
Kami berjalan dan berlari kecil mengelilingi Komplek.
Tiba-tiba di ujung Komplek, kami melihat tante Rani dan Om Indra orang tua Daren.
Ibuku langsung berteriak memanggilnya
"He Rani."
Tante Rani langsung menoleh ke arahku dan melambaikan tangan.
Kami langsung menghampiri tante Rani.
Ibuku bersalaman dan mencium pipi kanan dan kiri Tante Rani dengan girangnya
"Hai Ran, ketemu lagi kita."
Tante Rani juga girang sekali saat bertemu Ibuku. Ia menanyakan pria yang berada di samping Ibuku yaitu Ayahku
"Iya Rit, kebetulan banget, ini Gunawan Rit?"
Tante Rani kaget melihat Ayahku yang beda dari jaman SMA-nya.
Ibuku penasaran juga dengan pria yang berdiri di samping Tante Rani,
"Ran, ini Indra pacar SMA kamu dulu itu kan?"
Tante Rani tersipu malu saat menjawab pertanyaan dari Ibuku,
"Iya ini Indra pacar SMA-ku dulu Rit, yang sekarang jadi suamiku."
Om Indra menunjuk dan menyapa saat melihatku berdiri di antara Ayah dan Ibuku
"Ini yang namanya Chelsea ya?"
Aku tersenyum dan menjawab pertanyaan dari Om Indra
"Iya Om."
Tiba-tiba, Om Indra menanyakan Tere yang saat itu berada di samping Ibuku
"Ini teman kamu dan temannya Daren juga ya Chel?"
Aku menjawab pertanyaan dari Om Indra, "Iya Om, ini temanku sama temannya Daren, namanya Tere."
"Iya Om, saya temannya Chelsea dan Daren. Nama saya Tere" jawab Tere sambil mencium tangan Om Indra.
Tante Rani tiba-tiba melihat ke arah Tere dan menyapanya
"Tere, kita bertemu lagi ya."
"Iya Tante, Daren enggak ikut tante?" tanya Tere sambil mencium tangan tante Rani.
"Daren jarang banget ikutan Mama dan Papanya joging bareng, iya kan Pa?" tanya Tante Rani kepada suaminya.
Om Indra menjawab pertanyaan dari Tante Rani
"Iya, apalagi kalau di suruh olahraga pagi-pagi, banyak malasnya."
Aku tidak bisa berkata apa-apa saat mereka memberitahukan tentang anaknya
"Bisa saja Om sama Tante, Hahahahahaha."
Om Indra melanjutkan perbincangan dengan Ayahku yang sudah lama tidak bertemu.
"Hai Gunawan, sudah lama ya kita tidak bertemu, ketemu-ketemu anak kita sudah besar-besar, Hahahahahaha."
Ayahku menjawab dengan tersenyum
"Iya Ndra, kamu kan yang meninggalkan kota ini, dulu kita sempat mencari kalian, dan menghubungi kalian tapi tidak bisa."
Ayahku berjalan bersama dengan Om Indra,
"Iya, aku waktu itu sibuk merintis pekerjaanku, dan aku terpaksa harus meninggalkan kota ini tanpa berpamitan kepada keluarga atau teman-teman."
Dengan tersenyum lebar Ayahku menggoda Om Indra
"Oh begitu, jadi sekarang sudah sukses donk? kembali ke kota ini lagi"
Mendengar Ayahku memuji, Om Indra hanya bisa menjawab dengan bersyukur
"Alhamdulillah, tidak seperti dulu."
Kami berjalan dan berlari kecil, tiba-tiba ayahku menghentikan langkah kami dan bertanya kepada Om Indra,
"Oh iya, kamu sudah selesai olahraganya?"
Dengan tubuh yang banyak mengeluarkan keringat, Om Indra menjawab
"Sudah sepertinya, kenapa?"
"Bagaimana kalau kita makan Soto yang di pinggir jalan itu?"
Om Indra mengajak Tante Rani untuk sarapan bersama dengan Ayah dan Ibuku. Om Indra langsung memotong pembicaraan Tante Rani dan Ibuku
"Iya boleh, Ma ini Gunawan mau mengajak makan Soto di ujung jalan sana."
