
Tidak terasa waktuku les vokal sudah 1 jam lamanya.
Selanjutnya aku akan segera melanjutkan untuk les pelajaranku di tempat lain.
Bu Leni mengakhiri pertemuan les hari ini.
"Chel, hari ini sampai di sini dulu ya sudah satu jam, minggu depan kita lanjut lagi di hari dan jam yang sama."
"Iya Bu, enggak terasa ya Bu sudah 1 jam, aku pamit mau pulang dulu ya Bu, assalamualaikum."
"Walaikumsalam," jawab Bu Leni.
Aku keluar dari ruangan tempat aku les, sambil mengeluarkan handphone, aku memesan taksi Online karena pak Maman sudah pulang. Tidak lama kemudian taksi Online yang aku pesan telah datang.
Aku masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalananku menuju tempat les selanjutnya.
Tiba-tiba dering handphoneku berbunyi, dan aku melihat ayahku meneleponku.
"Halo Chel, kamu lagi di mana? ibu bilang, katanya kamu naik taksi Online, apa nanti selesai les di jemput Ayah, atau kamu tetap naik taksi Online saja?"
"Enggak usah di jemput Yah, aku nanti naik taksi Online saja."
"Ya sudah kalau begitu, kalau ada apa-apa atau perlu bantuan, kamu hubungi Ayah ya Chel."
"Iya Yah," jawabku.
Aku menutup telepon dan menyudahi percakapanku dengan ayahku.
Perjalanan sore itu amat macet sehingga aku harus mengabari guru lesku jika aku terlambat, aku kirim pesan kepada bu Nany guru lesku.
"Bu, maaf hari ini saya terlambat karena di jalan macet, tapi saya pasti datang, terima kasih," isi pesanku kepada bu Nany.
Tidak menunggu waktu lama, isi pesanku berubah menjadi centang biru pertanda sudah dibaca.
Kemudian bu Nany membalas pesanku,
"Iya Chel tidak apa-apa, tetap Ibu tunggu ya," jawab pesan ibu Nany.
Aku langsung menjawab isi pesannya,
"Iya Bu."
Setelah 30 menit aku ke jebak kemacetan di kota Jakarta, kemudian jalanan agak longgar dan aku menyuruh pak sopir untuk melaju agak cepat karena aku takut datang telat menuju tempat lesku.
"Pak, minta tolong agak cepat ya, saya takut telat les pak," pintaku kepada sopir taksi Online tersebut.
Pak Sopir mengendarai mobil dengan ngebut,
"Iya mbak, saya usahakan lebih cepat lagi."
Aku menikmati perjalanan dengan panik karena sudah 30 menit belum sampai. AC di dalam mobil yang dingin membuat tidak terasa dingin di tubuhku, keringatku bercucuran membuat AC mobil itu tidak terasa dingin. Akhirnya tepat pukul 18.15 wib, aku telah sampai ke tempat lesku.
Aku berlari sangat kencang melewati resepsionis dan berlari lagi menuju ruang kelasku, setelah aku sampai di depan pintu kelas.
Aku mengetuk pintu,
"Tok...Tok...Tok..." dari balik pintu, aku mendengar bu Nany menjawab,
"Silakan masuk."
Aku langsung membuka pintu dan kulihat bu Nany sudah mulai pelajaran.
Nafasku mulai tersengal-sengal saat aku telah sampai di depan pintu.
"Maaf Bu, saya datang telat."
Bu Nany telah menyadari dan mempersilahkan aku untuk duduk di bangku yang kosong
"Iya, tidak apa-apa Chelsea, silakan kamu boleh duduk."
"Iya Bu, permisi."
Aku berjalan menuju bangku kosong yang berada di ujung kelas.
Aku duduk di bangku yang kosong dan mengikuti pelajaran dari bu Nany.
Waktu menunjukkan pukul 19.00 wib, bu Nany menyudahi pelajaran pada hari ini.
"Pelajaran hari ini sampai di sini, tugasnya jangan lupa di kumpulkan minggu depan, saya tunggu. Assalamualaikum Wr, selamat malam."
"Walaikumsalam Wr, selamat malam" jawab semua murid.
Bu Nany pergi meninggalkan kelas, dan selanjutnya murid-murid meninggalkan kelas.
Aku berjalan keluar ruang lesku sambil memegang handphone dan sambil memesan taksi Online.
Tiba-tiba hujan deras malam itu membuatku lama menunggu taksi Online.
Berkali-kali aku memesan tapi di cancel oleh drivernya, dan aku sendiri berpikir, dalam hati berucap,
"Apa aku harus menelepon ayah ya? Tapi, aku tadi sudah bilang kalau aku tidak usah di jemput,"
hati dan pikiranku semakin bergejolak tak menentu.
