BETWEEN US

BETWEEN US
Berpisah



Sudah tiga hari Keanu dan Kirana ada di kota pelajar Jogja, mereka habiskan waktu kebersamaan mereka dengan jalan-jalan berdua mengelilingi Yogyakarta.


"Bang, jangan salah. Ini yang untuk mama dan ini yang untuk bunda" ujar Kirana kembali mengingatkan Keanu oleh-oleh perak yang kemarin dia beli untuk kedua wanita yang dia sayangi.


"Iya, Abang ingat." jawab Keanu sambil mempersiapkan keperluan Kirana untuk ospek besok senin.


Seperti janjinya pada papa Agung, Keanu mempasilitasi semua kenyamanan dan keamanan untuk Kirana. Walau sebenarnya tidak banyak, karena opa Rahmadi dan Oma Taris juga sudah mempersiapkan kedatangan Kirana.


"Sayang, janji jangan nakal selama jauh dari Abang." pinta Keanu sambil memeluk Kirana.


Mereka sedang berbaring berdua, saling berhadapan satu sama lain. Kirana hanya mengangguk menjawab permintaan Keanu, dia tidak ingin berdebat.


Besok Keanu akan pulang dan mereka akan berpisah, Kirana ingin perpisahan mereka dengan suasana penuh cinta. Jadi biarkanlah malam ini dia damai tidur didalam pelukan kekasih hatinya.


Walau sama-sama berat untuk berpisah, tapi mereka harus menjalani ini semua. Keanu mengecup kening Kirana cukup lama, dia ingin Kirana bisa merasakan cintanya. Seperti biasa, Keanu tidak akan mengakhiri ungkapan cintanya jika tidak mengecup bibir tipis yang menjadi candunya.


"Boleh nggak ya sama papa, kamu Abang bawa pulang lagi." ucap Keanu membuat Kirana terkekeh.


"Coba aja tanya papa, kalau berani." tantang Kirana.


Keanu mengeleng. Sudah jadi kesepakatan bersama, selama dia belum menyelesaiakan kuliahnya, maka dia dan Kirana akan dipisahkan.


"Abang pasti akan merindukan kamu." ucap Keanu menatap wajah yang nanti akan selalu dia ridukan.


"Abang nggak merindu sendiri. Kiran juga akan merindukan Abang" jawab Kirana.


Kirana masuk kedalam pelukan Keanu, sementara laki-laki itu tidak henti-hentinya megecupi pucuk kepala Kirana.


"Bang, hati-hati" ucap Kirana melepas kepergian Keanu.


Laki-laki itu melangkah meninggalkan gadisnya sambil melambaikan tangan sampai dia hilang, masuk kedalam pintu keberangkatan. Kirana ingin menagis, tapi dia tidak ingin Keanu membatalkan kepulangannya karena tangisan Kirana.


"Ayo" ajak opa yang menemani Kirana mengantar Keanu.


Kirana mengangguk lalu melingkarkan tanganya di lengan opa Rahmadi.


"Kamu pasti berat berpisah sama abang kamu" ucap Opa Rahmadi yang mengerti perasaan kedua cucunya.


"Mau bagaimana lagi Opa. Sejak kecil baru kali ini Kiran dan Abang berpisah." jawab Kirana sambil mengeratkan rangkulannya di lengan sang opa.


Opa Rahmadi mengusap sayang kepala Kirana dengan satu tangannya yang bebas. Apa yang dikatakan Kirana itu benar, Kirana dan Keanu tidak pernah berpisah sejauh ini. Wajar jika keduanya merasa sedih satu sama lain, tanpa opa Rahmadi ketahui perasaan sesungguhnya yang mengikat kedua cucunya itu.


Tiba di kediaman opa dan omanya, Kirana memarkirkan mobil opa Rahmadi langsung di garasi. Tidak berselang lama, Rezky juga tiba dengan kendaraan roda duanya. Berhenti tepat disamping kendaraan yang di kendarai Kirana.


"Baru pulang, Mas?" sapa Kirana begitu turun dari mobil.


"Iya" jawab Rezky sambil membuka helmnya.


"Kamu dari mana?" Rezky balik bertanya.


"Habis nganterin Abang Ken, dia hari ini pulang ke Bandung." jawab Kirana dengan jelas.


"Kirana masuk ya, Mas" lanjut Kirana ucapannya.


Melihat Rezky mengangguk, Kirana membalikkan badan untuk berjalan menuju pintu masuk.


"Kirana"


Kirana kembali membalikan badannya untuk melihat Rezky, setelah mendengar pemuda itu memanggil namanya.


"Persiapan untuk ospek sudah siap semua?" tanya Rezky.


Rezky baru tahu kemarin, ternyata Kirana jadi mahasiswa baru di universitas yang sama dengannya. Saat itu dia membantu tugas temannya yang membagi nama mahasiswa baru kedalam beberapa kelompok dan Rezky menemukan nama Kirana Larasati yang dia kenal.


