Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 11



Security tersebut membukakan pagar sekolah dan mobil yang dikendarai ibuku masuk.


Ibuku dan mamanya Daren turun dari mobil dan membawa baju beserta perlengkapannya, terlihat dari kejauhan, tiba-tiba Tere menghampiri kami.


"Bagaimana? kok orang tua kalian ikutan masuk sekolah," bisik Tere kepada kami.


"Itu disuruh guru BK masuk, makanya mereka masuk," jawabku lirih.


Tere menyambut orang tuaku dan Daren.


"Assalamualaikum," kata Tere sambil mencium tangan ibuku dan mamanya Daren.


"Walaikumsalam," kata orang tuaku dan orang tua Daren.


"Sini Tante, aku bantu bawain."


Tere bingung mau di arahkan ke mana, secara kebetulan guru BK menghampiri kami.


"Ibu, Ibu enggak apa-apa kan menunggu anak-anaknya di ruang BK?"


Tiba-tiba mamanya Daren yang berbicara, namun ibuku hanya diam dan mengikutinya.


"Iya Bu, enggak apa-apa, tapi boleh kan anak-anak kami menyusul ke ruang BK semisal ada perlu make up atau apalah?"


"Iya Bu, tidak apa-apa, mari Bu saya antar" kata guru BK.


Kami menuju ruang BK untuk mengantar ibuku dan mamanya Daren.


Kami bertiga berpamitan sebentar untuk kembali ke kelas,


"Bu, aku ke kelas dulu ya, sambil cari info tampil giliran nomor berapa."


"Iya Chel."


Aku meninggalkan ibuku dan menuju kelas.


Kak Rangga dan kak Kevin masih ada di ruang kelasku.


Kami bertiga masuk dan mengetuk pintu.


"Tok...Tok...Tok..." suara ketukan pintu.


Tere berada di depanku dan minta ijin untuk masuk kelas.


"Permisi Kak."


Kemudian kak Rangga membukakan pintu untuk kami.


Setelah itu kami mulai masuk ke kelas.


Aku bertanya kepada kak Rangga,


"Kak kita tampil jam berapa?"


"Kayaknya kalian urutan nomor 7 dan 10, tapi hari ini pulangnya sore, kalian mau pilih nomor yang mana?"


Aku diam sejenak dan sontak aku menjawab.


"Kalau kita terserah saja Kak."


Lalu kak Rangga pergi menghampiri Gladys,


"Oh begitu, kalau begitu, aku tanya Gladys dulu ya."


Rangga menghampiri Gladys yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.


"Gladys, kamu nanti tampil nomor 7 atau 10?" tanya kak Rangga kepada Gladys.


"Aku memilih nomor 7 saja Kak."


"Oke kalau begitu."


Rangga langsung menghampiri kami.


"Chel, kamu tampil nomor 10, sebentar lagi sekitar jam 11, acara segera dimulai. nanti setelah istirahat sekitar jam setengah 11, kalian boleh bersiap-siap."


"Iya Kak, terima kasih infonya."


Tiba-tiba Kak Rangga bertanya tentang persiapan kami,


"Chel, bagaimana dengan persiapan kalian saya kok tidak melihat kostum sama perlengkapan kalian, apa orang tua kalian tidak jadi kesini?"


"Baju dan perlengkapan kami, dibawa orang tua kami kak, sekarang mereka di ruang BK menunggu kami."


"Oh begitu, ya sudah nanti kalau kamu selesai istirahat, kamu bisa langsung persiapan saja."


"Iya Kak, terima kasih."


Tepat pukul 10.00 jam istirahat sudah mulai berbunyi, seluruh siswa keluar dari kelas menuju kantin atau hanya sekedar duduk santai di depan kelas.


Aku, Tere dan Daren menghampiri ibuku dan mamanya Daren ke ruang BK sebelum kami ke kantin.


Aku melihat ibuku dan mamanya Daren asyik mengobrol saat itu, tiba-tiba kami mengetuk pintu ruang BK dan kami langsung masuk.


Melihat kami masuk, ibuku langsung bertanya kepada kami,


"Kalian tampil jam berapa?"


"Kita tampil nomor 10, dan acaranya dimulai jam 11 nanti."


"Ibu, aku cari makan dulu ya, apa Ibu mau menitip beli makan atau camilan? atau mau ikut kita ke kantin."


