Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 1



Krinnnnngggg


Suara alarm di atas meja berbunyi pagi itu


(Aku terbangun dari mimpi indahku pagi itu)


Namaku Chelsea usiaku masih 16 tahun. Aku mempunyai tubuh tinggi, besar dan aku mempunyai banyak penghargaan bernyanyi dan di bidang pelajaran.


Aku tinggal bersama kedua orang tuaku, ayahku seorang pengusaha dan ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku adalah anak satu-satunya mereka.


Maka dari itu, semua yang aku mau pasti di kabulkan oleh ayah dan ibuku.


Semenjak kecil aku paling hobi makan hingga berakibat sekarang ini. Tubuhku menjadi besar melebihi teman-temanku.


Tetapi, orang tuaku memberi aku kesibukan untuk les pelajaran dan les vokal, agar aku ada kegiatan dan mungkin aku bisa agak kurusan, walaupun sampai saat ini tubuhku terlihat besar.


Hari ini adalah hari pertama aku mulai memasuki sekolah SMA Negeri favorit di Jakarta. Aku di antar ke sekolah oleh pak Maman sopir yang dari aku kecil mengantarku untuk ke sekolah.


Seperti sekolah pada umunya, saat hari pertama sekolah, aku mengikuti masa orientasi di sekolahku.


Tidak banyak atribut yang aku kenakan waktu itu, dan sialnya hari itu aku datang terlambat.


Saat kakak pembina mengabsen namaku di tengah lapangan, aku pun berlari menghampiri murid-murid yang sama sepertiku yang mengikuti masa orientasi siswa.


“Chelsea, Chelsea, mana yang namanya Chelsea?? Hallooooo, kok enggak ada yang menyahut di sini?”


Suara kakak pembinaku memanggil namaku.


Aku menjawab dengan nafasku yang tersengal-sengal,


“Iya Kak, saya yang namanya Chelsea, maaf saya datang terlambat,” kataku.


“Oh, jadi elo yang namanya Chelsea? Elo tahu sekarang jam berapa?! Tahu enggak jam berapa masuk sekolah?!” bentak kakak pembina waktu itu hingga terdengar oleh ketua pembina yang duduk di ujung lapangan.


Ketua pembina itu menghampiriku dan membelaku. Saat aku ingin menjawab, ia menjawabnya terlebih dahulu.


"Sudahlah, jangan bentak-bentak begitu sama adik kelas, maklumlah telat, kayak elo dulu enggak pernah telat saja."


“Nga, elo jangan membuka aib gue di sini,” bisik kakak pembina itu kepada ketua pembina.


“Diam, kenapa kalian tertawa? Memang ada yang lucu!” kata kakak pembina tersebut membentak murid-murid yang tertawa saat itu.


“Ya sudah kalau begitu lanjutkan absennya saja dan lanjutkan juga kegiatan apa hari ini, by the way apa elo sudah perkenalan diri ke semua murid di sini?” bisik ketua pembina kepada temannya.


“Belum Nga, gue lupa,” jawab kakak pembina yang mengabsen pagi itu.


“Ya sudah, sebelum kita lanjutkan absen dan kegiatan hari ini, kita mau memperkenalkan diri dulu," tiba-tiba aku memotong pembicaraannya.


“Permisi kak, apa aku boleh duduk?” tanyaku lirih kepada mereka.


“Oh ya, sampai lupa aku, kamu boleh duduk,” jawab Rangga.


Aku duduk di barisan paling belakang mengisi baris yang kosong.


"Saya lanjutkan perkenalan dulu, karena kalau kalian tidak mengenal saya, kalian tidak bisa memanggil nama saya.


Saya adalah kakak pembina kalian hari ini yang membantu kalian mengenal sekolah ini hingga masa orientasi selesai, perkenalkan namaku Rangga dan ini temanku Kevin.


Saya di sini sebagai ketua OSIS, dan saya di tugaskan untuk membina kalian dan menunjukkan ruang apa saja yang ada di sekolah ini. Kalau begitu kita lanjut saja absensinya."


Rangga adalah ketua OSIS di sekolahku ia sangat tampan, baik di hadapanku saat itu, entah karena dia jaga image saat itu atau memang dia baik, aku tidak tahu.


Aku bergumam dalam hati saat melihat Rangga yang begitu baik membelaku di hadapan Kevin dan seluruh murid yang ada di lapangan itu,


“Kak Rangga ini cakep banget ya, sudah cakep baik pula,” aku bergumam sambil melamun tanpa menghiraukan Kevin yang saat itu berbicara denganku.


“Chelsea, berhubung kamu telat hari ini, kamu mendapatkan hukuman dari saya, mengerti Chelsea?? Chelsea!” Kevin melempar bolpoin tepat di kepalaku.


“Aduh, sakit tahu Kak,” sautku.


