Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 30



♡Keesokan hari (POV GLADYS)


Pagi ini Gladys bangun pagi seperti biasa, ia dibangunkan oleh alarm yang ia bunyikan tepat pukul setengah 6.


Gladys bangun dan bergegas untuk mandi.


Setelah itu Gladys mengganti bajunya, menyisir rambut, dan memakai make up. Tidak begitu lama ia dandan, ia langsung menuju meja makan untuk sarapan pagi.


Pagi itu sarapan yang dibuatkan oleh asisten rumah tangga Gladys, sarapan pagi ini tidak sesuai dengan apa yang di inginkan oleh Gladys, sehingga Gladys tidak sarapan pagi itu.


Gladys hanya memakan beberapa roti dan langsung pergi meninggalkan meja makan.


Gladys menuju parkir mobil di rumahnya, terlihat Pak Asep sedang memanasi mobilnya.


"Pagi Non, silakan mobilnya sudah siap," kata Pak Asep sambil membuka pintu mobil.


"Terima Kasih Pak Asep."


Pak Asep hanya tersenyum dan segera membuka pagar rumah.


Gladys mengendarai mobilnya sendiri, hingga sampailah ia ke sekolah.


Ia memarkirkan mobilnya dan dari kejauhan terlihat Rena dan Cindy menghampirinya.


"Pagi Gladys," sapa Rena dan Cindy.


"Pagi juga," kata Gladys sambil melemparkan tas yang dibawanya ke arah Rena dan Cindy.


Cindy membawakan tas Gladys, dan mereka berjalan menuju kelas.


Mereka duduk di bangku masing-masing.


Tidak lama kemudian Chelsea, Tere, dan Daren datang.


Saat Chelsea sudah mulai duduk santai di kursinya, tiba-tiba Gladys dan kawan- kawannya menjalankan misinya untuk mengerjai Chelsea.


"He Cin, elo tahu kan Doni kakak kelas kita?" kata Gladys.


"Iya, Dys kenapa?"


"Dia itu tertarik sama sepupu gue karena sepupu gue itu cantik, langsing dan dia tuh bisa dance."


"Benaran Dys? Pantas Doni suka sama sepupu kamu," kata Rena.


"Iya donk Ren."


Gladys mengencangkan suaranya agar di dengar oleh Chelsea.


"Ayo ke kantin yuk, sudah lapar gue," kata Gladys.


"Ayo Dys."


Mereka ke kantin bersama dan makan bersama.


Disela-sela makannya, mereka mengobrol tentang Chelsea.


"Ren, Cin, bagaimana ekspresinya tadi?" Gladys mulai penasaran dengan Chelsea.


"Kalau menurut gue, dia menyimak elo," kata Cindy.


"Betul banget, kita tinggal menunggu saja bagaimana kelanjutannya, bisa-bisa diet ketat itu Gajah, Hahahahahaha," saut Rena.


"Hahahahahaha," mereka bertiga tertawa bersama-sama.


●Kehidupan Chelsea


Pagi itu seperti biasa rutinitasku, aku telah sampai di sekolah tetapi aku tidak turun dari mobil karena aku menunggu Daren dan Tere datang.


"Non, maaf sebelumnya, Non Chelsea enggak turun? Apa masih ada perlu dengan saya?" kata Pak Maman.


"Saya enggak ada perlu lagi Pak, saya hanya menunggu Tere dan Daren datang. Saya enggak enak kalau di kelas sendiri," jawab Chelsea.


"Iya sudah Non, kalau Non ada perlu, bilang ke saya ya Non."


.


"Baik Pak."


Tidak begitu lama Chelsea menunggu ke dalam mobil, tiba-tiba muncullah Tere dan Gladys. Aku langsung bergegas turun dari mobilku.


Aku menyapa Tere dan Daren,


"Pagi Ter, Pagi Daren," sapaku.


"Pagi juga Chel," jawab Tere dan Daren.


Kami masuk ke dalam kelas.


Tiba-tiba aku mendengar apa yang di bicarakan oleh Gladys.


Aku menginginkan tubuhku untuk langsing agar terlihat lebih cantik dari Angel.


Aku bergumam dalam hati,


"Sepertinya aku harus diet ketat agar aku bisa langsing."


Aku menuju ke kantin saat jam istirahat tiba.


Lalu aku mengajak Tere untuk gym bareng.


"Ter, mau enggak kamu ngegym bareng sama aku?"


Tiba-tiba Tere tersedak mendengar Chelsea ingin mengajaknya ngegym.


"Chel, apa elo enggak salah bilang seperti itu?"


"Enggak salah Ter, aku ingin langsing Ter, biar kalau jalan jauh nafasku masih kuat."


