
Aku, Tere, dan Daren semakin heran melihat tingkah Gladys.
Tere menanyakan hal sama kepadaku,
"Chel, kenapa mereka akrab banget ya?"
"Iya Ter, semakin aneh sekali Mak Lampir itu."
Tiba-tiba Daren menghentikan pergunjingan mereka,
"Ayo ke kantin, dari pada kalian bergunjing terus, mending kita makan."
"Kayak kamu enggak kayak begitu saja Ren," saut Tere.
"Iya Ter, padahal nantinya Daren juga penasaran tanya-tanya sama kita," jawabku.
Kami menuju kantin untuk istirahat dan makan, saat kami berjalan ke arah kantin. Tiba-tiba aku melihat Gladys di lapangan sudah memakai baju cheerleader.
Aku menghentikan langkahku dan teman-temanku,
"Sebentar deh," pintaku.
"Ada apa sih Chel?" tanya Tere penasaran.
"Iya Chel, ada apa? Kok berhenti?" tanya Daren.
"Lihat deh, itu Gladys kok akrab banget ya sama Angel? Sampai-sampai sudah pakai baju Cheerleader."
"Iya Chel, jangan-jangan ada apa-apa Chel?" Tere mulai penasaran.
Tiba-tiba Daren menceletuk,
"Kalian ini cewek-cewek gibah saja, apa untungnya membicarakan orang seperti itu. Ayo ke kantin, ke buru habis entar makanannya."
*Sementara Gladys*
Gladys bertanya kepada Angel,
"Ngel, elo di sini sebagai apa sih?"
"Gue sebagai kapten di sini, jadi elo gabung di sini enggak usah pakai audisi. Kalau siswi yang lainnya gabung ya ikut audisi dulu, khusus elo spesial."
"Terima kasih banyak sist."
Gladys memeluk Angel dan saat itu terlihat oleh Rena dan Cindy.
Tiba-tiba Rena dan Cindy menghampiri Gladys.
"Permisi, Dys gue sama Cindy boleh gabung enggak?" tanya Rena.
Gladys langsung menoleh ke arah Rena dan Cindy.
"Ha? Apa gue enggak salah dengar? Bukannya kalian sudah enggak mau lagi berteman sama gue?" jawab Gladys.
Kemudian Rena dan Cindy meminta maaf,
"Dys, kita minta maaf ya, kalau kelakuan kita menjauhi kamu," kata Cindy.
"Iya Dys, kita minta maaf dan menyesal, mau kan memaafkan kita?" kata Rena.
"Gue mau memaafkan kalian asalkan ada syaratnya, memang bisa menuruti syarat dari gue?"
"Apa pun akan kita lakukan Dys, asalkan kamu memaafkan kita," kata Cindy.
"Iya Dys apa pun itu akan kita lakukan," saut Rena.
"Oke, tunggu sebentar."
Gladys berbalik arah dan menjauh dari Cindy dan Rena.
Gladys menggandeng Angel dan diskusi membicarakan tentang Cindy dan Rena.
"Ngel, menurut elo hukuman apa yang pantas untuk mereka berdua?"
"Mereka memang siapa Dys?"
"Mereka berdua itu teman gue, tapi pas kemarin gue di skors, mereka enggak mau membela gue, dan ini tadi mereka menjauhi gue."
"Bentar Dys gue berpikir sejenak," jawab Angel.
Tiba-tiba Angel mempunyai ide untuk mereka berdua.
"Dys, gue mau tanya dahulu ke elo, elo masih jengkel enggak sama cewek gendut yang membuat elo diskors?"
"Gue masih sebel banget Ngel sama cewek gendut yang membuat aku di scors."
"Bagaimana kalau elo menyuruh mereka buat mengerjai si cewek gendut itu?"
"Boleh juga ide elo Ngel," kata Gladys.
Gladys berbalik arah dan menghampiri Cindy dan Rena.
"Jadi, gue sudah memutuskan apa saja yang harus kalian lakukan untuk menebus rasa bersalahnya kalian," kata Gladys.
"Memang apa Dys?" jawab Rena dan Cindy.
"Gue ingin kalian mengerjai si gendut Chelsea, apa bisa?"
"Bisa Dys, tapi apa boleh kita gabung di Cheerleader kalian tanpa audisi seperti elo Dys." kata Cindy.
