
"Bu, ayah sudah berangkat?"
"Sekarang sudah jam 06.25 WIB, ayahmu sudah berangkat, tinggal kamu saja." Ibu mengomel dan marah-marah.
Aku langsung melihat jam dan tepat pukul 06.25 WIB, aku langsung mengambil beberapa roti untuk sarapan di mobil.
Aku langsung berpamitan kepada ibuku dan berlari menuju mobil untuk berangkat.
"Chel, makanannya belum selesai kok langsung berangkat? Enggak kenyang kalau kamu makan begitu saja," teriak ibu dari dalam rumah.
Aku berlari dengan kencang dan aku langsung masuk mobil.
Untung saja pak Maman sudah stand by dan aku langsung berangkat.
Di tengah perjalanan, aku melihat mobil mogok dan ada seorang anak memakai seragam yang sama sepertiku, dan dari postur tubuhnya seperti Daren.
Aku menghentikan mobil pak Maman.
"Pak stop di depan mobil yang mogok itu pak."
Pak Maman berhenti tepat di depan mobil yang mogok, dan ternyata benar mobil mogok tersebut adalah Daren yang di antar oleh sopirnya.
Aku turun dari mobilku dan menghampirinya
"Daren," sapaku,
"Chelsea," jawab Daren.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, kamu pakai seragam yang sama sepertiku?"
"Iya, berarti kita satu sekolah dong?" jawab kita bersamaan.
Tanpa banyak pertanyaan, aku langsung mengajak dia berangkat ke sekolah.
"Ayo Ren berangkat sama aku, sepertinya mobil kamu servisnya lama, kalau menunggu taksi Online pasti juga lama, apalagi jamnya sudah telat."
"Oke, tunggu sebentar ya."
Daren menghampiri sopirnya dan mengambil tasnya.
"Pak, mobilnya tolong di benarkan dulu atau di bawa ke bengkel dulu, aku berangkat dengan temanku karena sudah telat jamnya."
"Iya mas, maaf ya mas."
"Iya enggak apa-apa."
Tidak begitu lama, Daren turun dari mobilnya.
"Ayo Chel."
"Ayo."
Aku dan Daren berjalan ke arah mobilku berhenti, kita masuk ke dalam mobil dan berangkat ke sekolah.
Sekitar 10 menit perjalanan kami, dan tibalah kami di depan gerbang sekolah.
Terlihat gerbang sekolah sudah di tutup 5 menit yang lalu. Kami berlari kencang dan minta tolong kepada security yang menjaga untuk membukakan pintu pagar.
"Pak, tolong bukakan Pak," Aku dan Daren memohon kepada security sekolah.
Security sekolah tidak bisa membantu kami,
"Maaf ya, pintu pagar sudah di tutup."
Kami merengek terus menerus agar di bukakan pintu pagar sekolah.
Setelah 5 menit kita merengek, tiba-tiba ada seorang guru BK dengan wajah killer menghampiri kami.
"Kalian kenapa telat?" tanya guru tersebut kepada kami karena kami telat.
Ucapku dalam hati,
"Guru ini killer banget, enggak lagi-lagi telat kalau kayak begini." Ia membentak kami,
"Kalian itu dengar enggak, saya bilang apa?" Bentak guru tersebut kepada kami.
Aku menjawab pertanyaan guru tersebut "Maaf Bu tadi saya telat bangun sekolah."
"Enak banget kalau ngomong, kemarin bikin onar sekarang telat, memang kamu bisanya cari gara-gara," bentak guru tersebut.
Dalam hatiku berkata
"****** gue, berarti dia tahu kalau kemarin gue berantem sama Mak Lampir!"
"Kenapa diam!" bentaknya sekali lagi.
"Iya Bu maaf," Aku menundukkan kepala saat guru tersebut membentakku.
"Ini juga, kamu murid baru ya, karena saya baru lihat kamu sekarang, kemarin kenapa tidak masuk, dan sekarang telat?" Giliran yang di bentak Daren.
