
*Keesokan harinya*
Aku merasa tubuhku sudah mulai pulih kembali, kepalaku sudah tidak terasa pusing lagi dan saat aku berjalan sudah tidak terjatuh karena pusing.
Hari ini aku memutuskan untuk ke Dokter, aku berangkat sekitar pukul 09.00 wib.
Aku menuju rumah sakit untuk memeriksa kondisi tubuhku, aku di antar oleh Ayah dan Ibuku.
Jalanan tidak begitu macet dan angin di pagi ini terasa sepoi-sepoi. Matahari tidak terasa menyengat di pagi ini.
Perjalanan kami lancar dan sekitar 30 menit aku telah sampai di rumah sakit.
Ayahku memarkirkan mobil, setelah itu kami menuju loket rumah sakit untuk daftar.
Antrean hari ini lumayan panjang, dan 1 jam kemudian giliranku di periksa oleh Dokter.
Dokter memeriksa kondisiku dan setelah itu dokter mengizinkan aku untuk masuk sekolah lagi.
Ayah bertanya kepada Dokter dengan cemas,
"Bagaimana Dok keadaan anak saya?"
Dokter menjelaskan kondisiku kepada Ayahku,
"Anak Bapak sudah sembuh, dan sudah bisa untuk sekolah lagi atau aktivitas kembali, tapi ingat jangan terlalu di forsir ya."
Ibuku bertanya tentang obat apa yang harus aku minum selanjutnya,
"Syukurlah kalau begitu, apa ada obat lagi Dokter?"
"Sepertinya tidak ada, ini cuman saya kasih vitamin saja, kalau sudah habis tidak usah kembali lagi."
Ayah dan Ibuku bersalaman kepada Dokter yang memeriksaku,
"Terima kasih Dokter."
Kami keluar dari ruang pemeriksaan menuju tempat administrasi.
Ayahku menyelesaikan administrasi.
Aku dan Ibuku menunggu obat di ruang tersebut.
Kami menunggu tidak begitu lama, setelah 30 menit, namaku di panggil untuk mengambil obat.
Saat namaku di panggil, Ayahku menghampiri tempat pengambilan obat.
Setelah Ayah mengambil obat, Ayah menghampiriku dan Ibuku untuk segera pulang.
Saat perjalanan pulang, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Aku mengambilnya di dalam tas kecilku, dan aku lihat ternyata ada chat masuk dari Tere.
"Chel, aku pulang sekolah ke rumah kamu boleh ya?"
"Iya boleh, tapi kamu enggak bosan ke rumahku? kamu sendiri apa sama Daren?"
"Sepertinya aku sendiri Chel, Daren enggak bisa ikut."
Tiba-tiba Aku ingin jalan-jalan ke mall,
"Ter, aku kok ingin ngemall ya, apa kamu enggak ingin ngemall dan jalan-jalan?"
"Aku juga ingin Chel, tapi lagi enggak ada duit Chel, apa kamu boleh sama orang tua kamu? apalagi kamu baru sembuh."
"Nanti saja di bicarakan ya Ter, aku tunggu di rumah ya."
"Oke, mungkin 30 menit lagi aku berangkat ke rumah kamu Chel"
"Siap."
Setelah aku selesai membalas chat dari Tere, aku memasukkan handphoneku ke dalam tas kecilku. Tiba-tiba Ibuku bertanya,
"Ada pesan dari siapa Chel?
"Dari Tere Bu, katanya mau ke rumah."
"Oh begitu, enggak apa-apa Chel kalau ke rumah."
"Bu, Ibu, Yah, Ayah," aku mencoba merayu dan memanggil Ayah dan Ibuku.
"Ada apa Chel? pasti ini ada maunya, iya kan Bu? kata Ayah kepada Ibu.
"Iya Yah, biasanya kan begitu."
Aku menjawab dengan tersenyum,
"Hehehehe, Ayah, Ibu, aku boleh ngemall enggak? berangkat naik motor sama Tere."
Ayah dan Ibuku kaget dan berteriak bersamaan,
"APA?!"
Ayah agak marah kepadaku,
"Ayah enggak setuju kalau kamu naik motor, apalagi ngemall, kalau kamu kecapaian bagaimana? apalagi kamu barusan sembuh loh Chel."
Ibu sedikit cemberut mendengarkan aku ingin pergi jalan-jalan,
"Ibu juga enggak setuju Chel."
Tiba-tiba Ayah menyetujui walau dengan syarat,
"Kalau kamu mau ngemall boleh tapi harus di temani sama Ayah atau Ibu juga, Ayah juga enggak izinkan kamu naik motor, karena kamu barusan sembuh."
"Iya Yah."
Tidak terasa perjalananku sudah sampai di rumah. Aku melihat motor Tere akan memasuki rumahku.
Melihatku turun dari mobil, Tere langsung bergegas menghampiriku,
"Chel, dari mana kamu?"
Aku mengajak Tere untuk masuk ke dalam rumahku,
"Dari Dokter Ter, ayo masuk."
