Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 13



"Oke, tanpa basa-basi, kita lanjutkan saja ya. Ini dia penampilan dari Chelsea dan Daren, give apluse kepada mereka, silakan di lanjutkan ya!"


Kemudian MC tersebut dan meninggalkan kami.


Aku mengambil alih MC sebelumnya, sebelum aku menyanyi, aku menyapa seluruh siswa yang sedang menonton pertunjukan kami.


"Selamat sore semuanya."


"Sekarang ini saya dan Daren disuruh untuk tampil lagi menghibur kalian, kalau begitu langsung saja ya saya persembahkan sebuah lagu untuk kalian, selamat menikmati."


Aku menyanyikan lagu yang berjudul On My Way.


Semua siswa yang mengerti lagu tersebut mengikutiku untuk menyanyi.


Aku mengulang reffnya dan ketika reff terakhir aku menyodorkan mikrofonku kepada penonton.


Semua murid dan semua guru menikmati musik yang kami bawakan. Setelah kami menyelesaikan lagu tersebut, tiba-tiba semua murid menyuruh kami menyanyi lagi.


"Lagi, lagi, lagi, lagi," suara mereka berulang kali menyuruhku menyanyi lagi.


Akhirnya aku dan Daren memutuskan untuk menyanyi lagi.


"Oke, oke, kalau begitu kami akan menghibur kalian lagi. Next song kami mau bawakan lagu yang berjudul Price Tag, yang tahu lagunya ikutan nyanyi ya, selamat menikmati,"


Aku mulai bernyanyi lagu tersebut dan Daren mengiringiku bernyanyi.


Kami membawakan lagu tersebut dengan enjoy, dan semua murid kembali mengikutiku bernyanyi.


Setelah aku selesai bernyanyi, MC menghampiriku di atas panggung.


"Wow, Amazing, semakin meriah sekali acara ini dengan penampilan dari Chelsea dan Daren, give apluse kepada mereka."


Semua murid bertepuk tangan. Tiba-tiba Kak Rangga maju ke depan menghampiri MC acara tersebut.


"Ini kak Ketua OSIS kita ada apa maju ke depan, tumben banget ya?"


Tiba-tiba Kak Rangga ingin duet menyanyi bersamaku,


"Aku ingin duet nyanyi bareng Chelsea, boleh enggak teman-teman?"


"Pastinya boleh dong, langsung saja ya kita tampilkan ketua OSIS kita feat kelas X.1."


Aku terkaget saat kak Rangga ingin duet menyanyi denganku. Kami menyanyi lagu duet dan tetap diiringi oleh Daren.


Setelah lagu pertama selesai, seluruh siswa menginginkan untuk melanjutkan lagi.


"Lagi, lagi, lagi," teriak suara seluruh siswa.


Rangga menyudahinya karena sudah mulai sore.


Kak Rangga menyudahi acara hari ini,


"Sudah ya, ini sudah mulai sore, dan waktunya kita pulang setelah ini, bye dan terima kasih."


Kami pun turun meninggalkan panggung dan bersiap-siap untuk pulang.


Kami berjalan menuju kelas untuk mengambil tas kami.


"Ren, kamu di jemput atau nebeng aku?"


"Enggak tahu aku Chel, aku telepon sopirku dulu saja kayaknya."


"Apa perlu aku tunggu?"


Aku menawarkan bantuan untuk pulang bersama.


"Enggak usah Chel, aku enggak mau merepotkan kamu terus."


"Enggak repot Ren, biasa sajalah."


"Kamu pulang saja dahulu Chel."


"Iya sudah aku pulang dulu."


"Ter, aku pulang dulu ya, Ren aku pulang ya" aku berpamitan kepada teman-temanku sebelum aku pulang.


"Iya Chel hati-hati," kata Tere.


Aku berjalan menuju gerbang sekolah, dan ternyata Pak Maman sudah menungguku di luar.


Aku masuk ke dalam mobilku, perjalanan sore itu agak macet, dan cuaca cerah.


Sesekali aku bertanya kepada Pak Maman.


"Pak, tadi menunggu aku lama ya Pak?"


"Enggak Non, tadi saya sempat jemput siang tadi, terus kata security pulangnya sore sekitar jam 4. Jadi, pas jam 4, saya sudah sampai."


"Oh begitu. Ibu sudah pulang belum pak?"


"Sepertinya sudah Non?"