Maaf Bu, saya pindahan dari Bandung, kemarin saya baru selesai mengurus administrasi dan perpindahan sekolah. Hari ini maaf Bu saya telat, karena mobil yang di kendarai sopir saya mogok dan saya harus menunggu beberapa menit, tapi untung ada Chelsea yang menolong saya," Daren menceritakan alasannya.
Guru tersebut memotong pembicaraan Daren.
Aku tersenyum dan bergumam dalam hati.
"Ini anak banyak cerita banget, sudah cukuplah dengan alasan mogok, pakai acara cerita pula, padahal sudah jelas salah ya salah."
Aku langsung di bentak oleh guru tersebut
"He, apa ada yang lucu? Apa kamu menertawakan saya ya!"
"Maaf Bu."
Akhirnya kami di suruh masuk tetapi kami dapat peringatan hari itu.
"Sekarang kalian saya maafkan, besok kalau kalian seperti ini lagi, saya akan memberikan hukuman dan menulisnya di rapor akhir semester ini, paham kalian."
"Paham Bu," jawab kami. Kami berlari meninggalkan gerbang sekolah. Tiba-tiba guru tersebut memanggil kami setelah kami berlari 5 langkah dari tempat kami berdiri.
"Tunggu!" teriaknya.
Aku bingung dan bicara dalam hati
"Aduh, salah apa lagi gue."
"Kalian sudah tahu kelasnya dimana masing-masing?"
"Saya sudah tahu Bu," langsung aku jawab dengan cepat.
"Saya tidak tanya kamu, saya tanya sama anak ini, menyahut saja kalau ngomong." jawabnya judes.
"Ya ampun, galak banget berurusan dengan orang seperti ini," gumamku dalam hati.
Sekarang giliran Daren yang tertawa karena aku di bentak, dan ia langsung di bentak oleh guruku tersebut.
"Kenapa kamu senyum-senyum?"
"Iya Bu maaf, saya tidak tahu dimana kelas saya," Daren menjawab dengan menundukkan kepala.
"Tidak tahu kelasnya saja senyum-senyum sendiri, sekarang kamu lihat di mading pengumuman, dan kamu antar dia ke arah mading untuk melihat dimana kelasnya," guru tersebut menunjuk ke arah mading.
Setelah kami diam, aku bertanya kepada guru tersebut.
"Permisi Bu, apa kami boleh masuk sekarang?"
"Iya silakan," kata guru tersebut.
Kami segera berlari dengan kencang menuju mading sekolah.
Saat tepat di depan mading, kami bingung mencari nama Daren dimana, karena kelasnya di bagi menjadi 10 kelas dengan jumlah murid yang tidak begitu banyak.
"Aduh, bagaimana ini Ren? Ini banyak banget daftar muridnya."
"Iya Chel banyak banget, bagaimana kalau kamu mencari di sebelah sana dan aku sebelah sini."
"Iya Ren."
Kita memulai untuk mencari nama Daren di mading sekolah. Tiba-tiba Daren memanggilku.
"Chel, ini namaku ada di sini, di bawah nama kamu di kelas X.1," Daren senang sekali karena sudah menemukan namanya.
Aku penasaran dan menghampiri Daren.
"Iya Ren benar, itu nama kamu."
"Jadi kita sekelas ya Chel," tanya Daren.
"Iya Ren, ayo kita mulai masuk kelas," ajakku kepada Daren sambil menggandeng tangan Daren secara tidak sadar.
Daren kaget dan memberhentikan langkahku walau masih 3 langkah dari kita berdiri.
"Chel?" teriak Daren tanda memberhentikan langkahku.
Tanpa dosa aku menjawab,
"Iya Ren," kataku sambil berbalik arah.
Daren hanya menunjukkan bahasa matanya kepadaku, ia memberikan kode kepadaku maksudnya apa.
"Ops maaf Ren, aku enggak sengaja."
Aku salah tingkah dan bingung harus bersikap seperti bagaimana kepada Daren.
Kami berlari menuju ruang kelas X.1.
Ketika kami berlari tiba-tiba sampailah kami di depan pintu kelas X.1.
Terdengar suara Kak Rangga dan Kak Kevin memberi pengarahan kepada siswa, kami mengganggunya dan mengetuk pintu kelas.
"Tok...tok...tok" Suara ketokanku agak keras.