Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 26



Aku beradu mulut dengan Daren, sehingga Pak Bambang melerai kami.


"Sudah, sudah, kalian ini di suruh perform malah berantem, balik kalian di tempat duduk masing-masing."


Kami kembali ke tempat duduk masing-masing. Tere menanyaiku dan aku beradu mulut dengan Tere.


"Chel, kamu bagaimana sih? Berantem malah di depan kelas, ya ampun Chel."


"Kan dia yang mulai, seharusnya itu musik mengikuti penyanyi, bukan penyanyi mengikuti musik."


"Terserah kamu Chel."


Aku membentak Tere yang dari tadi menyalahkan aku.


"Kamu kok salahi aku sih Ter, kamu kalau enggak suka sama aku bilang Ter, jangan salahi aku terus."


"Kok elo bentak gue sih Chel? Gue itu cuman memberi tahu. Kalau kamu enggak mau diberi tahu ya sudah."


Daren mendengar pertengkaran kami.


"Sudah Ter, enggak usah dipeduli'in lagi, mending kamu diam saja."


Pak Bambang melihat kami cekcok kemudian kami disuruh keluar daripada bikin onar di kelas.


"Kalian bertiga, keluar dari kelas saya, saya tidak mau ada keributan di kelas saya."


Kami menolak untuk keluar kelas,


Tere membela dirinya sendiri.


"Pak, enggak bisa begitu donk, saya tidak ikut-ikutan dengan masalah ini."


Pak Bambang membentak kami saat itu.


"Saya tidak mau mendengar alasan kalian, sekarang cepat keluar."


Aku, Tere dan Daren keluar kelas dan tidak mengikuti pelajaran Pak Bambang.


Tiba-tiba aku melihat Kak Rangga menghampiri kami yang sedang di luar.


"Kalian mengapa tidak masuk kelas?"


"Kami dihukum Kak, gara-gara berantem," jawab Tere.


Kak Rangga kaget mendengar kami berantem.


"Ha? Kalian berantem gara-gara apa?"


"Chelsea ini Kak yang mulai."


Aku langsung membentak Tere.


"Ter, kalau ngomong itu jangan asal ngomong, yang mulai itu siapa, kamu juga mengapa ikut-ikutan?"


"Kan gara-gara kamu bicara keras disaat pelajaran jadinya kita disuruh keluar."


"Kamu sendiri mengapa tanya dan mencampuri urusanku, apa pedulinya kamu? Kamu kan bisa tanya saat waktunya istirahat."


Kak Rangga melerai pertengkaran kami,


"Sudah-sudah, kalian enggak boleh berantem kayak begini. Kalian itu kemarin kompak kok sekarang kayak begini. Ayo bersalaman."


Tere menjawab dengan cemberut.


"Enggak maulah kan yang salah dia."


"Mengalah bukan berarti kalah, sekarang kalau kalian berantem begini, dapatnya apa? Enggak ada kan?"


Tiba-tiba Kak Rangga memanggil Daren,


"Daren!"


"Iya Kak."


"Kamu enggak minta maaf sama Chelsea? Saya tahu loh kemarin kamu bentak dia, dan kamu kemarin sudah bikin dia menangis, ayo minta maaf."


"Kak yang salah itu dia, kemarin saya enggak mau kalau dia ke rumahku, tapi dia malah mengejarku. Aku sudah bilang beberapa kali, tapi tetap saja. Jelas aku jengkel."


"Oh begitu, jadi sekarang enggak ada yang mau minta maaf? Chelsea, Tere, Daren?"


Aku berusaha mengalah demi mereka, aku bergumam dalam hati,


"Benar yang dikatakan oleh Kak Rangga, mengalah belum tentu kalah. Padahal aku seperti ini karena mereka."


Aku menjawab omongan Kak Rangga,


"Ya sudah Kak, kalau begitu aku yang meminta maaf."


"Ya sudah kalau begitu kamu salaman gih sama mereka, kalau kamu merasa seperti itu."


"Baik Kak."


Aku bersalaman kepada Tere dan Daren sambil tersenyum,


"Ter, aku minta maaf ya."


Tere langsung memelukku, dan Daren tiba-tiba minta maaf kepadaku.


