
Tere dan Daren di antar keluar rumah oleh Ayah dan Ibuku karena aku tidak bisa mengantarnya keluar rumah.
*Keesokan hari*
Alarmku berbunyi seperti biasa, tetapi aku tidak tergesa-gesa untuk bangun, hanya saja aku mematikan agar tidak berisik.
Sejenak aku membuka mata untuk mematikan alarm, dan aku melihat makanan dan obat sudah berada di atas mejaku.
Tidak lama kemudian, Ibu datang menghampiriku dan menyuapiku.
"Pagi Chel, sudah bangun kamu Nak?"
"Iya Bu."
Aku berusaha untuk membuka mataku walau masih mengantuk karena efek obat yang aku minum.
Ibuku menyuapi makan untukku,
"Ayo di makan, Chel."
Aku membuka mulut ketika Ibu menyuapiku.
Sedikit demi sedikit makanan yang di berikan oleh Ibuku habis.
Setelah selesai makan, Ibu memberikanku obat untukku minum.
"Bu, apa Ibu sudah menyiapkan makan untuk Ayah?"
"Sudah Chel, itu Ayah sedang makan sendiri."
Aku merasa tidak enak karena aku, Ibu tidak bisa menemani Ayah makan seperti biasa.
"Bu, maafkan aku ya, gara-gara aku, Ibu jadi repot dan tidak bisa menemani Ayah sarapan."
Lalu, Ibu memelukku,
"Chel, tidak apa-apa, Ibu tahu kalau kamu sedang sakit. Jadi, kamu jangan merasa tidak enak begitu."
Tiba-tiba Ayah akan berpamitan ke sekolahku.
Ayah meminta surat ijin sakitku dari Dokter,
"Chel, Ayah berangkat ke sekolah kamu ya pagi ini. Bu surat ijin sakitnya mana? Biar Ayah bawa ke sekolahnya Chelsea."
Ibu segera mengambilkan surat tersebut dan memberikannya kepada Ayah,
"Ini Yah suratnya, Ibu masukan ke dalam amplop ya, Yah."
"Iya Bu."
Aku berusaha membujuk Ayahku agar tidak jadi ke sekolahku,
"Jangan Yah, biarin saja. Daripada Ayah ke sekolah mendingan Ayah menemani aku di rumah atau Ayah ke kantor."
Ayah tetap saja bersih keras untuk berangkat ke sekolahku,
"Kalau menemani kamu kan bisa nanti setelah pulang dari sekolah kamu. Kasus kamu ini harus di atasi Chel, kalau tidak di atasi bisa membahayakan diri kamu."
Aku tidak bisa menjawab apa-apa saat Ayahku sudah berbicara seperti itu.
Tepat pukul 07.00 wib. Ayah berangkat ke sekolahku.
Ibu mengantar Ayah sampai di depan pintu, tidak lama kemudian Ibu menghampiriku.
Tiba-tiba badanku terasa lengket karena 2 hari tidak mandi seperti biasa.
"Bu, apa aku boleh mandi? badanku terasa lengket dan bau Bu."
Ibu mulai khawatir lagi denganku,
"Bagaimana ya Chel? Ibu bingung karena kamu belum bisa berdiri sendiri, tiap berdiri kamu pusing, Ibu takut kalau kamu jatuh di kamar mandi."
"Bagaimana kalau aku belajar berdiri dulu, Bu? Perlahan nanti aku berjalan, siapa tahu tidak pusing lagi."
"Iya sudah kalau itu mau kamu, kalau kamu pusing, jangan di paksa ya Chel."
"Iya Bu, aku juga sudah bosan tiduran terus dari kemarin."
Perlahan aku bangun dari tidurku, aku memulai dari mengangkat tubuhku sendiri lalu aku duduk, sejenak aku berhenti. Setelah aku duduk, aku mencoba menurunkan kakiku dari kasurku.
Perlahan lahan aku mencoba berdiri, hingga aku berjalan pelan-pelan.
Kepalaku tidak terasa pusing lagi. Ibuku tersenyum melihatku berjalan tanpa terjatuh seperti kemarin.
Ibuku tersenyum dan memelukku,
"Chel, kamu tidak jatuh lagi."
"Iya Bu, aku boleh kan mandi?"
Mata Ibu berkaca-kaca terharu dan tersenyum bahagia,
"Iya, boleh Chel."
Aku berjalan menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit aku mandi, aku keluar dari kamar mandi dan menuju kamarku untuk ganti baju.
Ibuku memasak di dapur, dan aku membantu Ibuku, tetapi Ibuku melarangku untuk membantunya memasak.
"Chel, kamu butuh apa ke dapur? Kok tidak memanggil Ibu?"
"Aku tidak butuh apa-apa Ibu, aku ingin membantu Ibu memasak di dapur."
"Ibu, aku itu bosan berbaring di kamar terus, apa aku tidak boleh keluar kamar?"
