duduk sendiri di bangkuku.
Aku bergumam sendiri merasakan kesendirian di kelasku saat itu.
"Sepi banget kelas ini, apa aku yang terlalu rajin berangkat sepagi ini," gumamku dalam hati.
Aku masih sendiri di bangkuku menunggu teman-temanku datang dan menunggu Tere dan Daren datang.
Tak begitu lama aku menunggu, tiba-tiba Tere dan Daren datang.
Melihatku duduk sendirian, tiba-tiba Tere dan Daren mengagetkanku.
"Pagi Chelsea," teriak Tere dan Daren memanggilku dari depan pintu.
"Pagi juga," mereka menghampiriku dan Tere duduk di sebelahku.
"Tumben pagi-pagi sudah datang?" tanya Tere.
"Iya Ter, tadi di jalan enggak macet, aku berangkat juga seperti jam biasanya."
"Chel, PR yang kemarin sudah belum?"
"PR yang mana Ter? Perasaan tidak ada PR?" jawabku.
"PR Matematika kemarin itu, waktu kamu ke rumahku?"
"Oh yang itu, aku sudah. Jadi kemarin dari rumah kamu itu, malamnya aku kerjain."
"Chel, aku pinjam donk, aku belum selesai nih beberapa nomor."
"Sebentar ya Ter, aku ambil dulu."
Aku mengambil buku di dalam tasku dan memberikannya kepada Tere.
"Ini Ter." Aku memberikannya kepada Tere.
Tere mengambilnya dan ia dengan cepat menyalin PR yang sudah aku kerjakan.
Aku tidak mau mengganggu Tere saat itu, aku mulai mengobrol dengan Daren.
"Ren, tugasmu sudah selesai?" tanyaku kepada Daren.
"Sudah Chel, kamu sudah?"
"Aku sudah, itu lagi di salin sama Tere," jawabku sambil menunjuk ke buku yang disalin oleh Tere.
"Ren, kamu jadi ikut ngegym enggak?"
"Aku belum bilang ke Mamaku Chel, aku belum bisa mutusin."
"Ayolah Ren, kemarin aku bilang ke Ayah dan Ibuku, mereka mengizinkan.
Tetapi ibuku menyuruh dengan trainer, dan ibuku malah rencananya mau tanya ke Mama kamu. Memang Mama kamu tahu ya Ren?"
"Sebenarnya Chel, Mamaku itu tiap satu minggu 3 kali atau kadang tergantung moodnya, bisa-bisa sampai tiap hari. Mamaku ikut ngegym atau olahraga semacam itulah, makanya aku mau tanya ke Mamaku boleh atau enggaknya. Karena dahulu aku sempat diajak sama Mama dan Papaku tetapi aku menolak."
Tere langsung kaget mendengar Daren bicara, ia membalikkan tubuhnya dan menghentikan menyalin tugasnya.
"Kamu kok tidak ngomong Ren? Kalau Mama kamu biasanya ngegym? suara Tere terdengar keras sampai di bangku Gladys.
"Kenapa elo ikutan mengobrol Ter? Tugas elo sudah selesai? Selain tugas elo baru entar ikutan mengobrol," kata Daren sambil tersenyum.
"Iya nih, Tere menyahut terus, lanjutin PR-nya sana?" sautku.
"Aku sudah selesai menyalin Chel, Ren. Bagaimana kelanjutannya Ren?" tanya Tere.
"Jadi ceritanya begitu, aku mau tanya Mama dan Papaku dulu, boleh atau enggak."
Tere menyahut omongan Daren,
"Yang jelas boleh Ren, kamu dahulu kan pernah diajak sama Mama kamu."
"Masalahnya bukan di situ Ter, masalahnya itu adalah dimana tempat kita ngegym? Kalau satu tempat dengan Mamaku begitu enggak apa-apa, kalau tidak kan enggak boleh. Memang kalian sudah tahu mau ngegym dimana?"
Tere dan aku saling bertanya,
"Iya Ter, aku juga bingung, bagaimana kalau ikutan Mamanya Daren saja?"
"Iya Chel, benar itu, mending kita gabung sama Mamanya Daren saja."
