
Setelah 1 jam kami menunggu di kelas, tiba-tiba bel pulang berbunyi, dan Rangga memberikan arahan untuk acara besok kepada kami.
"Besok yang di tunjuk sebagai pengisi acara bisa latihan di rumah ya, terima kasih, kalian boleh pulang."
Kami bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba Tere memanggilku,
"Chel, kamu enggak latihan buat besok?"
"Kalau aku terserah Daren saja bagaimana.
Ren, bagaimana Ren?"
Daren memegang handphone miliknya,
"Nanti aku kabari ya Chel, aku masih mengabari Mamaku, dia belum jawab telepon aku."
Aku menawarkan Daren agar pulang bersamaku,
"Kamu bareng sama aku saja Ren, daripada menunggu taksi Online."
Aku mengajak Tere juga agar ada yang menilai penampilan kami,
"Ter, ikutan ke rumahku yuk, nanti kamu yang nilai kita."
"Aku mengabari ibuku dulu ya Chel."
Beberapa menit kita sama-sama menunggu, tiba-tiba Handphone Daren berbunyi.
"Halo, Ma mobilnya sudah bisa belum? kalau belum aku mau nebeng ke temanku dan aku nanti pulang sore Ma, karena ada tugas buat besok."
Aku mendengarkan Daren menelepon Mamanya dan tidak lama dia menutup telepon.
Kemudian Daren mengabariku,
"Chel, aku nebeng ya, nanti langsung ke rumah kamu saja, aku sudah ijin ke mamaku."
Aku mulai bertanya kepada Tere,
"Oke Ren, Ter, kamu bagaimana?"
"Sebentar ya, Chel, aku masih menunggu jawaban chat dari ibu aku."
Tidak begitu lama tiba-tiba pesan masuk berbunyi di *h*andphone Tere, dan Tere langsung memberi kabar kepadaku.
"Ayo Chel jadi, nanti aku mengikuti mobil kamu dari belakang ya Chel."
"Oke, tapi sekarang menunggu pak Maman ya," kataku kepada Tere dan Daren.
"Kalau begitu, aku ambil motor dulu ya."
"Oke, aku tunggu di gerbang depan ya Ter."
Tere berjalan menuju tempat parkir dan aku berjalan menuju pagar sekolah. Tiba-tiba mobil aku datang dan bersamaan dengan motor Tere di depanku.
Aku memasuki mobil bersama Daren, dan Tere mengikuti kami dari belakang.
Beberapa menit perjalanan kami, tiba-tiba sampailah kami di rumahku.
Seperti biasa, ibuku menunggu di depan rumah.
Ibuku kaget melihatku dan Daren turun dari mobil.
Di belakang mobilku ada Tere yang memarkirkan motornya.
"Assalamualaikum," kata kami.
"Walaikumsalam," jawab ibu.
Aku dan teman-temanku bersalaman kepada ibuku,
"Ini yang namanya Tere ya?" kata ibu sambil menunjuk Tere.
"Iya tante, saya Tere," jawab Tere.
"Ini temannya Chelsea yang kemarin mengantar Chelsea kan?" kata ibu menunjuk Daren.
"Iya tante, nama saya Daren," jawab Daren.
Tere kaget, ternyata aku dan Daren sudah saling mengenal.
Ibuku menyuruh kami untuk masuk,
"Masuk dulu yuk, ini kalian mau makan dulu atau nanti saja?" kata ibu menawari kami makan.
"Nanti saja Bu, memang Ibu tadi masak banyak?"
"Enggak banyak Chel, kan kamu enggak mengasih tahu ke Ibu kalau teman kamu mau kesini."
"Iya Bu, maaf tadi aku dadakan Bu, mengajak temanku kesini."
"Kalau begitu, Ibu masak dulu ya Chel, kamu ambilkan makanan dan minuman buat teman-teman kamu. Tere dan Daren, Tante ke dalam dulu ya, kalau ada perlu kalian bisa minta tolong ke Tante."
"Iya Tante," jawab Daren dan Tere.
Daren dan Tere menungguku di ruang tamu, dan aku masuk ke dalam untuk ganti baju.
"Aku ganti baju dulu ya," pamitku kepada teman-teman.
