
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Aku hanya tertunduk menyimpan kesedihanku dan air mataku.
Tetapi kesedihan itu tidak bisa aku sembunyikan dari pandangan Ibuku.
Ibuku penasaran dengan raut wajahku yang menyimpan kesedihan dan mataku yang sembab hingga berkaca-kaca.
Ibu menegurku yang saat itu tidak seperti biasa,
"Chel, kamu kenapa, ada masalah apa kok mata kamu sembab Nak?"
"Aku tidak apa-apa Bu."
Aku berusaha menyembunyikan perasaanku tetapi Ibu masih tidak percaya, Ibu berlari mengejarku masuk ke kamarku.
Aku langsung menutup pintu kamarku, aku sengaja menguncinya karena aku tidak mau Ibuku mengetahuinya.
Ibuku terus berteriak memanggil namaku dan menggedor pintu kamarku.
"Chelsea... Chelsea... Kamu kenapa Nak?? Cerita sama Ibu, jangan seperti ini Nak?"
Aku menghiraukan panggilan dari Ibuku, dan aku menangis terus menerus.
Lama kelamaan Ibuku lelah memanggilku tetapi tidak aku hiraukan.
Beberapa menit setelah hujan reda, tiba-tiba Tere datang ke rumahku.
Aku mendengar suaranya memanggil namaku,
"Chelsea...Chelsea..."
Tidak lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki Ibuku dan berbicara kepada Tere.
"Silakan masuk Ter."
"Iya Tante, terima kasih."
"Tante, Chelseanya ada?"
"Chelsea ada, tetapi sepertinya dia lagi sedih dan mengurung dirinya di kamar, memangnya ada apa sebenarnya Ter? tante bingung. Dari tadi Tante mencoba menggedor pintunya dan memanggilnya tetapi sepertinya dia menghiraukan Tante.
Tadi saat Tante melihat matanya sembab seperti habis menangis."
"Tante, apa boleh saya mencoba memanggilnya?"
"Iya enggak apa-apa Ter, siapa tahu dia bisa bercerita sama kamu."
Tere tiba-tiba mengetuk pintu kamarku dan memanggilku,
"Chel...Chelsea.... Ini aku Tere, buka'in dong pintunya, aku enggak ada masalah sama kamu tetapi kamu kok seperti ini ke aku, Ibu kamu tidak ikut-ikutan tapi kenapa kamu menghiraukan juga, ayolah Chel."
Sejenak aku berpikir dan batinku berkata menyeimbangkan pikiranku saat itu,
"Benar juga, aku kan ada masalah kepada mereka, kenapa juga aku marah kepada mereka?"
Aku beranjak dari tempat tidurku dan membuka pintu kamarku.
Di depan pintu kamarku terlihat Tere masih berdiri, setelah itu ia langsung memelukku ketika ia melihatku.
"Chelsea, jangan marah sama aku dong, aku kan enggak ikut-ikutan masalah kamu."
Aku hanya tersenyum membalas perkataan Tere.
"Chel, cerita donk kenapa kamu tiba-tiba seperti ini."
Aku masih tidak menjawab, lalu Tere menarikku masuk ke kamarku.
Tere memaksaku untuk menceritakan kepadanya.
"Chel, jangan diam saja donk."
"Iya-iya aku cerita."
Aku menjawab dengan tersenyum dan mataku berkaca-kaca.
"Ya sudah, ayo cerita," kata Tere
"Tere, aku itu tidak suka kalau di bentak, kamu tahu kan tadi aku di bentak oleh Daren. Memang aku salah, aku juga memaksa dia, tapi enggak seharusnya Daren membentakku."
"Jadi begitu ceritanya, ya sudah jangan di anggap Chel, biarin saja."
"Aku itu tidak terbiasa dengan bentakan seperti itu Chel, apalagi dengan teman baikku, yang ada ngena banget bentakkannya. Orang tuaku saja jarang banget membentakku, kok ini temanku yang baru saja kenal malah bentak-bentak aku."
Tere tidak bisa berkata apa-apa, dan langsung memelukku.
Tiba-tiba Ibuku datang menghampiri kami membawa makanan dan minuman,
"Ter, ini silakan di minum ya, makanannya di cicipi."
"Iya Tante, terima kasih."
Ibuku penasaran dengan yang aku alami, ia tidak langsung pergi meninggalkan kami.
