Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 2



Kevin dan Rangga melanjutkan kegiatan hari itu.


"Hari ini kegiatan kita visit room to room, jadi kegiatannya itu, kita mengunjungi seluruh ruangan apa saja yang ada di sekolah kita ini.


Mari kita lanjutkan dengan memulai berkunjung ke Perpustakaan, Lab Bahasa, Lab Kimia, Lab Fisika, Lab Biologi, Aula, Kantin, dan masih banyak lagi, sudah paham ya untuk kegiatan kita hari ini?"


"Paham Kak," jawab semua murid yang mengikuti kegiatan tersebut.


Rangga memberikan arahan kepada kami,


"Oke kalau begitu sekarang kita lanjutkan kegiatan kita."


Kevin, Rangga dan murid-murid melanjutkan kegiatan tersebut dan ketika sudah selesai visit room, kami berhenti dan masuk di kelas yang ada di ujung jalan.


Di atas depan pintu tertulis kelas X.1.


Saat itu aku sedang berbicara dengan Tere,


"Ter, mudah-mudahan kita enggak satu kelas ya sama Mak Lampir itu."


Tere mendengarkanku dan menjawab ketika aku berbisik kepadanya,


"Iya Chel, aku sudah malas banget lihat mereka."


Tiba-tiba Gladys mendengar pembicaraanku dan ia menegurku dengan marah-marah.


"He Gajah, siapa juga yang mau satu kelas sama Gajah kayak elo, elo kira gue mau satu kelas sama elo?! Memang elo siapa mengata-ngatai gue Mak Lampir ha?"


Gladys kesal dengan julukan yang aku berikan padanya.


Semua siswa yang mendengar ikutan tertawa,


"Hahahahahaha, Mak Lampir!"


Aku dan Tere juga ikut tertawa mendengar Gladys marah-marah dan membentak kami.


Aku tidak menghiraukan Gladys yang marah-marah kepadaku.


Tiba-tiba Gladys menjambak rambutku,


"Aduh, sakit tahu, eh elo kok jambak rambut gue sih?"


"Karena elo sudah bikin gara-gara sama gue." Kemudian aku membalas dan menjambak rambut Gladys.


Kami bertengkar dan Tere berusaha melerai kami, tapi tidak bisa.


"Sudah dong sudah," melihat kami bertengkar saling menjambak, Rangga dan Kevin melerai.


"Apa-apaan kalian berdua ini, kayak anak kecil saja?!" bentak Rangga.


Rangga dan Kevin menjauhkan kami agar tidak bertengkar.


Gladys tidak terima dengan perlakuanku


kepadanya, Gladys mengadu kepada Rangga.


"Kak, yang mulai dahulu itu dia, bukan aku, salahnya sendiri mengatai aku Mak Lampir."


"Kan tadi kamu dahulu yang mulai, enggak salah dong kalau tiba-tiba Chelsea mengatai kamu, kamu sadar enggak kalau kamu ini salah? Sudah salah menyolot lagi. Saya di sini tidak membela siapa-siapa tapi saya melihat siapa yang mulai dahulu, jelas kalian!?"


bentak Rangga kepada kami dan siswa yang ada di depan ruangan tersebut.


Semua siswa terdiam saat Rangga marah dan membentak kami.


Aku tidak tahu jika aku akan satu kelas bersama Gladys dan kawan-kawannya. Aku mengira jika beberapa orang di kelas kami bisa beda kelas.


Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Aku bersiap-siap untuk pulang.


Rangga dan Kevin memberitahukan jika daftar pembagian kelas bisa di lihat di mading.


Kring...Kring... Kring...


Suara bel berbunyi tanda sekolah telah selesai.


Rangga dan Kevin menyudahi kegiatan Orientasi Siswa di hari pertama.


"Hari ini kegiatan kita sudah selesai, kalian bisa lihat di mading bagian kelas kalian, dan besok sudah mulai memasuki kelas masing-masing.


Silakan kalian meninggalkan kelas hari ini, terima kasih. Assalamualaikum Wr, selamat siang."


"Walaikumsalam Wr, selamat siang Kak."


Aku meninggalkan ruang kelas dan menuju ke mading untuk melihat daftar pembagian kelas.


Ketika aku melihat di mading, aku melihat daftar di kelas X.1 dan di situ tertera namaku, dan Tere.


"Ter, akhirnya kita sekelas ya," aku kegirangan dan bahagia bisa satu kelas dengan Tere.


Aku tidak melihat daftar selanjutnya siapa saja, dan tiba-tiba datanglah Gladys dan kawan-kawannya.


"Minggir-minggir orang cantik mau lewat."


"Hm, begitu kok cantik," suara hatiku sambil melirik melihat Gladys dan kawan-kawannya.


"Ha, kok gue satu kelas sama Gajah sih!?"


Cindy dan Rena menjawab dengan sebel,


"Iya ya kok kita sama Gajah sih?"