"Tapi, tadi ada tamu Non di rumah, Ibu-ibu yang kemarin itu, ini tadi pas saya jemput Non Chelsea, Ibu-Ibu kemarin itu belum pulang."


"Iya non, ternyata teman lamanya Ibu, dan anaknya temannya Non Chelsea, baru tahu saya Non."


Tidak terasa perjalanan kami telah sampai di rumah, aku turun dari mobil dan tante Rani beranjak mau pulang.


"Rit, aku pulang dulu ya," pamit Tante Rani kepada Ibu.


Ibu menyodorkan uang kepada Pak Maman,


"Pak Maman, tolong antar Bu Rani sebentar ya, ini ongkos lembur buat Pak Maman."


Pak Maman mengambilnya,


"Iya Bu, terima kasih."


Tante Rani berpamitan juga kepadaku,


"Chel, tante pulang dulu ya."


"Iya tante," jawabku sambil mencium tangan tante Rani.


Tante Rani berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam mobil.


Tante Rani melambaikan tangan dari dalam mobil saat kaca mobil di bukanya.


Setelah agak jauh, pagar di tutup oleh security dan kami mulai masuk ke dalam rumah.


Aku mulai masuk ke dalam rumah, kulitku sudah lengket dan gerah, lalu aku bergegas untuk mandi.


Setelah aku mandi, aku membantu Ibu menyiapkan makan malam untuk kami.


Tidak lama kemudian, Ayah tiba dari kantor.


Ayah tiba dari kantor dan langsung mandi, setelah itu Ayah menghampiri kami di meja makan.


Kami makan bersama, setelah kami makan, kami mengobrol santai diruang tamu.


Ayah dan Ibu bertanya padaku tentang penampilanku tadi siang.


"Chel, bagaimana pentasnya hari ini?"


"Iya Chel, bagaimana? sukses?"


Aku menjawab dengan antusias,


"Alhamdulillah sukses Bu, semua siswa ikut bernyanyi dan saat aku selesai menyanyi mereka menyuruhku menyanyi lagi dan lagi, sampai-sampai ketua OSIS di sekolahku ikut menyanyi juga."


"Alhamdulillah kalau begitu, Ibu ikutan senang mendengarnya."


"Iya Chel, Ayah juga ikutan senang mendengarnya."


Aku menanyakan keadaan Tante Rani tadi siang,


"Bu, tadi bagaimana dengan Tante Rani?"


"Ada apa Bu memangnya?"


"Jadi begini Yah, tadi itu ada masalah antara Rani sama anaknya."


"Memang ada masalah apa Bu?"


"Jadi, intinya tadi itu, Rani enggak terima kalau anaknya menyuruh dia pulang. Padahal Rani itu ingin lihat anaknya tampil, kan tadi kebetulan baju ganti anaknya itu ketinggalan jadi dia antar baju sekalian ingin menonton anaknya. Jadi seperti itu ceritanya."


"Aduh, kok anaknya Rani kayak begitu ya, jangan sampai Chel kamu kelak dapat suami kayak begitu, Ayah enggak setuju," tiba-tiba ayah berkata demikian.


Aku kaget dengan ucapan Ayah, aku langsung menyahut omongan Ayah


"Nah loh, Ayah kenapa ngomong kayak begitu? kan aku belum selesai sekolah, aku juga belum kuliah, pikiran untuk menikah kan masih belum Yah, dan lagi aku baru saja masuk kelas 1 SMA."


"Bukannya begitu Chel, Ayah itu khawatir kalau kamu terlalu dekat sama Daren, khawatir kamu suka sama dia," jawab ayah dengan kebingungan.


Aku menjawab pertanyaan Ayah yang tidak masuk akal,


"Mulai deh Ayah, khawatirnya enggak dipikir-pikir dulu."


Aku mulai menghindar dari Ayah supaya aku tidak di nasihati yang bukan-bukan. Aku berpura-pura mengantuk dan berpamitan untuk tidur.


"Yah, Bu, aku tidur dulu, sudah mengantuk aku," pamitku kepada Ayah dan Ibuku.


Ibu menjawab,


"Iya, kamu tidur saja."


Ayah juga menjawab,


"Iya Chel."


Aku berjalan menuju kamarku untuk tidur, sebenarnya aku tidak mengantuk, tetapi aku enggak mau mendengar Ayahku bicara yang tidak-tidak.


Aku mulai menyiapkan pelajaran sekolah untuk esok hari, ternyata dari luar kamarku terdengar kalau aku belum tidur.