"Sudah, Mas. Abang Ken yang mempersiapkan semuanya. Katanya, nggak mau Kiran kena hukuman" jawab dan jelas Kirana sambil tersenyum.


Kirana tidak tahu jika senyum yang dia berikan membuat hati Rezky bergetar. Tapi laki-laki itu pintar menyembunyikan perasaanya.


"Saya akan bantu kamu, biar nggak ada senior yang ganggu atau menghukum kamu" jawab Rezky.


"Jangan, Mas." tolak Kirana.


"Kenapa?"


Rezky tersenyum, tidak menyangka Kiran berpikir seperti itu. Biasanya orang akan senang diperlakukan istimewah, tapi tidak dengan Kirana. Dia terlalu polos dan sederhana, tapi kesderhanaan itu yang membuat Rezky semakin mengaguminya.


Pagi-pagi sekali Kirana sudah siap dengan semua perlengkapan ospeknya. Tadi malam dia bisa tidur nyenyak setelah Keanu menghubunginya melalui video, Keanu mendongeng menceritakan perjalanan pulangnya pada Kirana sampai dia melihat Kirana terlelap.


"Ayo"


Suara Rezky mengejutkan Kirana yang sedang memperhatikan posisi ojek online yang dia pesan.


"Kiran naik ojek aja, Mas. Sudah pesan" jawab Kirana sambil menunjukkan layar ponselnya.


Rezky hanya mengangguk, lalu melajukan motornya meninggalkan Kirana. Gadis itu tidak tahu jika Rezky berhenti di pinggir jalan dan menunggu gadis itu lewat bersama ojek yang di pesannya.


Kirana berada di aula bersama mahasiswa baru lainnya, dia hanya mengikuti petunjuk yang diberikan kakak seniornya Anto, teman Rezky yang pernah di kenalkan laki-laki itu saat mereka bertemu di Malioboro.


"Kamu kuliah disini ternyata" sapa Anto saat mengenali Kirana.


"Tidak berangkat bersama Rezky?" tanya Anto.


"Saya sendiri, Kak" jawab Kirana.


"Ayo saya antar kamu ke aula"


"Kakak kasih petunjuk arah saja" tolak Kirana yang di setujui Anto.


Tidak ada satupun teman satu angkatan yang Kirana kenal saat masuk kedalam aula. Hanya Rezky dan beberapa temannya yang pernah bertemu dengannya di Malioboro yang dia lihat di panggung.


"Baiklah adik-adik sekalian, tolong bebaris sesuai kelopok kalian"


Yudi yang bicara dan ada Sophia disampingnya yang kemarin menggoda Keanu saat Kirana melihat ke arah suara.


Kirana mencari teman satu kelompoknya dengan melihat nomor yang mereka kalungkan sesuai nomor kelompok mereka.


"Aduh" Kirana mengaduh saat tubuhnya terdorong.


"Maaf... maaf" ucap gadis yang menabrak Kirana.


"Enggak apa-apa kok, Mbak" jawab Kirana.


"Jangan panggil aku, Mbak. Kita sama-sama anak baru" ucap gadis itu.


"Namaku Olivia" Olivia mengulurkan tangannya pada Kirana.


"Hahaha" Olivia tertawa.


"Aku tahu, itu awal pertemuan kita. Nggak usah kamu ceritain ke aku, Kirana" lanjut Olivia ucapannya.


Kirana ikut tertawa. Benar yang di katakan Olivia, mengapa dia harus menceritakan kembali pertemuannya dengan Olivia.


"Pulang yok" ajak Kirana pada Olivia.


"Sebentar" pinta Olivia.


"Kirana, kamu beneran nggak ngerasa kalau selama ini, Mas Rezky..."


"Aku tahu, Olivia. Tapi aku bisa apa? Hati aku untuk, abang" jawab Kirana memotong ucapan Olivia.


Bohong jika Kirana tidak tahu perasaan Rezky padanya. Tidak sekali atau dua kali laki itu menunjukkannya. Tapi Kirana berpura-pura tidak mengerti, dia tidak ingin menyakiti pria itu dengan kata penolakan.


"Kamu nggak akan marah kalau aku coba dekatin dia, kan?" tanya Olivia


"Kenapa harus marah?" Kirana balik bertanya.


"Bukan begitu, selama ini aku pikir kamu juga suka sama mas Rezky, jadi aku..."


"Kejar kalau suka dan cinta sama dia" ucap Kirana kembali memotong ucapan Olivia dengan memberi semangat pada sahabatnya itu. Olivia tersenyum.


"Ayo pulang" ajak Kirana.


"Kita pamit dulu sama saudara aku." jawab Olivia yang diangguki oleh Kirana.


Membicarakan Rezky membuat Kirana mengingat masa awal kuliah. Di hari pertama itu, Kirana baru tahu ternyata pemuda yang kost di tempat oma dan opanya seorang ketua BEM.