Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 19



Tere dan Daren berjalan ke arahku, mereka mencium tangan ke dua orang tuaku yang saat itu sedang duduk bersamaku.


Setelah itu, Tere memelukku dengan senang dan gembira,


"Chel, ternyata kamu sudah sembuh."


Tiba-tiba Ayahku mengagetkanku,


"Eits, jangan senang dulu, Chelsea belum boleh ke sekolah sebelum periksa ke dokter dulu, jadi menunggu keputusan dokternya."


Tere hanya membalas dengan senyuman dan berkata,


"Apa perlu aku antar Chel?"


"Tidak usah Ter, aku enggak mau merepotkan kamu."


Tiba-tiba mataku tertuju pada tangan Daren yang saat itu membawa bungkusan dan aku tidak tahu isinya apa.


Aku penasaran dengan bungkusan yang di bawa oleh Daren,


"Ren, kamu membawa apa itu?"


"Oh ini Chel, ini dari Mamaku. Saat mendengar kamu sakit, Mamaku menyuruhku kesini lagi dan memberikan ini untuk kamu."


Aku menerima bungkusan dari Daren dan memberikannya kepada Ibuku.


"Terima kasih ya Ren."


"Iya Chel, sama-sama"


Ayah tersenyum dan berkata,


"Terima kasih ya Daren."


Ibuku berkata dengan tersenyum


"Terima kasih ya Ren, sampaikan salam Tante buat Mama kamu."


Melihat Daren yang polos, dan tidak tahu akan perjodohan ini aku bergumam dalam hati karena aku tidak bisa ngomong langsung sama dia.


"Kasihan kamu Ren, tidak tahu perjodohan yang di rencanakan buat kamu, dan kamu tidak tahu maksud Mama kamu memberikan ini untukku. Baru sekitar 1 jam yang lalu, Ibuku bercerita, sekarang anaknya yang muncul."


Ibuku bertanya kepada Tere dan Daren,


"Silakan duduk, di sini atau di dalam?"


"Di sini saja Tante."


Ayah dan Ibu masuk ke dalam rumah, dan tidak lama kemudian Ibuku datang membawakan kami makanan ringan dan minuman untuk kami.


Ibu meletakkan makanan dan minuman untuk kami,


"Silakan di minum ya."


"Iya Tante, terima kasih," jawab Tere dan Daren.


Ibu meninggalkan kami yang ada di luar.


Aku bertanya kepada Tere dan Daren tentang Ayahku yang tadi ke sekolah.


Tere berbicara sambil minum sedikit demi sedikit minuman yang di suguhkan oleh Ibuku,


"Ter, bagaimana ceritanya saat Ayahku datang ke sekolah?"


"Jadi tadi itu, saat pelajaran di mulai. Tiba-tiba aku dan Daren di panggil untuk ke ruang BK. Semua orang itu Chel, melihat ke arahku dan Daren karena memanggilnya itu dari speaker sekolah, aku dan Daren bingung kenapa kita di panggil oleh BK."


Aku semakin penasaran dengan cerita Tere,


"Lalu bagaimana Tere kelanjutannya?"


Tere menceritakan kejadian tersebut kepadaku,


"Aku sama Daren langsung ke ruang BK, dan ternyata sudah ada Ayah kamu marah-marah.


Ayah kamu tidak terima kalau kamu di perlakukan seperti itu, jadi ayah kamu benar-benar marah dan ingin bertemu dengan Gladys.


Ayah kamu itu marah sampai bilang begini Chel, saya harus ketemu sama anak yang membuat anak saya celaka, kalau tidak di pertemukan, saya akan bawa ke jalur hukum atau saya akan melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib. Begitu Chel marahnya Ayah kamu, aku sama Daren hanya diam dan saat di tanya terpaksa aku jawab kalau yang melempar kamu itu Gladys."


"Lalu guru BK bagaimana Ter?"


"Nah loh, lucunya bagaimana Tere?" tanyaku.


"Jadi, sebenarnya pihak sekolah itu tahunya Gladys itu sama kawan-kawannya lalu dipanggil semuanya. Mereka cekcok, apalagi Cindy yang menyalahi Gladys, Cindy itu malah membuka aib temannya sendiri.


