
Yeri pulang ke rumahnya sendirian. Tanpa kawan. Ketukan sepatunya terasa lamban, terseok lelah menyusuri sudut rumahnya yang sederhana bercatkan putih sedikit tergilas usang. Tidak seperti biasanya, dirinya pulang lebih cepat dan membuat ibunya terheran. Gadis itu menyelonong tanpa salam, bertambah bingung Hye In hingga mengekori putrinya masuk ke dalam kamar. Berkali-kali pula, telinganya menangkap embusan napas berat keluar dari mulut Yeri yang bungkam sejak memasuki rumah.
"Apa terjadi sesuatu yang buruk? Mukamu tidak pernah sekusut ini sebelumnya."
Yeri malas menjawab, justru tengkurap, menyembunyikan wajahnya di bantal. Sungguh ia teramat kesal sekarang. Semua karena Sohyun—karena kata-kata Sohyun.
Ia sadari dirinya egois. Lebih pantas Sohyunlah yang marah padanya. Atas perbuatannya yang sudah membuat Sohyun dalam bahaya. Seharusnya dialah yang patut disalahkan, bukan sebaliknya.
Mengetahui gelagat aneh menimpa sang anak, Hye In menepuk bahu Yeri agar putrinya menghadapkan muka padanya. Respons yang diberikan Yeri tak ubahnya selingan belaka, gadis itu sekilas melirik, membenamkan wajah lebih dalam setelah sebelumnya mengintip dari balik bantal perseginya.
Hye In makin penasaran, namun segera surut menyadari watak Yeri yang tak akan berubah dengan paksaan. Sebelum ia hendak meninggalkan kamar, ia berucap lirih, "Tadi pagi ada seseorang yang datang ke rumah, ibu berniat menceritakannya padamu, tapi rupa-rupanya suasana hatimu sedang kacau. Dia bilang, dia adalah temanmu," Hye In mengadu.
Perempuan itu terperanjat, "Temanku?"
Hye In mengangguk. Batal keluar, manakala Yeri terbirit-birit memegang tanganya—menahan.
"Ibu tahu siapa dia?" desak Yeri semakin ingin tahu.
"Dia tidak memberi tahu namanya. Ibu saja kaget, kau bisa memiliki teman sepertinya. Kau tahu, dia benar-benar baik, datang menjenguk ayahmu dan memberikan banyak barang dan uang."
Pikiran Yeri mengawang. Perkataan sang ibu menuju pada satu sosok yang membuatnya jengkel hari ini. Tidak ada orang lain lagi yang patut dicurigai, terkecuali Sohyun. "Apa orang itu memakai kursi roda?"
"Wah, jadi benar dia temanmu? Yeri, kau harus bersikap baik padanya. Kenapa tidak bilang kau memiliki teman sekaya itu?"
"Lalu apa kalian menerima barang pemberiannya?"
"Tentu saja."
"Berapa uang yang dia berikan?"
"Lima belas juta Won—"
"Apa?"
Terhenti semua perkataan Yeri. Mulutnya terkatup tak lagi mendesak ingin tahu. Semua jawaban Hye In sang ibu mendadak membungkam keingintahuannya yang mendalam sedari awal.
"Kau sepertinya tidak suka. Jika temanmu itu tidak datang dan membantu, mana mungkin ayahmu akan dioperasi besok?" Hye In lekas pergi usai menggumam.
Yeri yang syok menjatuhkan diri, meluruh ke lantai. Yeri benar-benar tidak habis pikir dengan perlakuan Sohyun. "Kenapa sulit sekali menebak jalan pikirannya?" dengusnya, tak sadar menitikkan air mata digenangi perasaan campur baur. Setelah ini apa yang harus ia lakukan? Merasa tak ada muka lagi menghadapi Sohyun.
🔔
Jemari tangannya saling bertaut, meremat tiada henti. Menanti harap yang tak kunjung datang menampakkan diri. Shen Nan bahkan telah menghabiskan dua cup ramen instan di depan kedai mini market ditambah sebotol minuman dingin berisi 1500 mL. Ukuran besar untuk dilahap seorang wanita sepertinya.
