Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 24



Daren dengan nafas yang masih tersengal-sengal, dia istirahat sejenak.


"Ren, kamu enggak apa-apa?"


"Aku enggak apa-apa kok Ter."


"Maaf ya Ren, gara-gara aku kalian jadi susah kayak begini."


"Iya enggak apa-apa Ter."


Tiba-tiba upacara selesai dan Bu Anita datang menemui kami,


"Tere sudah siuman?"


Tere menjawab pertanyaan Bu Anita,


"Sudah Bu."


"Syukurlah kalau begitu, sekarang kalian bisa masuk ke kelas, karena upacara sudah selesai."


"Iya Bu."


Aku menggandeng Tere dan membantunya untuk berjalan, tetapi Tere menolaknya.


"Chel, tidak usah di gandeng juga, aku bisa jalan sendiri, aku sudah tidak apa-apa Chel."


"Ya sudah kalau kamu memaksa."


Aku melepaskan gandenganku, kami berjalan menuju kelas untuk memulai pelajaran.


Kami mengikuti pelajaran hari itu, hingga tiba waktunya istirahat.


Tiba-tiba aku melihat cowok ganteng berbadan atletik itu bermain basket di lapangan.


Aku mendengar beberapa gadis cheerleader latihan dan mendukung cowok itu, mereka mensuport pemain basket di pinggir lapangan.


Mereka menyebut namanya Doni,


"Doni...Doni...Doni...Semangat..."


Aku hanya bergumam dalam hati saat aku tahu nama cowok itu adalah Doni.


"Ternyata namanya Doni, akhirnya aku tahu namanya."


Aku tersenyum-senyum sendiri, ternyata Tere dan Daren mengawasi gerak-gerikku, tiba-tiba Tere dan Daren mengagetkanku.


"Dor!!!!..."


Aku terpingkal kaget, dan mereka hanya tertawa.


"Hahahahahaha... ketahuan kan siapa yang di lihat, hayo."


Tere dan Daren mulai menggodaku,


"Ciye, ada yang di taksir sepertinya, benar enggak Ter? Dari tadi memandang Doni dengan senyum-senyum sendiri, ciye."


"Sudahlah kalian ini apa-apa'an sih?"


"Ciye pipinya merah, ciye..."


Mereka berdua menggodaku.


Aku berlari ke kantin dan menghindar dari Tere dan Daren yang menggodaku.


Tere dan Daren menggodaku terus menerus, hingga aku menyenggol mangkuk yang di bawa oleh Angel.


"Maaf kak, aku enggak sengaja."


"Kalau jalan itu lihat-lihat."


Bentak Angel kepadaku, Angel adalah kakak kelasku sekaligus pacarnya Doni dan kapten cheerleader di sekolahku.


Tere dan Daren langsung membelaku di hadapan Angel,


"Maaf ya kak, kami enggak sengaja."


"Enggak sengaja, enggak sengaja, enak banget kalau ngomong!"


Doni tiba-tiba menghampiriku,


"Loe lagi, bisa enggak sih kalau jalan itu lihat-lihat donk."


Aku, Tere dan Daren menjawab,


"Iya kak maaf."


"Kamu itu kemarin cari gara-gara sama aku, sekarang kamu cari gara-gara sama cewek aku, apa sih mau kamu?"


Tiba-tiba tangan Doni hendak menamparku, dan seketika itu Daren menghentikan tangan Doni.


"Jadi loe berani sama gue? Loe itu masih di bawah kelas gue? Sok-sok berani sama gue."


Kali ini aku baru lihat Daren marah,


"Eh kak, loe apa enggak dengar? Kita sudah minta maaf tapi loe mau memukul teman gue, loe cowok apa cewek? Beraninya main tangan sama cewek."


Kemudian Doni memukul muka Daren,


"Sudah, sudah."


Tiba-tiba kak Rangga muncul memisah pertengkaran Doni dan Daren.


"He, kalian ini apa-apa'an sih? Sudah pada besar malah berantem saja, ini juga loe tuh kakak kelas lebih tua dari mereka. Sekarang loe berantem sama mereka, kok enggak punya malu banget sih loe."


Doni tidak menghiraukan omongan Rangga, dia langsung pergi meninggalkan kami.