"Iya Chel," jawab Tere dan Daren.
Daren menanyakan gitar kepadaku,
"Aku ada Ren, iya aku bawa sini."
Aku memasuki kamar untuk ganti baju dan setelah itu, aku membawa gitar ke Daren.
Aku menyodorkan gitar kepada Daren,"
"Ren ini gitarnya."
Daren mengambilnya, dan membuka gitar itu dari tasnya.
"Chel, ini tasnya kotor sekali."
"Iya Ren, itu dari gudang, karena enggak pernah di pakai jadi di tempati di gudang, tapi masih bagus kok gitarnya, cuman perlu di stel ulang saja."
Setelah beberapa menit Daren menyetel gitar, kami mulai latihan.
Aku dan Daren mencocokkan nada gitar dan suaraku, Tere sebagai penonton hanya bisa memberikan kekurangan bernyanyiku.
"Bagaimana Ter? ada yang enggak pas menurut kamu?" kataku.
"Kalau menurutku sudah pas Chel."
Tidak terasa sudah 2 jam kita latihan, tiba-tiba ibu menghampiri kami,
"Chel, hari ini ada les vokal enggak? atau les pelajaran," ibu mengingatkan kegiatan lesku.
"Sepertinya enggak ada Bu."
"Chel, makanan sudah siap, ajak teman-teman kamu untuk makan ya."
Ibu menyuruh kami untuk makan,
"Kalian makan dulu ya, sudah Tante siapkan di meja makan."
"Iya Tante," jawab Tere dan Daren.
"Ayo kita makan dulu," ajak aku.
Kami berdiri dan berjalan menuju meja makan. Kami mulai makan bersama dan menghabiskan makanan yang ada di meja makan.
"Chel, aku setelah ini pulang ya, sudah sore." kata Daren.
"Iya Ren."
"Ter, kamu pulang juga atau di sini dulu."
"Aku nanti saja Chel, nanti sore saja, kalau siang-siang begini kan panas di jalan."
"Oke."
Setelah kami menyelesaikan untuk persiapan besok, tiba-tiba Daren berpamitan untuk pulang.
"Chel, aku pulang dulu ya."
"Kamu naik apa? sudah di jemput?"
"Mamaku sudah jemput di luar Chel, itu mobilnya sudah ada."
"Oh begitu, aku panggilkan ibuku dulu ya."
Aku memanggil ibuku untuk mengantar Daren keluar,
Aku berjalan ke arah ibuku berada, dan memberitahukan bahwa Daren akan pulang,
"Bu, Daren mau pulang, dia sudah di jemput Mamanya di luar,"
Ibuku langsung keluar menghampiriku dan kami mengantar Daren keluar rumah.
Saat Mamanya Daren membawa mobil dan berhenti di depan pagar rumah, tiba-tiba ia turun dan menghampiri kami.
Mamanya Daren langsung bertanya kepada ibuku,
"Permisi, kamu Rita ya?" Aku kaget terhadap mamanya Daren, karena ia tahu nama ibuku.
Ibuku menjawab dengan bingung,
"Siapa ya? kok kayak pernah kenal, tapi saya lupa."
"Aku Rani teman sekolah SMA kamu dulu, kamu kan menikah sama Gunawan kalau enggak salah."
Aku semakin bingung melihat tingkah orang tua ini.
"Iya, ya ampun kamu Rani yang menikah dengan Indra itu kan?"
Tante Rani bersalaman dengan ibuku dan mencium pipi kanan dan kiri ibuku.
"Iya Rit, enggak menyangka ya kita bisa ketemu lagi."
Ibuku mengajak tante Rani untuk masuk,
"Jadi, Daren ini anak kamu Ran? kita sudah lama enggak ketemu Ran, ayo masuk dulu."
Tante Rani menolak ajakan ibuku dan menyodorkan handphone kepada ibuku untuk meminta nomor WA Ibuku.
"Iya Rit, Daren ini anak aku, maaf ya Rit, aku enggak bisa mampir, kapan-kapan saja aku mampir, oh ya, ada nomor WA enggak? di sambung lewat WA saja."
Akhirnya ibuku memberikan nomor WA miliknya ke tante Rani, dan tidak lama kemudian tante Rani berpamitan untuk pulang.