"Boleh saja, entar gue ngomong dulu ke sepupu gue."
Gladys menghampiri Angel yang sedang latihan bersama teman-temannya.
"Apa sih Dys yang enggak buat elo," kata Angel sambil tersenyum manis.
"Terima kasih sepupuku tercantik."
Angel menjawab dengan tersenyum.
"Ngel, kostum buat teman gue dimana?" tanya Gladys.
"Elo bisa ambil di loker yang tadi gue ambilkan kostum buat elo."
"Oke, aku ambil ya Ngel."
"Oke Dys."
Gladys mengajak teman-temannya untuk mengambil kostum.
Kemudian mereka latihan di lapangan sekolah.
Setelah latihan selesai, mereka istirahat dan mengikuti pelajaran.
*Chelsea*
Jam pelajaran telah selesai, hari ini aku, dan Daren ke rumah Tere.
Kami di antar oleh sopirnya Daren.
Tidak lama perjalanan kami menuju rumah Tere.
Setelah itu berhentilah kami di depan gang.
"Pak stop di depan gang situ," kata Tere sambil menunjuk gang tersebut.
Kami berhenti tepat di depan gang tersebut, kami berjalan melewati gang hingga sampailah di rumah Tere.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam," tiba-tiba muncul ibunya Tere.
Kami mencium tangan ibunya Tere, dan dia mempersilakan kita untuk masuk ke dalam rumahnya,
"Silakan masuk Nak, Ter tolong kamu buatkan minum buat mereka."
"Baik Bu, ayo masuk dulu, tunggu sebentar ya," kata Tere.
Tidak begitu lama kami menunggu Tere, Tere keluar dengan membawa gelas berisikan es teh yang segar.
Tere menyuguhkan minuman itu di atas meja untuk kami.
"Teman-teman silakan di minum ya," kata Tere.
"Iya Ter, aku minum ya," aku meminum es yang di suguhkan oleh Tere.
Tere mengeluarkan buku Matematika yang perlu di pelajari.
"Chel, kamu bawa buku Matematika?" tanya Tere kepadaku.
Aku membuka tasku dan mengingat kembali.
"Ter, sepertinya aku enggak membawa deh, Ren kamu membawa enggak?" aku bertanya kepada Daren.
"Sepertinya aku bawa Chel," jawab Daren.
"Ya sudah Chel, pakai bukuku saja kalau begitu, nanti kamu foto terus kirim di handphone kamu"
"Iya Ter."
Kami mengerjakan PR yang di berikan untuk kami, tidak terasa waktunya sore.
Tiba-tiba ibuku meneleponku.
Aku pergi menjauh sebentar dari teman-temanku untuk mengangkat telepon dari ibuku.
"Chel, apa masih lama mengerjakan tugasnya?"
"Sebentar lagi Bu, Ibu ada perlu denganku?"
"Ibu tidak ada perlu Chel, sekarang sudah sore, kamu pasti belum makan siang juga kan?"
"Iya Bu, aku baru ingat, sebentar lagi ya Bu aku pulang," jawabku dan aku menutup telepon dari Ibuku.
Aku menghampiri teman-temanku kembali dan berpamitan untuk pulang.
"Ter, aku pulang ya, sudah sore. Aku di cari sama ibuku, nanti kamu VC atau telepon saja ya buat melanjutkan yang belum."
"Iya Chel, kamu foto dulu ya jawaban yang sudah dikerjakan," Tere menyuruhku untuk memfoto jawaban yang kami kerjakan.
Aku memfotonya dan aku mengajak Daren untuk pulang.
"Ayo Ren kita pulang."
"Sebentar ya Chel, aku mau telepon sopirku dahulu."
Daren menelepon sopirnya,
"Pak, aku sudah selesai ke rumah temanku, tolong di tunggu depang gang yang tadi ya Pak. Sekarang aku mau persiapan jalan ke sana." Daren menutup teleponnya.
"Ayo Chel, kita bersiap-siap, terus kita pulang," kata Daren.
Tidak banyak yang aku bersihkan, aku hanya memasukkan bolpoin ke dalam tasku. Karena aku tidak membawa buku, jadi aku tidak mengeluarkan buku sama sekali.