
Setelah kami selesai makan, aku memberanikan diri langsung bertanya kepada ayahku sebelum ia meninggalkan meja makan.
"Ayah, kenapa Ayah tiba-tiba cemberut kayak begitu? Biasanya Ayah tidak pernah seperti ini!" tanyaku heran kepada ayah.
Ibu hanya tersenyum menahan tawa saat melihat aku bertanya kepada ayah.
"Kamu tahu kenapa Ayah cemberut dari tadi kepada kamu?" Ayah balik tanya kepadaku.
"Ayah, aku benaran tidak tahu, karena Ayah tidak memberitahuku, dan Ibu hanya tersenyum dan tertawa, yang jelas aku enggak tahu Yah."
"Oke, Ayah mau tanya, tadi kamu di antar siapa? Kenapa tidak menelepon Ayah? Jadi ini alasan kamu tidak mau Ayah jemput?" Ayah mulai agak marah.
"Ayah, tadi itu teman baru aku di les, kebetulan rumahnya searah, makanya pas aku menunggu taksi Online dia menunggu jemputannya, dia kasihan melihatku sendirian. Jadi dia mengajak aku pulang bareng."
"Benar bukan pacar kamu?" Tiba-tiba ayah bertanya yang tidak masuk akal menurutku.
"Ya ampun Yah, bukan. Dia bukan pacar aku, dan aku enggak punya pacar Yah," jawabku.
"Kenapa kamu tidak menelepon Ayah, tadi kamu bisa telepon Ayah, Ayah kan tadi sudah bilang ke kamu kalau ada apa-apa, kamu bisa minta tolong ke Ayah, kenapa kamu tidak minta tolong ke Ayah?"
"Iya Yah maaf, aku yang salah. Aku tadi mau menelepon Ayah, tapi aku khawatir Ayah sudah di rumah, jadi aku pulang naik taksi Online rencanaku. Dan berhubung taksi Onlinenya enggak dapat-dapat, sebenarnya aku mau menghubungi Ayah, tapi temanku tiba-tiba datang menghampiriku dan mengajaku bareng pulang, akhirnya aku di ajak bareng sama teman baruku tadi."
Ayah terlihat lega karena sudah aku beri pengertian. Mendengar aku berbicara kepada ayah, tiba-tiba ibu memotong pembicaraan kami.
"Tuh kan Yah, jangan berburuk sangka dulu sama anak, di tanyai dulu ke anak, baru marah-marah," kata ibu sambil menggoda ayah.
Kemudian ayah memberi nasihat kepadaku "Chel, kamu kan baru menginjak masa SMA, Ayah enggak mau kalau kamu pacar-pacaran, Ayah enggak mau kalau pelajaran kamu terganggu, makanya Ayah baru bisa kasih tahu hari ini."
"Yah, aku enggak akan pacar-pacaran Yah, aku janji," aku meyakinkan ayahku.
"Ya sudah kalau kamu mengerti."
"Aku mau masuk kamar dulu Yah, capai dari les," kataku.
"Iya," jawab ayah.
Aku berjalan menuju kamarku untuk istirahat, tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi
"Tok... Tok... Tok..." di ikuti suara ibuku,
"Chel, Ibu masuk ya."
"Iya Bu." jawabku.
Ibu masuk ke dalam kamarku sambil membawa segelas susu dan meletakkan di atas mejaku.
"Ini susunya di minum ya Chel," pinta ibu.
"Iya Bu, Ibu tunggu sebentar," kataku memanggil ibu saat ingin melangkah keluar kamar.
"Iya Nak, ada apa?"
"Ibu tadi kenapa ketawa saat ayah cemberut?" Aku penasaran dengan kejadian tadi.
"Hahahahahaha, kamu tahu enggak tadi Ayah bisik-bisik apa ke Ibu?" Ibu balik tanya kepadaku.
"Enggak tahu Bu, kan Ibu belum cerita, enggak mungkin aku tahu," jawabku.
Ibu kembali tersenyum dan menjelaskan yang terjadi,
"Anakku, kamu kan sudah besar, Ayah itu khawatir kalau kamu pacaran karena menurut Ayah, kamu itu masih kecil padahal kamu sudah besar."
"Oh jadi begitu, tapi kan aku suatu saat juga dewasa dan mempunyai keluarga sendiri Bu, apa ya aku di biarin enggak punya keluarga kecil sendiri?" jawabku.
