Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 4 : Sayap Patah



     Gigi Jaehyun menggelutuk setelah melihat hasil yang baru saja keluar. Sebuah data rontgen yang diambil terhadap kedua kaki Sohyun. Di dalam ruangan dokter ortopedi, dari X-ray film viewer, menunjukkan patahan asimetris yang belum sepenuhnya pulih. Sohyun yang melihat dari atas kursi roda, hanya diam menatap gambar yang lebih dominan warna putih di sekitar tulang kakinya. Ia tidak akan membuang tenaga hanya untuk bertanya. Penjelasan kedua dokter di depannya sudah lebih dari cukup untuk dicerna. Yang paling penting baginya saat ini, memastikan kedua dokter itu tidak mengadu pada Yoon eun.


     Jaehyun bangkit dari kursinya, diikuti Dokter Shin spesialis bedah ortopedi. Kedua pria beda usia itu bediri memandang perempuan satu-satunya di dalam ruangan kerja milik Dokter Shin.


    "Harusnya kau lebih bisa berhati-hati. Apa yang sebenarnya terjadi sampai kau seceroboh ini?" marah Jaehyun yang masih dilanda kesal.


    "Dokter menyalahkanku?" Sohyun menyahut. Sama sekali tidak ada raut menyesal atau takut di wajahnya.


    "Memannya siapa lagi? Orang yang menabrakmu?"


     Jawaban Jaehyun membuatnya tergugu. Kilasan wajah Taehyung berputar-putar kembali, menyelinap dalam memori ingatan sohyun. Haruskah ia menyalahkan Taehyung yang bahkan tidak tahu apa-apa?


     "Tidak ..." Sohyun menjawab lirih. Pandangan perempuan itu merosot, melihat kakinya yang belum bisa digerakkan. Semakin ia paksa, hanya akan menambah sakit nyeri yang tak tertahankan.


     "Jangan terlalu keras padanya, Dokter Kim." Dokter Shin yang melihat perubahan kecil dari raut wajah Sohyun, menasihati juniornya agar mampu menjaga perasaan pasien.


     "Biarkan saja. Perempuan ini memang harus dikerasi agar tidak berbuat seenaknya saja." Jaehyun sengaja mengeraskan suaranya. Namun bukan Sohyun namanya, jika menanggapi sindiran Jaehyun dengan cara biasa. Ia seakan menulikan telinga, berpura-pura tak mendengar apa pun.


    Shin Wonsuk saja sampai geleng-geleng kepala melihat interaksi mereka yang tidak ada ramah-ramahnya. Ia kemudian berjongkok di depan Sohyun, mengelus rambut gadis itu layaknya anak kandung.


    "Kau masih beruntung, Nona Kim. Kalau salah sedikit saja, tulangmu itu sudah aku pastikan akan dilubangi di meja operasi lagi. Tentu kau tidak ingin ibumu tahu, bukan? Kau tidak boleh memaksakan diri. Selama beberapa hari ke depan, gunakan kursi roda dan ikuti terapi."


     Pesan lembut dari Dokter Shin menyentuh hati Sohyun yang beku. Gadis itu mengangguk pelan, setuju.


     "Aku akan melakukannya. Aku harus bisa berjalan normal sebelum orang itu pulang," tekadnya kuat.


🔔


     Mereka melewati lorong-lorong rumah sakit yang masih ramai dari aktivitas kerja. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Sohyun memilih diam, membiarkan Jaehyun mendorong kursi rodanya menuju tempat rawat inap, yang jauh dari bising gaduh yang diciptakan pasien yang berteriak kesakitan. Sesekali beberapa suster yang berpapasan menyapa Jaehyun. Dokter yang dikenal ramah itu tak sungkan membalas sapaan hangat mereka, dan seperti biasa, Sohyun tak bergeming. Pandangannya selalu lurus dan fokus ke depan.


     "Sebenarnya aku masih penasaran dengan orang yang kau maksud. Kau harusnya marah padanya, dia sudah pergi meninggalkanmu dan ketika datang malah mencelakaimu."


     "Dia tidak sengaja melakukannya. Lagi pula, dia sudah mengatakan permintaan maaf."


     Jaehyun mendengkus panjang. Sohyun ini, walau terlihat dingin dan tak pedulian, mudah sekali memaafkan orang. Ia senang, tapi di satu sisi, ia juga tidak suka dengan pandangan semacam itu.


