Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 29



*Rumah Gladys*


Tiba-tiba Rena, dan Cindy datang ke rumah Gladys.


Gladys tinggal sendiri bersama asisten rumah tangga di rumah semegah itu.


Seperti biasa, rumah Gladys tampak sepi dan hanya ada asisten rumah tangga, sopir dan security di rumahnya.


Rumah Gladys sangat mewah dan besar, dan sayangnya dia tidak bahagia tinggal di rumah sebesar itu, karena tidak ada saudara dan orang tuanya yang menemaninya. Semenjak kecil Gladys di rawat oleh asisten rumah tangga, dan jarang sekali orang tuanya merawatnya.


Ke dua orang tua Gladys terlalu sibuk untuk mengurusi perusahaannya di luar negeri, sehingga Gladys tidak diurusi oleh orang tuanya.


Semua yang di inginkan olehnya selalu terwujud kan, tetapi hanya kasih sayang dari orang tuanya yang jarang sekali dia dapatkan.


Gladys tidak punya saudara, dia adalah anak semata wayang dari keluarganya.


Dia menjadi anak yang nakal karena kasih sayang dari orang tuanya yang kurang.


Semua teman yang berteman dengannya rata-rata mereka ingin memanfaatkan hartanya bukan karena ingin berteman dengan Gladys.


Sehingga, ketika Gladys punya masalah, mereka tidak akan mau membantu termasuk Cindy dan Rena.


Padahal Gladys selalu menuruti teman-temannya saat temannya butuh pertolongan. Malam itu sekitar pukul 19.00 WIB, Gladys duduk sendiri di balkon atas kamarnya.


Malam itu dia termenung sendiri menikmati angin malam yang berembus dan bersama bintang-bintang malam itu.


Dingin menyelimuti malam walau langit cerah, daun-daun bergoyang seakan mengikuti irama angin yang berembus malam itu.


Gladys duduk termenung, dia sangat rindu ke dua orang tuanya. Tetapi orang tua Gladys sangat sulit untuk di hubungi.


Tiba-tiba dalam lamunan Gladys, ia terkaget saat ada suara yang memanggilnya.


Ternyata Rena dan Cindy berteriak memanggil Gladys dari bawah.


"Gladys...Dys..." teriak Cindy.


Gladys kaget dan langsung menoleh ke arah bawah.


Kemudian, security yang ada di rumah Gladys membuka pagar tersebut. Rena dan Cindy masuk ke halaman rumah Gladys.


"Kalian langsung masuk ke kamarku saja," teriak Gladys menyuruh Rena dan Cindy.


Rena dan Cindy langsung masuk ke dalam rumah Gladys dan tidak lama kemudian Rena dan Cindy masuk ke dalam kamar Gladys.


"Gladys..." teriak Rena dan Cindy.


Gladys langsung menoleh ke arah dalam kamarnya, setelah itu Rena dan Cindy menghampiri Gladys yang sedang duduk santai di balkon atas kamarnya.


Rena dan Cindy langsung memeluk Gladys.


"Sudah-sudah jangan lama-lama memeluk, bisa-bisa gue enggak bisa nafas kalian peluk bareng," kata Gladys.


"Tumben kalian ke sini, ada perlu apa?"


"Kita kangen Dys sama elo, jujur saja ya Dys, kita kesepian enggak ada elo, iya kan Ren?" kata Cindy.


"Iya benar itu Dys, kita kesepian," jawab Cindy.


Gladys bertanya tentang rencana untuk mengerjai Chelsea.


"Bagaimana rencana kalian untuk mengerjai Chelsea?"


Cindy dan Rena berpikir mencari cara untuk mengerjai Chelsea.


"Dys, elo tahu enggak kalau si Gendut itu suka sama Kak Doni pacarnya sepupu elo?"


tanya Cindy.


Gladys kaget mendengar informasi tersebut.


"Yang benar elo? terus bagaimana?"


"Bagaimana kalau kita memancing obrolan agar si Gendut itu menuruti kita?" kata Cindy.


"Terus kita harus bagaimana Cin?" kata Rena.


