Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 3



Dari kejauhan terlihat Tere berjalan mengendarai motornya di bawah terik matahari di siang hari.


Kendaraan yang tidak begitu macet membuat Tere dengan lancarnya mengendarai motornya.


Tere menghentikan laju kendaraannya saat ia melihat mobilku dari kejauhan yang berhenti.


Tere berhenti tepat di depan mobilku.


Dia menghampiriku dan melihatku tertawa terbahak-bahak melihat mobil Gladys mogok.


Tere sengaja menggoda dan menanyaiku,


"Chel, kenapa elo ketawa girang banget?"


"Gue senang banget deh Ter, elo lihat deh si Mak Lampir dan kawan-kawannya sekarang! Mobilnya mogok enggak bisa jalan, rasakan!"


Aku tertawa semakin puas melihat mobil Gladys yang mogok.


Tere merasa kasihan dengan Gladys, tapi Tere tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sudah Chel, enggak baik ngetawain orang yang lagi kesusahan, yuk pulang!"


Tere menahan ketawanya sambil menasihatiku dan ia mengajakku untuk pulang,


"Ya sudah yuk, kita pulang."


"Bentar Ter, gue mau good bye dulu sama Mak Lampir dan kawan-kawannya."


"Chelsea, sudah donk, jangan di ledeki terus."


Aku menghiraukan omongan Tere dan kembali menghampiri Gladys dan kawan-kawannya.


"Mak Lampir dan para ajudannya, gue pulang dulu yeh, Hahahahahaha, rasakan!"


Aku merasa sangat puas, tertawa sambil berjalan memasuki mobilku.


Sementara Tere, menuju motornya untuk perjalanan pulang.


"Awas elo Gajah, gue bakal balas kelakuan elo!" teriak Gladys dengan kesal.


Pak Maman menanyaiku yang saat itu tertawa dengan girang, karena aku sekarang berbeda dengan aku yang baru masuk mobil tadi.


"Non, girang banget ada apa? beda kayak tadi?"


"Iya Pak, aku girang banget lihat orang yang membuat baju aku kotor, sekarang mereka kena batunya sendiri, hahahahahaha."


Pak Maman hanya tersenyum mendengar ceritaku.


Aku melanjutkan perjalananku menuju rumah.


Saat itu mobilku berjalan dengan lancar tanpa ada kendala sedikit pun.


Tibalah aku sampai di depan rumah, Pak Maman membunyikan klakson agar di bukakan pintu pagar.


Mendengar suara klakson mobil, pak Slamet security yang menjaga rumahku langsung membukakan pintu pagar.


Mobilku langsung masuk ke dalam, dan ibuku ternyata sudah menungguku di depan teras rumah sambil membaca koran.


Ibuku berdiri saat melihat mobilku memasuki rumah.


Saat aku turun dari mobil,


ibuku langsung kaget melihat bajuku yang basah dan kotor.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Aku bersalaman dengan ibuku yang sedang berdiri, tiba-tiba ibuku kaget melihatku dengan seragam yang kotor.


"Ya ampun Chelsea, ini kenapa seragam kamu bisa kayak begini Nak?"


Mataku berkaca-kaca menahan tangisan yang akan keluar,


"Iya Bu, tadi aku kena cipratan genangan air."


"Apa kamu tidak lihat kalau kamu berada di sekitar genangan air?" Ibuku marah melihat aku basah dan kotor.


"Aku sudah menghindari Bu, tapi ada teman aku yang tidak suka sama aku.


Jadi aku di jahili sama mereka."


Melihat aku sedih saat itu, ibuku tidak terima dengan perlakuan Gladys.


"Siapa yang bikin kamu kayak begini Nak? Jelas Ibu tidak terima kalau anak Ibu di perlakukan seperti ini, apa besok Ibu perlu datang ke sekolah kamu?"


"Tidak usah Bu, biarin saja, nanti kalau Ibu ke sekolah. Aku di kira anak kecil karena membawa orang tua di sekolah, kalau mereka sudah kelewatan dan tidak bisa di maafkan, baru Ibu ke sekolah."


"Ya sudah kalau kamu begitu, apa kamu tidak apa-apa Nak?" Ibu mulai mengkhawatirkanku.


"Aku tidak apa-apa Bu, cuman jengkel saja. Aku ganti baju dulu ya Bu."


"Iya kamu ganti baju dulu, nanti setelah itu makan ya, Ibu sudah menyiapkan makanan buat kamu di meja makan."


"Iya Bu," jawabku.