"Chel, sebenarnya ada apa? Kamu tiba-tiba pulang dengan mata sembab?"
"Chel, kok enggak di jawab pertanyaan Ibu?"
"Enggak apa-apa Bu."
"Ya sudahlah kalau kamu tidak mau ngomong sama Ibu, yang penting sekarang kamu tidak bersedih lagi."
"Iya Bu."
Ibu meninggalkan kami di kamarku, tidak terasa waktu sudah menunjukkan sore hari. Seperti biasa Tere berpamitan pulang kepada kami.
"Chel, aku pulang dulu ya, jangan sedih terus."
"Iya Ter."
Aku mengantarkan Tere ke depan pintu, Ibu menghampiriku saat aku mengantar Tere ke depan pintu.
"Tante, saya pulang dulu, terima kasih.
Chel, aku pulang ya."
"Iya Ter."
"Hati-hati ya Ter." Jawab Ibuku.
*Keesokan harinya*
Pagi ini aku terbangun karena Ibuku yang membangunkanku, hari ini alarmku sudah tidak berfungsi lagi untuk membangunkanku karena aku terlalu mengantuk pagi ini.
Ibu menggedor pintu kamarku dan membangunkanku dari tidurku.
"Chelsea, bangun...."
Aku terkaget mendengar Ibu teriak sambil menggedor pintu kamarku.
"Iya Bu."
Aku bergegas bangun dari tempat tidurku, sambil bermalas-malasan aku bergegas ke kamar mandi.
Pagi ini Ibuku kembali mengomel karena aku bangunnya kesiangan.
"Chel, ayo cepat berangkat."
Aku segera mempercepat langkahku untuk ganti baju dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Hari ini aku masih sangat beruntung karena jalanan tidak macet dan aku hampir saja terlambat.
Aku bergumam dalam hati,
"Untung saja masih ada waktu 5 menit lagi, jadi gerbang sekolah masih terbuka."
Aku berjalan sampai di depan pintu kelasku, baru berbunyi bel sekolah.
Aku melihat Tere dan Daren sudah datang. Ketika aku berjalan ke arah tempat dudukku, Tere dan Daren langsung berhenti mengobrol.
Tere menyapaku saat aku mulai duduk di bangkuku.
"Pagi Chelsea."
Aku menjawab dengan sedikit cemberut karena moodku hari itu enggak enak.
"Pagi Tere."
Aku melihat Daren hanya diam dan pindah tempat duduk. Daren menukar tempat duduk dengan temanku.
Daren tidak menyapaku pagi ini, aku juga tidak tahu kenapa hari ini dia tidak menyapaku.
Jam pertama hari ini adalah kesenian, dan guru yang mengajar adalah Pak Bambang.
"Selamat Pagi anak-anak."
"Selamat Pagi Pak."
"Sebelum kita melanjutkan pelajaran ini, saya ingin mengajak kalian berdoa dulu, setelah itu saya mau absen kalian, berdoa di mulai. Berdoa selesai."
Pak Bambang mengabsen satu persatu murid yang ada di kelas kami, setelah itu Pak Bambang pergi ke ruang kesenian untuk mengambil alat musik.
Tidak lama kemudian, Pak Bambang masuk ke kelasku dengan membawa gitar.
"Materi hari ini adalah bermain gitar, tetapi bermain gitar itu harus seirama dengan vokalnya, jangan vokal yang menuruti gitar tapi gitar yang menuruti vokal. Seperti yang tampil ramai kemarin yaitu Daren dan Chelsea. Mereka itu memainkan musik dan vokal pas, sehingga tidak fals dan penonton sangat terhibur.
Sebagai contoh saya mau memanggil Daren dan Chelsea ya, silakan ke depan Chelsea dan Daren."
Aku dan Daren maju ke depan,
kemudian Daren memainkan gitar dan aku yang bernyanyi.
Tiba-tiba nadaku tidak sesuai dengan gitarnya Daren.
"Bentar deh, kok kamu mainnya mengawur sih Ren."
"Suara kamu kali yang enggak pas, aku kemarin mainnya juga kayak begini kuncinya."
"Kalau seperti kemarin, jelasnya samalah kayak kemarin, buktinya fals."
"Salah suara kamu tuh yang fals, jangan salahi aku main gitarnya."
"Kamu kok menyolot begitu sih Ren, aku kan ngomong baik-baik."