Kemudian Tere menyikapinya dan langsung bicara kepada Daren.
"Ren, kita sudah memutuskan kalau kita bakalan gabung dengan mama kamu, iya kan Chel?" kata Tere.
"Iya Ter, kamu ikutkan?" sautku.
"Iya deh, aku ikut," jawab Daren dengan terpaksa.
POV TERE
Aku mulai bertanya kepada Chelsea tentang pembayaran ngegym yang kami bicarakan semalam.
"Chel, bagaimana dengan biaya ngegym? aku enggak ada dana Chel."
Dengan santainya Chelsea menjawab,
"Tenang saja, itu urusanku, yang penting kamu menemani aku saja."
"Oke Chel, terima kasih banyak ya, jangan bilang siapa-siapa ya Chel, aku malu kalau numpang sama kamu terus."
"Sudahlah Ter, enggak usah malu, hitung-hitung kamu banyak menolong aku jadi temanku, aku enggak akan bilang ke siapa-siapa kok."
Setelah kami berdiskusi, tiba-tiba jam masuk kelas berbunyi. Pelajaran jam pertama sampai istirahat hari ini adalah Matematika, biasanya aku tidak betah dengan pelajaran ini. Tetapi pelajaran hari ini membuatku tidak terasa.
Aku menyimak dan mempelajari hingga tidak terasa waktu istirahat tiba. Bel istirahat berbunyi, guru kami beranjak dari tempat duduknya di susul oleh murid-murid yang akan istirahat ke kantin.
"Chel, ayo ke kantin," ajakku sambil menarik tangan Chelsea.
"Aku lagi malas keluar Ter, aku tadi membawa bekal dari rumah," jawab Chelsea.
"Oh begitu, Ren ayo ke kantin?"
"Maaf Ter, lagi mager nih."
Daren menolak ajakanku, dan aku memutuskan untuk pergi sendiri ke kantin.
"Ya, sudah aku ke kantin sendiri, kalian tidak nitip?"
"Enggak usah Ter," jawab Chelsea dan Daren hanya melambaikan tangan, tanda menolak.
Aku meninggalkan Chelsea dan Daren yang saat itu di kelas. Saat tiba di kantin, suasana begitu ramai sekali, banyak murid yang mengantre untuk membeli makanan.
Tidak jauh dari tempatku mengantre, Gladys dan teman-temannya menyindirku.
"Kalian tahu enggak, ada orang yang kerja'annya numpang temannya mulu. Gitu kok ngata'in kamu ya Ren, enggak malu apa," Suara Gladys dengan kencangnya terdengar olehku.
"Iya ya, kok ada begitu, bisanya numpang hidup saja," jawab Rena sambil melirikku.
Aku terbawa emosi dan menghampiri mereka.
"Maksud kalian bicara seperti itu apa?" aku membentak mereka dan aku lipatkan tangan ke arah pinggangku.
"Elo ngapa'in marah-marah kayak begitu, apa kita menyebut nama elo? jangan ke baperan deh jadi orang, apa jangan-jangan itu elo?" jawab Rena.
Mendengar mereka menghinaku, sontak aku langsung menampar pipi Rena.
"Prak," suara tanganku melayang dengan keras ke pipi Rena.
Rena tidak terima dengan perlakuanku, ia langsung menjambak rambutku. Suasana kantin semakin gaduh gara-gara aku berantem dengan Rena.
Gladys dan Cindy tidak melerai kami, mereka hanya menyoraki.
"Terus Ren, ayo jangan sampai kalah."
Suara Gladys dan Cindy terdengar di telingaku. Terlihat di sebuah meja ada 2 gelas berisikan air yang masih penuh.
Aku mendorong Rena menjauh dariku dan aku mengambil gelas tersebut.
Gelas berisi air tersebut, aku siram ke badan Gladys dan teman-temannya.
Suasana menjadi hening ketika aku menyiram air ke badan mereka.
"Rasain, jadi orang kerjanya mencampuri urusan orang, tahu sendiri kan akibatnya! Kalian kira aku takut?! Aku tidak akan takut sama kalian," gumamku dalam hati dan menatap wajah mereka satu persatu dengan tajam.