"Boleh saja kamu keluar kamar, tetapi jangan bantu Ibu dulu, kamu kan bisa duduk di teras depan."
"Iya deh Bu, kalau begitu."
Aku berjalan menuju teras depan rumahku. Aku duduk sendiri menikmati suasana yang mendung dan dingin.
Angin sepoi-sepoi membuatku semakin terbawa suasana hingga aku mengantuk, tetapi pagi ini aku tidak ingin tidur.
Aku menikmati harum bunga melati di depan teras rumahku, dan aku melihat di atas meja ada koran hari ini.
Aku menikmati pagi ini dengan membaca koran, tidak lama kemudian, Ibu datang menghampiriku dan membawa segelas teh hangat untukku.
Ibuku meletakkan secangkir teh hangat di atas meja sebelahku,
"Chel, ini tehnya."
"Iya Bu, terima kasih."
Aku meminum perlahan-lahan teh hangat yang di berikan Ibu untukku.
Sesekali, Ibu mengajakku berbicara sambil menikmati pagi ini.
"Chel, Ibu boleh tanya?"
"Iya Bu, Ibu mau tanya apa?"
"Kalau semisal kamu, di jodohkan dengan anaknya tante Rani bagaimana?"
Mendengar Ibu berbicara seperti itu, aku langsung tersedak saat meminum teh hangat.
Ibu Panik dan menepuk pelan punggungku
"Maaf Chel, Ibu hanya bertanya."
Aku menjawab pertanyaan Ibu,
"Ibu, yang jelas aku tidak mau berpikir tentang hal itu dulu, karena aku belum 17 tahun, dan aku masih harus menempuh pendidikan kuliahku. Jadi, maaf ya Bu, kalau aku tidak bisa jawab sekarang. Lagian Daren kan teman aku Bu, yang jelas aku pikir-pikir lagi."
"Iya sudah Chel, kemarin itu waktu Tante Rani di jemput oleh Ibu, tante Rani bilang seperti itu ke Ibu, dia ingin kalau anaknya di jodohkan sama kamu. Lalu Ibu bilang, semua tergantung kamu bagaimana, kalau kamu tidak mau, Ibu tidak bisa memaksa."
Tidak lama kemudian terlihat mobil Ayah memasuki area halaman rumah.
Ayah turun dari mobil dan menghampiriku yang sedang mengobrol berdua dengan Ibu.
"Chel, kamu sudah bisa berjalan? apa enggak pusing lagi Chel? Mending kamu di dalam saja Chel, di luar udaranya agak dingin."
"Ayah, aku tidak apa-apa, kepalaku sudah enggak pusing kalau di buat jalan, di sini saja Yah, aku bosan di dalam terus rebahan."
"Tapi kamu benar sudah sehat kan?"
"Aku sudah sehat Yah, besok aku boleh ya ke sekolah?"
"Kalau ke sekolah, mending jangan dulu."
Aku merengek ingin ke sekolah kepada Ayahku,
"Ayolah Yah, cukup 3 hari saja, besok lusa saja ya Yah?"
Ayah bertanya kepada Ibuku,
"Bu, bagaimana? boleh enggak?"
Aku juga mencoba merengek kepada Ibuku,
"Boleh ya Bu? ayolah sekali ini saja."
"Bagaimana ya Chel? Ibu juga bingung. Bagaimana kalau kamu periksa ke dokter yang kemarin itu? kalau semisal Dokternya mengizinkan ya enggak apa-apa."
"Iya Bu, besok aku coba periksa ke Dokter yang kemarin ya Bu?"
"Iya Chel."
Ibu tiba-tiba bertanya tentang keadaan di sekolah tadi,
"Ayah, bagaimana tadi hasilnya di sekolah? sudah bertemu sama yang melempar bola ke Chelsea?"
"Sudah Bu, tadi Ayah menyuruh pihak sekolah untuk menskors selama 3 hari, kalau itu anak masih ganggu dan lebih kejam dari ini, Ayah bisa langsung bawa ke pihak berwajib."
"Ayah, sudahlah, aku bukan anak kecil Ayah. Aku kan bisa mengatasi sendiri."
Ayahku tersenyum dan mengelus rambutku,
"Walau kamu sudah besar, tapi kamu tetap gadis kecilnya Ayah dan Ibu, benar kan Bu?"
Ibu tersenyum kepadaku dan memelukku,
"Benar Yah, kamu itu masih gadis kecil Ayah dan Ibu sebelum kamu menikah, kalau sudah menikah ceritanya sudah bukan gadis kecil Ayah dan Ibu lagi."
Kami mengobrol bertiga dan tiba-tiba dari kejauhan aku melihat Tere dan Daren masuk dari pintu pagarku.
Terlihat dari kejauhan Tere membawa motonya dan Daren turun dari mobilnya.
Tere kaget dan tersenyum girang saat melihatku sudah bisa keluar rumah.
Tere teriak dan tersenyum ke arahku,
"Chelsea."
Aku membalas dengan senyuman.