
Ayah memberikanku nasihat,
"Chelsea, kamu itu anak satu-satunya kami, kami bekerja itu juga buat kamu, apa yang kami lakukan itu buat kamu. Jadi kalau kamu sakit, Ayah dan Ibu bingung Nak."
"Iya juga Yah."
Tidak lama kemudian setelah efek obat, aku tertidur pulas lagi.
Tak terasa tidurku sangat nyenyak, hingga handphoneku berbunyi tapi aku tidak mendengarnya.
Tiba-tiba Ibu membangunkanku saat aku tertidur.
"Chel, Chelsea, bangun Nak, ada teman kamu kesini," kata Ibu dengan mengoyakkan aku dengan perlahan.
Kemudian aku terbangun,
"Iya Bu, ada apa?"
"Di luar ada Tere sama Daren kesini, mereka mau jenguk kamu, Ibu suruh masuk ya?"
"Iya Bu, suruh masuk saja."
Ibu keluar kamarku dan menghampiri Tere dan Daren untuk masuk ke kamarku.
Tidak lama kemudian, aku melihat Tere dan Daren di depan pintu kamarku yang terbuka.
"Chelsea," suara Tere memanggilku.
"Halo teman-teman," jawabku sambil tersenyum.
"Masuk kesini Ter, Ren," aku menyuruh mereka masuk.
"Ibuku tadi ke mana? kok aku enggak kelihatan?"
"Sepertinya tadi ke dapur, terus kita di suruh ke kamar kamu sendiri."
"Oh begitu, bagaimana keadaan sekolah Ter?"
"Sekolah yang sama seperti biasanya, cuman sepi saja enggak ada kamu, biasanya kan kita bertiga ada kamu, hari ini kamu kan enggak masuk. Jadi sepi Chel," jawab Tere sambil memanyunkan Bibir.
Daren tiba-tiba ikut berkomentar,
"Iya Chel, seperti tidak lengkap begitu."
Aku menceritakan keadaanku kepada teman-temanku,
"Sebenarnya hari ini aku ingin masuk sekolah, tetapi kepalaku sangat pusing. Saat aku mulai berdiri dan berjalan tiba-tiba aku tadi terjatuh.
Sehingga orang tuaku tidak memperbolehkanku untuk sekolah, menunggu aturan Dokter karena harus 1 minggu benar-benar istirahat.
Kebetulan aku saat jatuh itu kebanyakan pikir dan ada beban pikiran, sehingga saat terkena bola, kepalaku pusing banget saat di buat jalan."
Tere kaget mendengar ceritaku,
"Ha, lama banget Chel?"
Daren ikut penasaran juga,
"Iya Chel, kenapa lama banget?"
Aku menjawab pertanyaan Daren dan Tere,
"Sebenarnya boleh kalau 3 hari, tapi dokter khawatir belum sembuh, jadi 7 hari. Kalau pun mau sekolah, harus checkup ke dokter dulu."
Tiba-tiba Ibuku datang ke kamarku membawa makanan dan minuman untuk Tere dan Daren.
Ibuku menyuguhkan untuk Tere dan Daren,
"Ini silakan di makan dan di minum ya."
"Terima kasih tante," jawab Tere dan Daren.
Tere dan Daren mulai makan dan minum yang di berikan oleh Ibuku.
Tiba-tiba Ayahku datang menghampiri kami dan mulai bertanya kepada temanku.
"Tere, Daren, Om boleh tanya enggak sama kalian?"
Tere penasaran dengan pertanyaan yang akan di berikan kepadanya,
"Iya boleh Om."
Daren ikut menjawab pertanyaan dari Ayah Chelsea
"Memang mau tanya apa Om?"
Ayah mencari tahu kronologi kejadiannya seperti apa,
"Sebenarnya siapa yang melempar bola ke arah Chelsea? itu di sengaja atau memang enggak di sengaja?"
Aku langsung menyahut omongan Ayah sebelum temanku menjawab kalau yang melempar bola itu Gladys.
"Ayah, yang jelas itu tidak sengaja Yah."
Ayah semakin yakin dengan feelingnya,
"Ayah, enggak percaya Chel, pasti ada yang ganggu kamu."
Tiba-tiba Tere menjawab, padahal aku sudah berusaha untuk menutupinya,
"Sebenarnya ada yang melempar Om, tapi kemarin waktu kami cari dan di cari oleh guru kami, mereka sembunyi dan hari ini mereka tidak masuk."
Ayah mulai agak marah,
"Apa perlu Ayah laporkan ke pihak berwajib? Ayah enggak terima Chel kalau anak Ayah di perlakukan kayak begini, dan pihak sekolah hanya diam saja."