"Chel, aku minta maaf ya, kemarin aku sudah bentak kamu."


"Iya Ren, aku sudah memaafkan kamu, tolong ya jangan di ulangi lagi karena aku enggak suka di bentak."


"Iya Chel, tapi kamu jangan memaksa aku lagi ya Chel, aku juga enggak suka dipaksa."


"Iya Ren, aku paham."


"Nah, begitu donk. Kalian ini jangan sampai berantemnya berlarut-larut. Kalian sudah besar, bukan anak kecil lagi. Aku balik ke kelasku dulu ya?"


Kami semua menjawab dengan bersamaan,


"Iya Kak, hati-hati."


"Nah, kok bersamaan begitu jawabnya?"


"Hahahahahaha." Kami tertawa bersamaan dan saling memandang.


Tidak begitu lama kami dihukum di luar kelas, tiba-tiba jam pelajaran berganti.


Kami masuk kelas dan kembali seperti semula.


Tere menyuruh Daren pindah tempat duduk di belakang kamu.


"Ren kamu pindah ke belakang gih."


Daren tidak menjawab tetapi ia langsung berpindah tempat duduk di belakangku.


Tiba-tiba pelajaran berganti menjadi Matematika, suatu pelajaran yang membuat siswa lain membosankan karena kesulitan yang tak jarang dialami oleh semua siswa.


Kesulitan yang mampu membuat tiap orang menjadi tambah pusing, dan menyerah untuk menyelesaikan soal demi soal, materi demi materi.


Walau semua orang rata-rata merasakan seperti itu, tapi aku menganggapnya sebuah tantangan untuk aku selesaikan.


Tidak begitu lama kami menunggu guru yang mengajar kami, tiba-tiba guru tersebut datang. Guru Matematika kami yaitu ibu Ira.


Kesan pertama kami bertemu ibu Ira yaitu, dia seorang guru yang jarang aku temui dengan karakter yang easy going terhadap muridnya.


Dia mampu memberikan pengertian kepada murid-muridnya yang belum bisa, semua murid yang tidak bisa dan tidak mau mengenal Matematika.


Sekarang berusaha dan penasaran untuk mengerjakannya.


Salah satu teman yang mulai jatuh hati kepada Matematika yaitu Tere.


Awal pelajaran ini dia tidak suka, dan bosan mendengarnya.


Setelah ia tahu cara mengerjakan, memecahkan masalah demi masalah, ia tertarik dan tertantang untuk menyelesaikannya.


Setelah pelajaran selesai, bu Ira memberikan kami tugas.


"Silakan dibuat PR halaman 1-5, di pertemuan berikutnya harap sudah selesai."


"Iya Bu." Jawab murid-murid bersamaan.


Tere tiba-tiba minta tolong kepadaku untuk mengerjakan PR.


"Chel bantuin aku mengerjakan donk nanti pulang sekolah."


"Iya boleh, tapi di rumah kamu ya Ter, aku bosan di rumahku."


"Kalau di rumahku besok saja bagaimana Chel? Kamu ngomong dulu sama ibu kamu."


"Oh begitu, ya sudah besok saja enggak apa-apa."


Tiba-tiba Daren bertanya dan penasaran kita mau ke mana.


"Chelsea, Tere mau ke mana kalian?"


"Mau ke rumahku Ren, tetapi besok."


"Aku ikut ya, bosan aku di rumah saja."


Tere tiba-tiba bingung ke rumahnya bagaimana,


"Oke, tapi besok kalian naik apa?"


"Iya ya, bingung aku, bagaimana Ren?"


Daren memberikan usul kepada kami,


"Bagaimana kalau besok pulangnya kamu bareng aku dan Chelsea saja, kamu jangan bawa motor, naik ojek Online atau di antar orang rumah. Chelsea besok pulangnya kamu bareng sama aku saja, bagaimana?"


"Iya boleh Ren, besok aku naik ojek Online saja."


"Iya Ren, besok aku pulangnya bareng sama kamu saja."


Setelah pelajaran hari ini selesai, aku pulang ke rumah dan seperti biasa, aku di jemput oleh Pak Maman sopirku.


Hari ini cukup panas, jalanan sangat macet membuat AC tidak terasa dingin di kulitku.