“Kamu itu di panggil beberapa kali enggak menyahut malah ketawa dan melamun sendiri."


“Iya maaf, aku enggak dengar,” jawabku sambil cemberut.


Lagi-lagi Rangga menyelamatkanku,


“Vin, sudah jangan bentak-bentak, jangan marah-marah terus dari tadi."


“Elo jangan menurunkan reputasi gue dong Nga, gue kayak begini biar mereka itu menyimak omongan gue."


“Iya gue paham, tapi enggak usah bentak-bentak begitu, ya sudahlah gue enggak mau berdebat sama elo, lanjutkan saja,” kata Rangga.


“Chelsea, sekarang kamu maju ke depan, dan bawa kesini bolpoin yang aku lempar tadi ke kamu.” Aku mengambil bolpoin yang mengenai kepalaku dan aku menuju ke depan.


“Ini kak bolpoinnya,” kataku sambil memberikan bolpoin tersebut.


“Oke, sekarang kamu, saya hukum apa ya enaknya?” kata Kevin.


“Oh ya, aku ingin kamu nyanyi sekarang."


“Nyanyi lagu apa kak?” jawabku.


“Terserah kamu mau nyanyi lagu apa, pokoknya kamu nyanyi,” kata Kevin.


Aku mulai bernyanyi dan mengeluarkan suara emasku, aku bernyanyi lagu seriosa yang saat itu membuat teman-temanku terkesima. Rangga dan Kevin ternyata ikut terkesima juga mendengar suaraku.


Hingga di akhir lagu, nada yang aku keluarkan sangat panjang hingga seluruh orang yang mendengarnya bertepuk tangan.


Kevin dan Rangga bertepuk tangan,


“Wow. Amazing ternyata suara kamu merdu sekali, di balik tubuh kamu yang tinggi besar, ternyata tersimpan suara yang amat sangat merdu, goodjob."


Mendengar aku di sindir tentang fisik oleh Kevin, aku langsung menyahut omongan Kevin dengan nada sedikit marah,


“Kak, jangan bawa-bawa fisik dong, semua orang sudah tahu kalau aku besar, enggak usah di beritahu begitu dong!”


“Oke-oke, maaf ya, sekarang kamu boleh kembali ke tempat kamu,” kata Kevin. Aku kembali ke tempat duduk sambil cemberut.


Seluruh pandangan teman-temanku tertuju kepadaku karena suaraku yang sangat merdu. Aku mendengar bisikan dari teman-temanku setelah aku bernyanyi.


"Suaranya merdu ya," aku berjalan sambil mendengar bisikan teman-temanku yang memujiku. Walaupun suaraku sangat merdu, tetap saja ada yang tidak suka denganku yaitu Gladys.


Gladys adalah gadis yang cantik, dengan tubuh tinggi langsing cuman yang di sayangkan adalah dia itu orang yang sangat angkuh. Gladys mempunyai genk bersama 2 orang temannya yang semenjak SMP menemaninya yaitu Cindy dan Rena.


Gladys tidak ingin aku menjadi pusat perhatian karena ia merasa dirinya paling cantik dan tubuhnya seimbang dengan berat badannya.


Tiba-tiba kaki Gladys menghalangi langkah kakiku, dan aku terjatuh.


“Bruk” suara tubuhku terjatuh di bawah lantai lapangan itu. Seketika itu teman-temanku yang melihatku terjatuh kaget.


Melihatku terjatuh, kemudian ada teman baruku yaitu Tere, Tere yang saat itu melihatku jatuh merasa kasihan, Tere menghampiriku dan berusaha membangunkanku.


“Hahahahahaha, ada Gajah jatuh nih Hahahahahaha,” kata Gladys mengejekku.


Semua teman-temanku akhirnya menertawaiku dan hanya Tere yang tidak tertawa saat itu.


“Chelsea, kamu tidak apa?” kata Tere sambil membantuku bangun.


“Iya enggak apa-apa,” kataku. Aku marah dan menahan rasa sakit setelah tubuhku terjatuh.


“Aduh, sakit tahu, kaki itu di tempatkan ke tempatnya jangan menghalangi jalan orang!”


"Ops, ada Gajah jatuh,” ledek Gladys kepadaku.


“Eh, kalau ngomong jangan sembarangan, mulut itu di jaga kalau ngomong!” Aku semakin marah hingga aku ingin menampar Gladys. Sementara Tere menenangkanku,


“Sudah Chel, sudah,” kata Tere.


Sementara Rangga dan Kevin dengan sigap langsung menghampiriku dan Gladys,


“Sudah, sudah.. Kalian ini apa-apaan sih!"


bentak Kevin kepada kami berdua.


Rangga dan Tere membawaku menjauh dari Gladys agar kami berdua tidak melanjutkan pertengkaran kami.