Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 27



Hampir 1 jam perjalanan dari sekolah ke rumahku karena macet.


Akhirnya aku sampai ke rumah, seperti biasa ibu telah menungguku di teras rumah sambil membaca koran hari ini.


Aku turun dari mobilku, dan ibu berdiri menghampiriku.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Aku mencium tangan ibuku, setelah itu ibu menyuruhku untuk makan siang terlebih dahulu.


"Chel, kamu makan dulu atau ganti baju dulu?"


"Sepertinya mending aku makan dulu Bu, aku lagi malas ganti baju, nanti saja," jawabku.


Aku bergegas masuk ke rumahku dan ke arah meja makan yang sudah ada makanannya untukku makan. Hari ini ibu memasak masakan kesukaanku yaitu sayur nangka.


Sayur nangka adalah makanan favoritku, dengan bumbu yang pedas dan kuah yang agak mengental membuatnya lebih terasa rempah-rempah khas Indonesia.


Aku sangat menyukai sayur ini.


"Bu, tumben ada sayur nangka?" tanyaku.


"Iya, tadi kebetulan ada sayurnya, biasanya enggak ada," jawab ibu.


Aku menghabiskan makanan yang berada di atas piring yang aku ambil.


Ingin rasanya menambah lagi, tetapi tidak mungkin, karena aku masih berpikir jika aku semakin banyak makan. Maka aku bisa membuat tubuhku semakin melebar.


Aku menyudahi makanku, dan setelah selesai makan.


Aku bergegas ke kamarku untuk mengganti pakaianku.


Tiba-tiba ibu teriak memanggilku,


"Chelsea, Chelsea," teriak ibu memanggilku


Aku menjawab dengan teriakan juga saat aku berada di dalam kamarku,


"Iya Bu, ada apa?"


"Kamu jangan tidur dulu kalau selesai makan, duduk dulu ya agar tidak tambah gemuk."


"Iya Bu," jawabku dengan teriak.


Setelah aku mengganti bajuku, aku bergegas keluar kamar menuju gazebo di belakang rumah agar aku tidak tertidur karena setelah makan siang tadi.


Aku duduk di atas gazebo yang di kelilingi oleh rumput-rumput hijau. Pak Maman menyirami rumput di sekitar gazebo agar tidak panas. Siraman air itu membuat hawa semakin segar walau matahari menyengat tetapi tidak aku rasakan sengatnya karena air yang disemprotkan di atas rerumputan.


Angin sepoi-sepoi menambah segar tubuh ini yang lelah akan kegiatan hari ini.


Walau hari ini tidak begitu banyak kegiatan tetapi aku sangat merasa lelah ketika aku bersandar diiringi oleh hembusan angin di antara rerumputan hijau yang segar.


Sejenak aku memejamkan mata menikmati saat ini, hingga tanpa aku sadari, ibuku telah berada di sebelahku.


"Ibu, sudah lama berada di sini?" tanyaku kepada ibu yang sedak duduk di sebelahku dengan membawa segelas sirup.


"Sudah satu jam yang lalu Ibu duduk di sini, tapi memang tidak salah kalau kamu bisa tertidur pulas karena hawa segar dari rerumputan yang terkena air. Membuat terik panas matahari tidak terasa siang ini."


"Apa? Aku tertidur sudah 1 jam?" Aku terkaget ketika aku tahu kalau aku sudah tertidur selama 1 jam.


Padahal aku seakan memejamkan mata hanya sebentar, tetapi tidak terasa sudah 1 jam aku memejamkan mata dengan posisi duduk.


"Iya Chel, Ini lihat sirup yang Ibu bawakan untuk kamu?"


Aku melihat sirup yang dibawakan oleh ibuku warnanya tidak begitu pekat, dan es batu di dalamnya sudah mencair.


"Maaf Bu, aku tidak terasa sudah 1 jam aku tertidur pulas di sini."


"Iya, tidak apa-apa Nak, kalau kamu masih mengantuk, kamu bisa tidur di kamar kamu."


Aku beranjak dari gazebo ke kamarku, aku mulai menyalakan AC kamarku karena di kamarku agak terasa gerah.