Rangga bertanya tentang keadaan Daren.


"Ren, kamu enggak kenapa-kenapa kan?"


Daren menahan rasa sakit di mukanya.


"Aku enggak apa-apa kak."


"Benaran Ren? Kalau kamu berurusan sama Doni, jangan di hiraukan. Memang itu anak sukanya cari gara-gara."


"Iya kak."


Tiba-tiba bel masuk sekolah berbunyi,


"Kringggg...Kringggg...Kringggg..."


Aku, Tere dan Daren segera masuk ke kelas.


Terlihat muka Daren tergores setelah di pukul oleh Doni,


"Ren, aku obati ya luka kamu, aku merasa enggak enak sendiri Ren sama kamu. Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini."


Aku merasa bersalah kepada Daren,


"Enggak usah Chel, aku enggak kenapa-kenapa kok."


"Benaran Ren?"


"Iya Chelsea."


Tiba-tiba guru pelajaran selanjutnya datang, dan kami melanjutkan pelajaran. Setelah pelajaran selesai, bel berbunyi dan waktunya pulang.


Hari itu aku merasa bersalah kepada Daren, aku berencana mau lakukan apa saja buat Daren.


"Ren, aku mau ke rumahmu boleh ya?"


"Ngapa'in? Kan kita enggak ada tugas, iya kan Ter?"


"Iya Ren, sepertinya kita enggak ada tugas."


"Sebenarnya aku merasa bersalah sama kamu Ren, aku mau melakukan apa saja buat kamu untuk menebus rasa bersalahku."


Tere menjawab,


"Ya elah Chel, di omong lagi, Daren kan sudah bilang enggak kenapa-kenapa."


"Ya ampun Chelsea, kalau aku bilang tidak usah ya enggak usah."


"Ren ayolah, aku minta maaf sama kamu dan aku mau menebus kesalahanku."


"Chel, aku sudah memaafkan kamu, sudah ya, aku mau pulang"


Daren pergi meninggalkan aku, aku mengejar Daren saat itu.


"Ren, tunggu. Aku mau ngomong."


Daren berhenti dan dengan nafas yang tersengal,


"Mau ngomong apa? Tadi aku kan sudah maafkan kamu, aku sekarang di tunggu sama sopirku di depan."


"Aku ke rumah kamu ya."


Kali ini Daren marah dan membentakku,


"Kamu itu sudah aku bilang berapa kali sih Chel, kalau aku bilang enggak usah ya enggak usah. Kalau pun aku di marahi Mamaku, itu urusanku bukan urusan kamu. Dan kalau kamu ke rumah gara-gara aku seperti ini, yang ada Mamaku tanya yang bukan-bukan. Aku itu tahu bagaimana mengatasi Mamaku, jadi kamu enggak usah ke rumahku. Nanti yang ada Mamaku bisa-bisa berantem sama orang tua kamu."


Aku terkaget saat Daren meluapkan amarahnya kepadaku, aku tidak bisa membendung air mataku lagi saat aku di bentak oleh Daren.


Tere langsung menghampiriku tetapi Tere tidak bisa menghentikan langkah kakiku.


Aku menangis dan berlari ke arah mobil jemputanku.


Tere mengejarku hingga ke arah mobilku,


"Chel, tunggu!"


Aku tahu tujuan Tere menenangkanku tapi aku tidak menghiraukannya.


Aku menangis di dalam mobilku tanpa henti.


Pak Maman hanya melihat dari kaca spion tanpa menanyaiku.


Hatiku semakin sakit saat aku di bentak oleh siapa pun, orang tuaku tidak mau membentakku. Tetapi kenapa teman yang baru aku kenal malah membentakku.


Pak Maman memberikanku tisu untuk menghapus air mataku.


Siang hari ini tiba-tiba cuaca berubah menjadi hujan, dingin menyelimuti tubuh ini seakan tidak terasa berbaur dengan sakit hatiku. Tidak begitu lama perjalananku menuju rumah, hingga sampailah aku ke rumahku.


Aku menghapus air mataku, dan mencoba membendung air mataku di depan Ibuku yang saat itu menunggu kedatanganku pulang.


Aku turun dari mobilku dan menghampiri Ibuku,