Jujur saja, sekarang ini jantungnya berdegub kencang. Ragu membayangi, apakah pilihannya tepat membuat janji pertemuan di waktu dan tempat semacam ini. Terlebih di cuaca sedingin saat ini, namun apa boleh buat, situasi mengharuskan Shen Nan melakukan ini, ia perlu tahu seperti apa rupa gadis yang sanggup membuat Taehyung luluh dan menyerah pada rencana perjodohan mereka. Bagaimanapun rasa kecewa dan luka telanjur ada, mengisi ruang-ruang kosong di dalam relung hati.
Sementara dari kejauhan, Sohyun yang baru tiba di lokasi dengan menaiki bus kota, gegas turun dibantu beberapa orang. Ia melaju selepas ucapan terima kasih menggaung dari mulutnya. Tampak melihat-lihat sekeliling, memperhatikan sekumpulan orang yang hilir mudik di pedestrian jalanan lengang.
"Rambut sebahu, bermata sipit, mantel cokelat, dan ... ramen!" gumam Sohyun sembari berlalu, mengamati wanita yang duduk sendirian di depan sana. Senyumnya langsung muncul, melihat gaya wanita yang tua enam tahun darinya itu. Taehyung pernah menunjukkan foto Shen Nan, jadi mudah baginya mengenali tampilan luar Shen Nan, walau dari jarak lumayan jauh.
"Maaf membuatmu menunggu," ucapnya.
"Astaga!" Shen Nan terkejut. Hampir saja gulungan mi dalam jepitan sumpitnya beterbangan. "Kau siapa? Apa kau mengenalku?" Ia bertanya cepat. Meletakkan makanannya di dalam mangkuk kecil.
"Li Shen Nan, kau yang membuat janji, kan?" Sohyun menyahut. Lantas memposisikan diri di depan Shen Nan.
Mata Shen Nan lebih pantas disebut pemindai aktif. Bermenit-menit lamanya kedua netranya melebar (menelanjangi rupa serta penampilan Sohyun yang tak keberatan).
"Jadi ... kau orangnya?" tunjuk Shen Nan, setelah mengerahkan upaya menilai Sohyun yang terangguk mengamini.
Wanita itu kembali duduk. Tidak pernah sekali pun sekelebat pikirannya terlintas, bahwa gadis yang akan ditemui olehnya, terduduk di kursi roda dengan tubuh kurus yang dibalut baju tebal.
🔔
"Belum pulang?"
Jonghoon melenguh lagi sembari menganggukkan kepala. Terang saja, ini adalah pertanyaan ke sekian yang dilontarkan Taehyung, setibanya pria itu di depan gerbang rumah sang majikan.
"Anda tidak bohong, kan? Aku serius, Paman! Ini sudah sangat sore, sebentar lagi malam. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Paman, kenapa kau tenang-tenang saja di sini dan tidak mencarinya!"
Sekarang kepalanya yang geleng-geleng. Ditepuknya bahu Taehyung, sambil mengeluarkan ponsel di saku celananya. "Saya belum menerima pesan dari Nona. Tidak bisa keluar sekarang sebelum mendapat perintah darinya."
"Apa?" Taehyung terperangah.
"Kalau kau ingin bertemu dengannya... susulah Nona Sohyun. Kudengar dia sedang bertemu dengan seseorang. Aku tidak terlalu mengenalnya, tapi sepertinya ada sangkut pautnya denganmu."
Dahi Taehyung terlipat tak mengerti. "Bertemu dengan siapa?"
"Putri bungsu Keluarga Li," jawab Jonghoon.
Taehyung menelan ludah. Tetiba perasaannya gamang, cemas kalau sampai sandiwaranya terbongkar. Ia tahu Sohyun dapat menjaga rahasia dengan apik. Namun beda lagi dengan Shen Nan, ia tak pernah yakin dengan kelakuan ajaib wanita Chinese itu.
🔔
Tak ada alasan bagi Sohyun untuk pergi. Setengah jam bersama orang yang baru pertama kali dilihatnya, rupanya menambah warna abu-abunya sedikit cerah. Biasanya ia akan kabur, sama berlakunya untuk Yoon eun beberapa tahun belakang. Tapi, entah bagaimana ceritanya ... kisah dirinya yang Sohyun anggap sebagai figuran. Sebatas pemain tak berarti bertambah layak ketika Taehyung hadir. Kini dijumpainya Shen Nan. Wanita yang tak bisa berhenti dari kegiatan menenggak minuman bersoda. Buih-buih bermunculan di botol yang tak sedingin lima belas menit lalu. Sohyun terus memperhatikannya, mungkin sampai ia bersua pada kata bosan.