Aku tertidur dengan nyenyak, menyambung tidurku saat aku berada di gazebo tadi.


Tidak terasa aku tertidur begitu lama, hingga pukul 6 sore aku terbangun.


Aku terbangun saat ayah membangunkanku.


Ayah membangunkanku dan menyuruhku untuk mandi.


"Chelsea...Chelsea... bangun Nak, sudah sore."


Terdengar suara ayahku memanggilku.


Aku langsung terbangun ketika ayah membangunkanku, aku menjawab panggilan ayah.


"Iya Yah, aku sudah bangun."


Aku melihat jam dinding kamarku tepat pukul 6 sore.


Setelah aku selesai mandi, aku dipanggil oleh ayah dan ibuku untuk makan malam.


"Chelsea, ayo makan dulu," kata ayah menyuruhku untuk makan.


"Iya Yah."


Aku menghampiri ayah dan ibuku yang sudah menungguku untuk makan malam.


Setelah kami selesai makan malam, aku minta izin kepada ayah dan ibuku karena besok aku akan ke rumah Tere.


"Ayah, Ibu, aku besok ke rumah Tere ya pulang sekolah?"


"Mengapa tidak di sini saja Chel?"


"Tidak apa-apa Bu, aku juga ingin tahu rumahnya Tere."


"Lalu kamu ke sana naik apa?"


"Aku pulangnya bersama Daren Yah."


"Mengapa tidak bersama pak Maman?"


"Tidak apa-apa Yah, karena ke rumah Tere kalau beda mobil nanti bingung mengikuti mobil yang di depan."


"Oh begitu, terserah kamu saja Chel."


*Keesokan Harinya*


Aku terbangun di pagi hari dan seperti biasa, aku melakukan kegiatan rutinku setiap pagi. Pagi ini aku menyuruh pak Maman untuk tidak menjemputku hari ini.


"Pak, nanti tidak usah dijemput pulangnya, aku nanti bersama Daren karena nanti aku ada belajar kelompok di rumah Tere."


"Iya Non."


Aku telah sampai di sekolahku, saat aku turun dari mobil. Aku melihat Tere tidak membawa motor.


Kami mengobrol sejenak,


"Pagi Tere," sapaku.


"Pagi Chelsea," jawab Tere.


"Nanti jadi ya Ter ke rumah kamu?"


Tere menjawab,


"Iya donk, aku kan sekarang tidak membawa motor."


"Oke," jawabku.


Tiba-tiba Daren datang dan turun dari mobil. Daren menyapa kami,


"Pagi Chelsea, Pagi Tere."


"Pagi Ren," jawabku bersamaan dengan Tere.


"Kok kita jawabnya bersamaan ya? Hahahahahaha," aku dan Tere tertawa bersama.


Tiba-tiba jam masuk kelas berbunyi.


Kami langsung menuju kelas.


Kami mulai masuk kelas, tiba-tiba saat kami sudah duduk di bangku masing-masing, Gladys mulai memasuki kelas.


Semua siswa di kelasku heran melihat Gladys sudah masuk kelas.


Kami bertiga membicarakan tentang Gladys,


"Chel, sekarang sudah tiga hari ya?" kata Tere.


"Sepertinya sudah Ter, malas banget lihat Mak Lampir muncul kembali," kata Daren.


Tiba-tiba Gladys melirik ke arahku.


Kami tidak peduli dengan lirikan Gladys.


Glady duduk sendiri, dan teman-temannya menjauhinya.


Jam istirahat berbunyi, kami segera menuju ke kantin untuk membeli makanan. Tiba-tiba sebelum kami keluar pintu, muncullah Angel pacarnya Doni menghampiri Gladys.


Angel datang dan mengajak Gladys ke kantin.


"He, elo sekolah di sini juga? Yuk ke kantin, daripada elo di sini sendirian."


"Aku lagi malas ke kantin Angel."


"Ayolah," sambil menarik tangan Gladys.


Mereka meninggalkan kelas dan teman-teman Gladys kaget dengan Gladys yang mengenal kakak kelas, dan memanggilnya langsung namanya. Seperti temannya sendiri.