"Elo b**o banget sih Ren, jadi kita itu kayak memancing omongan saat Chelsea ada di depan kita?"


Gladys menyahut secara tiba-tiba.


"Kita di situ akting biar si Gendut menuruti kita pakai bawa nama kak Doni. Bagaimana?"


"Sebentar Dys, gue belum selesai ngomong. Jadi kita ngomong kalau kak Doni itu suka cewek yang langsing, dan dance atau paling enggak ikutan Chearleader. Lalu kita kasih ujian dulu kalau mau masuk ke Chear. Jadi saat dia audisi, suruh dia pakai kostum badut. Bagaimana menurut elo Dys?"


Hahahahahaha..." mereka tertawa bersama.


"Bagus banget ide elo, jadi di situ kita permalukan dia. Tapi, iya kalau dia merespons kalau enggak bagaimana?"


"Sudahlah Dys, optimis saja, kali saja dia merespons kita."


"Betul banget tuh," jawab Rena.


Tiba-tiba dering handphone Gladys berbunyi, dan ternyata Angel sedang memanggil video call ke handphone Gladys.


Gladys mengangkat,


"He Ngel, ada apa? Tumben sekali elo video call gue? Biasanya kalau mau video call chat dulu," ujar Gladys.


"Gue mau mengajak elo dugem Dys, berani enggak?"


"Sorry Ngel, gue enggak berani, gue belum punya KTP, enggak kayak elo."


"Ayolah Dys, dari pada elo suntuk di rumah elo sendirian," Angel mulai memaksa Gladys.


"Sorry ya Ngel, sekali lagi gue tolak elo, gue enggak bisa, bye, have fun ya sepupuku yang cantik, see you tomorow."


"Sebentar Dys, gue mau ngomong."


"Bye...Bye... Sepupu tercantikku."


Gladys menutup video call dari Angel.


Rena dan Cindy mendengar percakapan Gladys dan Angel. Kemudian mereka berkomentar,


"Dys, kenapa kita enggak ikutan saja sih? siapa tahu seru loh," kata Cindy.


"Iya Dys," saut Rena.


"Gue enggak mau ikutan, kalau kalian mau ikutan, ya kalian ikutan saja. Gue enggak mau ikutan, sudah cukup kenakalan gue, gue enggak mau nambah-nambah nakal lagi."


"Oh ya Dys, bagaimana dengan ide gue tadi?" kata Cindy.


"Boleh juga Cin, besok kita coba bagaimana?"


"Oke, boleh juga," saut Rena.


Gladys, Rena dan Cindy bercanda bersama malam itu, hingga mereka tidak sadar kalau sudah malam tepat pukul 23.00 WIB.


"Dys, kita pamit pulang ya, sudah malam nih?" kata Cindy.


"Iya Dys sudah malam, kita pulang ya," saut Rena.


"Kalian tidur di sini saja, besok aku antarkan kalian pagi-pagi untuk ganti baju dan menyiapkan pelajaran. Kalian tahu kan aku sendirian di rumah sebesar ini? Ada kamar kosong di sini, kalian bisa memakainya."


"Maaf ya Dys, lain waktu saja kita menginap di sini, kita belum ngomong sama orang tua kita Dys."


"Ya sudah, kalau begitu," Gladys mengizinkan teman-temannya untuk pulang.


"Dys, kita boleh minta tolong enggak?"


"Kalian minta tolong apa?" jawab Gladys penasaran.


"Dys, tolong bilang ke sopir elo donk untuk antar kita pulang, kita kalau naik taksi Online menunggunya lama sekali."


"Oh begitu, iya deh aku panggil sopir aku dulu."


"Pak Asep." Teriak Gladys memanggil sopirnya.


Tidak lama kemudian datanglah Pak Asep menghampiri Gladys.


"Iya Non, ada yang bisa di bantu?"


"Pak, saya mau minta tolong, tolong antarkan teman saya pulang, kasihan kalau harus naik taksi Online menunggu lama."


"Baik Non, saya tunggu di depan ya Non."


"Terima kasih ya Pak."


"Iya Non, sama-sama," jawab Pak Asep.