Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 9 : Bersemuka



        Jungkook begitu setia bermenung di atas kursi duduknya. Sedari tadi jemarinya tiada henti mengurut pangkal hidungnya yang dilanda pening. Binar bola matanya memerah, menahan segala gejolak amarah yang ia coba untuk tahan, sejak Sohyun mencampakkannya seperti onggokan yang terbuang.


       Lain halnya dengan kedua temannya, Jimin dan Yoongi asyik memunguti selebaran uang yang berceceran di atas lantai. Dalam perangkat lunak otak mereka, hanya itu yang terlintas, meraup sebanyak-banyaknya sebelum membagi hasil. Pecahan uang kertas puluhan ribu won itu terhampar, di bawah kaki meja, sangat banyak. Entah berapa nominal digitnya, yang pasti nilainya melebihi total uang yang dipertaruhkan Jungkook bersama teman-temannya.


      Siapa sangka, Kim So Hyun akan mempermalukan dirinya. Harga diri Jungkook serasa dicabut paksa dan diturunkan di level serendah-rendahnya oleh perempuan yang menampar mukanya dengan bergepok uang dari dalam tas butut yang selalu dibawa Sohyun ke mana-mana. Sebuah tamparan keras yang akan sangat membekas dalam buku kisah kehidupannya.


      Wanita dingin nan misterius itu nyatanya mampu membuat Jungkook terbelangah berulang-ulang. Tak cukup membuatnya terperangah karena uang yang dimilikinya, Sohyun rupanya mengetahui kebusukannya sejak di hari pertama ia menyatakan cinta palsunya. Bahkan perihal Yeri yang ia suruh tutup mulut pun begitu rinci Sohyun jabarkan dengan jelas. Mustahil rasa-rasanya, bagaimana Sohyun mampu berpura-pura di depannya selama berbulan-bulan, membiarkan dirinya laksana badut yang tengah mempertontonkan kebodohan tanpa sadar. Padahal amat mungkin, Sohyun mengatakan yang sebenarnya, tanpa perlu repot-repot mengikuti permainan yang ia ciptakan.


      "Mau sampai kapan kau melamun di sana?"


      Suara Jimin merusuh renungan Jungkook. Dilihatnya, pria itu menimang-nimang uang yang sudah tertata. Jarinya berhenti memijit pelipisnya, Ia membuang muka ke arah lain, seolah platonik akan segala yang ada di sekelilingnya-semua berasa hambar.


      "Bergabunglah bersama kami, Kook! Kita nikmati uang-uang ini!" Yoongi menimpali ucapan rekannya, sama-sama sibuk menghitung uang kaget yang baru mereka dapat dengan cuma-cuma.


     "Benar kata Jimin. Kautahu, berapa jumlah uang yang diberikan Sohyun?"


      "Sepuluh juta won!" ucap mereka serempak.


      Jungkook kian menyebal, maka ia pun berdiri dari kursinya, menggerakkan kakinya yang berderus menginjak lantai, hendak menghampiri kedua orang yang terlihat gila harta itu. Ia berdecih, melempar tatapan buas.


      "Terserah mau kalian apakan semua uang itu, aku tidak peduli!" tandasnya lantas pergi dari sana. Tak peduli Yoongi terus meneriakinya agar kembali.


       "Hai, Jungkook! Mau Ke mana kau?"


       "Sudahlah biarkan saja dia. Sebagai lelaki, dia pasti malu sekali. Beruntung yang melihat kejadian ini hanya pelayan restoran itu saja," Jimin menyudahi seruan Yoongi. Lekas berdiri setelah mengantongi uang yang tak sedikit jumlahnya itu. Bisa dikatakan itu cukup untuk makan berbulan-bulan.


🔔


       Sedangkan di tempat berbeda, yang jauh dari ingar-bingar keramaian, dua makhluk berbeda lawan jenis itu tampak terdiam cukup lama. Sudah lebih dari satu jam mereka membatu semenjak dibawanya kabur Sohyun oleh Taehyung menaiki mobilnya. Kini mereka terdampar di tepian pantai.