"He, gerombolan Mak Lampir, kalian itu bisa jaga mulut enggak kalau ngomong? Gue juga malas satu kelas sama kalian, kalau ngomong itu jangan asal bicara."


Mendengar Gladys dan kawan-kawannya mengejekku, aku juga bisa marah kepadanya.


Tere yang saat itu melihatku akan menjambak Gladys, langsung membawaku pergi dari mading.


Tere mengajakku untuk pergi meninggalkan mading.


"Ter, enggak bisa begitu dong, mereka itu harus di beri pelajaran, biar enggak kurang ajar," jawabku dengan kesal.


"Pelajaran yang kayak bagaimana lagi Chel? Meskipun di kasih pelajaran apa pun, mereka tetap saja kayak begitu," kata Tere dengan jengkel.


"Ayo kita pulang," Tere mengajakku untuk segera pulang.


Tere dan Aku menuju parkir motor.


"Lah, kok gue di sini Ter?"


"Elo enggak bawa motor Chel?"


Aku kebingungan dengan tingkah Tere saat itu.


"Gue menunggu sopir gue jemput di depan."


"Kenapa enggak bilang dari tadi sih Chel, kan jauh kalau dari sini ke depan."


Aku menegaskan yang di lakukan Tere terhadapku,


"Tadi elo geret gue Ter, mana bisa gue ngomong."


Tere agak sedikit bingung dengan apa yang di lakukannya.


"Iya ya, ya sudah elo bareng gue saja ke depan pintu masuk sekolah, gue ambil motor gue dulu."


"Oke," jawabku.


Aku menunggu Tere di depan pintu parkir, tidak lama kemudian Tere datang menghampiriku.


Tere menyuruhku untuk naik di motornya,


"Yuk Chel."


Aku di bonceng oleh Tere menuju depan pagar sekolah.


Setelah Aku dan Tere berada di depan pagar sekolah, tiba-tiba ada genangan air yang mengenai tubuh kami karena terkena mobil Gladys.


Gladys sengaja mengotori tubuh kami dengan percikan genangan air kotor.


"Hahahahahaha, si Gajah dan si Cupu mandi siang-siang, mandinya pakai air kotor pula," Gladys berteriak mengejekku dan Tere.


Rena dan Cindy ikutan mengejek kami, "Hahahahahaha, di rumah elo enggak ada air ya."


Kami sangat jengkel dan marah, ingin sekali aku memukul dan memaki Gladys dan kawan-kawannya.


"He, enggak punya mata ya elo!" teriak suaraku dan membentak mereka.


Saat aku akan menghampiri mobil Gladys, Tere menghentikan langkahku.


"Sudahlah Chel, percuma kamu mengejar mereka, mereka juga bakalan pergi."


Tidak lama kemudian mobil Gladys langsung pergi meninggalkan kami.


Tere berusaha menenangkanku dan menasihatiku,


"Benar kan, mereka pergi, biarin saja suatu saat mereka dapat balasannya sendiri."


Tidak lama kemudian, mobil jemputanku datang,


"Ter, gue balik dulu ya, mobil jemputan gue sudah datang."


"Iya Chel, gue juga balik, see you tomorow ya Chel."


"Iya Ter, bye," jawabku.


Aku memasuki mobil dengan seragam yang basah dan kotor.


Pak Maman mulai bertanya kepadaku,


"Non, bajunya kenapa basah dan kotor semua?"


"Iya pak, tadi kena percikan genangan air saat ada teman aku yang jahil melintas dengan mobilnya," aku menjawabnya dengan kesal.


"Sabar Non, nanti mereka kena batunya sendiri orang seperti itu."


Aku menjawab nasehat dari Pak Maman dengan senyuman.


Siang itu matahari bersinar, panasnya menyengat dan jalanan tidak begitu macet.


Aku dan Pak Maman melanjutkan perjalanan kami untuk pulang.


Tidak lama kemudian, ketika Pak Maman dan aku sedang asyik mengobrol tiba-tiba aku melihat mobil yang di kendarai oleh Gladys dan teman-temannya mogok di pinggir jalan.


Aku bergumam dalam hati,


"Ini kan mobilnya Mak Lampir? Pucuk di cinta ulam pun tiba, akhirnya kena batunya sendiri kan, Hahahahahaha."


Aku langsung menyuruh Pak Maman untuk menghentikan mobil,


"Pak, stop di depan mobil yang mogok."


"Iya Non, kenapa ya Non, Non kenal sama mereka?"


Pak Maman penasaran kenapa aku menyuruhnya berhenti.


"Iya Pak, mereka yang membuat kotor baju saya."


Pak Maman menghentikan mobil kami tepat di depan mobil Gladys yang mogok.


Aku segera turun dari mobilku, dan aku menghampiri Gladys yang saat itu bingung mencari bantuan.


"He Mak Lampir, akhirnya elo kena batunya kan? Syukurin mobil elo mogok, Hahahahahaha," aku tertawa dengan girang melihat Gladys kesusahan saat itu.