Tere melihat orang tuaku langsung menghampirinya dan mencium tangan Ayah dan Ibuku.
"Assalamualaikum Om, Tante."
"Walaikumsalam."
"Iya, Daren enggak bisa di ajak Tante."
"Ter, sebenarnya tadi yang mengajak ke mall itu kamu atau Chelsea?"
"Tadi itu Chelsea tante, katanya suntuk di rumah terus."
Ibu bertanya kepadaku dan memandangku,
"Benar Chel?"
"Iya Bu, sudah lama aku enggak ke mall."
Aku bertanya kepadaku,
"Boleh kan Bu?"
"Boleh, asalkan Ibu ikut."
'Bagaimana Tere?"
"Iya enggak apa-apa Chel."
"Ayah ikut apa di rumah saja?" tanya Ibu kepada Ayah.
"Sepertinya Ayah enggak bisa ikut, ada kerja'an yang harus Ayah selesaikan, kalian di antar sama Pak Maman saja."
"Iya Yah."
Aku, Ibuku, dan Tere menaiki mobil, dan tidak lama kemudian Pak Maman menghampiri kami di dalam mobil.
Mobil keluar melewati pagar rumah yang sudah di bukakan oleh security kami.
Kami melakukan perjalanan menuju mall, hari ini sangat macet sekali. Panas matahari sangat terik membuat AC di dalam mobil tidak terasa. Akhirnya kita sampai ke mall dan dengan perjalanan 1 jam, padahal biasanya hanya 30 menit kami sampai ke mall.
Pak Maman menurunkan kami di lobby mall, kemudian Pak Maman menunggu di tempat parkir mobil.
"Bu, saya tunggu di tempat parkir ya, nanti kalau sudah selesai, Ibu telepon saya," kata Pak Maman.
"Iya Pak, nanti kalau saya sudah di lobby sini, saya kabari Bapak."
Kami turun dari mobil dan Pak Maman membawa mobilnya ke arah tempat parkir.
Kami masuk ke dalam mall dan berkeliling mall, kami berjalan dari lantai ke lantai. Sesekali kami masuk ke butik melihat baju, tas dan sepatu.
Kami hanya melihat-lihat saja karena tidak ada yang cocok. Tiba-tiba Tere berhenti dan masuk ke dalam salah satu toko. Tere memilih-milih baju dan membeli baju yang dia pilih.
Ibuku tiba-tiba mengeluarkan dompet untuk membayar belanjaan Tere.
"Ter, enggak usah di bayar, biar tante saja yang bayar."
Tere menolak Ibuku yang akan membayar belanjaannya.
"Tidak usah tante, aku ada uang kok."
Aku membujuk Tere agar mau menerima Ibuku untuk membayar belanjaannya,
"Ayolah Ter, enggak apa-apa biar Ibuku saja yang bayar."
Akhirnya Tere menyerah karena aku dan Ibuku memaksanya,
"Iya sudah Chel kalau kamu yang memaksa, terima kasih yang Chel, terima kasih tante."
"Iya Ter, sama-sama, jangan sungkan-sungkan kalau Tante membayar atau membelikan barang untuk kamu."
"Iya Tante"
Setelah kami membelikan baju untuk Tere, kami keluar dari toko tersebut dan kami mencari makan di foodcord.
Kami berjalan ke arah lantai atas tempat foodcord berada.
Kami membeli makanan, dan saat Ibu yang mengantre tiba-tiba aku melihat Ibunya Daren juga mengantre. Ibunya Daren menyapa Ibuku.
Terlihat dari kejauhan, Tante Rani menyapa Ibuku,
"Hai Rita, sama siapa di sini?"
Ibu menunjuk ke arah aku dan Tere,
"Hai Ran, aku sama Chelsea dan Tere, itu mereka duduk di sana."
"Kamu sama siapa Ran?"
"Aku sendirian Rit, kamu kan tahu sendiri kalau anak laki itu enggak suka ngemall dan jalan-jalan kayak anak cewek."
Ibuku mengajak Tante Rani untuk makan bersama,
"Ayo gabung duduk bareng kita Ran, biar ramai."
"Iya Rit."
Tante Rani dan Ibuku menghampiriku.
Tante Rani menyapaku dan Tere,
"Hai Chelsea, Tere."
Aku dan Tere mencium tangan Tante Rani,
"Hai tante."
"Daren enggak ikut tante?"
"Enggak ikut Ter, namanya juga anak laki, kalau di ajak ngemall pasti enggak mau kalau dia tidak perlu. Kalau ada perlu begitu malah ngemall sendiri."
Kami hanya tersenyum mendengar cerita tante Rani.
Tidak lama kemudian, makanan datang dan kami mulai makan.
Setelah kami makan dan mengobrol sudah 2 jam, kami berpamitan untuk pulang.
Ibuku berpamitan terlebih dahulu kepada Tante Rani,
"Rani, kami balik dulu ya."
"Iya Rit, aku juga mau balik."