       Debur suara ombak begitu kencang, bergulung-gulung air tersorot lampu mobil yang sengaja dinyalakan pemiliknya. Dia Kim Tae Hyung, lelaki yang mendadak salah tingkah di depan wanita yang lama tak dijumpainya. Sejak tadi pria itu terus mencuri pandang, pada sosok perempuan yang terpaku melihat derasnya gemuruh air asin yang berbuih. Sekarang apa lagi yang ia tunggu? Bukankah sudah sedari dulu ia mengharapkan pertemuan ini, bersua dengan sahabat yang telah tumbuh menjadi seorang gadis berperawakan bidadari. Sebagai lelaki, sepantasnya ia memulai atau paling tidak menciptakan atmosfer menenangkan, bukan bersembunyi pada senyap yang melintangi diri mereka.


      Ia pandang sekali lagi wajah tenang Sohyun, pantulan sinar rembulan purnama membias pada muka gadis itu. Jantungnya berdebar, menatap Sohyun yang belum bersuara atau menoleh balik padanya.


      Sementara itu, dalam kalbu Sohyun sendiri, hatinya teramat senang, dapat bertemu Taehyung yang beberapa hari ini terpaksa ia hindari. Namun lagi-lagi gadis itu tetap terdiam, ia ragu bahkan malu. Sohyun bukanlah tipe orang yang mudah mencairkan suasana. Setidaknya Taehyung jauh lebih baik daripadanya. Hanya saja, ke manakah Taehyungnya yang dulu begitu spontan akan suatu hal. Mungkinkah usia mempengaruhi cara berlaku Taehyung?


      Tak jauh berbedanya, hal itu pun sedarun mengacau otak seorang Kim Taehyung. Melihat perubahan besar yang terjadi pada Sohyun, membuatnya terperangkap dalam kecanggungan.


      "Kau apa kabar?"


       Ia sampai terkesiap, tetiba suara lirih Sohyun mempertanyakan kabarnya. Taehyung berdeham kagok. Memposisikan diri sewajarnya di depan Sohyun yang tetap tak mau berpaling memandangi gulungan ombak pantai pada malam hari.


       "Seperti yang kaulihat. Aku baik, Hyun ...."


       Sohyun tak lantas menjawab. Senyum tipisnya terbit, walau sebatas selayang pandang. Taehyung yang terjebak pada remang lampu dalam mobilnya tak mengetahuinya. Yang ada di benaknya adalah rasa takut, apabila sahabatnya itu marah hingga mendiamkannya seperti tadi.


     "Em..., maaf baru menemuimu sekarang. Maafkan aku yang dulu pergi tanpa memberi tahumu dulu."


       Sohyun lantas menolehkan kepalanya, netranya telah menanar, barangkali sejak tadi, gadis itu berusaha menahan air matanya.


       "Terima kasih, terima kasih karena kau tidak melupakanku."


       "Aku akan jadi pria terjahat sejagat raya, bila berani melupakan sahabat terbaikku. Kau, Kim So Hyun, satu-satunya orang yang paling aku rindu di luar keluargaku."


        Serentak keduanya mengembuskan napas. Lalu dengan keberanian yang entah dari mana asal datangnya, Taehyung meraih telapak tangan Sohyun yang lama berdiam dalam kepal. Sohyun terkejut, memandangi tangan yang dahulu begitu seni berubar kukuh dan lebih besar darinya. Ia membiarkan saja, Taehyung menelusuk ke sela-sela jemari tangannya. Bahkan Jungkook yang mengaku kekasihnya, tak pernah sekali pun ia izinkan sembarang, menyentuh kulitnya.


        "Waktu itu, aku belum sempat menolongmu." Taehyung mulai mengingat peristiwa lalu.


      "Tidak masalah. Aku justru penasaran, apa yang preman-preman itu curi, sampai kau berlari sekencang itu?"


      Taehyung mendesis apabila mengingat peristiwa tempo hari. Kalau saja ia mampu mengontrol laju kakinya, Sohyun tidak akan tertubruk badannya hingga membuat gadis itu kesakitan di pinggir jalan tanpa siapa-siapa yang membantu.


       Taehyung memainkan jari telunjuk Sohyun, hal pertama yang acap kali pria itu lakukan jika sedang dilanda suasana hati yang bimbang. Sohyun hanya tersenyum, Taehyung tak sedikit pun berubah.


      "Kau ingat dengan janjiku?"


      Gadis di sebelahnya mengangguk.