Dia sampai bilang begini, Pak saya sama Rena tidak ikut-ikutan, memang saat kejadian kami ada di situ, tapi kita tidak melakukan Pak, yang melempar itu Gladys. Kita sudah memberitahu ke Gladys, jangan Dys karena kalau kenapa-kenapa bagaimana. Malah Gladys langsung melempar bola ke arah Chelsea," cerita Tere kepadaku.


"Seharusnya kan temannya membelanya, kok malah menyalahkan juga, kan aneh!" jawabku.


Lalu Daren melanjutkan ceritanya,


"Oh ya Chel, Gladys itu marah ke Cindy sama Rena. Katanya sih begini, kalian itu ada teman kesusahan tidak di bela malah di salahkan.


Lalu Cindy malah ngomong memang benar Dys, kamu yang berbuat ya kamu yang bertanggung jawab, bukan kita tanggung jawab bareng."


"Pintar dong kawan-kawannya kalau begitu?"


Tere menjawab pertanyaanku lagi,


"Pintar banget Chel, jadi tidak menutupi kesalahan Gladys, sehingga pihak sekolah dengan mudah memutuskan hukuman untuk Gladys, aku tidak tahu hukumannya apa. Karena waktu itu aku, Daren, Cindy dan Rena disuruh keluar."


"Gladys itu hukumannya di scors 3 hari oleh pihak sekolah, tadi ayahku bilang begitu."


Tere kesal dengan hukuman yang di berikan kepada Gladys,


"Ha, 3 hari? kalau menurutku terlalu singkat Chel, kenapa tidak di keluarkan saja oleh pihak sekolah. Kalau seperti itu menyusahkan semua murid dan bisa-bisa semua orang di buat celaka olehnya."


Aku menjawab pendapat dari Tere,


"Ter, memang benar dengan pendapat kamu, tetapi pihak sekolah itu harus mengasih kesempatan, selagi masih bisa di perbaiki kelakuannya ya di perbaiki. Makanya Gladys masih di beri kesempatan untuk memperbaiki diri."


Daren mulai menggoda Tere,


"Tere, Tere, kamu kok enggak paham. Sekarang malah kamu yang kejam, dulu saja awal pertama aku melihat kamu. Kamu itu tidak sesadis ini loh Ter, Hahahahahaha."


"Iya Ren, dulu itu aku yang ingin marah dan memukul Gladys saat menjahiliku, tapi Tere yang menahanku. Sekarang jadi sadis seperti ini, Hahahahahaha."


Tere menjawab dengan tersenyum,


"Yang penting aku enggak jahat sama kalian, apa aku jahat sama kalian? enggak kan? kalau yang terakhir kemarin itu karena sudah keterlaluan kalau menurutku."


Kami mengobrol hingga sore hari. Tidak terasa obrolan kami bertiga membuat waktu begitu cepat.


Tiba-tiba handphone Tere berbunyi, setelah Tere membuka Handphonenya, dia berpamitan akan pulang.


"Chel, aku pulang dulu ya."


"Iya Ter, sebentar ya, aku panggilkan Ayah dan Ibuku dulu."


Aku masuk ke dalam memanggil Ayah dan Ibuku. Tidak lama kemudian Ayah dan Ibuku keluar.


Tere berpamitan kepada Ayah dan Ibuku,


"Om dan Tante, saya pulang dulu ya."


"Iya Ter, hati-hati."


Kemudian Daren juga berpamitan,


"Om, Tante, saya pulang dulu ya."


"Iya Ren, hati-hati ya, sampaikan ke Mama kamu, terima kasih banyak."


Ayahku menjawab dengan tersenyum.


"Iya Tante," jawab Daren.


Kami mulai masuk ke dalam rumah, kemudian Ayahku menyuruhku makan dan minum obat.


"Chel, kamu sudah makan dan minum obat?"


"Belum Yah, tadi kan ada temanku. Enggak mungkin aku tinggal makan."


"Ya sudah kalau begitu, sekarang kamu makan dulu lalu minum obat."


"Iya Yah."


Aku mulai makan di meja makan dan setelah itu aku minum obat yang masih tersisa.