Aku masuk ke dalam rumah dan menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku yang kotor.


Setelah aku selesai mandi dan ganti pakaianku, aku menuju meja makan.


Ketika aku sedang makan, ibuku menghampiriku.


Ibu bertanya kepadaku,


"Ada suka dan dukanya Bu."


Aku menjawab dengan makan nasi yang ada di piringku.


"Memang ada apa?"


"Sukanya karena aku punya teman baru yang membantuku saat aku di ledeki, dan dukanya itu karena aku punya teman yang jahat.


Sialnya, teman yang meledekku, yang menyemprotkan air kotor di baju aku tadi dengan membawa mobilnya adalah temanku satu kelas besok."


"Ya ampun, jahat banget mereka Nak, terus siapa nama teman kamu yang baik itu?"


"Temanku namanya Tere, ia yang membantuku saat aku di jahili sama teman aku yang jahat,"


kataku sambil menghabiskan makanan yang ada di piringku.


"Bawa sini teman baikmu itu, Ibu ingin kenal, mengucapkan terima kasih padanya karena sudah mau membantu kamu dan mau berteman dengan kamu," kata ibuku dengan maksud untuk menyenangkan hatiku.


"Iya Bu, besok aku akan mengajaknya main ke rumah kalau Tere bisa."


Aku telah menghabiskan makan siangku, dan aku kembali ke kamarku untuk tidur.


Saat aku akan tidur, tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku.


"Tok...Tok...Tok..." Suara ketokan pintu kamarku dan di ikut suara ibu menanyaiku.


"Chel, nanti sore ada les vokal sama les pelajaran enggak? Kamu di banguni apa enggak?"


Aku baru ingat bahwa hari ini aku ada les vokal dan pelajaran,


"Padahal hari ini aku capai banget, huft. Tapi kalau tidak berangkat nanti ibu marah," batinku saat ibu menanyaiku.


"Iya Bu, nanti tolong banguni aku jam 3, aku nanti ada les mulai jam 4 sampai jam 6," jawabku dengan teriak.


"Iya Nak," terdengar suara ibu menjawab pintaku.


Aku tertidur di siang hari hingga aku tidak sadar jika sudah mulai pukul 3 sore.


Ibu berteriak membangunkanku.


"Chelsea, ayo bangun, sudah sore."


"Iya Bu, aku sudah bangun."


Aku terbangun dari tempat tidurku dengan mata yang masih mengantuk.


Aku menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap berangkat.


Sebelum aku pergi les, aku berpamitan kepada


ibuku,


"Bu aku berangkat dulu ya, nanti aku pulang pakai taksi Online saja, biar pak Maman pulang jam 5."


"Iya hati-hati ya Nak."


"Assalamualaikum," kataku.


Ibu menjawab, "Walaikumsalam."


Aku berjalan menuju depan rumah dan memanggil Pak Maman untuk segera berangkat.


"Pak Maman, ayo cepat antar saya pergi les!" perintahku kepada pak Maman.


Mendengar teriakanku yang sangat keras, pak Maman berlari menghampiriku.


"Iya Non, mobilnya sudah siap."


"Oke," jawabku.


Aku berjalan menghampiri mobilku dan masuk ke dalam untuk berangkat les.


"Non, nanti Non Chelsea saya tunggu sampai pulang atau saya pulang dulu?"


"Nanti Pak Maman pulang saja, karena nanti kan aku selesai jam 5, terus jam 6 aku ada les lagi.


Jadi daripada Pak Maman menunggu lama dan waktunya Pak Maman pulang jam 5, kan mending Pak Maman pulang dulu.


Aku tidak usah di tunggu biar nanti aku naik taksi Online."


"Baik Non," jawab Pak Maman.


Sore itu jalanan agak macet, sehingga aku telat 5 menit, dan saat sampai di tempat les.


Ternyata Bu Leni sudah menungguku 5 menit yang lalu, aku mengetuk pintu ruangan tempat aku les.


"Tok...tok....tok..."


"Permisi Bu," kataku.


"Iya masuk saja Chel," jawab Bu Leni.


Aku membuka pintu dan memulai les vokal sore itu.


Sebelum aku memulai, aku meminta maaf karena aku sudah telat datang.


"Bu Leni, maaf hari ini aku datang telat, tadi jalanan macet."


"Iya Chel, enggak apa-apa," jawab Ibu Leni.


Bu Leni adalah guru les vokalku sejak aku SMP. Bu Leni adalah guru yang sabar dan baik menghadapiku yang kadang telat, kadang tepat waktu saat datang les.