      "Aku rela kehilangan apa saja, tapi dalam tas itu ada lonceng itu, aku tidak bisa merelakan benda yang sudah lama dinanti olehmu hilang sebelum berada ke tangan pemiliknya," terang Taehyung menatap dalam-dalam mata sayu yang terus memandang, tiada mau berpaling.


      "Dan sekarang, sesuai janji, aku akan memberikannya padamu." Dianjurkannya benda mungil yang telah terkelupas dari warna aslinya. Lonceng kembar berbahan kuningan, yang telah begitu amat lama, tersimpan dalam sebuah kotak.


      Perlahan tangannya menganjur, menerima benda tersebut dengan tangan bergetar. Sejurus lamanya, cairan menyembul di pelupuk mata, Sohyun terisak, tersedu-sedan memandangi genta kecil yang telah lama ia inginkan. Mungkin itu bukanlah benda berharga, Sohyun masih ingat, berapa harga yang tercantum, tidak lebih dari satu won. Nominal yang tak ada bandingannya dengan uang yang baru ia lempar ke muka Jungkook malam ini. Namun apalah arti harga bila disejajarkan dengan kenangan di baliknya.


     "Apa aku membuatmu sedih?"


     Kepalanya mendongak, bersobok pandang dengan mata Taehyung. Laki-laki itu terlihat khawatir, hingga tanpa ia sadari, Taehyung menyeka air matanya yang luruh. Mengusapnya pelan seperti ketika dahulu ia menangis.


      "Tidak." Sohyun menggeleng. "Aku hanya tidak tahu cara mengungkapkan perasaan bahagiaku. Aku senang, Taehyung, sangat gembira. Tapi—dibanding ini, kedatanganmu jauh lebih berarti buatku." Dengan berderai-derai, Sohyun menjawab seutas tanya dari Taehyung.


      Taehyung berdengu sebelum menjatuhkan tubuhnya, mencangkum Sohyun dalam lindungan dada bidangnya. Tangannya bergerak lamban, mendebik punggung Sohyun yang bergetar, sementara sahabatnya terus menangis tertahan-tahan.


      Malam itu, suasana berubah syahdu. Segala yang telah lama terkunci dalam hati masing-masing terbuka, walaupun tak sepenuhnya, karena Sohyun masih pada bentengnya yang kokoh. Dia bungkam ketika Taehyung menanyakan kehidupannya selama lima belas tahun ia pergi. Dia jujur terhadap apa yang ingin ia bagi, dan memilih menghindar-mengalihkan topik-atau diam tanpa jawaban.


      Mobil yang dikendarainya memasuki area jalan menuju perbukitan. Di sisi kanan dan kiri, pohon pinus sudah tampak menggundul, mulai ditinggalkan daunnya yang beberapa waktu lalu begitu lebat, terpancang kuat pada tiap helai rantingnya. Musim gugur dirasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena dua sejawat itu, kini dipertemukan dalam ruang dan waktu yang sama.


      Sohyun turun ketika mobil berhenti di depan gerbang rumah. Berjalan ke sisi kiri, menatap Taehyung yang tersenyum tulus padanya. Alisnya bertaut, meninjau raut sahabat lelakinya.


     "Mau sampai kapan kau terus tersenyum seperti itu?" Sohyun bertanya, mengetahui sahabat lelakinya itu terus mengumbar gelak manis sejak tadi.


      "Kenapa? Kau tidak suka?"


     Taehyung semakin melebarkan senyumannya. "Apa sangat kentara?"


      "Aku hanya bercanda, Taehyung. Kau segeralah pulang, terima kasih sudah mau mengantarku sampai rumah." Sohyun mundur beberapa langkah setelah mengucapkannya. Memberi ruang bagi mobil yang dikemudikan Taehyung berlalu pergi.


     "Padahal aku berharap kau akan jujur mengatakannya." Taehyung mencebik bibir, berpura-pura sebal. Lalu terkikik melambaikan tangan pada Sohyun yang memandangi dirinya dalam kesadaran penuh. Gadis itu, untuk pertama kalinya, setelah lama bersembunyi dalam tudung kesunyiannya, tersenyum begitu lepasnya. Taehyung tidak berdusta, ia sungguh sangat menyukainya, lipatan halus yang terbentuk, serupa Sohyunnya ketika masih kanak-kanak.


     "Kau semakin cantik ketika tersenyum."