    


     "Kau ini, setidaknya berusahalah memperlihatkan ekspresimu," gerundelnya sambil terus mendorong.


     "Berhentilah bersikap seperti ini, Dokter." Sohyun menahan laju roda kursinya. Ia lelah, lelah menghadapi sikap dokter yang memiliki rupa sekilas mirip Taehyung itu.


     Jaehyun segera memutar badan, berdiri di depan Sohyun yang melihatnya dengan pandangan jengah.


     "Kenapa memangnya? Apa salah memperlakukan pasien selayaknya teman. Biasanya anak-anak akan suka dengan cara ini."


     "Tapi aku bukan anak-anak."


     Lelaki itu manggut-manggut mendengarkan jawaban datar Sohyun. Ia menepuk bahu gadis itu sambil berbisik di telinganya."Ya, Nona Kim memang bukan lagi anak-anak."


     Ia kembali mendorong pelan, mengabsen satu per satu tiap unit kesehatan yang ada di rumah sakit SeonGyu, sebelum memasuki lift menuju lantai lima.


     "Kau dengar sesuatu?" Sohyun bertanya pada Jaehyun.


     "Dengar apa?" Jaehyun balik bertanya.


     Pandangan Sohyun mengarah pada satu ruangan. Tanpa diduga, Sohyun membalik arah, memutar roda kursinya sendiri.


     "Hei, apa yang kau lakukan?" Jaehyun menghentikan Sohyun dengan menahan pegangan kursi. Hampir dibuat serangan jantung mendadak karena ulah Sohyun yang tiba-tiba.


     "Bolehkah aku masuk ke dalam sana?" Sohyun menunjuk sebuah ruangan, sebuah unit kesehatan anak-anak.


     Jaehyun tergelak mendengar permintaan aneh sang pasien. "Kau sendiri yang bilang, kau bukan anak-anak. Tapi meminta masuk ke unit pediatrik?" Ia menggeleng geli, tak mengira.


     Butuh waktu beberapa menit bagi Sohyun mendengar segala macam ledekan keluar dari mulut Jaehyun, sampai pria itu mengizinkan dirinya masuk.


     "Apa yang akan kau lakukan di sini?" tanya Jaehyun setelah masuk ke dalam. Ia mengecilkan volume suaranya agar tidak mengganggu istirahat pasien anak-anak yang sudah terlelap tidur.


     "Kau mau ke mana?" tanyanya lagi, mengekor di belakang.


     Tidak mengindahkan ucapan Jaehyun, Sohyun terus memacu kursi rodanya menuju bangsal kosong paling ujung. Tangannya memegang besi ranjang, sedikit membungkukkan badan bagian atasnya.


     "Keluarlah. Jangan bersembunyi lagi."


     Sepatutnya Jaehyun memberikan pujian atas indra pendengaran Sohyun yang tajam. Lelaki itu tersentak sekaligus terkejut mendengar suara ceria Sohyun. Nada lembut selayaknya seorang ibu yang memanggil anaknya.


     "Apa kau orang baik?"


     Pertanyaan datang dari mulut anak kecil yang masih enggan beranjak dari bawah ranjang. Sohyun yang ditanya justru tersenyum tipis.


    "Mungkin aku bukan orang baik, tapi aku akan berusaha baik padamu." Sohyun menjawab sangat jujur.


    Anak perempuan itu akhirnya luluh, terburu-buru keluar sampai kepalanya terantuk badan ranjang di atasnya. Kedua tangannya merabai permukaan apa saja yang ada di dekatnya. Mencari-cari sesuatu sebagai penuntun jalan. Sohyun sigap membantu, menggapai telapak tangannya yang gemetar.


     Sohyun terpaku memperhatikan wajah yang baru dilihatnya hari ini. Seorang anak kecil dengan tatapan kosong. Yang tak sengaja dijumpainya di bawah kolong ranjang dalam kondisi menangis dengan wajah sembap.


     "Kau siapa?" Anak itu meraba dirinya. "Wajahmu kecil dan tirus sekali," komentarnya.


     "Orang asing yang tidak sengaja mendengar seseorang menangis," balas Sohyun.


     "Jang-So-Yoon. Namamu Jang Soyoon."


     Anak kecil itu mengangguk-anggukan kepala girang setelah Sohyun mengeja namanya.