Ibu tidak mau menjawab dan ia hanya tersenyum dan pamit pergi meninggalkan kamarku.
"Ibu tidur dulu ya Nak, Ibu mengantuk, malam sayang."
Ibu mengecup keningku lalu pergi
Langkah kaki ibu semakin menjauhiku, tiba-tiba aku ingin keluar kamar untuk mengambil segelas air putih. Saat aku keluar kamar, aku melihat ayah dan ibuku mengobrol santai di ruang tengah. Aku mendengar obrolan mereka dari depan kamarku.
"Bu, anak kita sudah mulai besar ya, Ayah khawatir kalau dia pacar-pacaran enggak jelas kayak anak jaman sekarang."
"Ibu juga begitu sebenarnya, tapi kita harus mengasih kepercayaan kepada anak
kita Yah, kan enggak mungkin kita 24 jam menjaga dia, apalagi dia sudah besar."
"Yah, Ibu boleh ngomong sesuatu enggak sama Ayah, tapi Ayah jangan kaget dan jangan marah," ibu meyakinkan ayah.
"Iya Bu, memang ada apa?" ayah penasaran dengan pertanyaan ibu.
"Janji ya jangan marah," Ibu meyakinkan Ayah kembali.
"Sebenarnya tadi waktu Chelsea pulang, seragamnya agak basah dan kotor, katanya ke semprot genangan air yang di percikan oleh mobil temannya, Ibu khawatir kalau Chelsea jadi korban bulying di sekolahnya Yah."
Ibu mulai cemas dan mengkhawatirkanku.
"Terus kita harus bagaimana Bu? Apa kita harus ke sekolahnya?"
"Kalau kata anaknya, di suruh membiarkan dulu Yah, nanti kalau suatu saat sudah kelewatan, Chelsea bakalan menyuruh kita ke sekolahnya."
Tak sengaja mendengar obrolan ayah dan ibu, aku tidak jadi mengambil minum ke dapur.
Aku balik ke kamarku, agar aku tidak ketahuan setelah mendengar obrolan ayah dan ibu.
Aku berpikir kalau aku enggak mau jadi korban bulying seperti yang di katakan ayah.
"Aku harus bagaimana lagi? kalau aku menyuruh ibuku ke sekolah, nanti aku di kira kayak anak kecil," gumamku dalam hati.
Aku semakin tidak bisa tidur memikirkannya hingga jam menunjukkan tengah malam.
Malam itu aku tidur larut malam, hingga keesokan harinya aku telat untuk bangun pagi.
"Kringggg...Kringggg...Kringggg..." suara alarmku berbunyi, aku hanya mematikan alarmku tanpa bangun untuk bersiap ke sekolah.
Cuaca di pagi ini sangat mendukung untuk rebahan dan tertidur di atas kasurku.
Tiba-tiba ibuku datang membangunkanku dan ia mengomel agar aku bangun.
"Brak...Brak...Brak..." suara tangan ibuku memukul pintu kamarku.
"Chelsea...Chelsea... Chelsea... bangun, sudah siang ini," aku tidak menjawabnya.
Ibu mengulangnya kembali, aku hanya menjawab tanpa bangun,
"Iya Bu," sahutku sambil malas-malasan.
Ibu merasa jika aku tidak menjawab, ibu mengedor pintu kamarku lagi.
Aku merasa berisik sekali, dan aku terbangun.
"Iya Bu, aku bangun," jawabku dengan malas.
Ibu marah melihatku belum bangun. Karena sudah jam 6 pagi, aku belum siap-siap untuk berangkat.
"Ya ampun Chelsea, sekarang sudah jam 6 kamu baru bangun, cepat mandi dan siap-siap berangkat."
Aku terburu-buru mandi dan mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah di hari ke duaku Masa Orientasi Siswa. Dalam hatiku bergumam,
"Untung saja belum ada jadwal pelajaran, jadi sementara enggak perlu menyiapkan pelajaran hari ini, jadi lega aku."
Dengan enaknya aku santai mempersiapkan diri, tiba-tiba aku mendengar ibu teriak memanggilku.
"Chelsea, ayo cepat."
Aku berlari menuju tempat makan, dan aku melihat ayah sudah pergi ke kantor.