Big Is Beautiful And Smart

Big Is Beautiful And Smart
Episode 16



Dokter menuliskan surat ijin untukku,


"Tidak apa-apa Bu, kalau Ibu maunya 7 hari. Saya akan buatkan surat ijinnya selama 7 hari. Kalau mau sekolah, tolong datang kesini dulu ya Bu, untuk mengecek kondisinya."


Ibuku menerima surat ijin sakit dari Dokter,


"Iya Dokter, terima kasih."


Setelah di periksa oleh Dokter, aku segera pulang. Lagi-lagi aku harus naik kursi roda menuju mobilku karena kepalaku masih pusing.


Ibuku mendorongku sampai ke depan pintu, dan di depan pintu rumah sakit, Pak Maman telah menunggu kami.


Pak Maman membukakan pintu mobil untukku.


"Silakan non," kata Pak Maman.


"Iya pak, terima kasih," jawabku.


Aku masuk ke dalam mobil di pegangi oleh Pak Maman dan Ibuku.


Setelah aku masuk ke dalam mobil, aku dan Ibuku pulang ke rumah.


Di tengah perjalanan, Ibuku mampir untuk membelikan obat untukku.


Aku menunggu cukup lama karena obatnya di racik dahulu.


Setelah 2 jam aku menunggu di luar mobil,


tiba-tiba Ibuku masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan kami menuju rumah.


Lalu lintas hari ini sangat macet, hingga pukul 5 sore aku sampai di rumah.


Aku tidak boleh mandi, karena Ibuku khawatir kalau sampai aku terjatuh di kamar mandi, jadi Ibuku menyuruhku untuk tidak mandi dan hanya cuci muka saja di wastafel agar aku terlihat lebih segar.


Setelah aku mencuci muka, aku ganti baju dan berbaring sejenak di kasurku.


Aku seperti tidak ada daya untuk bangun, hanya berbaringlah yang saat ini aku inginkan.


Ibu mengambilkan makan untukku dan menyuapiku untuk makan.


"Chel, ayo bangun dulu Nak, setelah itu minum obat."


Aku membuka mata dan menuruti Ibuku.


Tiba-tiba suara Ayah datang "Assalamualaikum."


"Kok sepi ya, dimana semua ini, Ibu, Chelsea?" teriak ayah memanggilku dan Ibu.


"Bu, Ayah memanggil, mending Ibu keluar sebentar."


"Iya, sebentar ya Chel, Ibu keluar dulu."


"Iya Yah" teriak Ibu menjawab panggilan Ayah.


"Kok sepi Bu? Chelsea ke mana?"


"Chelsea sakit, tadi kena bola di sekolah, jadi pingsan selama kurang lebih 3 jam."


"Lah kok bisa? sekarang bagaimana keadaannya?" Ayah panik dan berlari ke arah kamarku.


"Chel, bagaimana keadaan kamu sekarang? masih pusing atau sudah membaik?"


"Agak lumayan pusing Yah, tapi kalau di buat berbaring enggak terasa sakit, kalau di buat jalan pusing."


"Apa kamu sudah minum obat, sudah makan?" Ayah semakin khawatir dengan keadaanku.


"Ini aku lagi makan, Yah. Setelah ini mau minum obat."


"Kalau begitu, Ayah yang menyuapi ya Chel."


"Iya Yah."


Ayah menyuapiku makanan yang sebelumnya di suapi oleh Ibu kepadaku.


Setelah aku selesai makan, Ayah mengambilkan obat untukku.


"Bu, obatnya dimana, tolong ambilkan minumnya sekalian Bu?"


"Iya Yah."


Tidak menunggu lama, Ibu datang ke kamarku membawa minum dan obat untukku.


"Yah, ini obatnya, dan minumnya." Ibu menyodorkan obat dan minuman kepada Ayah.


Ayah memberikanku obat agar aku tidak sakit lagi.


"Chel, kamu istirahat dulu ya, nanti kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa minta tolong ke Ayah atau Ibu."


"Iya Yah."


"Yah, Ayah."


Ayah terbangun dan menjawabku,


"Ada apa Chel? kamu mau minta apa?"