"Kau tidak ingin pesan ramen?"
Sohyun menanggapinya berupa gelengan pelan. Sudah jelas, dia tidak bisa sembarangan memasukkan makanan asing ke dalam perutnya.
"Kenapa tidak? Rasanya sangat enak, begitu kau mencicipinya, kau pasti akan ketagihan memakannya."
Sohyun tersenyum kecil, kemudian berkata, "Jujur saja, melihatmu makan dengan sangat lahap seperti barusan, sudah cukup membuatku kenyang. Apa yang kau tunjukkan, menstimulasi otakku. Lagipula, aku memang belum pernah memakan ramen, tapi aku sungguh tidak ingin sekarang."
Shen Nan mengangguk tak berniat memaksakan. Dia berhenti sejenak, lalu memberesi meja kecil yang penuh dengan bekas makanan dan minuman yang berserakan, membuangnya ke dalam tempat sampah anorganik di belakangnya. Ia duduk kembali, dengan tampilan yang lebih rapi, tangan kanannya menopang dagu, sementara tangan tangan kirinya terlipat menyiku.
"Aku penasaran," tanyanya santai. Ditatap Sohyun yang membentuk garis muka bertanya.
"Tidak kusangka, selera Taehyung ternyata sepertimu."
Itu bukan kalimat biasa di telinga Sohyun. Nada mencela khas ketidaksukaan menggelitik gendang telinganya yang aktif mendengarkan. "Kau menyukainya sebagai pria?" Ia menimpali.
"Tentu. Siapa yang tidak akan menggilai pria seperti Kim Taehyung? Meski aku dua tahun lebih tua darinya, tidak ada yang mustahil jika cinta datang, kan?"
"Usia bukan segalanya. Kalau kau sungguh menyukai Taehyung, jujurlah padanya dan katakan perasaanmu secara tulus. Aku tak akan keberatan."
"Kau ada-ada saja. Mana bisa begitu? Meski aku mencintainya, bukan berarti aku seenaknya menghancurkan hubungan kalian. Aku tak sejahat itu, Kim Sohyun."
"Jujur bukan berarti kau bisa merebutnya dariku. Taehyung tetap akan di sampingku."
Shen Nan hanya mampu melontar tawa jengahnya. Ia tak bisa berpura-pura menerima semua perkataan Sohyun yang terdengar terlalu percaya diri. Wanita itu bahkan meyakini, Taehyung hanya kasihan pada Sohyun, mengetahui kondisi fisik perempuan di depannya itu.
"Aku harap, suatu hari nanti, Taehyung bisa melihat ke arahmu," gumam Sohyun yang kali ini melepaskan tatapannya begitu saja. Sangat lirih, sampai Shen Nan tak menyadari ucapannya.
"Kau ingin soju?" Tawaran datang dari Shen Nan. "Tiba-tiba aku merindukan minuman itu. Bermabukan sebelum kembali ke Hongkong besok malam."
"Kau saja. Aku tidak." Sohyun menolak.
"Jawabanmu tidak enak sekali didengar."
"Seperti itulah aku."
"Sesingkat pertemuan kita."
"Apa?" Shen Nan mengernyit, merasa aneh pada balasan Sohyun. Gadis itu tak menatap ke arahnya, justru terlihat mengembangkan senyum di belakang punggungnya. Seakan ada seseorang yang membuat Sohyun tak berpaling pandangan.
"Sohyun-ah!"
Suara berat pria itu familier memekakkan telinga. Shen Nan membeku, menunduk lesu. Semakin muram kala bunyi langkah kaki Taehyung mendekat.
Bukan kepadanya. Bukan.
"Kenapa kau tidak mengabariku? Aku benar-benar khawatir kau pergi sendirian." Taehyung berjongkok, menggamit tangan Sohyun yang sejak tadi bertumpu di paha.
"Jangan berlebihan. Aku sudah biasa."
