
Sejenak Tere berpikir dan menjawab pernyataanku,
"Iya sudah Chel, kalau menurut kamu begitu."
Daren mengajakku dan Tere untuk masuk ke sekolah,
"Yuk masuk."
Kami berjalan menuju kelas, tetapi Tere memarkirkan motornya terlebih dahulu.
Aku melihat panggung sudah di pasang di lapangan, dan ternyata pengisi acara di situ bawa kostum masing-masing. Aku dan Daren bingung karena kita tidak membawa kostum.
"Ren, kamu lihat deh, mereka kok membawa baju ganti ya Ren, itu pengisi acara atau bagaimana ya Ren?"
"Iya Chel, aku juga bingung, bagaimana kalau kita tanyakan kepada kak Rangga atau kak Kevin?"
"Kita tanya Tere saja dulu bagaimana?" jawabku.
Tiba-tiba Tere menghampiri kami yang berada di pinggir lapangan.
"He, kenapa kalian enggak masuk?"
"Iya Ter, kita bingung dengan tampilan kita hari ini, pengisi acara hari ini kok pakai baju biasa sedangkan kita pakai baju seragam. Kita mau bawa kostum tapi khawatir karena ini kan acara sekolah, lihat deh mereka semua," kataku sambil menunjuk siswa yang mengisi acara.
Dengan spontan Tere menjawab,
"Bagaimana kalau kita tanya ke kak Kevin atau kak Rangga?"
Sejenak aku berpikir dan dengan cepat aku menjawab pertanyaan Tere,
"Iya Ter, pikiran kamu sama kayak aku tadi, ayo kita cari mereka."
Kami berjalan memutari lapangan dan memasuki satu per satu kelas tetapi tidak kutemui.
Setelah kami kelelahan mencari, tiba-tiba bel masuk berbunyi.
"Kring...Kring...Kring..."
Aku bergumam dalam hati,
"Aduh, bel masuk pula, padahal kita belum ketemu sama Kak Rangga atau kak Kevin."
Tere memutuskan untuk kita kembali ke kelas,
"Bagaimana lagi Chel, sepertinya memang kita harus masuk, dan menunggu mereka di kelas."
"Kenapa tidak menunggu di kelas saja sih?" tanya Daren dengan kesal dan mengerutkan dahinya.
Aku menjawab dengan nada kesal kepada Daren,
"Iya-iya, maaf, kita itu tadi panik Ren, jadi iya kayak begini."
Tere juga kesal karena Daren malah menyalahkan,
"Ya sudah, masuk saja dulu, nanti di tanyakan kalau di kelas."
Kami masuk ke kelas kami, dan setelah 5 menit, Kak Kevin dan Kak Rangga datang.
Tere langsung memanggilnya dan langsung bertanya kepada mereka.
"Kak, pengisi acara hari ini, apa boleh bawah kostum?" tanyaku.
Kak Rangga menjawab pertanyaanku,
"Maaf ya, saya lupa mengasih tahu ke kalian, kalau pengisi acara hari ini boleh membawa kostum dan lain-lainnya sesuai keperluannya, ingat yang pengisi acara saja."
Aku panik, dalam hatiku bergumam
"Aduh, bagaimana ini ya, bingung aku kayak bagaimana."
Kami bertiga langsung panik,
Aku bertanya kepada Tere dengan panik,
"Ter, bagaimana ini?"
Daren panik dan bertanya kepada Tere,
"Iya Ter, bagaimana ini?"
Tere langsung berpikir dan bertindak.
"Sekarang kalian telepon orang tua kalian, minta tolong suruh membawa perlengkapan kalian, kalau Chelsea kan ibu kamu sudah tahu perlengkapan apa saja yang kamu perlukan, apalagi kemarin kita mencari bareng-bareng.
Kalau Daren, kamu minta tolong ke mama kamu untuk membawa jas atau apalah, pokoknya di bawa dulu, urusan make up nanti bisa minta ke Chelsea. Bagaimana Chel?"
"Iya Ter, aku telepon ibuku dahulu."
"Aku telepon mamaku dulu ya Ter."
Aku dan Daren minta ijin untuk menelepon orang tua kami,
Aku meminta ijin kepada Kak Rangga,
"Kak, kami mau ijin telepon orang tua kami, kami enggak bawa kostum."
Kak Rangga mengizinkan,
"Iya silakan."