      Sohyun tak meluruhkan bentangan senyumnya, mendengar kata-kata itu meluncur dari dua belah bibir Taehyung. Pria itu yang mulanya malu-malu perlahan menunjukkan aslinya.


      Taehyung bersiap akan pergi, namun sejurus lamanya, ia justru mematikan derum mesin kendaraannya. Tampak melepas sabuk pengaman, seperti hendak turun dari mobil. Benar, kini Taehyung betulan keluar dan mendatangi Sohyun yang tercenung.


     Taehyung sekarang memeluknya.


      "Kenapa kau melakukannya?" Sohyun bertanya lirih dalam dekapan Taehyung.


      "Meski aku tidak tahu apa yang selama kaualami ... yakinlah, Sohyun, sekarang kau tidak lagi sendirian. Kau ingat saat pertama kalinya kita bertemu? Ketika itu, aku sangat penasaran, apa alasanmu bersembunyi di semak-semak, menangis ketakutan. Walaupun kau berulang kali mengatakan hanya karena dikejar anjing hutan-aku merasa ada alasan lain yang sengaja kau tutupi."


      "Kim Tae Hyung!" Sohyun berusaha lepas, namun yang ada, Taehyung semakin kuat mendekap tubuhnya.


      "Kala itu aku masih tidak tahu apa-apa tentangmu. Hingga aku hanya bisa mengingat-ingat ekspresi wajahmu, aku terus memikirkannya sampai di hari ini, di detik ini."


      Sohyun tidak berkata apa pun. Melainkan jatuh—terlarut dalam buai kehangatan yang ditawarkan Taehyung padanya.


       Taehyung sedikit merenggangkan jarak. Kini Ditatapnya bola mata yang berkaca-kaca milik Sohyun. Sejak bertatapan pertama kali kepulangannya ke Korea, mata yang sekarang dipandangnya menyiratkan luka mendalam. Luka yang terbenam begitu jauh ke dasar kerak hati, dan tak seorang pun tahu. Semalam-malamam Taehyung berkutat pada pemikirannya, dan sekarang setengah jawaban itu terbalas, Sohyun dan lukanya, semakin nyata dalam sorot keletihannya.


     Dalam berbisunya, Sohyun tertegun. Itulah yang ia takutkan sedari awal, Taehyung amat mengenalnya. Lebih dari siapa pun.


      Setelah dirasakannya lama ia memeluk tubuh gadis itu, Taehyung berujar seraya melepas rengkuhannya. "Sohyun, hari sudah tengah malam ... maaf membuatmu menunggu. Istirahatlah!"


     Gadis itu mengangguk saja. Bukan ia tak peduli atau menulikan telinga terhadap segala perkataan Taehyung, Sohyun hanya termenung, merenungkan ucapan yang berhasil menyentuh kerak hatinya yang terdalam.


       Matanya terus mengekori pergerakan Taehyung, setelah pria itu kembali memasuki kendaraannya. Mobil melesing, sekali lagi, pria yang sudah duduk di balik kemudinya itu melambai, pada sahabat perempuannya. "Kau tidak sendiri, Hyun."


     "O, kau hati-hatilah di jalan!" Seruan Taehyung berbalas pesan darinya.


      Kemudian, Taehyung memelesat bersama kendaraannya. Meninggalkan Sohyun seorang diri di istananya. Usai sudah perjumpaan mereka di hari yang melelahkan. Sohyun bersegera menggeser gerbang rumah. Melintasi taman di halamannya yang luas.


      Kakinya berhenti melangkah, saat mobil yang biasa dipakai Jonghoon telah tiba di rumah. Itu berarti, ibunya telah kembali dan ia harus bersiaga dengan topengnya.


🔔


       Yoon eun yang telah tiba di kediamannya setengah jam lalu begitu khusyuk, duduk di sofa tunggal yang biasa ia pakai. Tangannya sibuk mengutak-atik video yang baru didapatnya dari salinan rekaman kamera pengawas yang terpasang di seluruh bagian rumah. Bola matanya berhenti menonton tatkala suara ketukan kaki dari arah muka pintu datang. Membuat senyum kecutnya muncul. Tidak menekan bel atau mengetuk pintu, hanya satu orang yang berani melakukannya di rumah ini, siapa lagi jika bukan putrinya.