Seakan tak terlihat mata, Shen Nan memutuskan diam, mengalihkan pandangannya pada objek lain. Meski rungunya mendengar suara adam dan hawa yang bersahut sesekali.
"Ini sudah hampir malam. Angin malam juga tidak baik untukmu. Ayo kita pulang!" ajak Taehyung.
Sohyun tersenyum tipis, menggeleng kecil sambil melirik Shen Nan yang melamun. Sohyun jelas tahu, Taehyung sengaja mengabaikan kehadiran Shen Nan, agar wanita itu tak berharap lebih padanya. Namun, ia tak bisa membenarkan. Mereka berdua, tetap terikat pada kerjasama antar dua perusahaan. Sohyun tak akan tega mengacaukannya.
"Bagaimana kalau kita antar Shen Nan juga? Dia tidak membawa kendaraan, apa kau tega membiarkannya pulang sendirian?" Gadis itu membisik ke telinga Taehyung.
"Tapi ..."
"Bukankah kita harus saling menolong? Apalagi dia adalah rekan bisnismu, Taehyung."
Walau mulanya berat bagi Taehyung, dia juga tak bisa mengabaikan tujuan baik Sohyun. Alhasil, saran itu pun disetujuinya. Mereka pulang bertiga.
"Kau mau kan, kami antar pulang?" tawar Sohyun.
Taehyung mengangguk di sebelahnya.
"Apa tidak merepotkan? Maksudku, aku tak ingin mengganggu kalian, jadi—"
"Jadi jangan tolak, dan turuti permintaan kami!" potong Taehyung. Lekas bangkit berdiri, memegang bahu Sohyun posesif. Serasa perlu memperlihatkan itu agar hubungan mereka tampak sungguhan sebagai sepasang kekasih.
"B...baik. Baiklah kalau kalian memaksa." Shen Nan setuju. Wanita itu juga tak punya pilihan, lantaran ia kehabisan uang untuk pulang ke apartemen. Semua kartu kreditnya ia tinggal di kamar dan hanya membawa seperlunya. Salahkan bagaimana perutnya mengemis-ngemis makanan, hingga tidak sadar menghabiskan puluhan ribu won.
"Ayo!"
Ajakan Taehyung memecah lamunan Shen Nan. Mengekor di belakang punggung lebar lelaki itu, sosok yang begitu setia di sisi Sohyun dan sepertinya enggan menoleh padanya yang cemburu.
🔔
Hari ini terasa panjang dilalui Sohyun. Ia bertemu banyak orang—bisa dihitung menggunakan jerijinya—tetap baginya itu banyak dan langka. Yang berarti dari tiap-tiap perjumpaan, Jungkook, Yeri, Shen Nan, dan sekarang Taehyung. Pria yang fokus melihat jalanan lengang di depan.
Sohyun duduk memandangi wajah Taehyung dari samping. Mengagumi pahatan wajah pemuda itu dengan senyum siput. Mulutnya jarang melontar pujian, namun kali ini, biarkan hatinya melakukannya secara tulus. Ia ingin jujur, betapa sempurnanya rupa Taehyung. Dua matanya yang selalu memendar warna teduh, hidung bangirnya, pun kulitnya yang seputih gading. Hingga otot-ototnya yang maskulin telah berbentuk.
Sohyun mengagumi fisik Taehyung, namun lebih kagum lagi pada kepibradian sahabatnya itu. Ia menyukai sikap dan cara Taehyung memperlakukannya. Seperti tidak ada penyekat antara mereka, kadang, Sohyun ingin hidup seperti itu. Lebih dekat tanpa ada bom waktu yang dapat memisahkan jiwa mereka.
Apa saja yang kalian bicarakan?" Suara Taehyung menyapa.
"Kau penasaran?" sahut Sohyun kembali menatap ke depan, melihat jejeran mobil-mobil lainnya bergerak.
"Pasti ada sangkut pautnya denganku!"
"Hanya pembicaraan sesama perempuan. Sebagai wanita, kami merasa risih kalau seorang pria mengetahui obrolan kami."
"Jadi kau tidak ada niat memberitahukannya padaku?"
"Ya, tidak akan!"