🔔


     Mereka bertiga berjalan pelan setelah keluar ruangan. Sohyun membawa Soyoon lantaran anak itu terus merengek ingin ikut. Menggunakan alasan tak nyaman berada di ruang pediatrik, akhirnya Sohyun mengiyakan usai mendapat izin dari Jaehyun. Sohyun tak merenggangkan pegangan tangannya pada jemari mungil Soyoon, bahkan setibanya mereka dalam lift.


     Jaehyun yang sedari awal lebih banyak mengamati, tetap konsisten dengan posisinya. Ia masih dilanda penasaran, apa saja yang akan dilakukan seorang Kim So Hyun pada anak kecil seperti Jang Soyoon yang kehilangan penglihatannya. Sejak setengah jam lalu, pertemuan awal mereka, ekspresi Sohyun masih sama, hanya intonasi suaranya yang berubah lebih lembut. Bahkan Jaehyun tak menemukan tatapan kasihan pun prihatin di bola mata Sohyun. Gadis itu teramat sulit untuk ditebak.


     "Kau kenal tidak dengan aktris, Han Seri?"


     "Tidak."


     "Dia sangat terkenal, sungguh kau tidak mengenalnya? Kalau CEO Jang Kyun Ok, kau pasti tahu, kan?"


      "Tidak."


     "Tidak kenal juga!" Soyoon menggerundel kecele. "Apa di rumah kau tidak punya tv?"


     "Apa mereka orangtua yang baik?"


     Mulut Soyoon terbuka saking syoknya. Menggenggam telapak tangan Sohyun kuat. "Dari mana kau bisa tahu mereka orangtuaku, bahkan selama ini tidak ada satu orang pun yang tahu!"


     Sohyun berdesus, menepuk pipi gembil anak berusia tujuh tahunan itu. "Kau yang telah memancingku duluan."


"Memangnya aku ikan?" sembur Soyoon agak kesal. Tanpa sengaja menyentuh kursi roda Sohyun.


     "Kau duduk di kursi roda? Apa kau tidak bisa berjalan?" Pertanyaan yang tersimpan sejak tadi akhirnya mampu keluar dari mulut Soyoon. Sudah beberapa menit mereka berkenalan, dan anak kecil itu baru menyadari.


     Soyoon mengembuskan napas, menggangguk saja setelah mendengarnya. Sohyun yang melihat perubahan air muka gadis kecil di sebelahnya pun bersuara lagi.


     "Apa kau berpikir aku cacat?"


     Cepat-cepat Soyoon mendongak. "T-tidak. Hanya saja, aku pikir akan ada yang memahamiku jika kita sama-sama punya keterbatasan," balasnya yang kemudian tertunduk.


     "Kau seperti orang yang kesepian," sembur Sohyun tak berperasaan.


     "Apa sangat terlihat?" Soyoon semakin menjadi. Ekspresinya kian menyendu. Jaehyun sampai memelototi Sohyun yang seakan tiada hati untuk peduli. Cukup dirinya saja, kenapa dengan anak-anak saja, Sohyun tetap bersikap seenaknya.


     "Kau sering mendengar kata-kata seperti itu, bukan? Harusnya kau jauh lebih kuat karena terbiasa. Jika kau saja masih merasa kekurangan karena keterbatasanmu, kau tidak akan pernah tahu seperti apa kebahagiaanmu. Kau akan pernah mengetahui apa kelebihanmu."


     "Aku mengatakakan ini agar kau bisa lebih kuat menghadapinya. Penyebab kau menangis, alasanmu meminta untuk ikut, hingga pertanyaanmu barusan ... membuatmu terlihat lemah. Soyoon-ah, berhentilah berpikir kau adalah beban bagi orang lain."


     Soyoon bungkam, bibirnya bergetar tak tahu ingin mengatakan apa untuk membela diri. Bukan karena ia kalah, omongan Sohyun membuat dirinya sadar sisi kelamnya yang selalu merasa terasingkan. Selama ini ia marah karena kedua orangtua kandungnya tidak mengakui dirinya yang cacat. Orang-orang memperlakukan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Serta ejekan bertubi membuat dirinya merasa semakin tidak berguna.


     "Kakak..." Ia memeluk Sohyun dengan erat.


     Jaehyun yang menyaksikan sampai terkesima. Sohyun—perempuan dingin yang dikenalnya itu punya cara tersendiri untuk memperlakukan orang lain.


