Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 23



"Chel, kamu pulang dulu enggak apa-apa kan?" kata Ibuku.


"Ya sudah Bu, aku pulang dulu ya" jawabku berbisik kepada Ibuku.


"Iya, eh kamu pamit dulu ke Tante Rani dan Om Indra ya" kata Ibu menjawab dengan berbisik.


Setelah itu aku berpamitan kepada Tante Rani dan Om Indra.


"Permisi, Om dan Tante, saya mau pamit mau pulang dulu, ini Tere lagi ada perlu," pamitku kepada Tante Rani dan Om Indra.


"Iya Chel, hati-hati ya. Kamu tidak sama orang tua kamu?" tanya Om Indra.


Ayah langsung menjawab pertanyaan Om Indra,


"Aku lagi ingin mengobrol lebih lama sama kamu Ndra, biar Chelsea dan Tere pulang dulu," jawab Om Indra.


"Oh begitu, oke enggak apa-apa, aku juga ingin mengobrol lebih lama sama kamu," kata Om Indra.


Aku dan Tere berpamitan dan mencium tangan Om Indra dan Tante Rani,


"Saya pulang dulu ya Tante Rani," kataku sambil mencium tangan Tante Rani.


"Iya Chel, hati-hati ya Chelsea, Tere" kata Tante Rani.


"Iya Tante" jawabku dan Tere.


Aku dan Tere meninggalkan kedua orang tuaku, Om Indra dan Tante Rani yang sedang bernostalgia.


Kami berjalan dari tempat makan tersebut hingga rumahku.


Saat perjalanan ke rumahku, tiba-tiba Hp Tere berbunyi, dan Tere mengangkatnya.


"Iya Bu, sebentar lagi aku pulang." jawab Tere dan menutup teleponnya.


"Chel, jalannya agak cepat ya, aku sudah di tunggu oleh Ibuku di rumah."


"Iya Tere."


Aku dan Tere berjalan dengan cepat menuju rumah.


Setelah kami sampai di rumahku, Tere langsung pamit pulang,


"Chel, aku pulang langsung ya."


"Iya Ter, hati-hati ya."


Tere meninggalkan rumahku dengan mengendarai motorku.


Kemudian aku duduk di atas kursi yang berada di teras rumahku.


Matahari mulai menyengat di kulitku, angin mulai sepoi-sepoi menyegarkan badanku.


Aku selonjorkan kakiku yang lelah karena olahraga pagi ini, aku menyalakan musik di handphoneku sambil menikmati pagi menjelang siang.


Aku terlelap sejenak menikmati suasana hari itu, hingga aku tidak sadar saat Ayah dan Ibuku membuka pagar rumahku.


Tiba-tiba aku mendengar suara Ayah membangunkan tidurku,


"Chel...Chelsea... bangun Nak."


Aku segera bangun dan membuka mataku.


"Iya Yah."


"Kamu belum mandi ya Chel?"


"Belum Yah, tadi aku tiba-tiba mengantuk saat duduk di sini."


"Kamu mandi dulu sana Chel."


"Iya Yah."


Aku masuk ke dalam rumahku dan mulai mandi. Tubuhku sudah tidak ada keringat yang bercucuran, aku langsung mandi.


Setelah aku mandi, aku melanjutkan tidurku di kamarku.


Aku tertidur pulas hingga sore hari, tiba-tiba Ibuku membangunkanku,


"Chel bangun."


Aku terbangun ketika Ibuku menyuruhku bangun.


"Iya Bu."


Aku terbangun dan membuka pintuku, aku melihat Ibuku sudah berdiri di depan pintu kamarku.


"Chel, mandi dulu gih, sudah sore."


"Iya Bu."


Aku segera bergegas untuk mandi.


*Keesokan harinya*


Pagi ini aku terbangun karena alarmku berbunyi, alarmku berbunyi tepat pukul 05.00 wib.


Aku langsung mematikan alarmku dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan badanku, setelah itu aku mulai menyiapkan pelajaran hari ini.


Aku sudah memakai seragam, aku menyisir rambutku dan memoles tipis wajahku dengan bedak. Setelah aku rasa cukup untuk berdandan, aku segera menghampiri orang tuaku untuk sarapan pagi.