      Sohyun melewati ruang tengah seperti biasanya. Tanpa bertegur sapa, ia melenggang seakan Yoon eun tidak pernah ada dalam subjek penglihatannya.


      "Tidak ingin menanyakan kabar ibu?"


      Sohyun menjeda langkah yang akan menaiki tangga. Mendadak pertanyaan ibunya itu menggelitik relung hatinya. "Haruskah?"


       "Ibu pergi selama dua minggu dan tidak berkomunikasi denganmu, lebih tepat lagi, kau sengaja memutus kontak. Sudah tentu kau perlu tahu."


       Sohyun tersenyum miring, membalikkan badan menatap Yoon eun yang masih ada di tempat ternyamannya. "Melihat Ibu bisa bicara dan bersantai di atas sofa dengan secangkir ekspresso ... itu sudah cukup untukku mengetahui kalau Ibu baik-baik saja."


     Yoon eun berdengu, embusan napas kasar menguar. Dilihatnya Sohyun melangkah, dengan gerakan kecil, anak itu mendatanginya, menganjurkan tangan kanan ke muka Yoon eun, tampak seperti meminta sesuatu.


    "Ada apa? Kau ingin sesuatu dariku?"


     Sohyun mengangguk, "Hari ini aku menghabiskan banyak sekali uang."


      Jawaban jujur Sohyun kontan menggelakkan Yoon eun, dengan angkuh, ditepisnya tangan itu dari pandangannya. Kemudian berkata sarkastis. "Sejak kapan kau jadi peminta-minta? Kaupikir aku akan memberikannya dengan mudah? Tidak, Sohyun. Kalau kau terus bersikap tak ada sopan kepadaku, jangan harap kau akan menerima satu sen pun dariku."


      Giliran Sohyun yang tergelak. Walau lirih, jelas gadis itu tersenyum puas. "Baguslah. Dengan begitu, Ibu tidak perlu membuang-buang banyak uang untukku. Karena sebenarnya aku juga tidak butuh."


      Yoon eun bangkit, menggampar pipi perempuan yang berani berlaku kurang ajar di depannya.


      Sohyun tak bereaksi banyak, hanya saja, kini telapak tangan kirinya menyapu pipinya yang terasa panas. Tamparan itu tak ubahnya selingan sebelum perang antarkata dimulai.


       "Benarkah kau sudah tidak butuh uang dariku?" tanyanya seperti mengejek pernyataan yang diutarakan putrinya.


       "Aku memang tidak lagi membutuhkannya. Dan ... aku mohon izin pada Ibu," tutur Sohyun lebih tenang.


       "Izin untuk apa? Bukankah kau sering berbuat semaumu tanpa menunggu persetujuanku?"


       Sohyun bersilengah, akan kata-kata ibunya. Lalu sedikit maju melihat air muka sang ibu yang berhasil dibuatnya berang.


       "Aku ingin keluar dari rumah ini. Secepatnya!"


        Refleks Yoon eun menampar Sohyun untuk kedua kalinya, sampai-sampai terjengkang, terbentus meja. Sohyun tertunduk sesaat, matanya membuntang sekejap melihat video yang memperlihatkan dirinya dan Taehyung di dalam tab yang menyala.


       "Apa karena pria itu, Kim So Hyun?"


       Sohyun tergugu menelinga bentakan ibunya. Perlahan kepalanya menengadah. Tersenyum miris menatap Yoon eun yang tak juga sadar.


      "Semuanya karenamu, Bu. Kau yang membuatku ingin pergi, bukan hanya dari rumah ini, tapi juga dari dunia ini."


       Sohyun lekas berdiri tegap. Mengulas senyum tipisnya yang khas, seakan tak pernah terjadi apa-apa di antara anak dan ibu itu. "Sekarang aku ingin istirahat. Karena aku sudah pulang, lebih baik Ibu tidur, aku tidak ingin melihatmu jatuh sakit karena sikap keterlaluanku hari ini, Bu. Permisi."


      Yoon eun tidak mengatakan apa-apa selain bantingan benda keras sebagai pelampiasan kekesalannya. Sedang Sohyun, tetap berjalan menuju kamarnya, tanpa niatan menoleh barang sedetik. Gadis itu sungguh teramat lelah. Lelah hanya untuk bertahan.