"Ya sudah, kita ikutan saja yuk ke kantin." jawab Mamanya Daren.


Mendengar mereka mau ikut ke kantin, Daren melarangnya,


"Mama, Tante, mending di sini saja deh, nanti kalau mau beli apa-apa biar kita yang belikan. Chel, kamu jangan menawarkan mama aku ke kantin."


"Kenapa Ren, kamu malu sama Mama?" sontak Mamanya Daren marah dan membentak.


"Kenapa diam saja? kamu malu kalau Mama ada di sini, ha? kalau kayak begini, mending tadi Mama enggak mengantarkan baju untuk kamu," kata tante Rani dengan marah kepada Daren.


Mata tante Rani terlihat berkaca-kaca menahan air mata sambil marah, lalu ia pergi meninggalkan kami.


Daren, aku, ibuku, dan Tere mengejar tante Rani.


Ibuku membujuk tante Rani agar ia tidak pergi.


"Ran, tunggu aku," teriak ibuku memanggil tante Rani.


Tante Rani tak menghiraukan ibuku, dan saat tante Rani berada di luar pagar.


Tiba-tiba ada taxi dan tante Rani memberhentikan taxi tersebut lalu meninggalkan kami.


Ibuku mengetuk kaca taxi dan berharap tante Rani tidak pergi.


"Ran, jangan pergi dong Ran, tunggu aku, kamu kok kayak begini sih Ran, Ran, Rani," teriak ibuku saat taxi yang di tumpangi tante Rani beranjak pergi.


Ibuku bergumam sendiri,


"Ya ampun, aku enggak di dengarkan."


"Chel, Ibu mau menyusul tante Rani pulang saja atau bagaimana ya Chel enaknya?"


"Terserah Ibu saja."


"Hmmm... kalau begitu, Ibu pulang saja ya Chel."


Aku tidak bisa bicara apa-apa ketika ibuku menginginkan untuk pulang,


"Ya Bu, hati-hati."


Aku mengantar ibuku untuk mengambil mobil di dalam sekolah,


Aku, Daren, dan Tere bersalaman dengan ibuku,


"Hati-hati Tante," ucap Tere dan Daren.


Ibu membalas dengan senyuman dan masuk ke dalam mobil.


Kami hanya terdiam sejenak ketika ibuku pergi meninggalkan kami.


Tere mengajakku untuk mempersiapkan penampilan hari ini,


"Chel, ayo kita persiapkan untuk acara hari ini."


Aku mengajak Daren yang saat itu lagi sedih,


"Ayo Ter, Daren ayo kita mulai persiapan!"


Daren hanya tersenyum tanda menyetujui.


Kami bertiga berjalan ke arah ruang BK, dan kita mengambil perlengkapan kita yang ada di ruang BK tersebut. Aku minta ijin kepada guru BK untuk mengambil baju dan make upku.


"Bu, permisi, kami mau ambil perlengkapan kami ini."


"Iya silakan," kata guru tersebut.


Kami mengambil perlengkapan yang ada di meja ruang BK, dan kami membawanya ke kelas kami.


Tepat pukul 11.00 wib, acara telah di mulai.


Gladys dan kawan-kawannya terlebih dahulu mempersiapkan diri.


Sedangkan aku dan Daren belum bersiap-siap untuk tampil.


Kami bersamaan menuju kamar mandi.


Tere sebagai teman sangat membantuku untuk persiapan make up dan bajuku.


Aku dan Tere pergi ke kamar mandi untuk ganti baju.


Daren juga mulai ganti baju dikamar mandi cowok.


Aku dibantu Tere untuk ganti baju, aku memakai Dress berenda dan berwarna Hitam, lalu aku memakai sepatu high heels berwarna Hitam agar terlihat serasi dengan bajuku, make up yang aku kenakan sangat natural.


Jadi tidak begitu mencolok, aku ganti baju dan bermake up di kamar mandi di bantu oleh Tere.


Sedangkan Daren hanya memakai kemeja berwarna Hitam dan bersepatu.


Daren memanggilku dari luar kamar mandi,


"Chel, sudah apa belum?" teriak Daren dari luar.


Tere berlari keluar menjawab panggilan Daren.


"Ren, belum selesai, kamu pergi dulu saja ambil gitar dan nanti ketemu di kelas saja ya."


"Ia Ter, aku pergi dulu ya."


Daren pergi meninggalkan kami.