
POV CHELSEA
Saat itu aku dan Daren tidak ikut Tere ke kantin, kami mengobrol di dalam kelas tentang pelajaran yang aku tidak paham sebelum istirahat tadi.
"Ren, ini bagaimana cara menghitungnya?" tanyaku kepada Daren.
"Jadi ini begini Chel," kata Daren sambil menulis cara yang aku tidak tahu.
"Oke, terima kasih ya Ren," jawabku.
Saat aku sedang asyik-asyiknya mengerjakan,
Daren tiba-tiba merasa jika Tere tidak muncul-muncul dari kantin.
"Chel, Tere kok enggak muncul-muncul ya?"
"Iya Ren, mungkin antre atau mungkin dia tersesat tidak tahu arah balik kelas? Hehehehehehe..."
"Hush, ngaco kamu Chel."
Saat kami asyik mengobrol, tiba-tiba banyak siswa berlarian menuju kantin. Kami tidak menghiraukan saat siswa berlarian menuju kantin karena kami pikir tidak ada apa-apa.
"Chel, itu ada apa ya kok banyak orang berlarian ke kantin?"
"Mungkin mereka lapar Ren, jadi wajar saja." Aku menjawab santai tanpa berpikiran tentang Tere yang dari tadi belum kembali.
"Firasatku kok enggak enak ya Chel?"
"Sudahlah Ren, jangan berpikir yang enggak-enggak."
Ketika kami asyik mengobrol, tiba-tiba kak Rangga berteriak memanggilku dan Daren.
"Chelsea, Daren cepat ke kantin, Tere berantem dengan Gladys dan teman-temannya," kata kak Rangga sambil nafasnya tersengal.
Aku dan Daren kaget mendengar berita tersebut.
"Ren, ayo kita ke sana," ajakku.
"Iya Chel."
Aku dan Daren langsung berlari ke arah kantin. Kami melihat Tere membuang air ke badan Gladys dan kawan-kawannya.
Seketika itu aku langsung menghampiri Tere.
"Ter, sudah."
Aku melihat baju Gladys, Rena, dan Cindy basah kuyup. Lalu aku mengajak Tere pergi menjauhinya.
Meja dan kursi yang ada di kantin berserakan tidak beraturan.
"Ter, ayo kita pergi dari sini."
Aku menggandeng Tere yang sedang emosi dan tampak berkeringat di wajahnya.
Ketika kami akan sampai menuju kelas, tiba-tiba Tere mengajak ke kamar mandi.
"Chel, aku mau ke kamar mandi, kamu ikut enggak?"
"Iya aku ikut Ter, Ren kamu kembali ke kelas dulu ya."
"Iya Chel, aku tunggu di kelas ya," jawab Daren.
Daren meninggalkan kami dan menuju kelas. Aku mengantar Tere menuju kamar mandi.
"Ter, kamu tadi kenapa kok tiba-tiba bertengkar di kantin sama Gladys, Rena, dan Cindy?"
"Iya Chel, aku tadi itu benar-benar emosi Chel, karena mereka yang memulai dahulu."
"Memang mereka ngapa'in? Kamu sampai seperti itu?"
"Tadi itu mereka tiba-tiba menyindir aku Chel, mereka tiba-tiba ngomong 'in kalau aku itu numpang terus sama kamu, apalagi tentang rencana kamu mau bayari aku fitnes."
Seketika itu aku memeluk Tere yang sedang merapikan seragamnya yang tidak beraturan.
"Ter, lain kali kamu jangan hiraukan siapa saja yang membicarakan kamu yang enggak-enggak, yang jelas aku tidak ada masalah. Yang bayari kamu memang kemauan aku, bukan kemauan kamu dan kamu memang enggak minta apa pun kepadaku."
"Iya Chel, terima kasih ya sudah mau jadi sahabat terbaikku."
"Iya Ter," jawabku.
Kami lalu keluar dari kamar mandi dan menuju ruang kelas. Tiba-tiba pengumuman dari sekolah berbunyi dan memanggil Tere untuk ke BK.
"Selamat siang, kepada yang bernama Tere kelas X.1, di harapkan kehadirannya ke ruang BK, terima kasih."
Aku dan Tere mendengar panggilan tersebut. Kemudian Tere berpamitan kepadaku untuk ke ruang BK.