"Aku enggak minta apa-apa, Yah. Aku cuman mau tanya, Ayah kok tidur di situ Yah? Ayah kan bisa tidur di kamar Ayah. Bukannya aku mengusir ayah, tetapi kan mending Ayah istirahat di kamar Ayah"


"Chel, Ayah ingin menunggui kamu di sini, Ayah enggak mau kamu kenapa- kenapa, jadi Ayah tidur di sini saja ya?" kata Ayah.


"Ayah, aku enggak kenapa-kenapa, aku cuman butuh istirahat saja Yah, lagian aku kan sudah minum obat dari Dokter. Aku kasihan sama Ayah kalau menungguku di sini, padahal Ayah sendiri capai pulang kerja."


"Ya sudah, kalau kamu khawatir sama Ayah, nanti kalau ada perlu panggil Ayah atau Ibu ya Nak?"


"Iya Yah."


"Kalau begitu, Ayah ke kamar dulu ya, Chel. Cepat sembuh ya, anaknya Ayah dan Ibu" Ayah tersenyum, mencium keningku dan mengelus rambutku.


"Iya Ayah."


Ayah meninggalkanku dan menuju ke kamarnya.


Aku lebih cepat mengantuk karena obat yang aku minum membuatku sangat mengantuk.


Aku tertidur pulas dan aku terbangun saat alarmku berbunyi,


Kringggg..... Kringggg....Kringggg....


(Bunyi alarmku).


Aku langsung mematikan alarmku dan bergegas untuk mandi lalu bersiap-siap ke sekolah.


Saat aku mencoba untuk berdiri, tiba-tiba kepalaku pusing dan aku terjatuh ke lantai.


Kebetulan pagi itu, Ibuku ingin membawakan sarapan untukku.


Saat aku terjatuh, Ibuku sudah membuka pintu kamarku dan berteriak memanggil Ayahku.


Ibuku tidak kuat membantuku berdiri karena tubuhku yang besar ini,


Ibu berteriak dengan kencang memanggil Ayah,


"Ayah, Ayah, tolong Ibu Yah."


Ayah langsung berlari menuju kamarku.


Melihat aku terjatuh ke lantai, Ayahku dan Ibuku langsung membawaku ke atas tempat tidurku.


"Chel, kamu tidak apa-apa kan Nak?" kata Ayah dengan paniknya.


Mata Ibu berkaca-kaca menahan tangis air matanya saat melihatku terjatuh,


"Iya Chel, kamu tidak apa-apa kan?"


"Aku tidak apa-apa Ayah, Ibu. Maaf aku tadi tidak memanggil Ayah dan Ibu saat mau ke kamar mandi. Karena aku mengira kalau hari ini aku sudah tidak kenapa-kenapa. Jadi aku langsung berdiri dan ingin segera ke kamar mandi untuk persiapan ke sekolah."


"Kamu hari ini tidak usah ke sekolah ya Chel, Ayah dan Ibu tidak ingin kamu kenapa-kenapa, Dokter juga menyuruh untuk 1 minggu istirahat di rumah, nanti biar Ibu yang memberitahukan kepada sekolah kamu."


"Iya Yah."


Aku mematuhi perintah dari orang tuaku untuk istirahat di rumah saja.


Ibu menyuapiku makan dan Ayah menungguku selesai makan.


"Bu, sepertinya hari ini Ayah enggak ke kantor dulu."


"Kenapa Yah?"


"Aku kalau lihat anak Ayah sakit, enggak bisa tenang kerja Bu, apalagi tadi sampai jatuh-jatuh begitu, dan lagi Ibu enggak bisa memegangi Chelsea sendiri."


"Ya sudah kalau begitu, tadinya Ibu juga pikir begitu Yah, tapi Ibu takut kalau Ayah sibuk di kantor, memang di kantor tidak ada pekerjaan Yah?"


"Pekerjaan Ayah sudah selesai Bu, tinggal santainya saja, meeting juga sudah semua."


"Ya sudah kalau itu maunya Ayah."


Ibu menyuapiku dan memberikanku obat


setelah aku terjatuh di kamarku, aku ke mana-mana harus memanggil Ibuku jika aku ada perlu.


Ayah dan Ibuku menjagaku saat aku sakit di kamarku, padahal aku sudah besar.


"Ayah, Ibu, kenapa menungguiku saat sakit, padahal aku kan bukan anak kecil lagi."