Kemudian Ibu menenangkan Ayah agar tidak marah.
"Ya sudah, kalau begitu Ayah besok ke sekolahnya Chelsea, kalian tahu kan siapa yang melempar bola ke Chelsea?" tanya Ayah kepada Tere.
Tere malah mendukung Ayahku,
"Iya Om, kami tahu siapa orangnya, besok kalau Om ke sekolah bisa panggil saya dan Daren sebagai saksi."
Daren juga ikut-ikutan seperti Tere,
"Iya Om, nanti kita bakalan bantu mencari orangnya."
Ayahku mulai agak tenang karena ada yang membantunya.
"Terima kasih ya, kalian sudah mau membantu Om."
"Iya Om," jawab Tere dan Daren.
Tiba-tiba Ibuku teringat saat aku terkena percikan air dan menanyakan ke Tere.
"Ter, kamu tahu enggak siapa yang memercikkan air kotor di seragam Chelsea?"
Tere merasa juga terkena percikan air tersebut, Tere pun menjawabnya.
"Iya tante, saya tahu, bahkan saat memercikkan air kotor itu, saya juga kena Tante. Ibuku sampai marah kepadaku saat tahu seragamku kotor."
"Kalau menurut kamu, apa anak itu yang melempar Chelsea bola?"
"Iya tante, yang melempar bola itu orang yang sama saat aku dan Chelsea di guyur percikan air kotor."
"Berarti memang mereka tidak suka sama Chelsea, memang kamu salah apa Chel, kok sampai seperti itu sama teman kamu?"
Aku menjelaskan kronologi kenapa Gladys memperlakukanku seperti itu,
"Kalau menurut aku, karena mereka itu iri Bu sama aku, mereka itu kan memang cantik, sayangnya mereka enggak pintar, mereka itu tidak mau disaingi olehku. Sedangkan kemarin saat Masa Orientasi Siswa, aku itu di suruh menyanyi dan saat aku menyanyi.
Seluruh siswa itu bertepuk tangan dan saat itu aku jadi pusat perhatian teman-temanku.
Makanya mereka itu iri dan enggak mau disaingi oleh siapa pun."
Ibu hanya menggelengkan kepala saat tahu ceritaku,
"Ya ampun, kok ada ya orang kayak begitu."
Tiba-tiba Ibuku menanyakan kabar Mamanya Daren.
"Ren bagaimana kabar Mama kamu? masih mengambek?"
"Iya Tante, Mamaku masih mengambek."
Ayahku yang mendengar, tiba-tiba ikut menjawab,
"Mama kamu itu kalau mengambek memang kayak begitu, lama redanya kalau yang di mengambeki enggak minta maaf, walaupun yang salah Mama kamu. Itu sudah wataknya dari sekolah Ren, jadi kamu sabar saja ya."
Kemudian Ibuku ikutan menjawab,
"Ya Ren, Mama kamu memang sudah seperti itu dari dulu. Kamu yang sabar ya, kalau kamu bisa, kamu minta maaf dahulu, biar Mama kamu enggak marah."
"Iya Tante, nanti aku coba ngomong sama Mama."
Tidak terasa sudah sore kami mengobrol, Daren dan Tere berpamitan untuk pulang.
Daren berbisik lirih kepada Tere,
"Ter, gue nebeng loe ya."
Tere menjawab dengan berbisik,
"Iya boleh, tetapi loe ya yang boncengi, gue malas bonceng, hehehehe."
"Iya beres, nanti gue yang boncengi loe, gue lagi malas hubungi sopir gue."
"Iya-iya, nanti nebeng gue saja."
Aku penasaran dengan yang di bicarakan oleh mereka berdua,
"Kalian ngomong apa sih? Kok bisik-bisik?"
Tere tersenyum dan menjawabnya,
"Ini loh Chel, Daren mau nebeng aku. Mungkin malu kali kalau ngomong kenceng-kenceng, hehehehe."
"Kalian mau pulang?"
Tere menjawab pertanyaanku,
"Sepertinya iya Chel, sudah mulai sore Chel."
Daren juga ikut menjawab,
"Iya Chel."
"Maaf ya, aku enggak bisa mengantar kalian ke depan."
"Iya enggak apa-apa Chel, kamu kan lagi sakit, kita pulang dulu ya Chel," pamit Tere kepadaku.
"Iya Chel, kamu istirahat saja, semoga cepat sembuh dan kembali lagi ke sekolah," kata Daren.
"Om, Tante, kami pulang dulu, sudah sore," pamit Tere dan Daren ke Ayah dan Ibuku.
Ibuku berkata,
"Iya hati-hati ya, terima kasih sudah jenguk Chelsea."
"Iya Tante, sama-sama," jawab Tere dan Daren.