"Chel, aku ke ruang BK dulu ya."
"Enggak usah Chel, aku bisa sendiri."
Tere berlalu meninggalkanku menuju ruang BK. Aku berjalan menuju ruang kelas dan tiba-tiba jam masuk kelas berbunyi.
Tampak bangku Gladys, Cindy dan Rena kosong. Setelah satu jam pelajaran selesai, tiba-tiba Tere datang.
"Ter, bagaimana? Kamu enggak kenapa-kenapa kan?"
"Enggak apa-apa Chel, jadi yang diskors mereka bukan aku."
"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya."
"Iya Chel."
"Ter, bagaimana ceritanya mereka diskors?"
"Kan yang memulai dulu mereka, dan aku tadi itu di keroyok oleh mereka, jadi sekolah memberikan hukuman kepada mereka," jawab Tere.
Tidak begitu lama Tere duduk tiba-tiba Gladys, Rena dan Cindy datang. Mereka mengambil tas, lalu pergi meninggalkan kelas. Menjelang jam sekolah selesai, ternyata guru yang mengajar tidak hadir dan kebetulan saat itu ada rapat sekolah. Jadi, kami pulang lebih awal.
Aku kasihan melihat Tere yang saat itu terlihat sedih karena kejadian disekolah, aku berusaha menghiburnya dan mengajaknya ke rumahku.
"Ter, ayo main ke rumahku."
"Maaf Chel, aku lagi ingin di rumah saja."
"Oh iya, bagaimana rencana kita untuk ngegym? Jadi kan?"
"Iya ya, terserah kamu Chel kapan di mulainya, kamu kabari aku Chel kalau kamu sudah siap."
"Oke Ter, aku balik ya Ter."
"Iya Chel, hati-hati."
Aku berjalan menuju gerbang sekolah dan Tere menuju parkir motor untuk mengambil motornya.
Setelah aku berdiri menunggu pak Maman menjemputku, tiba-tiba Tere menyapaku untuk berpamitan pulang.
"Chel, aku pulang dulu ya," teriak suara Tere berpamitan kepadaku.
"Iya Ter, hati-hati," jawabku sambil melambaikan tangan.
Daren tiba-tiba muncul dan menghampiriku yang sedang berdiri sendiri menunggu pak Maman menjemputku.
"Chel, belum di jemput?" tanya Daren.
"Belum Ren, kamu dari mana saja? Dari tadi aku enggak melihat kamu?"
"Aku dari toilet tadi, bagaimana kelanjutan ngegym? jadi enggak?"
"Jadi donk, kamu sudah ngomong sama mama kamu?"
"Belum Chel, aku mau ngomong tapi khawatir kamu tiba-tiba enggak jadi, apalagi tadi Tere berantem karena masalah itu. Bagaimana kalau menurut kamu?"
"Kalau menurut aku jadilah Ren, kamu bilang ya ke mama kamu. Nanti kalau mama kamu oke, kamu hubungi aku atau mama kamu yang hubungi ibuku."
Setelah beberapa menit kami asyik mengobrol, kemudian sopirnya Daren datang. Dia pun berpamitan kepadaku.
"Oke Chel, aku pamit pulang ya Chel. Sepertinya itu mobil aku sudah datang."
"Iya Ren," jawabku.
Daren meninggalkanku dan naik ke mobilnya.
"Bye, Chelsea," teriak Daren sambil melambaikan tangannya.
"Iya Ren," jawabku sambil melambaikan tanganku.
Aku menunggu sendirian di depan gerbang sekolah. Setelah 30 menit sudah aku menunggu pak Maman yang tak kunjung datang.
Aku mencoba meneleponnya saat itu.
"Halo Pak Maman, sudah sampai mana Pak? Sekolah sudah sepih Pak."
"Iya Non, sebentar lagi sampai Non, ini tadi bannya bocor. Jadi, saya ganti ban dulu Non."
"Oh begitu, ya sudah Pak saya tunggu."
Aku menunggu hingga pak Maman datang. Tiba-tiba tampak dari kejauhan mobil yang dikendarai oleh pak Maman datang.
Mobil tersebut berhenti tepat di depanku.
Aku langsung membuka pintu mobil bagian tengah dan aku mulai menaiki mobilku.