
Aku berdiri di depan pintu kelas,
"Permisi Kak."
Kak Rangga, kak Kevin, dan seluruh murid di kelas langsung memandang ke arahku.
"Kamu telat lagi rupanya," kata kak Kevin sambil tersenyum tidak enak.
Dalam hatiku berkata
"Gue mau di apa 'in lagi sama orang ini?"
Kak Kevin marah dan membentakku,
"Kemarin telat, sekarang telat, maunya kamu apa? jawab!"
"Maaf Kak, tadi aku kesiangan bangun," kataku sambil tertunduk.
"Alasan terus kamu, ini siapa kok saya baru tahu kamu sekarang?"
"Aku Daren Kak, aku barusan masuk hari ini."
"Kenapa kemarin tidak masuk dan sekarang datang terlambat?"
"Kemarin itu belum selesai Kak mengurus pemindahan kesini, dan hari ini saya telat karena mobil saya mogok di jalan."
"Oh begitu, tapi di sini kalau telat ada hukumannya, jadi kalian harus di hukum?"
"Hukumannya apa Kak?" Daren bertanya kepada kak Kevin.
"Hukuman buat kalian simpel banget, kamu harus main gitar dan Chelsea yang harus menyanyi, karena hari ini saya ingin di hibur, bisa!"
"Aduh, Daren bisa apa enggak," Aku bergumam dalam hati dan khawatir.
Daren langsung menjawab dengan santainya,
"Bisa."
Tiba-tiba Mak Lampir menyahut omongan Kevin,
"Enak banget kalau hukumannya kayak begini! telat tiap hari juga enggak apa-apa."
Aku hanya terdiam mendengar komentar dari si Mak Lampir. Tiba-tiba Kevin yang menjawab pernyataan Gladys.
"Saat ini Masa Orientasi Siswa itu tidak seperti dulu, jadi kita tidak perlu kekerasan. Tapi kalian jangan memanfaatkan terus-terusan, karena ini bisa masuk ke nilai rapor kehadiran kalian."
Kali ini Kevin menjawab dengan bijaksana di hadapan semua murid.
Rangga bertepuk tangan mendengar Kevin berbicara dengan bijak sesuai aturan sekolah.
"Prok...Prok...Prok..." suara tepuk tangan Rangga,
"Hebat kamu Vin, ternyata kamu bisa sebijak ini dan mematuhi aturan yang ada, yang lainnya boleh give apluse kepada Kakak pembina kita yang baik hati."
Satu kelas bertepuk tangan, dan hanya Gladys dan kawan-kawannya saja yang terlihat tidak suka.
Wajah Kevin mulai memerah
"Sudah jangan begitu, malu tahu."
Ternyata Kevin tidak lupa dengan hukuman yang akan dia berikan kepadaku, tiba-tiba ia menyuruhku dan Daren untuk bernyanyi dan main gitar.
"Kalian harus di hukum menyanyi dan main gitar, tunggu sebentar saya mau ambil gitar buat kamu."
Kevin meninggalkan kelas dan menuju ruang kesenian untuk mengambil gitar.
Aku bertanya kepada Daren,
"Ren, memang kamu bisa main gitar?"
"Sepertinya bisa, pokoknya kuncinya yang gampang saja ya, hehehehe."
Aku mengusulkan lagu untuk kita bawakan,
"Kalau lagu Cinta dan Rahasia kamu bisa enggak?"
"Bisa."
"Oke, lagu itu saja ya Ren?"
"Oke."
Kami menunggu Kevin yang sedang mengambil gitar, tiba-tiba Kevin datang membawa gitar untuk kami.
"Ini gitarnya, sekarang kalian harus menghibur kami yang ada di sini," Kevin tersenyum jahat kepada kami.
Daren mengambil gitar dari Kevin dan kita mulai mencocokkan nada. Setelah itu kita mengeluarkan handphone untuk melihat chord dan lirik lagu.
Akhirnya kita berdua mulai menghibur satu kelas, aku menyanyi dan Daren bermain gitar.
5 menit sudah kami bernyanyi, dan kelas tampak hening ketika kami berdua menyanyi.
Setelah kami bernyanyi, seluruh siswa berdiri dan memberikan tepuk tangan kepada kami.
Aku heran tiba-tiba seluruh siswa menyuruh kita untuk bernyanyi lagi.
Rangga dan Kevin tersenyum dan menyerahkan kepada kami apakah kami melanjutkannya atau tidak.