🔔


     Keduanya berbaring dalam satu ranjang. Soyoon telah terlelap tidur, meringkuk memeluk pinggang Sohyun yang tetap terjaga meski malam telah berlalu berganti pagi pukul dua dini hari. Matanya masih enggan terpejam, menatap dalam wajah mungil nan teduh milik Soyoon yang terhampar di depannya. Kantuk belum juga datang menghampiri. Insomnia yang diderita, berperan banyak sebagai penyebab sulitnya gadis itu tertidur. Kebetulan yang tidak disengaja, obat tidur yang biasa ia konsumsi tiap malam tertinggal. Dan pikirannya pun mengelana jauh.


     "Bagaimana rasanya? Seperti apa rasanya tak mampu melihat dunia melalui kedua matamu?"


🔔


     Roda mobil berjalan pelan menjejaki jalanan lengang. Taehyung yang duduk di balik kemudi membagi fokus antara jalan raya dan pedestrian di sisi kanannya. Di mana di tempat tersebut, adalah lokasi dirinya menabrak seorang wanita kemarin.


     Menepikan kendaraannya, Taehyung turun dari mobil. Ia berjalan pelan, melihat-lihat sekitar. Hanya ada sedikit sekali orang-orang yang berjalan kaki. Selebihnya hanya kendaraan roda empat yang berlalu lalang. Tangannya masih setia mengenggam syal merah yang ia duga milik perempuan yang celaka karenanya.


     Taehyung bertahan selama setengah jam, celingukan ke sana kemari mencari perempuan bersyal merahnya. Waktu berjalan hingga satu jam berikutnya, wanita yang dicarinya tetap tak muncul juga. Taehyung mulai menyerah, ingin pergi. Kepalanya mendongak sejenak, melihat gugusan awan di atas sana. Tampak indah dan ...


     "Tunggu! Itu..." Pandangannya mengarah pada benda kecil yang menggantung di dinding. Sebuah kamera pengawas. Terpasang rekat di salah satu toko kecil di pinggir jalan.


🔔


     Kakinya melangkah memasuki sebuah toko, disambut harum aroma manis kue-kue yang berjajar di atas rak-rak yang tertata maupun etalase di depan toko. Taehyung celingukan, melihat-lihat ke banyak sisi ruang, berharap bertemu seseorang yang dapat mengantarkan dirinya bertemu wanita bersyal merahnya.


     Ia berkeliling sebentar, memanggil pemilik toko kue. "Permisi! Apa ada orang di dalam?" ucapnya setengah berteriak.


     Belum ada tanda-tanda ada sahutan dari dalam. Taehyung mendengus pelan, merasa usahanya tak membuahkan hasil.


     "Mungkin lain kali saja." Taehyung memegang tangkai pintu, bersiap akan pergi.


     "Maaf, membuat Anda menunggu."


     Taehyung segera berbalik. Menutup lagi pintu yang baru seperempat dibukanya. Di depannya, telah ada sosok wanita paruh baya seumuran Ibunya, memakai celemek hijau yang penuh noda tepung.


    "Kau adalah pelanggan pertama hari ini, terima kasih sudah datang." Sang pemilik toko kue semringah begitu tahu ada pembeli. Tak lagi mampu menutupi rona bahagianya. Sedangkan Taehyung hanya bisa menggaruk tengkuknya seraya tertawa paksa.


     "Kue jahe sangat enak dinikmati di cuaca dingin seperti ini. Bagaimana, kau mau?" Wanita itu memberikan rekomendasinya. Menawarkan beberapa kudapan yang sekiranya cocok untuk Taehyung.


     "Sebelum aku membeli kue, bolehkah aku meminta bantuan Anda?" Taehyung berucap hati-hati.


      "Jika aku mampu, tidak alasan bagiku untuk menolak."


       Taehyung mengulas senyum lebarnya. Jawaban wanita itu menumbuhkan harapannya untuk meminta maaf lebih baik. Tanpa ragu, Taehyung menjelaskan secara eksplisit perihal tujuannya datang hingga meminta bantuan pemilik toko kue 'Momoori'.


  


🔔


     Matanya tak lepas memandangi layar komputer yang memperlihatkan peristiwa kemarin. Semua terekam jelas. Ekspresi Taehyung berubah muram, setelah melihat gadis yang tertabrak olehnya dalam kesusahan.


   


     "Aku sering melihatnya melewati depan toko kueku."


     Taehyung sontak menoleh pada Bibi Jung Mi. "Benarkah? Lalu apa Bibi tahu alamat rumahnya?"