Aku keluar dan menelepon ibuku,
"Halo Ibu," kataku dengan suara panik dan tergesa-gesa.
"Bu, aku boleh minta tolong enggak?"
"Ya boleh dong sayang, memang ada apa?"
"Bu, tolong bawakan ke sekolah baju sama make up aku yang kemarin, aku tidak tahu kalau boleh membawa kostum."
"Oke, Ibu segera ke sana, nanti kalau Ibu sudah di depan gerbang sekolah, kamu keluar ya."
"Iya Bu."
Aku menutup telepon ibuku.
Setelah aku menelepon ibuku, aku melihat Daren yang lagi susah menelepon mamanya.
"Ren, bagaimana? sudah bisa?"
"Belum Chel, ini aku coba lagi."
Setelah 5 menit kemudian Daren bisa menghubungi Mamanya.
"Halo Ma."
"Iya Daren, ada apa?"
"Ma, bisa minta tolong bawakan jas atau apalah karena aku hari ini ada pentas seni, tapi aku enggak bawa baju ganti."
"Waduh, enggak ada mobil Ren, kalau menunggu taksi Online susah."
"Mama coba berangkat bersama ibunya Chelsea bagaimana?"
"Memangnya Chelsea juga menyuruh ibunya ke sekolah?"
"Iya Ma, tadi dia menelepon ibunya dan minta tolong ke ibunya untuk membawa perlengkapan pentas hari ini."
"Ya sudah, nanti mama nebeng ibunya Chelsea ya."
"Iya Ma, sudah dulu ya Ma." Daren menutup teleponnya.
"Bagaimana Ren?"
"Di rumahku mobilnya ke pakai, aku minta tolong mamaku untuk nebeng sama ibu kamu."
"Ya sudah, kita tunggu saja Ren."
Sudah 1 jam aku dan Daren menunggu orang tua kami, tiba-tiba ibuku menelepon.
"Chel, Ibu sudah di depan gerbang, kamu keluar ya, Ibu tunggu."
"Iya Bu, aku segera ke sana."
Aku dan Daren minta ijin kepada kak Rangga,
"Kak, permisi aku mau minta ijin untuk keluar menemui ibuku."
"Memangnya kenapa, ibu kamu kesini?"
"Aku sama Daren lupa bawa baju ganti untuk tampil nanti, terus aku sama Daren menyuruh orang tua kita untuk mengantarnya."
"Oke kalau begitu," kata Rangga.
Aku dan Daren bergegas untuk menemui orang tua kami di depan gerbang sekolah.
"Chel, ini Ibu masuk boleh?"
"Jangan Bu, aku bukan anak kecil lagi, aku bisa sendiri."
Tiba-tiba mamanya Daren ikut berbicara,
"Sudahlah, biar kita yang masuk."
"Enggak boleh sama guru di sini Ma, sekolah SD saja diantar sampai depan gerbang, sudahlah enggak usah memaksa masuk Ma."
Mamanya Daren mengancam untuk tidak memberikan baju untuk kami,
"Kalau kami enggak boleh masuk, baju ini tidak kami berikan."
Aku berembuk dengan Daren,
"Bagaimana Ren? kalau mereka masuk, ijinnya bagaimana?"
"Iya Chel, aku juga bingung," kata Daren sambil garuk-garuk kepala
Tiba-tiba dari kejauhan kita di lihat oleh guru BK yang kemarin menghukum kita. Seketika itu guru tersebut menghampiri kami.
"Kalian berdua ada apa berdiri di depan gerbang?" tanya guru tersebut.
"Ini Bu, orang tua kita mau antar baju untuk kita tampil hari ini, tapi mereka memaksa untuk masuk karena mereka ingin tahu kita tampil, kita bingung mau ijin ke siapa kalau orang tua kita masuk ke dalam melihat kita tampil, sedangkan hari ini tidak ada pemanggilan orang tua," kata Daren.
"Oh, jadi begitu, suruh masuk saja enggak apa-apa," tiba-tiba perkataan guru tersebut sangat halus.
Guru BK tersebut menghampiri mobil ibuku,
"Silakan masuk Bu," kata Guru tersebut dengan berperilaku manis.
"Iya Bu, terima kasih," kata mamanya Daren.
"Pak, tolong bukakan gerbangnya." perintah guru tersebut kepada security sekolah.
"Iya Bu," jawab security tersebut.