Ayah dan Ibuku sudah menungguku untuk sarapan pagi,


Aku menyapa Ayah dan Ibuku,


"Selamat pagi Ayah, Ibu."


Ayah dan Ibuku menjawab,


Ayah mengajakku untuk sarapan pagi sebelum aku berangkat ke sekolah


"Sarapan dulu yuk Chel."


"Iya Yah."


Ibuku memberikan 1 porsi makan untukku, setelah aku sarapan, aku berpamitan pergi sekolah.


Aku berpamitan dan mencium tangan Ayah dan Ibuku.


"Ayah, aku berangkat dulu."


"Iya Chel, hati-hati ya."


"Iya Ayah."


"Kalau kamu ada apa-apa di sekolah, kamu hubungi Ayah atau Ibu ya Chel."


"Iya Yah."


Aku berjalan ke arah mobilku dan Pak Maman sudah menunggu di dalam mobil.


Seperti biasa, aku berangkat di antar oleh Pak Maman.


Perjalanan hari ini sangat macet dan tidak seperti biasanya.


Tetapi untung saja aku berangkat lebih awal dan aku tidak akan telat.


Setelah perjalanan sekitar 45 menit, aku sampai di sekolahku, aku berpapasan lagi dengan Tere dan Daren.


Aku turun dari mobil, mobil Daren berhenti di depan mobilku dan Tere datang dengan membawa motornya.


"Pagi Chel, akhirnya kamu masuk sekolah juga Chel."


"Iya Ter, aku bosan di rumah terus."


Tiba-tiba Daren menyapa kami,


"Pagi Chel, pagi Tere, Chel, kamu sudah sembuh?"


"Sudahlah Ren, ayo kita masuk. Sebentar lagi upacara loh."


Tere memarkirkan kendaraannya, aku dan Daren langsung menuju kelas.


Aku dan Daren masuk kelas, dan tidak lama kemudian Tere masuk ke dalam kelas.


Kami mengobrol bertiga, dan 10 menit kemudian upacara di mulai.


Tiba-tiba speaker sekolah berbunyi,


"Kepada seluruh murid di mohon untuk berkumpul di lapangan untuk upacara rutin setiap hari Senin, terima kasih."


Tere berdiri tepat di depanku dan Daren berdiri di sampingku barisan untuk cowok.


Tiba-tiba Tere jatuh pingsan, aku langsung menangkapnya dan Daren membantuku. Wali kelas kami Bu Anita menghampiri kami, Bu Anita mengarahkan aku dan Daren untuk membawa Tere ke UKS.


Bu Anita segera bertindak, dan khawatir dengan keadaan Tere.


"Ayo temannya di antar ke UKS."


Aku dan Daren dengan cepat membawa Tere ke UKS.


Setelah sampai ke UKS, aku membaringkan Tere. Tubuh Tere sangat dingin dan lemas.


Aku menyuruh Daren untuk membelikan Teh hangat dan makanan di kantin,


"Ren, tolong kamu belikan teh hangat dan makanan atau apalah, ini sepertinya Tere tidak sarapan, dan tubuhnya lemas."


"Iya Chel".


Daren dengan cepat meninggalkan kita untuk membeli makanan dan minuman.


Aku memberikan minyak ke badan Tere agar tubuhnya normal kembali. Setelah itu, aku memberikan minyak di hidung Tere agar dia bangun.


Tiba-tiba Tere siuman, dan Daren datang membawa teh hangat dan makanan untuk Tere.


Daren memberikan makanan dan minuman kepadaku,


"Chel, ini makanan dan minumannya".


Aku langsung mengambilnya dan memberikan kepada Tere.


"Ter, ayo di makan, sepertinya kamu lapar tubuh kamu lemas sekali."


"Iya Chel, terima kasih ya Chel, Daren."


Aku dan Daren hanya tersenyum,


"Ayo Ter di makan."


Aku menyuapi Tere makan,


"Chel, aku bukan anak kecil, apalagi aku enggak parah kok kayak kamu kemarin."


"Sudahlah Ter, makan saja."


"Iya aku makan, tapi jangan di suapi, aku bisa sendiri kok."


"Yakin kamu bisa sendiri?"


"Iya Chel, aku bisa sendiri."


Aku memberikan makanan yang aku pegang ke Tere.