"Oh begitu, tapi aku enggak ada uang Chel buat ngegym, dan aku pasti enggak boleh sama Ibuku kalau mengeluarkan uang buat hal kayak begitu."


"Aku bayari Ter, tenang saja."


"Benar Chel?"


"Oke, Ren kamu enggak ingin ikut?" kataku.


"Ingin ikut sebenarnya, tapi?"


Chelsea langsung menyahut omongan Daren,


"Enggak usah pakai acara


deh Ren, ayolah ikut."


"Lihat nanti saja ya, aku pikir dulu," kata Daren.


Jam istirahat selesai telah berbunyi, semua murid masuk ke dalam kelas.


Gladys dan kawan-kawannya mulai membicarakan tentang Chelsea.


●Kehidupan Gladys


"Dys, sepertinya omongan kita tadi di dengar loh sama Gajah."


"Yang benar Ren?"


"Iya Dys, tadi saat aku lewat di depan mereka, aku dengar kalau Gajah mengajak kawan-kawannya ngegym.


Sepertinya bakalan ada yang diet ketat nih?" kata Rena.


"Hahahahahaha," mereka semua tertawa bersama sambil masuk ke dalam kelas.


●Di Rumah Chelsea


Malam itu saat makan malam bersama ayah dan ibuku, aku minta ijin kepada mereka karena aku akan ngegym.


"Yah, Bu, aku boleh enggak ikut ngegym enggak?" tanya Chelsea kepada ayah dan ibunya.


Ayah kaget dan menjawab,


"Apa? Ngegym? Yang benar kamu Chel, sama siapa?"


"Rencananya sama Tere, Yah. Tetapi Tere enggak punya uang." Aku menjawab dengan wajah sedih dan memelas kepada ayahku.


"Jangan sedih donk anak Ayah, iya sudah Ayah mengizini, kamu dan Tere biar Ayah yang bayar ngegym."


"Yang benar Yah?" Aku terkaget mendengar ayah akan membayari biaya gymku dan Tere.


"Benar Chel, kamu kabari Tere nanti ya, sekarang habiskan makan kamu dulu."


Aku sangat bahagia malam itu, karena ayah menuruti semua yang aku mau.


"Ayah, terima kasih banyak ya Yah?"


Aku beranjak dari tempat dudukku dan memeluk ayahku yang sedang makan.


Ibu iri saat aku hanya memeluk Ayah, kemudian ibu menyeletuk,


"Yang di peluk cuman Ayah saja Chel? Ibu enggak?"


Aku langsung memeluk ibu,


"Ibuku juga mau di peluk? Hehehehe."


"Ya sudah yuk, dimakan dulu makanannya, ke buru enggak enak kalau enggak segera di makan."


"Iya Bu," jawabku.


Setelah aku selesai makan, aku membantu ibu untuk cuci piring dan bersih-bersih meja makan.


Tiba-tiba ibu menghampiriku,


"Chel, apa kamu tidak perlu trainer untuk ngegym?" tanya ibu.


"Sebenarnya perlu Bu, tetapi aku tidak begitu mengenal orang," jawabku.


"Nanti coba Ibu tanyakan ke tante Rani ya Chel?"


"Memang tante Rani tahu Bu?" jawabku penasaran.


"Coba saja Chel, siapa tahu tante Rani tahu."


Tidak terasa piring dan gelas yang aku cuci sudah bersih, aku pergi ke kamarku untuk menghubungi Tere.


"Bu, aku ke kamar dahulu ya, aku mau menghubungi Tere dahulu."


"Iya Chel, kamu langsung tidur ya Chel?"


"Iya Bu," jawabku.


Aku beranjak ke kamarku untuk mengabari Tere.


Saat aku masuk ke dalam kamar, aku langsung mencari handphone untuk menghubungi Tere.


Aku mulai mencari kontak Tere di handphoneku, lalu aku memencet tombol telepon.


"Tut...Tut... Tut..."


Suara nada dering handphoneku berbunyi, tiba-tiba suara Tere terdengar.


"Halo Ter, aku punya kabar bahagia buat kamu?"


"Kabar apaan Chel?"


"Ayahku dan Ibuku menyetujuiku untuk ngegym, dan Ayahku yang membayari semua Ter, termasuk kamu."


"Yang benar Chel? Terima kasih banyak Che." Tere menjawab dengan suara senang, kaget dan gembira saat itu.


"Iya Ter, besok di bicarakan lagi ya Ter di sekolah, aku mau tidur dahulu."


"Iya Chel, terima kasih banyak Chel."


"Iya Tere."


Kemudian aku menutup telepon dari Tere