Taehyung terkikik mendengar suara tegas Sohyun, senyumnya selalu tergambar lebar menghiasi wajahnya.
"Kau pasti tahu dari Paman Choi."
Kepala pria itu mengangguk. "Tadinya, sore ini aku ingin mengajakmu ke taman bukit. Rasanya sudah lama sekali kita tidak menghabiskan waktu di sana. Aku memiliki kejutan buatmu!"
"Kejutan?" timpal Sohyun setengah terkejut.
"Aku yakin, kau akan sangat menyukainya. Aku jadi tidak sabar menunggu besok."
Sohyun menyambut dengan senyumnya yang merekah. Menantikan kejutan yang dipersiapkan Taehyung untuknya.
Sepuluh menit lalu, mobil Taehyung mendarat di depan gedung apartemen Hondo, guna mengantar Shen Nan. Sedikit berbincang, wanita itu beralasan akan meninjau proyek yang mereka sepakati beberapa waktu lalu. Hal yang seharusnya dilakukan Wong Xie, saudara laki-lakinya selaku presdir. Ia tak akan berparasangka macam-macam , berpikir jauh mengenai kedatangan Shen Nan. Taehyung berkomitmen untuk profesional dalam pekerjaan yang digelutinya, memisahkan antara karier dan ranah pribadi.
Di luar kaca jendela salju mulai berguguran turun. Wiper mobil bergerak otomatis, menyeka titik-titik putih yang berjatuhan menimpa kaca depan. Taehyung mulai bersenandung kecil dengan suara berat khasnya, guna mengusir hening dalam mobil. Aksi curi-curi pandang tak terelakkan. Matanya tak jarang melihat sisi kanannya, pada Sohyun yang diam, pandangan gadis itu terfokus pada keadaan luar, menatap hamparan pohon-pohon yang beku. Segan bagi Taehyung mengganggu, Sohyun teramat menyukai salju—rasa suka yang datang sebagai ganti gerimis—pun lebat hujan.
Sesuatu agaknya menarik perhatian Sohyun. Suaranya keluar, menyebut nama panggilannya untuk Taehyung. "Tae!"
"Bisakah kau hentikan mobilnya?"
Roda berdecit mengiris jalanan licin. Taehyung menoleh setelah berhenti mendadak. Memandang Sohyun yang hampir saja dibuatnya celaka, beruntunglah sabuk pengaman Sohyun terpasang aman. Lelaki itu mendengkus, memperlihatkan sorot kekesalan pada mobil SUV di depan yang berhenti tiba-tiba.
"Maaf ...."
"Bukan salahmu, Sohyun." Taehyung mematikan mesin kendaraan. "Oh, ya ... ada apa hingga kau ingin berhenti di sini?" Mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin ke sana!" Sohyun mengarahkan jari telunjuk kanannya. Taehyung mengikuti ke mana arah tujunya, dahinya berubah mengkerut, lantaran bingung.
🔔
Pintu kaca terbuka, terdorong masuk ketika pengunjung baru datang. Salah satu pelayan mendekat, membungkuk sopan pada calon pembeli yang singgah hari ini.
"Selamat datang, Tuan dan Nona," tabik pelayan perempuan menyapa santun.
Sohyun dan Taehyung saling berpandangan sebelum menjawab salam dari si pelayan. Taehyung lekas membawa Sohyun berjalan mengelilingi area butik tiga lantai yang baru saja mereka masuki.
Sejenak langkah Taehyung terhenti tepat di tempat alasan Sohyun menginjakkan diri di butik.
Sepasang busana terpajang di tengah-tengah ruang toko lantai satu. Sohyun menginginkan benda itu usai melihatnya beberapa menit yang lalu dari jendela mobil. Taehyung ikut memperhatikan. Melihat konsentrasi Sohyun hanya pada benda itu, Taehyung berasumsi jika Sohyun tertarik dan menyukainya.
"Kau menginginkannya?" ucapnya bertanya.
"Ya."
Taehyung tersenyum tipis, memgetahui Sohyun menginginkan busana pengantin yang mereka perhatikan sejak tadi. Bukan apa, awalnya ia berpikir bahwa Sohyun ingin membeli pakaian tebal untuk menghadapi musim dingin yang datang.
"Tapi..."
"Ayo kita menikah!"