Rangga menuruti semua murid dan berpura-pura menyerahkan kepada kami untuk melanjutkan penampilan kami atau tidak,
"Sekarang terserah kalian mau nyanyi lagi atau tidak, kalau menurutku sih lanjut saja."
"Oke, buat kalian semua, kami akan menyanyi lagi, lagu apa ya kira-kira?" tanyaku kepada teman-teman.
Tiba-tiba ada seorang siswa yang usul,
"Lagunya Dewa yang berjudul Kangen," kata salah satu orang murid.
"Oke, kami bakal menyanyikan lagu yang berjudul kangen buat kalian semua."
Aku dan Daren menuruti request dari teman kami.
"Siap Ren?" kataku kepada Daren.
"Siap dong Chel," kata Daren.
Setelah kami bernyanyi, kami kembali ke tempat duduk kami.
Rangga memberikan tepuk tangan kepada kami,
"Give apluse kepada mereka berdua."
Tiba-tiba Rangga mengumukan jika besok adalah hari terakhir untuk Masa Orientasi Siswa dan tiap kelas wajib ada yang menyumbangkan kreativitasnya.
"Besok adalah hari terakhir kita untuk Masa Orientasi Siswa, di harapkan untuk tiap kelas menyiapkan beberapa karya dan kreativitasnya untuk pentas seni besok. Kalian bisa menampilkan dance, nyanyi, band, atau apa saja untuk mengisi acara besok. Tugas hari ini kalian harus menyiapkan siapa saja yang akan tampil besok," Rangga menjelaskan kegiatan untuk hari terakhir Masa Orientasi besok.
Tiba-tiba bel istirahat berbunyi,
"Kringgg...Kringgg...kringgg..."
"Sekarang kalian boleh istirahat dan nanti setelah istirahat kita lanjut lagi," Rangga menyuruh kami untuk istirahat setelah mendengar bunyi bel.
Kami istirahat menuju kantin, Tere tiba-tiba menegurku,
"Sekarang ada teman baru lagi ya, aku di cuekin."
"Maaf Ter, aku tadi enggak kelihatan kamu sama sekali Ter, maaf ya."
"Iya enggak apa-apa Chel."
Aku mengenalkan Daren kepada Tere,
"Ter, kenalin ini Daren."
"Ren, ini Tere."
Mereka berdua bersalaman,
Kita bertiga makan di kantin dan mengobrol bersama, tiba-tiba jam masuk kelas berbunyi.
"Kringgg...Kringgg...kringgg..."
Kami mulai masuk kelas dan meninggalkan kantin.
Tidak lama kami masuk ke dalam kelas, tiba-tiba Rangga dan Kevin masuk ke dalam kelas. Rangga bertanya kepada kami untuk persiapan besok,
"Bagaimana untuk persiapan besok? kelas ini bakal menampilkan apa dan persiapannya bagaimana?"
Kemudian Tere mengusulkan kami berdua,
"Kak, bagaimana kalau Chelsea dan Daren yang mengisi buat acara besok?"
Aku membisiki Tere dengan suara lirih,
"Tere, jangan."
Rangga langsung menjawab pertanyaan Tere,
"Kalau menurut saya boleh saja, bagaimana kalau menurut kamu Vin?" Rangga bertanya kepada Kevin.
"Iya Nga, kalau menurutku juga begitu. Bagaimana yang lainnya setuju enggak kalau Chelsea dan Daren yang mewakili kelas ini?" Kevin bertanya kepada seluruh siswa.
Seluruh siswa langsung menyetujui, tetapi hanya Gladys yang tidak menyetujui.
"Iya setuju." kata seluruh siswa.
Tiba-tiba Gladys menyahut,
"Kita bertiga enggak setuju, kenapa hanya mereka berdua? Kita kan juga bisa menunjukkan bakat kita."
Mendengar ocehan dari Gladys, Rangga dengan bijaksananya menjawab,
"Semua murid boleh ikut serta dalam pertunjukan ini, tapi dalam 1 kelas menampilkan maksimal 2 pertunjukan, dan untuk pertunjukan yang pertama.
Saya menyarankan Chelsea dan Daren untuk pertunjukan ke 2 silakan kalian isi sendiri, kalau Gladys mau ikut berpartisipasi juga boleh."
Hari ke 2 Masa Orientasi Siswa, tidak ada kegiatan, tiba-tiba sekolah di pulangkan terlebih dahulu karena besok adalah hari terakhir dan pentas seni dimulai.