Sudah 1 jam aku menunggu, tetapi aku belum dapat taksi Online. Dari kejauhan aku melihat seorang anak laki-laki berkaca mata, bertubuh tinggi besar, berkulit putih dan sepertinya seusia denganku.
Tiba-tiba dia mendekatiku, dalam hatiku
bergumam,
"Aku tidak pernah melihat dia, memang siapa ya dia?"
Aku semakin penasaran, dan aku memulai untuk menyapanya.
"Hai mas, masnya menunggu jemputan? Bye the way aku kok belum pernah lihat mas ya?"
Dia mulai duduk di bangku kosong tepat di sebelahku,
"Aku Chelsea, senang bertemu denganmu,"
aku menjulurkan tanganku.
"Iya mbak sama-sama, mbaknya menunggu jemputan?"
"Aku menunggu taksi Online tapi belum datang-datang, dari tadi di cancel terus sama drivernya."
"Memang kalau hujan kayak begini sangat susah pesan taksi Online.
Bagaimana kalau nanti kamu bareng pulang sama aku?"
"Enggak usah, nanti merepotkan."
"Enggak merepotkan kok, aku nanti di jemput sama sopirku."
"Rumah kamu di jalan apa?"
Aku menjawab pertanyaan dari Daren,
"Rumahku di jalan Mawar, memang sejalan sama kamu?"
"Kebetulan banget, rumahku di jalan Anggrek, mending sama aku saja, daripada kamu menunggu lama di sini, 5 menit lagi sopir aku datang."
Aku menyetujui tawaran Daren,
"Iya deh, enggak apa-apa kalau kamu enggak keberatan."
Aku dan Daren mengobrol hingga jemputan Daren datang, tak begitu lama kami menunggu tiba-tiba mobil jemputan Daren datang.
Terlihat dari kejauhan sopirnya Daren yaitu pak Udin datang membawa 2 payung untuk Daren.
Pak Udin memberikan payung kepada kami,
"Permisi mas, ini payungnya."
"Iya pak, nanti kita antar temanku ini dulu ya Pak di jalan Mawar."
"Iya mas."
Kami berjalan menuju mobil sambil menggunakan payung.
Daren yang memayungiku saat hujan turun. Kemudian, Daren membukakan pintu mobil untukku.
Aku terkesima melihat perilaku Daren. "Terima kasih ya Ren, sudah mengantar aku pulang."
"Iya Chel enggak apa-apa."
Tidak terasa kita mengobrol sudah 30 menit, sambil menikmati perjalanan pulang.
Tidak begitu lama perjalananku untuk pulang, dan telah sampailah aku di depan gerbang rumahku.
Aku memanggil pak Slamet untuk membawakanku payung.
"Pak Slamet, tolong bawakan payung," teriakku dari dalam mobil menyuruh pak Slamet.
"Iya Non," jawab pak Slamet sambil membawa payung dan memberikannya kepadaku.
Aku berpamitan kepada Daren saat aku turun.
"Ren terima kasih ya sudah antar aku pulang."
"Iya Chel, sama-sama," jawab Daren sambil melambaikan tangan.
Setelah Daren mengantarku, ia kembali pulang dan aku berbalik arah masuk ke rumah. Ternyata ayah dan ibuku sudah ada di depan pintu saat aku di antar oleh Daren.
Terlihat ayahku berbisik dengan ibuku, tetapi wajah ayahku cemberut dan ibuku hanya tertawa.
"Assalamualaikum," aku mengucap salam dan mencium tangan ayah dan ibuku.
"Walaikumsalam," jawab ayah dan ibu.
Wajah ayahku memandangku dengan cemberut dan ibuku hanya bisa tertawa.
Aku heran melihat ayahku tiba-tiba cemberut seperti itu.
Tidak sempat aku bertanya, lalu ibuku mengajak kami masuk.
"Ayo Chel masuk, di luar hujan," ibu menggandeng aku masuk.
Ibuku mengajakku menuju tempat makan, dan ayah masih saja berwajah cemberut.
Ibu menegur ayah dengan ketawa.
"Ayah, sudah, ayo di makan, jangan cemberut begitu donk?"
Ibu menggoda ayah sambil memberikan makanan kepada ayah.
Kemudian ibu memberikan satu piring makanan kepadaku.
Ayahku masih cemberut hingga aku bertanya kepada ibuku, aku memberanikan diri bertanya kepada ibuku walau ayahku masih terlihat cemberut.
"Bu, ayah kenapa jadi cemberut begitu?" bisikku kepada ibu.
Ayahku mendengar dan menegurku,
"Kalau makan itu enggak boleh sambil bicara!"
Aku menundukkan kepala dan melanjutkan makanku.
"Iya Yah."
Ibu semakin terpingkal-pingkal melihat kelakuan ayah.
Dan aku semakin bingung melihat ayah yang tiba-tiba seperti itu.