Tante Rani menjawab dengan spontan dan tidak menolaknya
"Iya boleh Pa, ayo kita ke sana."
Kami berjalan bersama ke arah ujung jalan untuk sarapan Soto. Setelah kami sampai di tempat jualan Soto, kami duduk di lesehan yang telah di sediakan oleh penjualnya.
Ayahku duduk dan mulai memesan Soto untuk kami
"Pak Sotonya 6 mangkok, teh hangatnya 6 ya pak."
Tidak menunggu lama, tiba-tiba Soto pesanan kami datang.
Kami mulai makan hingga selesai, dan saat itu kami tidak langsung pergi.
Ayah dan Ibuku, Om Indra dan Tante Rani mengobrol bersama sampai aku dan Tere tidak tahu lagi harus ngapa'in.
Aku dan Tere memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri karena kita tidak paham dengan yang di bicarakan oleh mereka.
Aku berpamitan meninggalkan mereka,
Aku berpamitan kepada Ayahku yang saat itu sedang asyik mengobrol dengan Om Indra,
"Ayah, Aku sama Tere jalan-jalan sekitar sini ya, nanti kalau sudah selesai, aku balik kesini lagi."
Mendengar aku berpamitan, Ibuku menghentikan pembicaraannya dengan Tante Rani dan menyahut pembicaraanku dengan Ayahku,
"Jangan lama-lama ya Chel."
"Iya Bu, enggak lama kok," jawabku.
Aku berpamitan juga dengan Om Indra dan Tante Rani yang saat itu memperhatikanku,
"Om Indra, Tante Rani, aku tinggal dulu ya."
"Iya Chel," jawab Tante Rani dan Om Indra.
Aku berjalan dengan Tere, matahari yang cerah dan bunga yang ada di pinggir taman membuat pemandangan menjadi indah.
Aku dan Tere tidak langsung olahraga berat, hanya berjalan saja karena kita baru selesai makan dan aku barusan sembuh dari sakitku.
Setelah 30 menit aku dan Tere meninggalkan orang tuaku di ujung jalan tempat mereka makan, aku segera menghampirinya.
Sejenak aku berhenti dan mengajak Tere untuk kembali ke tempat Ayah dan Ibuku
"Ter, ayo balik, sudah 30 menit kita meninggalkan Ayah dan Ibuku, aku khawatir mereka menungguku."
Hari mulai siang, matahari mulai menyengat dan tidak seperti matahari pagi.
Keringat Tere mulai bercucuran, dan kudengar nafasnya mulai agak tersengal sedikit sambil menjawab ajakanku
"Iya Chel, aku juga setelah ini mau pulang, sudah agak siang."
Aku menginginkan Tere untuk sejenak istirahat di rumahku tetapi Tere menolaknya,
"Nah, kenapa kamu pulang Ter? nanti sore sajalah Ter."
"Maaf Chel, aku harus bantu orang tuaku, besok-besok saja aku ke rumah kamu."
"Memangnya kamu bantu apa Ter? kok sepertinya sibuk banget?"
"Ada deh, suatu saat kamu bakalan tahu sendiri Chel, ya sudah ayo buruan jalannya."
Tere menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku melanjutkan perjalanan menuju tempat orang tuaku berada.
Aku dan Tere berjalan melewati jalan yang sudah kami lewati tadi.
Angin mulai sepoi-sepoi membuat tubuh ini semakin segar walau di cucuri oleh keringat yang tidak berhenti menetes dari tubuh kami.
Sejenak aku penasaran kepada Tere, dalam hatiku bergumam,
"Ada apa ya dengan Tere, sepertinya ada yang di sembunyikan dariku?!"
Setelah kami berjalan ke tempat orang tuaku berada, kemudian aku dan Tere telah sampai.
Aku langsung menghampiri kedua orang tuaku dan berbisik ke ibuku,
"Bu, ayo pulang, Tere sudah mau pulang, apa aku pulang juga?" tanyaku dan berbisik kepada Ibuku.
"Sebentar ya Chel, Ibu tanya ke Ayah kamu dulu," jawab Ibu dengan lirih.
Ibu kemudian berbisik ke Ayahku, setelah Ibu berbisik kepada Ayah, Ibu menyuruhku untuk pulang terlebih dulu.