     Sayangnya wanita itu menggeleng. Taehyung yang mulanya sudah sangat senang kembali merengut kecewa.


     Jung Mi tersenyum tipis, melihat ekspresi lucu Taehyung. "Tapi jika dilihat arah pulangnya, aku yakin dia tinggal di sekitar perbukitan. Di bukit hanya ada tiga bangunan rumah, yang satu kosong karena memang jarang ditinggali pemiliknya. Mungkin kau bisa menemuinya di dua rumah yang tersisa."


     Taehyung berjengit, senang bukan kepalang. Ia bergegas keluar dari toko mencari alamat rumah perempuan yang dicarinya setelah membeli sekeranjang kue sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.


🔔


     Kesiur semilir angin berembus ringan, menerjang lembut rambut Sohyun yang terurai. Gadis itu terduduk di atas kursi rodanya, sendirian. Sedangkan Soyoon telah pulang dijemput pengasuhnya pagi tadi. Ada tidak adanya Soyoon, tak mengubah keadaan. Gadis itu telah lama berkawan dengan sepi, bukan sesuatu yang sulit beradaptasi dengan kesendirian yang ia ciptakan.


     Sohyun senang menghabiskan waktu senggangnya di taman rumah sakit yang tak banyak dikunjungi pasien lain. Di pangkuannya, buku sketsa terbuka. Wajah pria itu masih ada di sana, tengah tersenyum seakan-akan menatapnya balik.


     Tawanya muncul, walau secuil. Tak ada yang bisa menebak apa alasannya. Sohyun tak butuh alasan meski sebenarnya ada sesuatu yang membuat ia tiba-tiba ingin melakukannya.


     Tampak dari kejauhan, Jaehyun berdiri memperhatikan tingkah pasiennya bersama Eunjung yang ia hubungi agar datang menemani Sohyun.


     "Kadang dia terlihat seperti orang gila."


     Eunjung menyenggol lengan Jaehyun. "Jangan macam-macam. Jaga ucapanmu tentang Nona!" peringatnya tidak suka.


     "Kenapa kau ketus sekali? Lagi pula Nona Mudamu itu tidak akan mendengarnya, bukan?"


     "Enteng sekali bicaramu, Kim Jaehyun!" dumel Eunjung, menyenggol lengan Jaehyun lebih keras.


     Bukannya kesal, Jaehyun terkekeh. Lalu beralih pada Sohyun yang tetap khidmat di tempatnya. "Sudah tiga tahun, sejak aku menggantikan Dokter Lee. Aku masih belum benar-benar memahami dirinya."


     "Jangankan kau ... aku yang sudah hampir lima tahun saja belum mampu meruntuhkan benteng pertahanannya."


     Jaehyun menganguk pelan.


     "Kau jagalah Sohyun. Awasi dia, jangan sampai dia terjun lagi dari atap hanya untuk kabur. Aku tidak bisa membayangkan. Bisa-bisa kakinya bukan hanya patah atau lumpuh... kakinya akan teramputasi jika itu terulang lagi. Bukan hanya luka fisik, psikisnya juga sama terlukanya."


     Eunjung tertegun. Tangannya meremas bajunya, teringat lagi peristiwa yang menimpa Sohyun sampai harus melompat dari atap rumah sakit. Ada alasan lain, alasan yang bahkan sulit untuk dipercaya olehnya.


     "Mengenai itu, sebenarnya ..."


     "Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku justru prihatin melihat Nyonya Hwang, semoga dia tetap sabar menghadapi putrinya itu."


     Jaehyun berlalu sebelum memberinya kesempatan untuk berbicara. Eunjung menghela napas dalam-dalam, memperhatikan langkah Jaehyun yang kian menjauh. "Kau tidak tahu apa-apa tentangnya, Kim Jaehyun."


     Pandangan Eunjung tertuju lagi pada Sohyun yang tak jua beranjak pergi. Benar kata Jaehyun, tugasnya hanya perlu mengawasi Sohyun yang tak tahu kapan akan selesai. Tidak ada batasan waktu baginya, mengawasi perempuan yang akan menghabiskan waktu bersama kesendirian hingga rasa puasnya tersalurkan. Ia akan duduk—memperhatikan—selama mungkin.


     "Kau harus datang, Kim Taehyung. Jika tidak ... aku sendiri yang akan menghampirimu."


     Sohyun menutup bukunya. Lekas menengadahkan kepala, memandang lekat kanvas langit yang dibubuhi awan mendung.